Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirasih Bangkit
Mirasih masih bersimpuh di tanah halaman rumah Aditya, debu-debu kering menempel pada bajunya yang basah oleh air mata. Isakannya yang semula kencang kini berubah menjadi sengal napas yang putus-putus. Dunianya baru saja kiamat. Pengakuan Mak Inah bahwa Aditya memang mengirimkan surat adalah palu godam yang menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Di kepalanya, kata-kata dalam surat palsu itu bergema seperti kutukan: “Cari saja laki-laki lain di desa...”
"Nduk, ayo masuk dulu. Minum air hangat ya? Badanmu gemetar semua," ajak Mak Inah dengan suara yang bergetar penuh belas kasihan. Ia mencoba memapah lengan Mirasih yang terasa hanya seperti tulang belulang.
Mirasih menggeleng lemah. Ia melepaskan pegangan tangan Mak Inah dengan perlahan, namun ada ketegasan yang dingin dalam gerakan itu. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan yang kasar, menyisakan coretan tanah di pipinya yang pucat.
"Tidak , Mirasih mau pulang saja," ucapnya datar. Suaranya tidak lagi bergetar, namun terdengar sangat hampa, seolah nyawanya sudah tidak lagi menghuni raga itu.
"Mbak Mirasih, biar Siti antar ya? Mbak jalannya sempoyongan begitu," Siti mendekat dengan wajah cemas, ia merasa bersalah karena dialah yang mengantarkan surat "beracun" itu kemarin, meski ia tidak tahu isinya.
Mirasih menatap Siti dengan tatapan mata yang kosong—tatapan yang membuat Siti merinding. "Tidak usah, Siti. Mbak bisa sendiri. Terima kasih."
Mirasih berdiri dengan susah payah. Ia tidak ingin berlama-lama di sana. Baginya, rumah ini kini menjadi monumen dari pengkhianatan Aditya. Ia merasa malu, merasa kotor, dan merasa tidak pantas lagi berada di tengah keluarga yang—meskipun miskin—tetap memiliki martabat. Ia merasa dirinya sudah menjadi sampah yang bau, dikotori oleh mahluk ghaib dan dibuang oleh kekasih hati.
"Mirasih! Dengar Mak, Nduk! Jangan dimasukkan hati dulu, mungkin Aditya sedang pusing di sana..." teriak Mak Inah saat melihat Mirasih mulai berjalan menjauh.
Mirasih tidak menoleh. Ia terus berjalan meninggalkan halaman rumah itu. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah ia sedang menyeret beban berkuintal-kuintal di kakinya. Ia berjalan seperti mayat hidup. Pandangannya lurus ke depan, namun ia tidak benar-benar melihat jalanan. Orang-orang desa yang sedang duduk di depan rumah masing-masing memperhatikannya dengan tatapan ngeri. Mereka melihat seorang gadis muda yang berjalan tanpa ruh, rambutnya acak-acakan, kebayanya kotor, dan aura di sekelilingnya terasa sangat gelap.
Di halaman rumahnya, Mak Inah masih berdiri terpaku menatap punggung Mirasih yang perlahan menghilang di tikungan jalan. Air matanya kembali jatuh. Ia menoleh ke arah suaminya yang berdiri di ambang pintu dengan wajah muram.
"Pak, ada yang tidak beres. Mirasih itu... dia semrawut sekali. Pikirannya seperti sudah tidak di tempatnya," ucap nya sambil menyeka matanya dengan ujung jarik.
Suaminya menghela napas panjang, lalu menyulut rokok lintingannya yang sudah hampir padam. "Aku juga bingung, Bu. Seingatku, surat dari Aditya untuk kita itu isinya sangat baik. Dia bilang rindu setengah mati sama Mirasih. Kok bisa Mirasih bilang surat buat dia isinya malah menyuruh dia jangan menunggu? Apa jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa, Pak?"
" Surat itu tidak sampai ke tangan Mirasih,Broto sekarang sudah kaya mana mau dia punya besanan miskin kaya kita" jelas Bapaknya.
" Kita kasih tau , Mirasih pak " jawab istrinya.
"Jangan dulu, Bu. Kita tidak punya bukti. Kita tunggu surat berikutnya saja," kata sang suami, meskipun hatinya pun dirundung kegelisahan yang sama.
Sementara itu, Mirasih telah sampai di depan gerbang megah rumah Paman Broto. Ia berhenti sejenak, menatap rumah itu dengan rasa benci yang bercampur dengan kepasrahan yang mengerikan. Baginya, rumah ini adalah penjara yang kini akan ia tempati selamanya. Ia masuk melalui pintu depan dengan langkah pelan.
Di ruang tengah, suara televisi layar datar menyala keras. Bibi Sumi dan Siska sedang duduk bersantai di sofa empuk sambil memakan camilan mahal yang mereka beli di kota kemarin. Siska sedang tertawa melihat sebuah acara komedi, sementara Bibi Sumi sibuk mematut-matut daster sutra barunya di depan cermin.
Begitu Mirasih melintas, tawa Siska berhenti. Ia menyenggol lengan ibunya. "Eh, Mak. Lihat tuh, si setan baru pulang."
Bibi Sumi menoleh. Ia melihat Mirasih yang masuk dengan penampilan yang sangat berantakan—lusuh, kotor, dan wajah yang sangat kacau. Sebagai "pemilik aset", Sumi merasa perlu memastikan Mirasih tidak melakukan hal-hal yang merugikan mereka.
"Loh, Mirasih? Kamu dari mana saja? Katanya cuma mau cari udara segar, kok pulangnya kayak habis berguling di sawah begitu?" tanya Bibi Sumi dengan nada yang dipaksakan peduli, meskipun sebenarnya ia merasa jijik melihat kebersihan lantai barunya terancam oleh kaki kotor Mirasih.
Mirasih tidak berhenti. Ia terus berjalan menuju kamarnya tanpa melirik sedikit pun ke arah bibinya.
"Mirasih! Bibi tanya ini!" seru Sumi lagi, suaranya mulai naik satu oktaf. "Tadi di meja ada makanan, kamu makan tidak? Pamanmu sudah belikan jeruk mahal tadi, kamu jangan mogok makan lagi ya!"
Tetap tidak ada jawaban. Mirasih terus berjalan, membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya dengan bunyi klik yang dingin saat ia mengunci pintu dari dalam.
Bibi Sumi yang merasa diacuhkan seketika meledak amarahnya. Ia berdiri dari sofa, meletakkan toples camilannya dengan kasar di atas meja.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" bentak Bibi Sumi sambil berkacak pinggang di depan pintu kamar Mirasih. "Heh! Kamu dengar tidak? Sudah dikasih enak, dikasih kamar bagus, disayang-sayang, malah melunjak! Kamu pikir kamu siapa, hah? Kalau bukan karena kami yang menampungmu, kamu sudah jadi pengemis di jalanan!"
Siska ikut memanas-manasi. "Iya tuh, Mak. Makin hari makin sombong aja. Mentang-mentang sudah jadi 'istrinya' Genderuwo, kita dicuekin. Padahal kan yang bikin dia kaya juga kita."
"Buka pintunya, Mirasih! Bibi belum selesai bicara!" Sumi menggedor pintu kamar itu dengan keras. "Jangan pikir karena Pamanmu melarangku memukulmu, aku jadi takut padamu ya! Kamu itu cuma barang di rumah ini! Ingat itu!"
Di dalam kamar, Mirasih duduk di lantai, bersandar pada pintu yang sedang digedor-gedor oleh bibinya. Ia mendengar semua makian itu, namun tidak satu pun kata-kata itu yang masuk ke hatinya. Rasa sakit dari surat Aditya telah membunuh kemampuan Mirasih untuk merasa sakit dari kata-kata bibinya. Ia merasa mati rasa.
Barang... ya, aku memang cuma barang, batin Mirasih sambil menatap lurus ke arah jendela yang sudah mulai gelap.
Ia tidak menangis lagi. Matanya kering, namun hatinya hancur menjadi debu. Kegelapan di luar jendela seolah memanggilnya, mengingatkannya bahwa besok malam adalah malam Selasa. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Mirasih tidak merasa takut lagi. Jika dunia manusia—termasuk Aditya—telah membuangnya, maka ia akan memberikan dirinya sepenuhnya pada kegelapan yang menginginkannya.
Ia bangkit, berjalan menuju cermin besar di kamarnya. Ia menatap bayangannya sendiri yang hancur. Perlahan, ia mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya yang acak-acakan. Ia mengambil kain jarik baru pemberian bibinya dan mematutnya di depan tubuhnya yang kurus.
"Kalian ingin aku menjadi aset, kan?" bisik Mirasih pada bayangannya sendiri di cermin. Suaranya terdengar asing, dingin, dan penuh dengan keputusasaan yang berubah menjadi dendam yang diam. "Akan kuberikan apa yang kalian mau. Akan kujalani peran ini sampai habis."
Di luar, Bibi Sumi masih terus mengomel sebelum akhirnya ditarik oleh Paman Broto yang baru pulang dari luar.
"Sudah, Bu! Jangan ribut terus. Biarkan dia istirahat. Yang penting dia ada di dalam dan tidak lari. Besok malam kita harus pastikan dia wangi melati lagi," ucap Paman Broto menenangkan istrinya.
Rumah besar itu kembali sunyi, namun kesunyiannya terasa sangat berat. Di kamar depan, Mirasih duduk diam di kegelapan, menunggu datangnya sang penguasa malam. Ia tidak lagi memegang gelang tali hitamnya; ia telah membuang segala kenangan tentang Aditya ke dalam jurang terdalam di hatinya.
Haiii ... Jangan lupa like , komennya juga ya .
Kasih saran dan masukan , biar othor makin semngat juga.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk