Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISA ABU DAN RETAKNYA PUALAM
Lembang sedang tidak bersahabat malam ini. Kabut turun begitu rendah, pekat dan dingin, menyelimuti kebun teh seperti kain kafan yang membentang luas. Tulisan di gerbang kayu tadi menjadi pemicu guncangan batin yang hebat bagi Rangga. Nama Larasati Dewi, namun cukup tajam untuk mengiris kembali luka yang belum benar-benar mengering.
Di dalam rumah itu, aroma jahe yang direbus Syakira menguap, berusaha memberikan kehangatan di tengah udara yang membeku. Bau kayu pinus yang terbakar di perapian kecil sesekali meletup, mengirimkan bunga api yang menari di udara. Tapi, bagi Rangga, oksigen di sekitarnya terasa menipis, seolah dinding-dinding rumah mewah hasil kerja kerasnya selama dua tahun ini perlahan menghimpit paru-parunya.
Bayangan itu kembali. Bayangan Jakarta yang kotor dan kejam. Dua tahun lalu, di depan pintu rumah sederhana, Laras berdiri dengan mata menyalang, jari telunjuknya yang lentik menuding tepat ke hidung Rangga. Urat lehernya menonjol, wajah yang dulu ia puja berubah menjadi paras monster yang mengerikan.
"Pergi kamu, Rangga! Bawa anak itu! Aku menyesal pernah menikah dengan lelaki sampah miskin sepertimu! Aku malu punya suami tukang ojek yang baunya hanya keringat dan aspal!"
Kalimat itu berulang-ulang seperti kaset rusak di kepala Rangga. Dua tahun ia membangun kerajaan angkringannya di Bandung, berdarah-darah mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membuktikan diri. Tapi malam ini, melihat nama itu, ia sadar: ia tidak pernah benar-benar pergi dari halaman rumah di Jakarta saat kopernya dilempar ke aspal di depan mata Rinjani yang menjerit ketakutan. Laras memang sudah meninggal, pergi ke liang lahat membawa segala pengkhianatannya dengan Badru, tapi hantunya masih bersemayam di bawah kulit Rangga.
"Mas... sudah jam satu malam. Kenapa belum tidur? Kamu lelah, ya?" suara lembut Syakira memecah kesunyian, mengalun seperti melodi pualam yang halus.
Rangga tidak menoleh. Jemarinya gemetar hebat di atas meja, bukan karena dinginnya Lembang, tapi karena trauma yang mendadak meledak, mengirimkan gelombang panas yang membakar hingga ke ubun-ubunnya. Racun masa lalu itu mulai merembes, mencemari pandangannya terhadap wanita suci yang kini berdiri di belakangnya.
"Mas?" Syakira melangkah mendekat, menyentuh lengan Rangga dengan telapak tangan yang halus, mencoba menyalurkan ketenangan.
Rangga tersentak sehebat-hebatnya. Ia menyentak tangannya dengan kasar, seolah sentuhan Syakira adalah bara api yang menyulut luka lamanya. Ia berbalik, matanya merah padam, sorot matanya yang biasanya penuh cinta kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian yang gelap dan tidak pada tempatnya.
"Jangan sentuh aku! Kalian sama saja!" bentak Rangga, suaranya menggelegar menabrak dinding rumah.
Syakira tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. Langkahnya mundur seketika, pinggulnya menabrak pinggiran meja makan hingga gelas jahe di atasnya berdenting keras, seolah ikut menjerit. "Mas bicara apa? Ini aku, Syakira. Istrimu yang sedang mengandung anakmu, Mas!"
"Istri?" Rangga tertawa getir, tawa yang kering dan mengerikan seperti gesekan tulang di atas kuburan. "Dulu Laras juga bilang begitu! Dia bilang akan menemaniku sampai mati! Tapi apa? Begitu ada pria perlente seperti Badru, dia mengusirku seperti anjing kurap! Dia membuangku dan Rinjani ke jalanan!"
Rangga melangkah maju dengan liar, memojokkan Syakira ke dinding ruang tamu. Bau mawar yang biasanya menenangkan dari tubuh Syakira kini terasa mencekik, berubah menjadi bau pengkhianatan di indra penciuman Rangga yang sudah rusak oleh trauma. Dia pasti sama, bisik sebuah suara jahat yang menggema di tempurung kepalanya. Dia putri Pak Mansyur yang kaya raya. Dia hanya kasihan padamu. Suatu saat, ketika kamu tidak lagi berguna, dia akan melemparkanmu kembali ke aspal.
"Mas, aku bukan Laras... Demi Allah, aku nggak pernah berpikir begitu..." Syakira mulai terisak, bahunya berguncang hebat. Air matanya jatuh mengenai punggung tangan Rangga yang kasar, air mata yang hangat dan tulus, tapi Rangga justru merasa mual, seolah itu adalah racun yang akan melumpuhkannya.
"Bohong! Kalian para wanita hanya mencintai kenyamanan! Kalian mencintai sosok 'pahlawan' yang bisa memberi kalian kemewahan dan rumah besar ini!" Rangga mencengkeram tepi meja hingga kuku-kukunya memutih dan meja itu berderit protes. "Kapan giliranmu mengusirku, Syakira? Kapan kamu akan bilang kalau kamu muak melihat wajah aku penuh luka ini? Katakan sekarang sebelum aku semakin tinggi terbang!"
Syakira menggeleng cepat, wajahnya yang cantik kini pucat pasi, nyaris transparan di bawah remang lampu kuning yang bergoyang. "Mas... demi janin di rahimku ini, aku memilihmu karena jiwamu, bukan karena masa lalumu... tolong, jangan hukum aku atas dosa orang lain..."
Rangga tidak lagi bisa mendengar. Logika dan cintanya telah hangus terbakar oleh abu masa lalu. Ia menyambar kunci motor trail-nya di atas meja dengan gerakan kasar. Logam kunci itu terasa dingin dan nyata, sebuah tiket untuk lari dari kenyataan yang menyesakkan ini. Ia butuh lari. Ia butuh memacu adrenalin untuk menenggelamkan rasa takut diusir yang kembali menghantuinya.
"Aku lelah, Syakira. Aku lelah berpura-pura bahwa pernikahan ini nyata," desis Rangga, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu yang menyayat jantung. "Setiap kali aku melihatmu tersenyum, aku melihat Laras yang sedang merencanakan pengkhianatannya. Kamu punya kesempatan untuk mengusirku lagi. Lebih baik aku yang pergi lebih dulu!"
"Mas, jangan pergi... di luar badai kabut, Mas! Jalanan licin!" Syakira menjerit, tangannya mendadak memegangi perutnya yang menegang. Kontraksi hebat akibat stres yang luar biasa mulai menghantam rahimnya. "Perutku sakit, Mas... tolong, ini benar-benar sakit... jangan tinggalkan aku sendirian dalam kegelapan ini!"
Rangga hanya menoleh sekilas dengan tatapan yang membeku. Di dalam batinnya yang sedang terdistorsi, ia berteriak: Sandiwaranya mulai! Dia menggunakan kehamilannya untuk merantai kakiku, persis seperti taktik Laras dulu yang pura-pura sakit agar aku mau bekerja lembur sementara dia bersenang-senang dengan pria lain!
"Hentikan akting murahanmu, Dek," ujar Rangga dingin, sedingin es di puncak gunung. "Aku sudah muak dengan drama wanita yang selalu menggunakan air mata dan rasa sakit sebagai senjata."
"MAS RANGGA!" Syakira merosot ke lantai, kukunya mencakar-cakar lantai kayu, tangannya yang gemetar hebat mencoba menggapai ujung jaket kulit Rangga yang keras. "Rinjani sedang tidur... jangan buat dia bangun dan melihat Ayahnya pergi dengan kebencian seperti ini..."
Mendengar nama Rinjani, tubuh Rangga sempat membeku sesaat. Tapi, memori tentang Rinjani yang menangis di trotoar Jakarta dua tahun lalu justru semakin menyulut api kemarahannya. Ia merasa harus menjadi liar untuk bisa bertahan hidup. Ia harus "menghukum" dunia sebelum dunia menghukumnya kembali.
Rangga menyentak kakinya, melepaskan pegangan tangan Syakira dengan paksa hingga Syakira tersungkur ke lantai. Rangga tidak menoleh untuk melihat wajah istrinya yang meringis kesakitan, ia tidak peduli pada keringat dingin yang membanjiri dahi Syakira.
Ia melangkah keluar, membanting pintu depan dengan dentuman yang menyerupai suara bom yang meledak di tengah malam Lembang yang sunyi. Suara motor trail-nya meraung sedetik kemudian, memecah kabut dengan kasar, memacu kencang menuju jalanan berkelok yang tertutup misteri.
Di dalam rumah, Syakira masih bersimpuh di lantai yang membeku. Rasa nyeri menjalar dari perut ke pinggangnya, seolah ada pedang panas yang sedang membelah tubuhnya.
"Ya Allah... selamatkan anakku..." bisiknya parau, suaranya hilang di tenggorokan.
Syakira mencoba bangkit, tangannya meraba-raba meja untuk meraih telepon, namun tenaganya seolah menguap keluar dari pori-porinya. Pandangannya mulai berputar, lampu ruang tamu tampak seperti gumpalan cahaya yang meledak-ledak. Di saat itulah, ia merasakan sensasi hangat, basah, dan kental mengalir di sela pahanya, merembes cepat ke kain daster putih yang ia kenakan.
Matanya terbelalak ngeri saat melihat ke bawah. Di atas lantai mengalir cairan merah pekat yang semakin lama semakin luas. Darah itu tampak hitam di bawah cahaya yang remang.
"Mas... Rangga..." rintihnya terakhir kali sebelum kepalanya menghantam kaki kursi.
Kesunyian yang mematikan itu mendadak pecah oleh suara langkah kaki kecil dari arah kamar. Rinjani terbangun, bukan karena mimpi buruk, tapi karena suara pintu yang dibanting ayahnya sanggup mengguncang tidurnya. Bocah itu melangkah sambil memeluk bonekanya, matanya yang bulat mengerjap-ngerjap mencari sumber suara.
"Mama? Papa mana?" panggil Rinjani lembut.
Langkah kaki mungilnya terhenti di ambang pintu ruang tamu. Cahaya lampu yang bergoyang memperlihatkan sebuah pemandangan yang akan menghantui masa kecilnya selamanya. Ia melihat Mamanya tergeletak tak berdaya, wajahnya sepucat mayat, dan genangan darah yang terus melebar di sekelilingnya.
"MAMA! MAMA BANGUN! MAMA JANGAN TIDUR DI DARAH!" jerit Rinjani, suaranya melengking membelah badai kabut Lembang. Namun ayahnya sudah hilang ditelan kegelapan, memacu motornya dengan gila, mengejar bayangan masa lalu dan meninggalkan nyawa yang paling mencintainya di ambang kematian yang nyata.
Di jalan raya, Rangga memacu motornya hingga batas maksimal. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin dan racun ego. Ia merasa telah "menang", telah membalas dendam pada "wanita" dalam kepalanya. Tapi, jauh di sudut hatinya, sebuah firasat buruk mulai merayap seperti ular dingin, menusuk ulu hatinya dengan rasa ngeri yang tak bisa dijelaskan.
Ponsel di saku jaketnya bergetar tak henti-henti. Panggilan dari rumah. Panggilan dari Rinjani yang menjerit histeris sambil memegangi tangan Mamanya yang mulai mendingin. Tapi Rangga tetap memacu motornya, semakin kencang, semakin dalam ke jantung kegelapan.
Tiba-tiba, lampu depan motornya menyorot sebuah bayangan putih besar yang muncul dari balik kabut secara mendadak. Sebuah truk ataukah hanya halusinasinya? Rangga menarik rem dengan panik, ban motornya selip di atas aspal basah yang licin seperti minyak. Motor itu terpelanting, menyeret tubuh Rangga ke arah jurang Lembang yang menganga lebar.
Pandangannya menjadi gelap dalam sekejap, dan hal terakhir yang ia rasakan sebelum tubuhnya menghantam dasar jurang adalah suara tangisan Rinjani yang seolah-olah ditiupkan angin tepat ke liang telinganya.