🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Pecahnya Segel Bayangan
...Bab 28: Pecahnya Segel Bayangan...
Dingin yang merayap di kaki Pegunungan Air Mata terasa berbeda dengan dingin yang dihadapi Han Xuan di puncak. Di bawah sini, udara terasa lebih kental, dipenuhi dengan bau besi dari senjata dan aura keserakahan yang memuakkan dari para pengepung.
Di dalam gua tersembunyi, Wei bisa merasakan getaran dari setiap hantaman palu es hitam milik Tetua Sekte Eternal Winter. Setiap dentuman itu seolah-olah menghantam langsung ke jantungnya, mengingatkannya bahwa mereka hanyalah dua manusia kecil yang mencoba bertahan di tengah badai para raksasa
Kubah bayangan yang diciptakan Han Xuan mulai berkedip tidak stabil. Cahaya ungu yang tadinya pekat kini memucat, menipis di bagian atas tempat hantaman palu itu mendarat.
Retakan-retakan halus mulai menjalar seperti jaring laba-laba perak di atas permukaan hitam yang solid itu. Wei menggenggam pedang pendeknya hingga buku jarinya memutih. Ia bukan seorang kultivator berbakat, namun pengalamannya hidup di jalanan dan di bawah bimbingan Si Tua Bumi memberinya insting bertahan hidup yang tajam
"Xiao Mei, dengarkan aku," bisik Wei tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit gua. "Saat segel ini pecah, mereka akan langsung masuk dengan kesombongan ahli tingkat tinggi. Mereka tidak akan menganggap kita sebagai ancaman. Itulah satu-satunya kesempatan kita"
Xiao Mei mengangguk pelan. Tubuh kecilnya kini dikelilingi oleh uap dingin yang tipis. Sejak memasuki wilayah utara ini, bakat tersembunyi gadis itu terhadap elemen es mulai bangkit secara alami, dipicu oleh energi murni yang ditinggalkan Han Xuan di dalam tubuhnya. Matanya yang jernih kini menatap ke arah pusaran udara di sudut gua
"Tuan memberikan kita teknik Frost-Breathing bukan untuk menyerang secara langsung," suara Xiao Mei terdengar lebih tenang daripada yang Wei bayangkan. "Dia bilang, es di tempat ini adalah bagian dari tangisan Dewi Yue Ling. Jika kita bisa beresonansi dengan kesedihan itu, kita bisa memanipulasi lingkungan tanpa memerlukan Qi yang besar"
DUARRRR!
Satu hantaman lagi yang lebih kuat menghancurkan sebagian besar kubah pelindung. Pecahan energi bayangan terbang seperti serpihan kaca hitam sebelum lenyap menjadi asap.
Udara dingin yang luar biasa tajam dari luar gua menyerbu masuk, membekukan genangan air kecil di lantai gua seketika. Di lubang yang terbuka itu, berdiri Lin Feng dengan wajah penuh kemenangan, diapit oleh dua tetua yang memancarkan tekanan aura tingkat Spirit Severing
"Keluar kalian, tikus-tikus selatan!" teriak Lin Feng. "Di mana tuan kalian? Apakah dia sudah membeku menjadi patung di lereng gunung?"
Salah satu tetua, yang bernama Tetua Mo, melangkah maju. Ia memegang palu es hitamnya dengan santai di bahunya. Matanya yang cekung memindai isi gua dengan rasa jijik. "Hanya seorang pelayan tanpa kultivasi dan seorang gadis kecil. Iblis berambut putih itu benar-benar mengira dia bisa menyembunyikan kalian di sini? Sungguh menyedihkan"
Wei melangkah maju, menghalangi pandangan mereka terhadap Xiao Mei. "Tuan kami sedang melakukan urusan yang jauh melampaui pemahaman orang-orang picik seperti kalian. Jika kalian pergi sekarang, mungkin kalian masih bisa menyelamatkan sekte kalian dari kemarahannya"
Lin Feng tertawa terbahak-bahak. "Kemarahan? Dia sedang berjuang untuk hidupnya melawan Penjaga Gerbang. Bahkan jika dia selamat, dia akan disambut oleh Formasi Pemusnah Salju di gerbang sekte. Sekarang, serahkan apa pun yang dia tinggalkan pada kalian, terutama kunci Inti Dunia itu!"
"Kami tidak punya kunci apa pun," jawab Wei tegas
Tetua Mo mendengus. "Jika kau tidak mau bicara dengan lidahmu, biarkan aku bicara dengan tulangmu"
Ia mengangkat palunya. Namun, sebelum ia sempat mengayunkannya, Xiao Mei melakukan sesuatu yang tidak mereka duga. Gadis itu tidak melarikan diri. Ia justru menarik napas dalam-dalam, menjalankan teknik Frost-Breathing dengan sinkronisasi penuh. Ia tidak mencoba memukul musuh, melainkan ia menarik seluruh udara dingin yang ada di dalam gua menuju ke arahnya
Seketika, suhu di dalam gua jatuh hingga ke titik yang tidak masuk akal. Bahkan bagi para tetua Sekte Eternal Winter yang terbiasa dengan dingin, perubahan mendadak ini membuat mereka tersentak. Kelembapan di udara membeku seketika, menciptakan ribuan kristal es tajam yang melayang di sekeliling Xiao Mei
"Sekarang, Wei!" teriak Xiao Mei
Wei bergerak bukan dengan kecepatan kultivasi, melainkan dengan ketangkasan seorang pencuri yang licin. Ia melemparkan beberapa botol kecil yang berisi bubuk Flash-Silver sebuah bahan yang ia dapatkan dari toko Si Tua Bumi.
Saat botol-botol itu pecah dan bubuknya menyentuh kristal es yang dibuat Xiao Mei, cahaya aurora yang masuk dari luar gua terpantul dan diperkuat jutaan kali lipat
BLARRRR!
Cahaya putih perak yang menyilaukan memenuhi gua, membutakan Lin Feng dan kedua tetua itu seketika. Di tempat seputih ini, mata mereka yang terbiasa dengan cahaya redup kutub tidak mampu bertahan
"Mataku! Sialan!" geram Tetua Mo sambil mengayunkan palunya secara membabi buta ke depan. Hantaman itu menghancurkan dinding gua, namun Wei dan Xiao Mei sudah bergerak ke arah samping, memanfaatkan pengetahuan mereka tentang tata letak gua yang sempit
Xiao Mei terus memanipulasi es di sekitar kaki para pengepung. Ia tidak membekukan mereka, karena ia tahu kekuatannya tidak akan cukup. Sebaliknya, ia membuat permukaan lantai gua menjadi selicin cermin yang dialiri energi licik.
Setiap kali tetua itu mencoba menyeimbangkan diri, es di bawah kaki mereka akan mencair dan membeku kembali dalam hitungan milidetik, menciptakan ketidakstabilan permanen
"Beraninya kalian mempermainkan kami!" Tetua kedua, seorang pria kurus bernama Tetua Han (tidak ada hubungan dengan klan Han), melepaskan ledakan Qi es yang besar ke segala arah. "Hancurlah!"
Ledakan itu meruntuhkan sebagian langit-langit gua. Wei terlempar ke dinding, memuntahkan darah. Pedang pendeknya terlepas. Xiao Mei berteriak kecil, namun ia tetap mempertahankan fokusnya pada aliran napasnya. Ia teringat kata-kata Han Xuan: Es adalah air mata. Ia tidak menyerang dengan keras, ia menyusup dengan lembut ke dalam retakan.
Xiao Mei mengarahkan uap dinginnya bukan ke tubuh tetua itu, melainkan ke arah sendi-sendi zirah es mereka. Es tipis mulai merayap masuk ke dalam celah-celah kecil di persendian baju besi mereka, lalu mengembang dengan kekuatan luar biasa saat membeku kembali. Suara krak-krak dari zirah yang retak mulai terdengar
"Apa ini?" Tetua Han terkejut saat merasakan lengannya mendadak kaku. "Gadis kecil ini... dia memanipulasi energi internal es milikku?"
Lin Feng, yang mulai bisa melihat kembali, mengeluarkan belati esnya dan menerjang ke arah Xiao Mei. "Mati kau, jal*ng kecil!"
Wei, meski terluka, melompat dan memeluk kaki Lin Feng, menjatuhkannya ke lantai yang licin. Mereka berguling di tanah, saling memukul dan mencakar.
Wei tahu dia tidak bisa mengalahkan Lin Feng dalam duel kultivasi, jadi dia mengubah pertarungan menjadi perkelahian jalanan yang kotor. Ia menggigit tangan Lin Feng, menusuk matanya dengan jari, dan melakukan apa saja untuk memberikan waktu bagi Xiao Mei
Di saat kritis itu, sebuah getaran hebat merambat dari atas gunung. Suara lonceng menara yang tadi terdengar di perbatasan kini berbunyi kembali, namun kali ini nadanya penuh dengan peringatan bahaya.
Langit perak di luar gua mendadak berubah menjadi ungu gelap, dan kilat ungu mulai menyambar-nyambar puncak pegunungan
"Tuan..." bisik Xiao Mei sambil menengadah. "Dia sudah sampai di sana"
Sementara itu, di puncak Pegunungan Air Mata, Han Xuan berdiri di depan gerbang utama Sekte Eternal Winter. Gerbang itu tingginya mencapai seratus meter, terbuat dari tulang-tulang raksasa laut kuno yang dilapisi es abadi. Di atas gerbang itu, berdiri puluhan murid sekte yang mengarahkan busur panah es ke arahnya
Han Xuan tidak tampak seperti seseorang yang baru saja mendaki gunung yang mematikan. Pakaiannya rapi, rambut putihnya berkilau perak, dan wajahnya sangat tenang.
Namun, di bawah kakinya, es mulai menghitam sejauh sepuluh meter ke segala arah. Ia telah berhenti menahan Hukum Devour miliknya. Ia membiarkan rasa lapar itu merembes keluar, menyerap setiap tetes energi spiritual dari udara di sekitarnya hingga menciptakan zona hampa di sekelilingnya
"Panggil Master Agung kalian," suara Han Xuan tidak keras, namun ia bergema di setiap sudut bangunan sekte, memecahkan jendela-jendela kristal dan membuat lonceng-lonceng kecil berdering liar. "Atau aku akan mengubah gunung ini menjadi makam massal bagi seluruh garis keturunan kalian"
Seorang pria tua dengan jubah putih yang sangat panjang muncul di atas gerbang. Ia adalah Master Agung Sekte Eternal Winter, seorang ahli tingkat Spirit Severing tingkat menengah yang telah hidup selama lima ratus tahun. Namanya adalah Xue Ren. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat yang di ujungnya terdapat Kristal-Cahaya yang sangat besar—satu dari sedikit peninggalan asli Dewi Yue Ling
"Anak muda," Xue Ren menatap Han Xuan dengan mata yang seolah-olah bisa membekukan jiwa. "Kau telah membunuh murid-muridku, menghina wilayah kami, dan sekarang kau berdiri di depan rumahku dengan tuntutan gila. Kau membawa Inti Dunia dari Selatan, sebuah barang yang bukan milikmu. Jika kau menyerahkannya sekarang, aku mungkin akan menjadikannya sebagai pengganti nyawamu"
Han Xuan tertawa kecil, suara yang sangat jarang keluar dari mulutnya. "Bukan milikku? Dunia ini tidak memiliki pemilik, Xue Ren. Ia hanya memiliki pemangsa. Kau menyebut dirimu ahli waris Yue Ling, tapi kau menggunakan air matanya untuk menindas mereka yang lemah. Kau adalah parasit di atas jasad seorang dewa"
Xue Ren menghentakkan tongkatnya. "Formasi Pemusnah Salju: Aktif!"
Seketika, ribuan simbol sihir muncul di udara di sekitar Han Xuan. Salju yang jatuh mendadak berubah menjadi ribuan belati yang berputar dengan kecepatan badai tornado. Ini adalah formasi pelindung sekte yang telah menghancurkan ribuan musuh selama berabad-abad. Energi di dalam formasi ini begitu padat hingga sanggup merobek zirah tingkat tinggi sekalipun
Han Xuan tidak menghindar. Ia justru menutup matanya. Di dalam jiwanya, ia berbicara pada Han Zhao. "Zhao, kau ingin makan besar, bukan? Energi di formasi ini sangat murni. Ia berasal dari esensi dewa. Ini adalah kesempatanmu untuk memperkuat segel jiwamu sendiri"
“Akhirnya kau bicara dengan bahasa yang benar, Xuan!” Han Zhao tertawa di dalam kegelapan batinnya. “Lepaskan ikatannya. Biarkan aku menunjukkan pada orang tua ini apa arti kelaparan yang sebenarnya!”
Han Xuan melepaskan kendali atas tangan kirinya dan sebagian dari pusat meridiannya. Aura hitam pekat meledak dari tubuhnya, bertabrakan dengan badai salju putih dari formasi tersebut. Benturan antara hitam dan putih itu menciptakan fenomena warna kelabu yang menyeramkan di puncak gunung
Han Xuan melangkah maju ke dalam formasi tersebut. Setiap belati es yang menyentuh auranya tidak hancur, melainkan tersedot masuk dan lenyap. Ia berjalan seolah-olah badai itu hanyalah angin sepoi-sepoi. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak kaki yang terbakar hitam di atas salju suci sekte tersebut
Xue Ren terbelalak. "Bagaimana mungkin? Formasi ini ditenagai oleh esensi Yue Ling! Tidak ada energi di dunia ini yang bisa menelannya secara langsung!"
"Maka kau belum melihat dunia yang sebenarnya," sahut Han Xuan. "Hukum Devour-ku tidak peduli dari mana asal energinya. Bagiku, semuanya adalah nutrisi"
Han Xuan sampai di depan gerbang raksasa itu. Ia mengangkat tangan kirinya yang kini sepenuhnya hitam dan bersisik energi. Dengan satu pukulan sederhana, ia menghantam gerbang tulang tersebut
KRrRAAAAKKKKK!
Gerbang yang telah berdiri selama ribuan tahun itu retak, hancur berkeping-keping, dan reruntuhannya langsung tersedot masuk ke dalam pusaran hitam di tangan Han Xuan. Puncak gunung itu bergetar hebat, memicu longsoran salju di lereng-lereng sekitarnya.
Han Xuan melangkah masuk ke halaman utama sekte, melewati Xue Ren yang masih terpaku tidak percaya. Ia melihat ke arah bangunan utama tempat Kristal-Cahaya terbesar disimpan. Namun, saat ia melangkah, ia merasakan sebuah kehadiran lain yang jauh lebih kuat dari Xue Ren. Sebuah kehadiran yang datang dari bawah tanah, dari tempat di mana jasad dewa yang sebenarnya berada
"Tuan Muda Han," sebuah suara wanita yang sangat lembut namun membawa otoritas absolut terdengar dari arah bangunan utama. "Cukup dengan kehancuran ini. Xue Ren hanyalah penjaga pintu yang bodoh. Jika kau ingin Inti Dewa, datanglah padaku"
Han Xuan berhenti. Matanya menyipit. Di depan bangunan utama, berdiri seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan patung Dewi Yue Ling yang ia lihat di legenda. Namun, wanita ini memiliki napas kehidupan, meski tubuhnya tampak seperti terbuat dari es transparan
"Siapa kau?" tanya Han Xuan
"Aku adalah apa yang tersisa dari kesadaran Yue Ling," jawab wanita itu. "Dan aku telah menunggumu selama seribu tahun, wahai sang penelan takdir. Namun sebelum kita bicara, mungkin kau ingin menyelamatkan kedua temanmu di bawah sana? Ahli tingkat Spirit Severing-ku sedang bersenang-senang dengan mereka"
Wajah Han Xuan mendadak menjadi sangat dingin. Ia mengabaikan wanita itu sejenak dan mengalihkan fokusnya ke arah bawah gunung. Ia bisa merasakan melalui benih energinya bahwa Wei sedang di ambang kematian dan Xiao Mei sedang dipojokkan
"Jika mereka terluka sedikit saja," ucap Han Xuan pada Xue Ren dan wanita itu, "maka tidak akan ada lagi yang tersisa dari benua ini untuk kalian jaga"
Han Xuan menghilang dalam kilatan kilat ungu, melakukan teleportasi jarak jauh yang ekstrem, mengabaikan fakta bahwa tindakannya itu akan membuat meridiannya yang baru pulih kembali retak. Ia tidak peduli. Rasa laparnya kini berubah menjadi kemarahan yang bisa membakar es abadi sekalipun
Dunia di puncak gunung terdiam, sementara di kaki gunung, sang maut berambut putih baru saja tiba dengan murka yang belum pernah terlihat sebelumnya
<>Cerita Bersambung