NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:29.1k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat Belas

Dua tahun berlalu seperti angin yang pelan tapi pasti menggeser arah hidup seseorang.

Pesantren itu tak lagi terasa asing bagi Hanin. Justru kini setiap sudutnya seperti rumah kedua atau mungkin rumah yang benar-benar ia pilih dengan sadar.

Langit pagi selalu menyambutnya lebih dulu.

Subuh berjamaah, zikir panjang, setoran hafalan, lalu mengajar anak-anak yang suara tawanya kadang lebih ampuh dari obat apa pun. Hanin yang dulu datang dengan mata sembab dan hati retak, kini berdiri lebih tegak. Wajahnya tetap lembut, tapi sorot matanya sudah berbeda.

Tenang. Dalam dan lebih dewasa.

Ghania sering menggoda, “Kamu sekarang kayak ustazah senior.”

Hanin hanya tertawa kecil. “Senior apanya. Aku masih sering nangis kalau habis doa.”

“Tapi sekarang nangisnya nggak marah lagi,” balas Ghania cepat.

Hanin terdiam sesaat. “Iya … sekarang nangisnya karena rindu.”

Dua tahun itu bukan waktu yang singkat untuk berdamai. Tapi cukup untuk belajar menerima.

Suatu sore setelah kelas tambahan selesai, Hanin duduk di beranda masjid sambil merapikan mushaf anak-anak. Angin berembus pelan. Daun-daun trembesi berguguran.

Ustazah Rahma mendekat. “Hanin.”

“Iya, Ustazah?”

“Kamu pernah terpikir … setelah masa ini mau ke mana?”

Hanin terdiam. Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama berputar di kepalanya.

“Kalau boleh … Hanin ingin tetap di sini.”

“Di sini?”

“Iya. Mengabdi. Mengajar anak-anak. Membantu pondok.” Suaranya pelan tapi mantap. “Di sini Hanin merasa hidup lagi.”

Ustazah Rahma tersenyum hangat. “Mengabdi itu bukan jalan mudah.”

“Hanin tahu.”

“Kamu masih muda.”

Hanin tersenyum kecil. “Justru karena masih muda, Hanin ingin memberikan yang terbaik selagi mampu.”

Angin kembali berembus. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan.

“Baiklah,” jawab Ustazah Rahma akhirnya. “Kita doakan saja yang terbaik.”

Hanin menunduk. “Terima kasih, Ustazah.”

**

Pesantren itu memang berkembang, tapi pelan. Masjidnya mulai terasa sempit ketika santri bertambah. Ruang kelas pun sering dipakai bergantian.

Ustaz Hamid, yang kini rambutnya makin banyak dihiasi uban, beberapa kali terlihat berbincang serius dengan pengurus pondok tentang rencana pembangunan.

“Kalau ada dana, kita perlu perluas masjid,” ucapnya suatu malam di ruang tamu kecil dekat kantor pondok. “Anak-anak sudah tidak muat saat pengajian akbar.”

“Tapi dananya, Ustaz …,” jawab salah satu pengurus ragu.

Ustaz Hamid hanya menghela napas. “Kita usaha. Allah yang cukupkan.”

Tak ada yang tahu bahwa doa-doa itu ternyata sedang dijawab dengan cara yang tak terduga.

 

Suatu siang, ketika matahari cukup terik dan anak-anak sedang istirahat, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang pesantren.

Mobilnya mewah tampak mencolok. Jelas bukan kendaraan biasa yang sering keluar masuk pondok.

Santri kecil yang sedang menyapu halaman berhenti dan saling berbisik.

“Itu siapa ya?”

“Kayaknya tamu penting.”

Pintu mobil terbuka. Seorang pria muda turun dengan langkah tenang.

Posturnya tinggi tegap. Kemeja putih dengan lengan digulung rapi. Wajahnya bersih, sorot matanya tajam tapi tidak dingin.

Ia memandang bangunan pesantren itu cukup lama, seolah memastikan sesuatu dalam pikirannya.

Lalu ia melangkah masuk. “Assalamu’alaikum,” sapanya pada santri kecil di dekat gerbang.

“Wa’alaikumussalam, Kak,” jawab anak itu polos.

“Saya bisa bertemu dengan Ustaz Hamid?”

Anak itu mengangguk cepat. “Tunggu ya, Kak. Saya panggilkan.”

Beberapa menit kemudian, pria itu sudah duduk di ruang tamu sederhana kantor pondok. Dindingnya dihiasi foto kegiatan santri dan kaligrafi tua yang warnanya mulai pudar.

Ustaz Hamid masuk dengan langkah pelan.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” jawab pria itu sambil berdiri sopan.

“Silakan duduk.” Ustaz Hamid menatapnya dengan senyum ramah. “Maaf, kita belum pernah bertemu?”

Pria itu tersenyum tipis. “Belum, Ustaz. Perkenalkan, nama saya Arsenio Akbar.”

“Arsenio Akbar .…” Ustaz Hamid mengulang pelan, mencoba mengingat apakah nama itu pernah ia dengar.

“Saya datang ingin bersilaturahmi sekaligus menyampaikan niat,” lanjut Arsenio.

“Niat apa, Nak?”

Arsenio menarik napas pelan, lalu berbicara dengan tenang.

“Saya ingin menjadi donatur tetap untuk pembangunan masjid di pondok ini.”

Ruangan itu mendadak hening. Ustaz Hamid menatapnya lebih serius. “Donatur?”

“Iya, Ustaz.” Arsenio mengangguk. “Saya melihat masjidnya sudah tidak cukup menampung jumlah santri yang terus bertambah. Saya ingin membantu perluasannya. Termasuk jika memungkinkan, menambah ruang kelas untuk sekolahnya.”

Kalimat itu terdengar seperti jawaban dari doa-doa panjang yang sering dipanjatkan.

“MasyaAllah …,” lirih Ustaz Hamid.

“Tentu dengan perencanaan yang jelas dan transparan,” tambah Arsenio.

Ustaz Hamid tersenyum lembut. “Nak, niat seperti ini tidak semua orang punya. Apa yang membuatmu ingin membantu pondok kecil kami?”

Arsenio terdiam sebentar.

“Saya … hanya ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat.”

Jawabannya singkat. Terlalu singkat. Ustaz Hamid menatapnya lekat. Ada sesuatu di balik sorot mata pemuda itu.

“Kamu pernah punya hubungan dengan pesantren?” tanya beliau pelan.

Arsenio menggeleng. “Tidak secara langsung.”

“Lalu?”

“Saya hanya merasa … tempat ini pantas berkembang.”

Ustaz Hamid mengangguk perlahan. “InsyaAllah kami terbuka untuk bantuan. Tapi tentu semua harus melalui musyawarah.”

“Tentu, Ustaz.”

Hening kembali turun beberapa detik.

Lalu Arsenio melanjutkan dengan suara yang sedikit berubah.

“Ada satu hal lagi, Ustaz.”

“Silakan.”

“Saya bersedia membantu pembangunan ini … dengan satu syarat.”

Alis Ustaz Hamid terangkat tipis. “Syarat?”

Arsenio mengangguk. “Saya ingin belajar mengaji di sini.”

Ustaz Hamid tersenyum. “Itu bukan syarat yang berat. Semua orang boleh belajar.”

“Tapi .…” Arsenio berhenti sejenak. “Saya ingin diajar langsung oleh Hanin.”

Nama itu membuat Ustaz Hamid sedikit terkejut. “Hanin?”

“Iya, Ustaz.”

“Kenapa harus Hanin?”

Arsenio terdiam. Sorot matanya berubah lebih dalam. “Saya hanya ingin belajar darinya.”

Jawaban yang lagi-lagi terlalu sederhana. Ustaz Hamid menatapnya lebih lama. “Kamu kenal Hanin?”

Beberapa detik berlalu. Ruangan itu sunyi. Dari luar terdengar suara anak-anak berlari sambil tertawa.

Arsenio menunduk sesaat, lalu kembali menatap Ustaz Hamid.

“Saya pernah mendengar tentangnya.”

“Mendengar dari siapa?”

Arsenio tidak langsung menjawab.

Ustaz Hamid kembali bertanya dengan suara lebih lembut, “Dari mana kamu kenal Hanin, Nak?”

Ruangan itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Arsenio memandang ke arah jendela, tempat cahaya siang masuk menyinari lantai keramik sederhana.

Rahangnya sedikit mengeras. Seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi tertahan di ujung lidah.

“Saya .…” Ia berhenti.

Ustaz Hamid menunggu. Beberapa detik yang terasa panjang.

Tapi Arsenio tidak melanjutkan kalimatnya.Ia hanya menunduk pelan. Tidak menjawab.

1
Eka ELissa
kmu pasti bisaa nin jalanin smua nya...kmrin aj kmu bisa kan msk kmu kli ini GK mampu.... semngat nin....ada Arsen gantinya Fahmi 😄🤭
Soraya
lanjut mam
Apriyanti
lanjut thor 🙏
ken darsihk
pleaseee Hanin lupakan Fahmi dia bukan jodoh mu , dan demi persahabatan mu dngn Ghania kamu harus melupakan Fahmi
💪💪 Hanin
Teh Euis Tea
udah ya hanin km harus semangat, lupakan si fahmi dia udah mau nikah dgn sahabat km ghania, semoga km dpt penganti yg lebih dari si fahmi
Patrick Khan
udah ahhhh jgn sedih trs 😖😖😖waktunya Hanin bahagia dan ada air mata lg😭😭😭
Ilfa Yarni
tumben cerita mama Reni ini mengandung bawang nangis trus dibuatnya
Supryatin 123
jujur lebih baik Fahmi daripada jadi lelaki pecundang lnjut thor 💪💪
Radya Arynda
alhamdulillah hanin tidak sama pecundang seperti fahmi,,,semogah kamu mendapat kan yang ter baik hanin.....
Eka ELissa
aduh knpaa pke nanya cih Fahmi....
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Soraya
lanjut thor
Teh Euis Tea
alhamdulilah aku baca marathon thor
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Mama Reni: 😍😍😍😍😍😍
total 1 replies
Teh Euis Tea
sabar ya hanin si fahmi bkn jodohmu, lupakan dia semoga km bertemu jodoh yg sayang sm km
ken darsihk
Fahmi akan berkata jujur kah tentang Hanin ??
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??
Oma Gavin
kenapa fahmi malah nyebut hanin sudah dibilang anggap asing malah cari perkara fahmi
Supryatin 123
jadi curiga kan si ghania.dasar si Fahmi rada bego lnjut thor 💪💪
Naufal Affiq
lanjut kak
Radya Arynda
mantap hanin,,buang lah sampah yang tidak menghargai,dan tidak membela mu,,,kalau tau kenyataanya tentang hidup hanin setelah kamu buat masalah,menyesal kamu,,,keluargamu sombong dan egois...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!