Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Kegelapan
Yohan menyelinap keluar dari kantor desa. Udara sudah berganti dingin, menggigit kulitnya hingga ke tulang. Waktu mendekati pukul 02.00, beberapa jam lagi fajar akan menyingsing. Di punggungnya, Patung Pusaka menempel erat, membeku. Di saku kirinya, ringkasan kepolisian yang dingin dan penuh kebohongan. Di saku kanannya, Jimat Tulang Ina, memancarkan kehangatan kecil yang membimbing.
Ia seharusnya sudah di Batu Persembahan, bersiap untuk mengorbankan identitas modernnya dan memurnikan Pusaka dari Janji Darah terkutuk itu. Namun, sketsa mengerikan dari Ayahnya dan kesaksian Mandor Yunus mengharuskan agenda baru: keadilan yang brutal, yang ia perlukan sebagai bahan bakar emosional untuk 'Pertukaran Jiwa Total'.
Keadilan harus ditegakkan sebelum aku melebur. Aku butuh pengakuan itu, agar Pusaka tahu bahwa pertukaranku murni: bukan karena dendam Ayah, tetapi untuk kebenaran Yalimo, pikir Yohan.
Yohan mendekati pintu rumah kayu tua Gede. Ia tidak mengetuk. Dia hanya berdiri di ambang, membiarkan energi spiritual dingin dari Pusaka yang dibawanya mengalir, menyelimuti gubuk itu. Tekanan spiritual adalah pengunci pintu yang lebih efektif daripada kunci gembok Marta.
Dalam waktu kurang dari semenit, pintu kayu berderit pelan dari dalam, dibuka hanya selebar ibu jari. Yohan melihat sepasang mata merah, cekung, dan penuh rasa takut menatapnya.
“Siapa?” desah Gede. Suara seraknya tipis, parunya jelas bermasalah.
“Marta bilang… kamu sudah pergi, Yohan. Kami dengar jeritan roh tadi malam…”
“Aku datang dari tempat ibuku. Dan dari tempat ayahnya,” kata Yohan pelan, nadanya lebih mendominasi daripada kata-kata yang ia ucapkan.
“Aku tidak akan mencuri atau membunuh. Aku hanya mencari kesimpulan moral yang harus ditegakkan, Gede.”
Gede membuka pintu sedikit lebar, menampakkan ruang kecil yang disinari lampu minyak.
“Masuk,” Gede menyerah, tubuhnya doyong bersandar kusen.
“Aku tidak bisa berbohong lagi. Roh di hutan tidak mengizinkanku tidur semenjak kau datang.”
Yohan melangkah masuk.
“Aku sudah melihat sketsa Ayahku, dan sudah berbicara dengan Mandor Yunus,” Yohan memulai, tanpa basa-basi. Ia langsung menyerahkan dokumen kepolisian resume kecelakaan, menekankannya ke tangan Gede yang gemetar.
“Sangat rapi. Kecelakaan. Tidak ada saksi. Tanda tangan Marta dan lima tetua. Aku yakin namamu ada di sana.”
Gede mengatupkan dokumen itu di antara telapak tangannya. Matanya berkaca-kaca, dipenuhi ketakutan dan penyesalan. Dia jatuh duduk di tempat tidur sempitnya, terbatuk kering. Ia tampak lebih tua dan lebih sakit daripada Marta, mungkin sudah menyerah untuk melawan kematian yang mendatangi mereka semua.
“Kau tidak akan mengerti tekanan di sini, Nak,” kata Gede, nadanya kini melunak.
“Yalimo harus hidup. Yosef terlalu obsesif. Ya, dia melindungi Yalimo. Tapi cara dia melindungi tidak masuk akal bagi kami. Kami melihat kesempatan bagi Yalimo untuk kaya.”
Yohan berdiri tegak, memandang wajah Gede yang tampak memohon simpati.
“Kaya? Dengan menjual janji ke perusahaan tambang? Mengorbankan Ibuku?”
“Kami memaksa Yosef. Betul,” Gede mengakui, suaranya pelan dan mengikis.
“Dia, dengan ritual Janji Darah, berhasil mengikat roh ibumu di perbatasan, menjadikan tanah itu kebal dari upaya penambang asing. Sumiati menjadi Perisai Hidup Yalimo.”
Yohan merasakan ledakan emosi di dadanya, memaksanya menekan amarah yang terkumpul. Ayahnya tidak sepenuhnya salah. Ayahnya memang Pahlawan.
“Dia berhasil melindungi, bukan? Lantas, kenapa Ayah dibunuh? Mengapa kalian membuatku benci padanya karena dia dituduh fanatik yang mengorbankan Istrinya karena kecemburuan?” tanya Yohan, suaranya tercekat.
Gede terisak. Ia menyentuh Jimat Perunggu tua yang tergantung di dinding.
“Kami menginginkan imbalan. Setelah ibumu diikat dan kutukan primordial Yalimo teredam oleh ikatan itu, Marta berunding dengan perwakilan tambang dari Jakarta.”
“David,” potong Yohan tajam, mengkonfirmasi nama antagonis korporat di kepalanya.
“Mereka datang dengan tawaran konyol: kami akan membiarkan mereka ‘mengeksplorasi’ area yang berbatasan. Janji Darah Sumiati akan melindungi kami dari eksploitasi berlebihan. Tapi uang tunai untuk infrastruktur Yalimo sangat besar. Yosef... Yosef tidak mau kompromi.”
Gede menarik napas sulit, suaranya makin terengah.
“Malam setelah ritual Janji Darah, saat Yosef kembali ke Batu Persembahan, kami bertemu dia. Kami menuntut agar Yosef memberikan Pusaka, Kunci utama ritual yang menjaga semua keseimbangan di Batu Persembahan, kepada kami agar Marta dapat memberikannya kepada mereka. Katanya, tanpa Kunci itu, ikatan Sumiati tidak bisa putus.”
“Yosef menolak. Dia sudah memegang Pusaka,” Yohan menyimpulkan, melihat ke Pusaka di punggungnya.
“Ayah tahu Pusaka tidak boleh jadi tawar-menawar.”
Gede mengangguk putus asa.
“Yosef bilang, ia bukan pengorban darah, ia Penjaga. Dia akan memurnikan Pusaka dan memutus ikatan ibumu, kemudian melindungi tanah dengan niat murni. Dia menantang otoritas kami di depan Batu Persembahan.”
Yohan menarik kursi kecil dan duduk di hadapan Gede. “Lalu kau dan Marta membunuhnya. Pukulan kayu keras, Gede? Memalsukan resume. Dan ibuku diikat sebagai tawanan roh yang selamanya harus disiksa?”
“Ya Tuhan, Nak, aku sangat menyesal!” ratap Gede.
“Aku tahu aku akan mati dalam beberapa bulan ke depan. Aku melihat hantu di mana-mana. Aku hanya mau kau tahu: kami tidak jahat! Kami hanya takut miskin. Yosef terlalu idealis. Marta terlalu serakah.”
Yohan bangkit. Perjalanan pribadinya telah selesai. Dia tidak perlu mencari pengakuan spiritual lebih jauh, atau dokumen hukum lainnya. Kenyataan Yosef adalah seorang pahlawan yang kalah telah memurnikan trauma kebenciannya, memberikannya fondasi emosional untuk menjadi Penjaga yang lebih baik dari ayahnya.
“Ayahku mencoba melindungi kami semua, Gede. Dia mencoba melawan penguasa yang serakah, Dan sekarang aku di sini untuk melunasi utangnya,” kata Yohan, menahan desahan emosi.
“Aku sudah menemukan Pusaka Batu, dan aku akan melakukan Pertukaran Jiwa Total di Batu Persembahan, agar ibuku bebas, dan janji kotor itu — janji dengan David — tidak memiliki legitimasi spiritual untuk menjual Yalimo.”
Wajah Gede yang lemah tiba-tiba panik total, melepaskan segala penyesalan sesaat yang ia rasakan. Dia terlonjak dari kasurnya. Ia lupa akan penyakit paru-parunya.
“TIDAK! JANGAN KE BATU ITU!” teriak Gede, yang langsung memicu batuk hebat. Darah bercampur ludah keluar dari mulutnya.
“Apa lagi yang kalian sembunyikan?” tanya Yohan, matanya menyipit, siap menerima lapisan terakhir dari kejahatan ini.
“Bukan, bukan! Aku bukan menyembunyikan kejahatan!” seru Gede, hampir menangis histeris. “Aku hanya mau bilang, jangan lepaskan ikatan ibumu di Batu itu! Janji Darah BUKAN KUTUKAN! Itu adalah pengaman! Kau yang akan membunuh kami semua!”
“Ayahku berkata Sumiati adalah penjaga, tetapi rohnya disiksa! Aku harus membebaskannya, Gede! Ritual ini adalah pemurnian! Kata Ina, Dukun Penjaga Api, Kutukan Primordial sudah ada sebelum Pusaka!” bantah Yohan, kini menghadapi lapisan kegilaan yang baru.
Gede menatap Jimat Ina di saku Yohan, lalu Pusaka yang bergetar di punggungnya, lalu kembali menatap mata Yohan yang baru. Kau bicara dengan Ina… ya, Ina benar, Pusaka memang primordial. Tapi ikatan Ibumu, meski kejam, menahan energi Pusaka yang jauh lebih buruk di sana. Kami berlima mencoba menemukan cara melepaskannya sejak Yosef mati, tapi Pusaka itu menjadi tak terjamah.
“Apa Pusaka yang akan aku gunakan sebagai ‘Pertukaran Jiwa’ akan menyebabkan Kutukan Primordial Yalimo dilepaskan?” tuntut Yohan.
Gede tersentak hebat, kepalanya berguncang pelan, lalu dia mengangguk pelan. Ekspresi ngeri terpampang di wajahnya.
“Begitu Pusaka terbebaskan dan Sumiati tidak lagi menjadi jangkar spiritual di perbatasan itu… Pusaka itu akan… akan dilepaskan! Dia tidak akan kembali lagi! Marta akan menjual tanah perbatasan itu dan korporasi akan memusnahkan kita!
“Marta sudah membuat Janji Darah Baru! David dan timnya sudah dalam perjalanan, Marta menunggu ini!” teriak Gede. Dia tiba-tiba berbalik dan mencoba berlari menuju pintu untuk melarikan diri, untuk memperingatkan Marta tentang niat Yohan.
“Tahan!” Yohan menyambar bahu Gede, kekuatannya yang kini lebih berenergi berhasil mengunci sesepuh yang batuk itu di dinding.
“Kamu sudah tahu kebenaran yang aku cari. Pusaka akan dimurnikan. Yalimo tidak akan dijual lagi, Gede.”
“Aku harus memperingatkan Marta! Dia punya rencana lain di balik Pusaka, yang belum kami katakan padamu! Jangan pimpin Pusaka di malam Pemurnian, Nak, itu jebakan!” Gede memohon, kini dengan kesedihan yang tampak asli.
Yohan menggeleng. Ini hanyalah drama manusia terakhir sebelum Pusaka dimurnikan.
“Waktunya untuk Yalimo bersih dari orang-orang seperti kamu dan Marta. Ayahku memberiku satu jam lagi untuk menyempurnakan Pertukaran Jiwa, dan kamu tidak akan menghentikannya.”
Dengan kecepatan refleks yang tidak pernah ia duga ia miliki, Yohan menggunakan laci kecil di meja, menggeser kusen besar, dan mengunci pintu kamar Gede dari luar. Dia memasukkan tongkat penyangga tua Gede di gagang pintu.
Yohan mengambil kunci kamar dari lantai. Ia kembali menyentuh Jimat Tulang Ina, menyelaraskan denyut jantungnya. Kebencian terhadap ayahnya telah mati. Ia telah menemukan Pusaka Batu, Kunci Pertukaran Jiwa. Ia memikul semua beban: kebenaran pembunuhan ayahnya dan tugas kosmik membebaskan Yalimo dari Pusaka primordial. Ini bukan lagi soal uang, tetapi menyelamatkan Yalimo dari kebinasaan yang diukir para pemimpinnya sendiri.
Yohan berdiri tegak, kelelahan, namun puas. Sebuah keputusan harus dibuat, bahkan jika itu harus merilis Kutukan Primordial yang lebih tua dari Yalimo.
“Saatnya ke Batu Persembahan. Permainan sudah berakhir, Marta,” bisik Yohan.
Dia berbalik dari gubuk yang kini dipenuhi batuk dan tangis histeris Gede. Ia bergerak secepat mungkin, menghilang dalam kabut tengah malam, membawa Jimat Ina sebagai kunci, Patung Pusaka sebagai taruhan, dan janji suci pada keluarganya yang dibunuh.