Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana di dalam rencana
"Sudah aku bilang, dia hanya tertarik pada Febi," ejek Cakra setelah Jetro meninggalkan restoran. Wajahnya tampak sangat bahagia dengan kegagalan kencan Fiola.
Fiola menahan kekesalannya, tapi di depan Cakra dia harus bisa bersikap sebaliknya.
"Baguslah kalo begitu. Sekarang tergantung kamu. Jadi, nikah dengan Febi kapan?" Fiola balas mengejek dengan
Cakra menyandarkan bahunya di kursi mereka. Tangannya memijat keningnya. Wajah bahagianya berganti dengan frustasi.
"Sebaiknya kamu pulang. Kamu jangan mengecewakan papaku dan orang tuamu." Fiola berdiri setelah mengatakannya. Dia tidak ingin Cakra mengejeknya lagi.
"Kamu masih mau mencoba menarik perhatian Jetro?" sindir Cakra.
Fiola mendengus karena tebakannya benar.
"Buat apa. Aku hanya tidak ingin mengecewakan papa. Makanya aku datang."
Cakra menatap wajah cantik di depannya. Sangsi dengan yang dia ucapkan. Tadi aja dia lihat Fiolalah yang beberapa kali berbicara duluan. Sekarang malah ditinggal.
Kalo laki laki tertarik dan jatuh cinta dengan perempuan, tidak akan bersikap begitu. Dia pasti akan mengantarkannya pulang. Seperti yang nanti akan dia laukan.
Setelah menghela nafas panjang Cakra segera berdiri.
"Aku antar kamu pulang."
Fiola hanya menganggukkan kepalanya. Dia memang beruntung punya Cakra. Tapi sekarang targetnya adalah Jetro. Dia harus pastikan kalo pernikahan Febi dan Cakra terjadi.
*
*
*
Fiola deg degan melihat papanya sudah berada di teras, seolah sedang menunggunya mengatakan kabar baik.
"Bagaimana pertemuannya?" tanya papanya ngga sabar sambil menyongsong kedatangan putrinya.
Fiola tersenyum.
"Lancar, pa."
Senyum Anggareksa tampak melebar.
"Jadi..... Dia mau dijodohkan dengan kamu?" todongnya papanya.
"Kayaknya, sih, pa." Fiola agak ragu mengatakannya.
"Syukurlah. Papa senang dengarnya. Papa lega sudah menemukan calon suami yang baik buat kamu dan Febi."
Fiola tersenyum. Biarlah sedikit bohong, batinnya.
"Rencananya kapan Febi dan Cakra akan menikah, Pa?" tanya Fiola mengalihkan topik pembicaraan. Takut ketahuan bohongnya kalo papanya terus menanyakan tentang pertemuan dia dan Jetro tadi.
"Secepatnya. Minggu depan kalo bisa. Setelah itu kita pikirkan kapan kamu dan Jetro menikah."
Fiola hampir bersorak saking bahagianya.
"Aku setuju, pa."
Dia yakin, dengan tangan dingin papanya, Jetro pasti mau menikah dengannya.
Jetro hanya belum mengenalnya. Kalo sudah mengenalnya, pasti dia menyesal sudah ngasih buket bunga mawar itu untuk Febi.
*
*
*
"Minggu depan?" Cakra dan Febi menyahut serentak. Mereka saling tatap dengan raut wajah kaget. Bahkan wajah Febi tampak pucat.
"Kenapa?" Tante Marlena menatap pasangan muda ini bergantian dengan heran.
"'Emm.... Apa ngga kecepatan, mam? Aku belum mengurus persyaratannya, pasti lama sekali," sanggah Cakra memberikan alasan.
"Tenang, Cakra. Papamu sudah mengurusnya," jawab mamanya dengan senyum di bibirnya.
Wajah Cakra tambah tegang sedangkan Febi juga tambah pucat.
Terdengar tawa halus Danu Sumirat dan Anggareksa.
"Memangnya selama setahun ini kalian pikir papa dan ommu ngapain aja," sela Danu Sumirat dalam tawanya.
"Semua sudah beres. Kalian tinggal datang akad dan resepsi aja," timpal Anggareksa.
DEG
Hampir saja Febi pingsan mendengarnya.
Bagaimana ini?
Bagaimana cara mengatakan yang sebenarnya?
Tangannya yang menegang garpu bahkan sampai gemetar.
Tante Marlena mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Undangannya bahkan sudah di cetak. Kalian bisa kasih ke teman kalian besok." Marlena meletakkan setumpuk undangan ke atas meja
Cakra memijat keningnya. Bingung, mumet, itu yang dia rasakan.
Teman temannnya taunya dia berhubungan dengan Fiola, pasti akan geger ketika melihat nama di kertas undangan.
Apalagi sekarang Febi sedang diisukan dengan Jetro.
Denyutan di kepalanya makin kerasa.
"Mau pengawal yang kirimkan undangannya atau kalian sendiri yang melakukannya?" tanya Marlena sambil menatap keduanya bergantian.
"Kalo mama, papa dan Om Angga akan bagikan sendiri untuk yang teman teman terdekat. Selain itu pengawal kita yang akan mengurusnya," sambung Tante Marlena.
Cakra segera mengambil inisiatif dengan mengambil tumpukan undangan itu ketika Febi masih membeku di kursinya.
"Aku aja yang bagikan, mam."
"Jangan semua, dong. Kasih Febi juga. Belum tentu kamu mengenal teman teman Febi," tukas Danu Sumirat pada putranya.
Cakra terdiam, kemudian mengambilkan satu saja undangan untuk Febi yang menerimanya dengan tangan gemetar.
Kamu bisa kasih ke Jetro. Cakra mengatakan itu lewat tatap mata mereka yang bertemu.
"Kok, cuma satu?" Alis Danu Sumirat mengernyit.
"Untuk teman terdekat Febi, Pa," ucap Cakra dengan lirikan penuh arti.
"Oooh...." Danu Sumirat mengangguk maklum.
Febi memaksakan senyumnya dengan menyembunyikan kegalauan perasaannya.
Anggareksa menatap gestur tubuh putrinya dan Cakra yang masih kaku.
Mereka masih belum jatuh cinta juga?
Pertengkaran kedua putrinya tadi malam masih mengganggu. pikirannya.
Nanti dia akan bicara lebih khusus dengan Fiola agar menjaga jarak dengan Cakra.
*
*
*
Kedatangan Jetro kembali ke perusahaannya sudah ditunggu oleh Abiyan dan Baim. Sebentar lagi mereka akan meeting.
Jetro mengajak kedua sepupunya masuk ke dalam ruangannya. Kemudian dia langsung memperlihatkan video pertemuan Cakra dengan Fiola pada Baim dan Abiyan.
Kedua laki laki tengil itu sudah tidak sabar melihat videonya. Ngga lama kemudian keduanya tertawa sambil memegang perut. Terpingkal pingkal.
"Ooh..... Jadi dia datang juga," ucap Abiyan.
"Cemburu dia, ya." Baim juga ikut berkomentar.
"Jadi karena mamanya Cakra tidak setuju, ya," komen Abiyan lagi setelah tawanya mereda.
"Kamu teliti sekali." Baim menggelengkan kepalanya sambil menatap Jetro. Tapi ide Jetro yang menempelkan speaker kecil di bawah meja memang jempolan.
Video dari pengawal Jetro hanya menampilkan gambar tanpa audio. Karena bukan berada di ruang privat, jadi sia sia saja menghack rekaman cctv di restoran.
Suara yang dihasilkan pasti tidak akan jelas karena bercampur dengan suara tamu yang lain. Tanpa speaker kecil ini, mereka tidak akan mengetahui apa yang dibicarakan keduanya.
"Gadis itu hanya cantik, tapi hatinya mengerikan. Terhadap adiknya saja dia begitu," komentar Abiyan sambil menggelengkan kepala.
"Dia kejam." Baim menyetujui pendapat Abiyan.
"Kamu akan gunakan video itu untuk menggagalkan pernikahan Febi, ya." Baim tertawa membayangkan kerusuhan yang akan terjadi jika video itu tersebar.
"Begitulah," jawab Jetro kalem. Dia yakin akan diundang ke resepsi pernikahan Febi karena orang tua mereka saling kenal.
"Dasar." Tawa Abiyan makin keras, juga Baim.
.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,