NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Kontrak Setengah Hati

​"Jadi, Mas mau ngomong apa? Cepat dong, sheet mask di muka aku keburu kering nih."

​Zoya duduk di kursi kerja Kalandra yang empuk, kakinya berputar-putar santai. Wajahnya tertutup masker tisu basah, membuat ekspresinya sulit ditebak, tapi nada suaranya jelas menyiratkan ketidaksabaran.

​Kalandra mondar-mandir di depan meja kerjanya sendiri seperti setrikaan rusak. Dia sudah lima kali membuka mulut hendak bicara, tapi menutupnya lagi. Harga dirinya sebagai suami dan komandan polisi sedang bertarung hebat dengan kebutuhan mendesak akan otak jenius istrinya.

​"Ehem," Kalandra berdeham keras, mencoba mengumpulkan wibawa. Dia berhenti mondar-mandir dan menumpukan kedua tangannya di meja, menatap Zoya tajam—atau setidaknya mencoba tajam. "Soal tawaran Jenderal Bram tadi siang."

​"Oh, yang itu," sahut Zoya dari balik maskernya. Suaranya terdengar gumam. "Kan sudah aku tolak. Aku sibuk. Besok jadwalnya luluran."

​"Zoya, please," Kalandra mengerang frustrasi. Dia menarik kursi lain dan duduk berhadapan dengan istrinya. "Jenderal Bram sudah kasih perintah langsung. Tim buntu. Kita nggak punya petunjuk baru selain yang kamu kasih kemarin. Kalau kasus ini nggak pecah dalam minggu ini, media bakal goreng kita habis-habisan."

​Zoya menepuk-nepuk pipinya pelan, meratakan serum masker. "Terus urusannya sama aku apa? Kan Mas punya tim hebat. Punya Sinta yang rajin... rajin dandan."

​"Jangan bahas Sinta. Dia sudah kena sanksi," potong Kalandra cepat. Dia menarik napas panjang, menatap manik mata Zoya yang terlihat dari lubang masker. "Aku... butuh bantuan kamu. Oke? Aku ngaku. Analisis kamu kemarin bukan cuma hoki. Kamu memang jago. Puas?"

​Zoya diam sejenak. Tangan kanannya bergerak perlahan, melepas masker tisu dari wajahnya yang kini lembap dan bersinar glowing. Dia membuang masker bekas itu ke tempat sampah di samping meja dengan gerakan melempar yang akurat.

​"Belum puas," jawab Zoya santai. "Mas minta tolong, tapi nadanya masih kayak ngasih perintah. Mana kata ajaibnya?"

​Urat di pelipis Kalandra berkedut. Dia benar-benar diuji. "Tolong," ucapnya kaku. "Tolong bantu aku, Zoya."

​Zoya tersenyum miring. Senyum kemenangan. "Nah, gitu dong. Kan enak didengarnya."

​Dia menegakkan duduknya, mode santainya sedikit berkurang. "Aku mau bantu. Kasian juga liat Mas pulang tiap malam muka kusut kayak baju belum disetrika. Tapi aku punya syarat. Ini kontrak kerja profesional, bukan pengabdian istri soleha."

​Kalandra mengangguk cepat. "Sebut saja. Mau tas? Sepatu? Atau mobil baru?"

​"Ck, Mas pikir otakku isinya cuma belanjaan?" decak Zoya. Dia mengangkat jari telunjuknya. "Satu, Mas nggak boleh atur cara kerjaku. Kalau aku bilang A, ya A. Jangan didebat pakai logika polisi Mas yang kaku itu. Metodeku beda."

​"Oke, deal," sahut Kalandra tanpa pikir panjang.

​"Dua," Zoya mengangkat jari tengahnya, lalu sadar itu tidak sopan dan buru-buru menggantinya dengan dua jari. "Aku nggak mau ngantor tiap hari. Aku kerja remote dari rumah atau turun lapangan kalau perlu saja. Dan yang paling penting... aku nggak mau pakai seragam polisi."

​Kalandra mengernyit. "Lho? Kenapa? Itu identitas tim penyidik. Biar kamu nggak ditahan satpam lagi kayak kemarin."

​"Seragam itu jelek, Mas," jawab Zoya jujur tanpa rasa bersalah. "Warnanya cokelat kusam, potongannya nggak flattering di badan, kainnya panas dan kasar. Bisa iritasi kulit aku nanti. Pokoknya aku mau tetap pakai baju aku sendiri. No negotiation."

​Kalandra memijat pangkal hidungnya. Alasan macam apa itu? Tapi dia tidak punya posisi tawar yang kuat.

​"Terserah," desis Kalandra pasrah. "Kamu mau pakai daster, mau pakai gaun pesta, terserah. Asal kamu bisa kasih aku nama pelakunya."

​"Oke, deal," Zoya mengulurkan tangan.

​Kalandra menyambut uluran tangan itu. Kulit tangan Zoya terasa sangat halus dan dingin, kontras dengan tangan Kalandra yang kasar dan hangat. Ada getaran aneh saat kulit mereka bersentuhan, tapi Zoya langsung menarik tangannya kembali.

​"Sekarang, mana berkasnya?" tagih Zoya.

​Kalandra menunjuk papan tulis whiteboard besar di dinding ruang kerjanya. Di sana tertempel foto-foto TKP, peta lokasi, dan benang merah yang ruwet. Itu adalah "altar pemujaan" Kalandra selama berbulan-bulan menangani kasus ini.

​"Itu semua data yang kita punya. Foto TKP korban satu sampai tiga," jelas Kalandra sambil berdiri, berjalan mendekati papan tulis. "Pelaku sangat rapi. Tidak ada sidik jari. Tapi dari pola tusukan di korban pertama—sebelum dia beralih ke suntikan—kita yakin dia kidal."

​Kalandra menunjuk foto luka tusuk di bahu korban pertama. "Lihat, lukanya miring dari kiri atas ke kanan bawah. Sudut masuknya menunjukkan pelaku memegang pisau dengan tangan kiri."

​Zoya berdiri, berjalan mendekati papan tulis itu dengan langkah pelan. Dia menyipitkan mata, menatap foto yang ditunjuk Kalandra. Jarak wajahnya hanya beberapa sentimeter dari foto mayat yang mengerikan itu.

​Hening. Zoya diam cukup lama.

​"Mas," panggil Zoya pelan.

​"Ya? Jelas kan kalau dia kidal? Makanya kita fokus nyari dokter atau tenaga medis yang kidal di database," kata Kalandra yakin.

​Zoya berbalik badan, menyandarkan punggungnya ke papan tulis, lalu melipat tangan di dada. Dia menatap suaminya dengan tatapan kasihan.

​"Pantas saja kalian nggak nemu-nemu pelakunya sampai lebaran kuda," ucap Zoya datar.

​"Maksudmu?"

​"Kalian salah fokus. Pelakunya bukan kidal," bantah Zoya telak.

​Kalandra melotot. "Ngaco kamu. Forensik pusat sudah konfirmasi lukanya—"

​"Forensik pusat cuma lihat lukanya, nggak lihat konteks-nya," potong Zoya, jarinya mengetuk foto tali yang mengikat tangan korban. "Lihat simpul tali ini, Mas. Ini simpul reef knot yang dimodifikasi. Perhatikan lengkungannya."

​Kalandra mendekat, memicingkan mata melihat tali temali yang tampak biasa saja baginya.

​"Kalau orang kidal yang bikin simpul, putaran tali di bagian atas akan mengarah berlawanan jarum jam secara natural. Itu memori otot, nggak bisa dipalsukan," jelas Zoya, suaranya berubah tajam, mode The Scalpel aktif. "Simpul di tangan mayat ini putarannya searah jarum jam. Sangat rapi, sangat kencang."

​Zoya mengambil spidol merah dari meja, lalu mencoret kata "KIDAL" yang tertulis besar di papan tulis itu.

​"Pelakunya bertangan kanan dominan, Mas," pungkas Zoya sambil menutup spidol dengan bunyi klik nyaring. "Soal luka tusuk itu? Dia menusuknya dari belakang dengan posisi pisau dibalik, makanya sudutnya mengecoh kalian seolah-olah dia kidal. Dia sengaja. Dia mempermainkan logika kalian."

​Kalandra ternganga, menatap papan tulisnya yang baru saja dikoreksi total dalam waktu kurang dari dua menit. Selama tiga bulan, timnya menyisir daftar orang kidal, membuang waktu dan tenaga, sementara Zoya mematahkan teori itu hanya dengan melihat foto tali.

​"Sialan," bisik Kalandra, kali ini bukan umpatan marah, tapi umpatan takjub. Istrinya benar-benar mengerikan.

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!