NovelToon NovelToon
'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.

Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,

"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."

Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.

Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,

Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DaungProperti

"Mahal banget yah..." batin Nila terbelalak, mulutnya tersenyum kaku, mendapati katalog rumah yang disediakan.

Hampir semua nominal yang tertulis melebihi angka tanungannya, meski begitu Nila tak bergeming.

Daung Properti sudah terkenal luas dan memiliki reputasi bagus, tak jarang orang tahu tentang perusahaan ini.

"Kira-kira rumah seperti apa yang sesuai dengan anggaran anda?" ucap pegawai berusaha membantu gadis yang terlihat bingung menentukan pilihan,

"Ng, bisa tunjukkan model rumah yang paling sederhana?" pinta Nila tersenyum ramah,

Namun tak tahu mengapa pegawai tadi tiba-tiba bersikap tak acuh pergi menyambut orang yang baru saja datang. "Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"

"Tunjukkan kami rumah dengan 2 lantai yang ada di pusat kota." sahut pria dengan setelan jas yang ditemani istrinya.

"Baik, silahkan. Saya akan temani anda untuk melihat-lihat," pegawai itu mengangguk dengan senyum ramah.

"Tunggu! Bukannya saya yang datang lebih dulu? Seharusnya saya yang diperlihatkan rumahnya," protes Nila menghentikan pegawai yang hendak pergi,

Membuat pasangan tadi menoleh, memandang penuh kritik. Sorot mat mereka bergerak mengamati dari ujung kepala hingga kaki, lalu mendengus remeh. 

Mungkin karena penampilan sederhana Nila yang hanya memakai tunik selutut dan sepatu murah. 

"Cih, bersikap sok kaya." gerutu pegawai wanita yang melangkah mendekatinya dengan raut malas.

"Dengar ya. Aku sudah sering ngelihat orang seperti kamu."

"Bermimpi jadi orang elit terus iseng datang kesini, cuma biar dapat layanan teh gratis yang kami sediakan."

"Aku gak ada waktu ngeladenin orang seperti kamu, jadi jangan ganggu tamu vip kami." tegasnya muak.

"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku bahkan belum mengatakan apapun---" ujar Nila membela diri,

"Apa karena aku cuma mencari rumah sederhana? Terus kamu pikir saya iseng dan ga mau membelinya?"

Pegawai itu mendengus, semakin bersikap semena-mena. "Sayang sekali aku harus jujur, mungkin ini bakal ngerusak mimpimu itu."

"Asal kamu tahu, uangmu tidak akan pernah cukup membeli rumah disini. Bahkan kalau ditotal, seluruh gajimu dalam satu tahun saja tidak cukup untuk membayar uang muka!" 

"Setengahnya saja, tidak akan cukup." tambahnya meninggikan suara,

"Aku dengar Daung Properti menjual unit yang bagus. Reputasi kalian juga terkenal di komunitas elit, tapi apa ini?" sontak wanita yang menenteng tas mewah,

Rupanya sepasang suami istri tadi menyimak percakapan pegawai yang tengah mengolok Nila.

"Aku tidak ingin disamakan dengan orang sepertinya. Ini akan merusak citra kami," menggerutu menyombongkan diri,

"Sepertinya kami sudah selesai melihat-lihat, ayo kita pergi dari sini." ajak pria itu hendak melangkah,

"Tunggu, abaikan saja dia. Mari saya akan mengantarkan anda untuk melihat-lihat," 

"Ng!" Nila menggertakkan gigi merasa geram melihat tingkah mereka.

Seolah-olah paling berkuasa lalu berani merendahkan orang lain. Apa mereka pikir hanya orang kaya yang bisa dan berhak membeli rumah?

"Orang kaya mana yang bersikap seperti kalian." kritik Nila menatap punggung yang hendak berjalan, berhasil menghentikan langkah mereka.

"Kamu juga sebagai karyawan, bukannya tugasmu melayani semua pelanggan dengan baik?"

"Ini malah pilih-pilih, terus seenaknya ngenilai berdasarkan spekulasi ga jelas."

"Padahal Daungproperti terkenal profesional dan melayani pelanggan mereka tanpa memandang status."

"Terus apa ini? Sikapmu itu cuma bakal mencoreng nilai dan nama perusahaan," 

"Dan kalian? Komunitas elit itu isinya orang kaya sejati yang ga akan bertingkah sok, ga juga merasa jadi yang paling atas."

"Malah orang kayak kalian ini yang dimusuhi orang elit." ketusnya menatap sinis,

"Kamu! Dasar cewek bermulut pedas," cibir pegawai yang merasa geram

"Sudah cukup, aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari sini!"

"Bagaimana ini, karyawan itu mau mengusir nyonya? Apa tuan akan diam saja?" celetuk Herman panik melihat situasi yang semakin runyam.

"Berani-beraninya! Wanitaku harus dihormati," gumam Elang mengepalkan tangan,

"Pergilah, bantu dia. Pastikan 3 orang itu menghilang dari sini," suruhnya menatap tajam,

"Saya?" Herman menganga dengan kedua alis terangkat, 

Bagaimana bisa dia menghadapi masalah yang seharusnya diselesaikan oleh tuannya. 

"Siapa lagi yang bisa ku suruh? Ga mungkin aku mengaku sebagai pemilik DaungProperti." gerutu Elang mengernyit, 

"Tidak-tidak, saya ga tau harus ngomong apa." berusaha menolak,

"Baiklah, sepertinya aku harus mencari asisten baru." ancam Elang membuang muka,

 "Eits! Baiklah. Saya akan menolong nyonya," melangkah dengan cepat.

Raut penuh amarah itu berhasil membuat Herman gugup, tak memiliki pilihan selain menuruti.

"Tunggu!" seru Herman menghentikan langkah satpam yang bersiap menyeret Nila,

Nila menoleh, menatap kehadiran pria asing yang tiba-tiba datang membela. "Siapa ya?"

"Saya CEO DaungGroup." dusta Herman penuh percaya diri,

"Pak Direktur?" pegawai itu bergumam lirih.

"Mereka percaya? Hh! Berarti sikapku sudah terlihat seperti tuan." batin Herman merasa puas,

"Berani-beraninya kamu memperlakukan tamu saya seperti ini! Apa kamu ingin membuat saya malu?" bentak Herman menatap tajam pegawai di depannya.

"Maaf pak, saya salah. Saya tidak tahu, kalau dia tamu bapak." pegawai itu menunduk ketakutan.

"Keluar dari sini. Sekarang juga kamu saya pecat,"

"Tapi, pak..." kedua matanya membulat, dibuat mematung oleh tuntutan Herman.

Dengan cepat dia menundukkan kepala ke hadapan Nila sambil memohon, "Bu, saya minta maaf karena tidak mengenali anda."

"Tolong bantu saya, ada keluarga yang harus saya hidupi," 

"Satpam. Usir dia dari sini," lugas Herman tak memberi kesempatan, 

"Saya mohon, maafkan saya." pintanya merengek dengan tubuh yang mulai terseret pergi.

Tentu saja gertakan Herman juga membuat tamu lain merasa terancam, mengetahui identitas gadis yang sebelum ini mereka remehkan.

"Ga mudah ketemu sama CEO perusahaan besar, tapi kita malah bikin masalah dengannya," sibuk berbisik, tangannya gemetar gugup memandang pria yang menoleh.

"Tidak perlu repot-repot, kami bisa pergi sendiri." lugas mereka lari terbirit,

"Hh, jadi seperti ini rasanya memecat orang. Tidak buruk juga," batin Herman tertawa puas, sekilas menoleh ke arah lain.

Elang hanya bisa menggelengkan kepala melihat pria yang baru saja menyombongkan diri atas keberhasilannya.

"Terima kasih atas bantuan anda." ujar Nila menunduk singkat sebagai balasan,

"Tapi bagaimana anda mengenal saya?" tambahnya penasaran,

"Aku Herman, temannya Elang. Dia cerita kepadaku tentangmu," jawab Herman tersenyum berusaha menutupi rasa gugup.

Semoga saja alasan itu berhasil membuat Nila percaya,

"Apa dia ada disini?" seru Nila bersemangat, bergegas menoleh ke sekeliling seakan mencari kehadiran orang lain.

"Waduh!" Beruntung saja Elang sigap menyembunyikan diri. Reaksi Nila membuat kedua pria tadi panik, 

 "Tidak, dia tidak ada disini." Herman menggeleng cepat, tersenyum kaku guna menutupi rasa gugup. Semoga saja gadis itu percaya,

"Aa---sayang sekali. Aku pikir bisa ketemu, sekalian kita lihat rumah yang mau dibeli..." pikir Nila sedikit kecewa,

"Kalau begitu, saya akan menelfonnya, biar dia berbicara dengan bapak." usulnya meraih ponsel,

Seketika membuat Elang kelabakan berlari menjauh, jangan sampai dering ponselnya terdengar. 

Herman yang sadar akan hal itu, bergegas mengalihkan perhatian. "Lain kali saja,"

"Sekarang, biarkan aku menebus kesalahan tadi."

"Kamu kesini buat beli rumah kan? Aku akan memberimu diskon 50%"

"Hah? Yang benar?" sahut Nila tak percaya dengan apa yang didengar, 

Bisa untung banyak kalau harga rumah tadi dipotong setengah, rencana Nila untuk menyisihkan uang lalu membeli perabotan bisa terlaksana.

"Tentu saja," Herman tersenyum mengiyakan,

"Kalau gitu, saya ga akan menolak kebaikan anda. Tunjukkan saya rumah yang cocok untuk ditinggali pengantin baru,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!