NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18: Kabar Gembira

Jakarta memasuki bulan September. Musim kemarau masih setia menemani. Udara panas, tapi sesekali hujan sore turun membasahi, memberi jeda sejenak dari teriknya matahari.

Aira duduk di butik, menjahit. Tangannya terampil, tapi matanya sering menerawang. Dua minggu terakhir ia merasa berbeda. Mudah lelah. Sering mual di pagi hari. Dan yang paling aneh, ia jadi suka makanan asem-asem, padahal dulu tidak.

Maya yang sejak tadi mengamati, mendekat.

"Mba, kok dari tadi senyum-senyum sendiri? Jahitannya udah mau melenceng."

Aira tersentak. "Eh, enggak. Aku lagi mikir."

"Mikir apa? Wajahnya kayak orang jatuh cinta."

"May, aku udah nikah. Jatuh cinta mah udah biasa."

"Beda. Ini kayak jatuh cinta lagi. Ada yang beda."

Aira tertawa. Tapi tawanya sedikit aneh.

Maya memicingkan mata. "Mba, jangan-jangan..."

"Apa?"

Maya berbisik, "Mba hamil?"

Aira terkejut. "Apa? Enggak... masa sih?"

"Coba Mba ingat-ingat. Udah telat berapa lama?"

Aira berpikir. Matanya membelalak.

"May... aku... kayaknya iya."

Maya berjingkrak. "Ya ampun, Mba! Selamat! Selamat! Aku mau jadi tante! Cepet tespek!"

Aira masih terpaku. Tangannya memegang perut. Masih rata, belum ada tanda-tanda. Tapi di dalam sana, mungkin ada kehidupan baru.

"May, tolong beliin tespek."

"Siap, Mba! Aku ke apotek dulu!"

Maya berlari keluar. Aira duduk lemas. Pikirannya kacau.

Hamil. Ia hamil. Anak pertama dengan Raka. Adik untuk Arka. Apa Raka akan senang? Apa Arka akan senang? Apa ia siap jadi ibu dari dua anak?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala.

---

Maya kembali dengan lima merek tespek. "Mba, biar akurat, cobain semua!"

Aira masuk ke kamar mandi. Tangannya gemetar membuka bungkus. Maya menunggu di luar dengan deg-degan.

Lima menit kemudian, Aira keluar. Wajahnya pucat.

"Gimana, Mba?"

Aira menunjukkan semua tespek. Dua garis merah. Semuanya. Jelas sekali.

Maya berteriak. "Mba hamil! Mba hamil!"

Aira menangis. Maya memeluknya.

"Selamat, Mba. Selamat."

Aira terisak. "May, aku... aku takut."

"Takut apa? Mba hebat. Mba bisa. Ini kabar bahagia."

Aira menggeleng. "Bukan takut hamilnya. Tapi takut reaksi Raka. Takut reaksi Arka. Takut semuanya berubah."

Maya memegang pundak Aira. "Mba, dengar. Pak Raka sayang Mba. Arka sayang Mba. Mereka pasti senang. Ini keluarga Mba. Mereka akan dukung Mba."

Aira diam. Menatap tespek di tangannya.

"Mudah-mudahan."

---

Sore itu, Aira pulang lebih awal. Ia ingin memberitahu Raka langsung, berdua. Tapi rencana berubah begitu Arka menyambutnya di pintu.

"Mama! Mama! Lihat! Arka dapat bintang di sekolah!"

Arka menunjukkan buku prestasinya. Ada stiker bintang emas di sana.

Aira tersenyum. "Wah, hebat sekali! Mama bangga."

Arka memeluknya. Lalu tiba-tiba ia menatap Aira aneh.

"Mama, kok badannya panas? Mama sakit?"

Aira terkejut. Arka bisa merasakan? Atau hanya kebetulan?

"Mama enggak sakit, Nak. Mama cuma capek."

Arka menggeleng. "Mama bohong. Mama sakit. Arka tahu. Waktu Mama hamil adek, pasti Mama sakit."

Aira terperanjat. "Ark, kok tahu?"

Arka tersenyum polos. "Arka lihat di TV. Orang hamil suka mual. Mama juga mual kan? Tadi pagi Mama muntah."

Aira tak bisa berkata-kata. Arka terlalu pintar untuk usianya.

Raka keluar dari kamar, baru ganti baju. "Ada apa? Kok ramai?"

Arka berlari ke Raka. "Bapak! Bapak! Mama hamil! Arka dapat adek!"

Raka tertegun. Menatap Aira. Aira tersipu, matanya berkaca-kaca.

"Ark, jangan ngaco," kata Raka.

"Bener, Pak! Mama hamil! Arka tahu!"

Raka mendekati Aira. Suaranya bergetar. "Aira... beneran?"

Aira mengangguk pelan. Air matanya jatuh.

Raka memeluknya. Erat. Sangat erat.

"Aira... Aira... aku... aku..."

Ia tak bisa bicara. Hanya memeluk.

Arka ikut memeluk mereka dari samping. "Arka juga mau peluk! Keluarga peluk!"

Mereka bertiga berpelukan. Di ruang tamu apartemen, malam itu, kebahagiaan terasa begitu nyata.

---

Setelah Arka tidur, Raka dan Aira duduk di balkon. Malam itu Jakarta cerah. Bintang-bintang terlihat samar di balik lampu kota.

"Sejak kapan tahu?" tanya Raka.

"Tadi siang. Maya yang beliin tespek."

"Kenapa engga telepon aku? Aku pasti pulang cepat."

Aira tersenyum. "Aku mau kasih tahu langsung. Tapi Arka duluan yang tahu."

Raka tertawa. "Anak itu memang pintar. Seperti ibunya."

Aira menunduk. "Raka, aku takut."

Raka mengernyit. "Takut apa?"

"Takut jadi ibu yang baik buat dua anak. Takut enggak bisa bagi waktu. Takut nanti Arka cemburu."

Raka meraih tangannya. "Aira, lihat aku."

Aira mengangkat kepala.

"Kau sudah jadi ibu terbaik buat Arka. Lebih dari yang pernah aku bayangkan. Jadi, aku yakin, kau akan jadi ibu terbaik juga buat anak kita nanti. Dan soal Arka, kita hadapi bersama. Kita ajari dia arti berbagi, arti sayang pada adik. Dia anak pintar. Dia pasti paham."

Aira tersenyum. "Kamu yakin?"

"Aku yakin. Karena aku percaya padamu. Dan aku percaya pada kita."

Mereka berpelukan. Hangat.

---

Keesokan harinya, Raka mengajak Aira ke dokter kandungan. Pemeriksaan pertama. Dokter tersenyum lebar.

"Selamat, Bu. Usia kehamilan Ibu sekitar 8 minggu. Janin sehat, detak jantung kuat."

Aira menangis. Raka menggenggam tangannya erat.

Mereka melihat layar USG. Di sana, titik kecil dengan kedipan cahaya. Jantung yang berdetak. Manusia kecil yang baru mulai terbentuk.

"Ini dia," bisik Aira.

"Ini anak kita," kata Raka dengan suara bergetar.

Dokter memberi foto USG. Aira memandanginya lama. Raka juga.

Pulang ke rumah, mereka menunjukkan foto itu pada Arka. Arka menatap dengan serius.

"Ini adek? Kok kecil banget?"

"Iya, Ark. Masih kecil. Nanti besar."

Arka mencium foto itu. "Adek, Arka sayang adek. Cepet besar ya."

Aira dan Raka tertawa. Hangat.

---

Minggu-minggu berikutnya berjalan indah. Aira mulai merasakan perubahan di tubuhnya. Perut mulai membesar sedikit. Mual masih sering, tapi ia belajar mengatasinya. Raka selalu ada, menemani, memasakkan makanan kesukaannya. Arka jadi lebih perhatian, sering memijat kaki Aira dengan cara kocaknya.

Di butik, Maya jadi asisten super. Ia mengatur semuanya, memastikan Aira tak terlalu capek. Orderan tetap jalan, tim solid.

Suatu sore, Aira menerima telepon dari kampung. Ibunya.

"Neng, Ibu dengar kabar gembira! Neng hamil?"

Aira tersenyum. "Iya, Bu. Dari mana Ibu tahu?"

"Ya dari Maya lah. Dia telepon Ibu, kabar gembira."

"Ibu, nanti kalau udah besar, Neng ajak suami dan anak-anak pulang. Kenalin sama keluarga."

"Iya, Bu. Doain ya."

"Ibu selalu doain Neng. Semoga sehat, selamat, dan anaknya jadi anak saleh."

Aira terharu. "Makasih, Bu."

Telepon ditutup. Aira memegang perutnya.

"Kau dengar, Nak? Nenek di kampung doain kamu."

Perutnya masih rata. Tapi di sana, kehidupan baru tumbuh.

---

Malam harinya, Raka membawa kejutan. Sebuah kamar bayi yang sudah ia siapkan diam-diam.

"Aku siapkan ini bareng Bi Inah, diam-diam," katanya.

Aira melihat kamar itu. Dinding warna hijau pastel. Tempat tidur kecil dengan kelambu. Mainan gantung di atasnya. Lemari kecil berisi baju-baju mungil.

"Raka... ini..."

"Untuk anak kita. Dan untuk adek Arka."

Aira menangis. "Kapan kamu siapin semua?"

"Tiap kau ke butik, aku dan Bi Inah kerja diam-diam. Maunya kado pas kau lahiran, tapi aku enggak sabar."

Aira memeluk Raka. "Terima kasih. Terima kasih banyak."

Arka masuk. "Wah, kamar adek! Keren!"

Ia langsung lari ke tempat tidur, mau naik. Raka cegah.

"Ark, jangan. Nanti rusak. Itu buat adek."

Arka cemberut. "Arka mau tidur sama adek."

"Nanti, kalau adek udah lahir. Kalian bisa tidur bareng."

Arka tersenyum. "Janji?"

"Janji."

Malam itu, mereka makan malam bersama. Tawa, canda, kebahagiaan.

---

Di kampung, Lita duduk di teras. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari ibunya.

"Lit, kabar gembira. Aira hamil. Semoga selamat ya."

Lita membaca. Matanya kosong.

Ia ingat semua yang terjadi. Kejahatannya. Kesalahannya. Dan kebaikan Aira yang memaafkannya.

Ia membalas pesan ibunya.

"Iya, Bu. Doain semoga selamat."

Ibu Tini membalas cepat.

"Kamu baik, Nak. Ibu bangga."

Lita menatap layar ponsel. Air matanya jatuh.

Mungkin ini awal. Awal jadi orang baik.

Mungkin.

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!