Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan cat krem lembut berlantai dua. Halamannya rapi, pagar besi hitam berdiri kokoh, dan pohon kamboja di sisi kiri halaman tampak baru saja disiram.
Perumahan Bumi Asri.
Shelina turun lebih dulu, dia berdiri sejenak di depan rumah itu, menatap pintu kayu cokelat tua yang tertutup rapat, rumah yang seharusnya menjadi hadiah ayahnya, namun justru menjadi awal hidup yang tak pernah ia rencanakan.
Kaisar turun belakangan, wajahnya datar, tangannya masuk ke saku celana. Elara langsung mendekat ke arah adiknya.
“Tot,” katanya tegas.
“Jaga Kak Shelina baik-baik.”
Serena menyambung, lebih lembut tapi tak kalah serius,
“Dia sekarang keluarga kita. Jangan macam-macam.”
Aurelia mengangguk setuju. “Kalau sampai dia kenapa-kenapa, kamu berurusan sama kita bertiga.”
Kaisar mendecih pelan, malas menanggapi, tapi tatapan kakak-kakaknya terlalu serius untuk diabaikan. Ia akhirnya mengangguk kecil.
“Iya … iya, bawel banget kalian. Kayak gue mau makan dia aja," cetusnya berlalu pergi.
Aksa melangkah maju, berdiri tepat di depan Kaisar. Tidak ada nada bercanda di wajah pria itu.
“Sekarang kamu sudah jadi kepala keluarga,” ucapnya datar.
“Hilangin kebiasaan burukmu.”
Kaisar hendak membuka mulut, tapi Aksa melanjutkan lebih dulu.
“Tanggung jawabmu ada dua.”
“Jaga dirimu sendiri, dan jaga Shelina.”
Tatapan Aksa menusuk, Kaisar kembali mengangguk, kali ini lebih pelan. Shelina berdiri sedikit menjauh, menunggu dengan sabar.
Kinara menghampirinya. Tanpa banyak kata, Shelina memeluk wanita itu lebih dulu. Pelukannya singkat, tapi tulus.
“Kalau kamu butuh apa pun,” ujar Kinara sambil mengusap punggung Shelina, “hubungi Mommy saja.”
Shelina mengangguk.
“Kalau Kaisar nakal,” Kinara menambahkan dengan nada setengah mengancam, setengah bercanda, “lapor ke Mommy. Biar Mommy yang negur dia.”
Kaisar langsung menoleh. “Mom—”
Kinara melirik tajam, Kaisar memilih diam.
“Soal uang belanja,” lanjut Kinara, “nanti Mommy transfer ke Kaisar—”
“Tidak perlu, Tante,” potong Shelina lembut, semua menoleh ke arahnya.
“Saya bisa mencukupi kebutuhan kami berdua,” kata Shelina tenang. “Tante tidak perlu cemas.”
Kinara menatapnya lama, ada rasa haru yang tak diucapkan.
“Kamu perempuan yang kuat,” ucap Kinara akhirnya. “Tapi tetap jangan sungkan sama Mommu. Manggilnya Mommy jangan Tante.”
Shelina tersenyum tipis, dan mengangguk pelan. Setelah semua pesan selesai disampaikan, Arman menepuk bahu Kaisar satu kali dan berat, penuh arti.
“Jangan bikin kami kecewa.”
Satu per satu, mereka berpamitan. Mobil Arman dan Kinara melaju keluar dari perumahan, diikuti Elara, Serena, Aurelia, dan Aksa.
Tinggal dua orang di depan rumah itu.
Shelina memasukkan kunci ke lubang pintu, memutarnya perlahan. Pintu terbuka, memperlihatkan rumah yang masih bersih, kosong, dan sunyi.
Ia melangkah masuk lebih dulu.
Kaisar berdiri di ambang pintu, menatap punggung wanita yang kini resmi menjadi istrinya, dari dosen killer yang dulu ia lawan, dan sekarang malah tinggal satu rumah dengannya.
Malam itu, rumah Bumi Asri terasa terlalu luas untuk hanya dua orang. Tidak ada suara wajan, tidak ada aroma masakan. Kaisar berdiri di dapur cukup lama, menatap kompor seolah berharap benda itu menyala sendiri.
Kaisar tidak bisa masak, Shelina tidak turun kamar sejak dari sore.
Perutnya sudah protes. Akhirnya Kaisar menghela napas kasar dan mengambil ponsel, memesan makanan dari luar. Lima belas menit kemudian, kantong plastik berisi nasi dan lauk hangat tiba di meja makan, kontras dengan suasana rumah yang dingin.
Kaisar melirik ke arah tangga, lalu dia naik, langkahnya berat. Berhenti di depan sebuah pintu kamar yang tertutup rapat dan mungkin kamar dia dan Shelina.
“Miss?” panggilnya, refleks.
Tak ada jawaban, dia mengetuk pelan. Lalu sedikit lebih keras. Tetap tidak ada suara. Kaisar mengerutkan kening. Ia bahkan belum sempat mandi karena pintu kamar Shelina kunci dari dalam.
“Miss Shelina,” ucapnya lagi, kini lebih serius. “Makanannya udah datang.”.
Kaisar menarik napas, menahan kesal yang mulai naik.
“Miss, saya nggak bisa masuk buat mandi. Pintunya dikunci.”
Kesabarannya menipis. “Kalau Miss nggak jawab, saya dobrak, ya.”
Detik berikutnya, suara dari balik pintu terdengar pelan.
“Jangan.”
Kaisar membeku.
“Makan dulu aja,” lanjut Shelina. “Aku pengin sendiri dulu.”
Nada suaranya datar, tapi jelas dan itu bukan permintaan, melainkan batas. Kaisar membuka mulut, ingin berkata sesuatu. Tapi tak ada yang keluar. Akhirnya ia menghela napas panjang.
“Iya,” jawabnya singkat.
Ia turun kembali ke bawah.
Duduk sendirian di meja makan. Membuka bungkus makanan. Aroma gurih langsung menyergap, tapi tidak membuat hatinya lebih hangat.
Dia makan cepat, terlalu lapar untuk berdebat. Terlalu lelah untuk memikirkan sikap dingin wanita di lantai atas yang kini menjadi istrinya, yang bahkan memilih mengurung diri dari dunia.
Di atas sana, di balik pintu yang terkunci, Shelina duduk bersandar di ranjang, lutut dipeluk.
Padahal, di dalam kamar Shelina duduk di lantai, punggungnya bersandar pada ranjang. Di tangannya, sebuah bingkai foto, ibu dan ayahnya ia tatap tanpa berkedip.
Dunia terasa berhenti.
"Kenapa selalu begini? Kenapa selalu aku?"
Shelina selalu kehilangan orang-orang yang ia cintai, tepat saat ia sedang paling membutuhkan pelukan mereka.
Ibunya pergi lebih dulu. Saat Shelina masih terlalu muda untuk tahu cara bertahan. Tante dari adik ayahnya menyusul, saat Shelina mulai belajar percaya pada hidup. Dan kini, ayahnya pergi di hari ia dipaksa menikah.
Tangannya gemetar memegang bingkai foto itu lebih erat.
"Orang lain punya keluarga lengkap, punya ayah untuk pulang, punya ibu untuk bersandar. Punya adik, kakak untuk bercerita. Sedangkan aku? Aku cuma punya sedikit, dan Tuhan mengambil semuanya," air mata jatuh satu per satu. Tangisannya pelan namun justru itu yang membuatnya terasa begitu menyakitkan, seolah dadanya akan robek jika ia menangis lebih keras.
Shelina menggigit bibirnya, menahan isak yang hampir lolos.
"Di rumah sakit aku harus kuat, di depan orang-orang aku harus tegar. Di depan makam Ayah aku tidak boleh runtuh. Tapi malam ini pertahanan itu hancur."
Tangisnya pecah, tubuhnya bergetar hebat, bahunya naik turun tanpa bisa ia kendalikan. Ia menutup mulut dengan tangan, menahan suara, tak ingin siapa pun mendengar betapa lemahnya dirinya. Shelina menempelkan bingkai foto itu ke dada. Seolah jika ia melepasnya, ia akan benar-benar sendirian di dunia ini.
Di luar kamar, dunia tetap berjalan. Di dalam kamar itu, Shelina tenggelam dalam kehilangan yang tak pernah benar-benar ia sembuhkan.
Akhirnya lelah menangis Shelina tertidur di lantai kamarnya sendiri.
Di bawah, Kaisar selesai makan, dia melirik jam di ponselnya, sudah hampir tengah malam. Kaisar berdiri, naik ke lantai atas. Langkahnya ragu saat berhenti di depan pintu kamar Shelina.
“Miss?” panggilnya pelan, tidak ada jawaban.
Dia mengetuk sekali, dua kali. Kaisar menghela napas, mulai tidak nyaman.
“Miss Shelina?” Tetap tidak ada suara.
Perasaan aneh merayap di dadanya, bukan panik tetapi lebih ke perasaan kesal. Dia merogoh saku celana, mengeluarkan kunci cadangan yang tadi sore diberikan Kinara kalau-kalau dibutuhkan.
Awalnya ia ragu, namun setelah beberapa detik tanpa jawaban, Kaisar memutar kunci itu.
Pintu terbuka perlahan.
“Aku masuk—” ucapnya refleks, lalu terdiam. Shelina tidak ada di ranjang, pandangan Kaisar turun ke lantai. Dan dadanya mendadak terasa kosong. Shelina tertidur di lantai, bersandar pada ranjang, memeluk bingkai foto dengan erat seperti anak kecil yang takut kehilangan satu-satunya hal berharga.
Wajahnya pucat, bekas air mata masih jelas di pipinya. Kaisar berdiri kaku di ambang pintu, saat ini ia tidak melihat Shelina sebagai dosen killer. Kaisar hanya melihat seorang perempuan yang sendirian.Dan entah kenapa, kata-kata yang tadi siang ia ucapkan, berhati batu tiba-tiba terasa seperti tamparan.
Kaisar menelan ludah.
“Tolol,” gumamnya lirih pada dirinya sendiri saat melihat Shelina tertidur di lantai dalam keadaan begitu rapuh.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.