NovelToon NovelToon
Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: celvinworks

Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Kegelapan

Aula Guild Millhaven masih ramai ketika aku kembali—matahari sudah mulai turun, melemparkan bayangan panjang di lantai kayu, tapi para petualang terus berkerumun di sekitar meja-meja dengan mug bir dan percakapan yang keras. Beberapa pasang mata berpaling saat aku masuk, memperhatikan baju zirahku yang ternoda darah dan pedang yang masih meninggalkan sisa meski sudah kucoba bersihkan dengan rumput.

Aku mengabaikan mereka, langsung menuju meja pendaftaran. Resepsionis yang sama dari tadi pagi—masih dengan kacamata tebal dan ekspresi kesal itu—mendongak ketika aku mendekat.

"Sudah kembali?" Ia mempelajari kondisiku dengan satu alis terangkat. "Entah kamu berhasil atau sedang sekarat. Melihat kenyataan kamu masih bisa berjalan, kutebak berhasil?"

"Quest selesai," aku menjawab, meletakkan Guild Card di meja. "Razorclaw Harpy—monster Tier 2. Sudah diberantas. Domba-domba Pak Geld aman sekarang."

Ekspresinya berubah dari kesal menjadi... terkejut. Benar-benar terkejut. "Razorclaw Harpy? Tier 2?" Ia mengambil kartuku, menatapnya sebentar, lalu menatapku lagi. "Kamu membunuhnya sendirian di quest pertama?"

"Ya."

Ia tidak bicara selama beberapa detik, hanya memandangiku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Akhirnya ia menghela napas—kebiasaannya yang sudah kuhapal—dan menarik selembar perkamen dari laci.

"Aku perlu konfirmasi. Kesaksian dari petani, atau bukti fisik."

Aku mengeluarkan kantong kecil dari sabukku, mengosongkan isinya di atas meja. Beberapa cakar yang kupotong dari Harpy—masing-masing sepanjang jari orang dewasa, melengkung seperti sabit, dengan darah kering yang masih menempel.

Sang resepsionis mengambil satu cakar, memeriksanya dengan cermat. Matanya sedikit melebar. "Ini pasti cakar Razorclaw Harpy. Masih segar, kurang dari enam jam." Ia meletakkannya, mengambil pena dan mulai menulis di perkamen. "Pak Geld memberikan kesaksian?"

"Dan bonus pembayaran. Dua puluh perak total."

Ia menulis lebih banyak, lalu meletakkan Guild Card-ku di atas perkamen dan mengucapkan mantra. Kartu itu bersinar—lebih terang dari saat pendaftaran pagi—dan teks di permukaannya diperbarui:

QUEST SELESAI: 0 → 1

POIN KONTRIBUSI: 0 → 50

PERINGKAT: F → E (SEMENTARA)

"Peringkat E sementara," ia menjelaskan, mengembalikan kartuku. "Kamu perlu menyelesaikan setidaknya tiga quest peringkat E atau mengumpulkan 150 poin kontribusi untuk promosi permanen. Tapi untuk sekarang, kamu bisa mengakses papan quest E-rank dan mendapat tarif bayaran yang lebih baik."

"Biasanya butuh berapa lama untuk naik dari F ke E?" tanyaku, penasaran.

Ia tersenyum tipis—senyum tulus pertama yang kulihat darinya. "Rata-rata? Dua sampai tiga bulan, kalau mereka bertahan selama itu. Kamu melakukannya dalam satu hari." Jeda sebentar. "Entah kamu sangat terampil atau sangat beruntung. Semoga keduanya."

Aku memasukkan kartu itu ke saku, tidak berkata apa-apa. Keberuntungan jelas berperan—tanpa Azure Codex yang menunjukkan pola-pola itu, aku mungkin sudah mati di padang itu.

"Saran dari resepsionis yang sudah terlalu lama di pekerjaan ini," katanya, suara sedikit lebih lembut. "Jangan terlalu percaya diri. Monster Tier 2 bisa dibunuh dengan keberuntungan dan timing yang tepat. Tier 3 ke atas? Itu butuh keahlian sejati, pengalaman, dan biasanya tim. Hunter solo jarang bertahan melewati peringkat D."

"Dicatat," aku menjawab. "Terima kasih."

Ia melambai sekenanya, sudah kembali ke berkasnya. "Ya, ya. Sekarang pergi. Aku masih punya dua puluh pendaftaran lagi yang harus kuproses hari ini."

Aku berbalik untuk pergi, berencana kembali ke Greenleaf Apothecary untuk beristirahat dan membersihkan luka, tapi sebuah suara yang familiar memanggil dari sudut ruangan.

"Kael! Ke sini!"

Gareth duduk di meja pojok dengan mug bir di tangan, melambai padaku. Di depannya duduk dua orang lain—seorang perempuan elf dengan busur di punggung dan seorang kurcaci dengan jenggot yang dikepang, memegang mug yang lebih besar dari milik Gareth.

Aku ragu sejenak, tapi rasa ingin tahu menang. Berjalan ke meja mereka, berhenti di tepinya.

"Selamat atas quest pertamamu," Gareth berkata dengan senyum yang tulus, menunjuk kursi kosong. "Duduk. Kamu terlihat seperti perlu minuman."

"Aku tidak minum alkohol," aku menjawab, tapi tetap duduk.

Sang kurcaci tertawa—suara yang dalam dan menggemuruh. "Anak yang cerdas. Alkohol membuat otak lamban. Tidak baik untuk bertarung." Ia mengulurkan tangannya—besar, berbuku-buku, dengan bekas luka di seluruh jari-jarinya. "Thorin Ironforge. Hunter peringkat C, spesialis penaklukan monster."

Aku menjabatnya—genggaman yang kuat tapi tidak menyakitkan, mengejutkan lembut untuk ukuran tangannya. "Kael."

"Dan ini Seraph," Gareth berkata, menunjuk perempuan elf. "Hunter peringkat B, pemanah terbaik di cabang Millhaven."

Seraph mengangguk dengan gerakan minimal, mata hijau yang tajam menilai aku. "Kamu yang membunuh Razorclaw Harpy itu sendirian tadi."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

"Berita cepat menyebar," aku berkomentar.

"Millhaven kota kecil. Semua orang tahu segalanya dalam satu jam." Gareth minum bir-nya. "Tapi serius, kerja yang mengesankan. Razorclaw Harpy bukan bercanda—bahkan hunter E-rank berpengalaman pun biasanya butuh rekan untuk menangani satu ekor."

"Azure Co—" Aku menghentikan kalimat sebelum selesai, hampir keseleo. "Aku mendapat pelatihan yang baik dari kakekku."

Thorin menatapku dengan pandangan yang menembus, seolah merasakan ada sesuatu yang tidak dikatakan. Tapi ia tidak memaksa. "Pelatihan yang baik itu penting. Tapi pelatihan tidak menggantikan pengalaman tempur nyata. Kamu punya bakat alami."

"Atau keberuntungan," Seraph menambahkan, suara datar. "Satu quest yang berhasil tidak menjadikanmu veteran."

Gareth tertawa. "Seraph selalu skeptis terhadap hunter baru. Abaikan saja—ia akan mencair pada akhirnya."

"Aku tidak mencair," Seraph membalas, masih memandangiku dengan ekspresi netral itu. "Aku realistis. Terlalu banyak anak muda berbakat datang ke Guild dengan mimpi besar dan mati dalam bulan pertama karena terlalu percaya diri."

Suasana di meja itu menjadi sedikit tegang. Aku tidak tahu bagaimana harus merespons—ia tidak salah. Terlalu percaya diri bisa membunuh. Tapi ia juga memperlakukanku seolah aku hanya orang beruntung yang bodoh.

"Aku tidak terlalu percaya diri," aku berkata, suara tenang. "Aku tahu aku masih lemah. Tapi aku akan menjadi lebih kuat. Selangkah demi selangkah."

Seraph mempelajariku cukup lama, kemudian—di luar dugaan—tersenyum tipis. "Jawaban yang bagus. Mungkin ada otak di kepala itu juga."

Thorin tertawa lagi, menepuk meja cukup keras hingga mug-mug bergetar. "Seraph memberi persetujuan! Itu jarang terjadi, anak muda. Kamu harus merasa terhormat."

Gareth mencondongkan tubuh ke depan, ekspresi sedikit lebih serius. "Kael, timku dan aku biasanya mengambil quest yang lebih tinggi—peringkat C ke atas. Tapi jika kamu pernah butuh bantuan atau saran untuk quest, jangan sungkan bertanya. Kami membantu hunter baru yang menjanjikan."

"Kenapa?" tanyaku, benar-benar penasaran. "Apa untungnya buat kalian?"

"Keuntungan?" Gareth mengangkat bahu. "Tidak ada yang material. Tapi komunitas Guild yang kuat menguntungkan semua orang. Semakin banyak hunter yang terampil bertahan, semakin banyak quest sulit yang bisa ditangani, wilayahnya menjadi lebih aman." Ia tersenyum. "Lagipula, kamu mengingatkanku pada diriku sendiri dulu. Keras kepala, bertekad, sedikit ceroboh."

"Lebih dari sedikit," Seraph berkomentar kering.

Thorin tertawa, mengangkat mug-nya. "Mari kita minum untuk anak-anak muda yang keras kepala! Semoga mereka bertahan cukup lama untuk menjadi veteran yang bijak!"

Gareth dan Seraph mengangkat mug mereka. Aku tidak punya minuman, tapi aku mengangkat tangan sebagai gestur kecil untuk ikut serta.

Ada kehangatan di meja ini—rasa kebersamaan yang tidak pernah kurasakan di Ashfall. Para penduduk desa di sana selalu menjaga jarak karena mata unguku dan kerahasiaan Kakek. Tapi di sini, di aula Guild yang dikelilingi orang-orang yang secara rutin menghadapi kematian, ada penerimaan.

Mungkin suatu hari ini bisa menjadi seperti rumah.

Percakapan berlanjut selama beberapa menit—Thorin bercerita tentang quest kemarin melawan Stone Golem di tambang, Seraph menimpali dengan komentar-komentar sarkastis, Gareth sesekali menambahkan lelucon. Aku lebih banyak mendengarkan, menyerap informasi tentang budaya Guild, jenis-jenis quest, perilaku monster.

Azure Codex berdenyut pelan di dadaku—ritme yang stabil yang entah mengapa terasa menenangkan sekarang. Aku sudah mulai mengenali berbagai makna denyutannya: peringatan, keingintahuan, pengakuan, bahkan kepuasan.

Aneh memikirkan sebuah batu ajaib memiliki emosi. Tapi setelah pertarungan dengan Harpy itu, aku semakin yakin Azure Codex bukan sekadar artefak biasa. Ada kecerdasan di dalamnya—mungkin sisa-sisa dari pemilik sebelumnya, atau mungkin batu itu sendiri telah mengembangkan kesadaran dari menyerap kenangan yang tak terhitung jumlahnya.

Pertanyaan untuk lain waktu.

Tiba-tiba, suasana di aula Guild berubah. Percakapan-percakapan berangsur-angsur mengecil, orang-orang memalingkan perhatian ke arah pintu masuk.

Aku mengikuti pandangan mereka—dan melihat Marcus masuk bersama dua rekannya, kelompok yang sama yang menghadangku tadi pagi. Tapi sekarang ada orang keempat bersama mereka—seorang perempuan berambut merah dengan baju zirah yang jauh lebih mahal dari pelat besi Marcus yang berkarat.

Ekspresi Gareth berubah—senyum menghilang, digantikan kewaspadaan. "Sial. Itu masalah."

"Siapa?" tanyaku, menjaga suara tetap rendah.

"Perempuan itu—Kira Ashblade. Hunter peringkat C, spesialis pekerjaan bayaran. Reputasinya tidak peduli dengan kerusakan sampingan." Gareth menatapku. "Dan ia berteman dengan Marcus. Kalau mereka datang bersama, kemungkinan besar untuk konfrontasi."

Tangan Seraph sudah bergerak ke arah busur di punggungnya—gerakan yang halus, tapi siap. Thorin berhenti minum, meletakkan mug-nya dengan perlahan yang disengaja.

Marcus memindai ruangan, mata terkunci padaku. Senyum merekah di wajahnya—bukan senyum yang ramah. Predatoris.

Ia berjalan menuju meja kami dengan langkah yang percaya diri, Kira dan dua rekannya mengapitnya.

"Kael," katanya ketika sampai di meja kami, suara cukup keras untuk didengar banyak orang. "Dengar kamu menyelesaikan quest E-rank. Mengesankan untuk pendaftar baru peringkat F."

Aku tidak bicara, hanya memandangnya dengan ekspresi netral. Menunggu inti sebenarnya dari percakapan ini.

"Tapi aku juga mendengar sesuatu yang menarik," ia melanjutkan, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. "Kabarnya kamu membunuh Razorclaw Harpy sendirian. Monster Tier 2. Sendirian saja." Ia tertawa—suara yang mengejek. "Itu mencurigakan. Sangat mencurigakan."

"Mencurigakan bagaimana?" tanyaku, suara tenang meski jantung mulai berdegup lebih cepat.

Kira yang menjawab—suara halus seperti sutra, tapi dengan nada yang setajam bilah di baliknya. "Mencurigakan karena bahkan hunter E-rank berpengalaman pun kesulitan menghadapi Razorclaw Harpy. Dan kamu—peringkat F yang baru mendaftar pagi ini—entah bagaimana membunuhnya sendirian tanpa luka serius?" Ia mempelajari baju zirahku yang ternoda darah. "Kecuali kamu menyembunyikan kemampuan sebenarnya, atau..."

"Atau kamu curang," Marcus menyelesaikan kalimat itu dengan senyum yang puas. "Mungkin kamu mendapat bantuan dari seseorang yang lebih kuat. Mungkin kamu mencuri hasil dari hunter lain. Mungkin kamu bahkan tidak membunuh Harpy itu—hanya mengambil cakar dari bangkai yang sudah mati."

Bisik-bisik menyebar di seluruh aula Guild. Orang-orang berbisik, berspekulasi.

Gareth bangkit, ekspresi marah. "Itu tuduhan omong kosong dan kamu tahu itu, Marcus. Pak Geld mengkonfirmasi pembunuhannya. Sang resepsionis memverifikasi buktinya."

"Petani bisa dibayar untuk berbohong," Marcus membalas. "Sang resepsionis hanya memverifikasi bahwa cakarnya ada, bukan siapa yang membunuh monsternya."

Ini sedang berkembang menjadi tontonan publik. Dan aku menyadari—ini disengaja. Marcus ingin mendiskreditkanku di depan seluruh Guild, merusak reputasiku sebelum aku benar-benar mulai.

Azure Codex berdenyut—bukan peringatan, lebih seperti kesadaran. Seperti batu itu merasakan manuver politik yang sedang terjadi dan menunggu untuk melihat bagaimana aku menghadapinya.

Aku bangkit perlahan, menatap mata Marcus langsung. "Kamu menuduhku curang. Baik. Apa yang kamu mau? Duel? Quest ulang? Atau kamu hanya mengeluh karena seorang peringkat F berhasil menyelesaikan quest yang kamu sendiri terlalu takut untuk mengambilnya?"

Nah. Itu mengenai titik yang tepat. Wajah Marcus memerah, tangannya bergerak ke kapak di pinggangnya.

Kira meletakkan tangan di bahu Marcus—gestur menenangkan, tapi matanya menatapku dengan ketertarikan yang baru. "Duel tidak akan membuktikan apa-apa. Tapi..." Ia tersenyum—dingin, penuh perhitungan. "Ada cara untuk memverifikasi kemampuanmu."

"Yaitu?"

"Quest bersama. Besok pagi. Aku, Marcus, dan kamu. Penaklukan monster peringkat C—sarang Shadow Stalker di tambang terbengkalai utara kota. Jika kamu benar-benar seterampil yang kamu klaim, kamu seharusnya bisa menanganinya."

Jebakan. Jebakan yang terang-terangan. Quest peringkat C jauh melampaui kemampuan peringkat E, apalagi peringkat E sementara sepertiku. Dan dengan Marcus dan Kira yang "mengawasi," ada banyak kesempatan untuk "kecelakaan" terjadi.

Tapi jika aku menolak, reputasiku akan hancur. Semua orang akan mengira aku penipu atau pengecut.

Gareth berbisik mendesak. "Jangan terima. Itu bunuh diri."

Seraph menambahkan, suara rendah. "Shadow Stalker adalah monster Tier 3. Pemburu kawanan. Bahkan untuk kami, itu butuh perencanaan yang matang."

Thorin hanya menatapku dengan ekspresi serius, tidak berkata apa-apa tapi jelas khawatir.

Aku menatap mata Kira langsung. "Syaratnya?"

Ia mengangkat satu alis. "Berani. Atau bodoh." Jeda sebentar. "Syaratnya sederhana—kamu bergabung dengan kami untuk quest itu. Jika kamu berkontribusi secara berarti—mendapat pukulan yang menentukan, menyelamatkan anggota tim, menunjukkan kemampuan yang nyata—tuduhan dicabut dan aku pribadi menjamin kemampuanmu. Jika kamu terbukti tidak berguna atau kami menemukan kamu memang penipu." Senyumnya melebar. "Reputasi hancur dan kamu secara sukarela meninggalkan cabang Guild Millhaven."

"Dan kalau aku mati dalam quest itu?"

"Maka kamu mati. Itulah risiko yang semua hunter tanggung."

Keheningan di aula Guild. Semua orang menunggu jawabanku.

Ini sama sekali tidak adil. Sudah ditumpuk melawanku dari awal. Tapi...

Aku tidak datang ke sini untuk bermain aman. Aku datang untuk menjadi lebih kuat, untuk menemukan kebenaran tentang orang tuaku, untuk bertahan di dunia yang jauh lebih berbahaya dari desaku.

Dan Azure Codex—Philosopher Stone yang tak terhitung jumlah prajurit telah mati untuk mendapatkannya—bersandar di dadaku. Jika aku tidak bisa mempercayai kekuatan ini untuk membantuku bertahan, maka aku tidak layak membawanya.

"Aku terima," aku berkata, suara mantap dan jelas.

Bisik-bisik meledak. Gareth meraih lenganku. "Kael, jangan! Ini—"

"Aku terima syaratnya," aku mengulang, lebih keras. "Besok pagi. Penaklukan Shadow Stalker. Aku akan membuktikan kemampuanku."

Senyum Kira melebar—kini terasa seperti kesenangan yang tulus. "Bagus sekali. Temui kami di gerbang utara, saat fajar. Jangan terlambat." Ia berbalik, memberi isyarat pada Marcus dan rekan-rekannya untuk mengikuti. "Ini pasti akan menarik."

Mereka pergi, meninggalkan aku berdiri di tengah aula Guild dengan semua mata tertuju padaku—sebagian dengan iba, sebagian dengan penasaran, sebagian dengan penilaian.

Gareth menatapku dengan campuran frustrasi dan kekhawatiran. "Kamu baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri, kamu tahu itu, kan?"

"Mungkin," aku menjawab, duduk kembali dengan kaki yang tiba-tiba terasa lemah. "Atau mungkin aku akan mengejutkan semua orang."

Seraph menghela napas. "Terlalu percaya diri, ternyata."

Thorin hanya menatapku dengan ekspresi sedih. "Semoga para dewa melindungi orang-orang bodoh dan anak-anak muda. Seringkali mereka adalah orang yang sama."

Aku tidak bicara lagi. Hanya menatap Guild Card di tanganku, membaca teks yang sudah diperbarui.

PERINGKAT: E (SEMENTARA)

Besok, aku akan membuktikan bahwa peringkat itu layak.

Atau mati dalam usahanya.

"Kita bisa melakukan ini," aku berbisik pada batu itu. "Kan?"

Tidak ada jawaban. Tapi entah bagaimana, ritme batu itu terasa seperti kepercayaan diri yang diam.

1
NightShadeス
Review novelnya sampe chapter 27, sejauh ini ceritanya cukup seru dan agak santai, mungkin dibeberapa chapter awal emang agak dark sih pengenalan ceritanya. Terus sepertinya world buildingnya agak luas soalnya ada beberapa part yang ngebandingin tempat tempat gitu, yah karena ini masi awal awal jadinya belum bisa review terlalu banyak, intinya mc bisa pake sihir void sama make pedang. Rekomen buat yang suka mc zero to hero👍 mc nya ga langsung op dari awal, ada perkembangan karakternya
celvin: makasi kak udah mau review novelnya, semoga betah ya disini, perjalanan kita masi panjang/Shhh/
total 1 replies
NightShadeス
Temennya turu
Dzakyyy
up min
Dzakyyy: semangattt minnn
total 2 replies
Dzakyyy
ibunya se op apa tuh
Dzakyyy
wkwkwk adaa matematika😭
NightShadeス: ga ekspek/Skull/
total 1 replies
Dzakyyy
badut
Dzakyyy
kekk😭😭 siapa yang naroh bawang sini woyy/Sob/
Dzakyyy
feeling ku ga enak..
Dzakyyy
SERUU BANGETTTT, alurnya ga terlalu cepet, mc nya ga langsung op di awal/Doge/
anggita
ikut ng👍like, sama kasih iklan saja.
celvin: jangan lupa dikasi rating ya kalo suka👀
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!