NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Sangkar Emas dan Para Ular

Suasana di dalam mobil Rolls-Royce itu mendadak mendingin, bukan karena AC yang sengaja dikecilkan, melainkan karena pesan misterius yang terpampang di layar ponsel Arkan. Alana menatap barisan kata itu dengan jantung yang kembali berdegup kencang.

"Jangan percaya padanya, Alana. Dia membawamu ke sana bukan untuk melindungimu, tapi untuk dikorbankan."

Alana melirik Arkan dari sudut matanya. Pria itu masih fokus menatap ke luar jendela, profil samping wajahnya terlihat seperti pahatan marmer yang sempurna namun beku. Apakah benar pria ini hanya menjadikannya tumbal? Tapi tumbal untuk apa?

"Ada apa?" tanya Arkan tanpa menoleh. Suaranya yang berat memecah keheningan, membuat Alana hampir menjatuhkan ponsel itu.

"Enggak... ini, ada pesan masuk. Dari nomor yang nggak dikenal," Alana menyerahkan ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Arkan mengambil ponselnya, membaca pesan itu dalam hitungan detik, lalu wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia hanya mematikan layarnya dan memasukkannya kembali ke saku jas.

"Abaikan. Itu hanya sampah dari orang yang ketakutan karena saya membawa senjata baru," ucap Arkan datar.

"Senjata baru? Maksud Mas... saya? Wah, Mas, saya ini manusia, bukan keris pusaka yang bisa dipajang-pajang buat nakutin musuh," protes Alana, mencoba menutupi rasa takutnya dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.

Arkan menyeringai tipis. "Kamu jauh lebih berbahaya dari keris, Alana. Kamu adalah variabel yang tidak mereka duga. Sekarang, berhenti bertanya. Kita sudah sampai."

Mobil itu berhenti di depan sebuah gedung apartemen penthouse yang menjulang tinggi di pusat kota. Begitu pintu dibuka oleh petugas keamanan yang membungkuk sangat rendah, Alana merasa seperti masuk ke dimensi lain. Tidak ada lagi bau asap knalpot atau aroma katering murah. Di sini, udaranya wangi bunga lili dan kemewahan yang menyesakkan.

Mereka naik lift pribadi yang bergerak sangat cepat. Begitu pintu lift terbuka, Alana ternganga. Apartemen Arkan lebih luas dari seluruh lapangan bola di kelurahan Alana. Dindingnya terbuat dari kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta.

"Nyonya Alana, silakan ikut saya," seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan yang sangat rapi menghampirinya.

"Nyonya? Aduh, Bu, jangan panggil Nyonya. Saya berasa jadi pemeran utama sinetron azab," sahut Alana canggung.

Arkan melepaskan jasnya dan menyerahkannya pada pelayan lain. "Bi Ijah, bawa dia ke kamar utama. Pastikan besok pagi dia sudah terlihat seperti calon istri Arkananta. Besok malam adalah perjamuan makan malam keluarga besar. Saya ingin semua ular di rumah itu terdiam saat melihatnya."

"Baik, Tuan."

Alana ditarik masuk ke sebuah ruangan yang ia pikir adalah kamar tidur, tapi ternyata itu adalah walk-in closet yang ukurannya sebesar rumah kontrakan Alana. Di sana, deretan gaun bermerek, tas-tas seharga mobil, dan rak sepatu yang menjulang tinggi membuat mata Alana perih.

"Mulai sekarang, ini wilayah Anda, Nyonya," ucap Bi Ijah ramah.

"Bi, serius deh, Mas Arkan itu emang sesombong itu ya? Main perintah aja," bisik Alana sambil menyentuh salah satu kain gaun yang sangat halus.

Bi Ijah tersenyum tipis, ada gurat kesedihan di matanya. "Tuan Arkan hanya kesepian, Nyonya. Di dunianya, kalau tidak menjadi singa, dia akan dimakan oleh serigala. Dan keluarganya... yah, Anda akan lihat sendiri besok."

Keesokan harinya, Alana merasa seperti proyek renovasi bangunan. Rambutnya dicuci, dipotong sedikit, dan ditata dengan elegan. Wajahnya dipoles oleh penata rias profesional yang didatangkan langsung ke apartemen. Saat ia melihat cermin, Alana tidak mengenali dirinya sendiri.

Ia memakai gaun silk berwarna merah marun yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sopan namun sangat mewah. Rambut cokelatnya dibiarkan jatuh bergelombang di bahu. Tidak ada lagi Alana si gadis kondangan yang kebayanya kekecilan. Yang ada di cermin adalah seorang wanita kelas atas yang memancarkan aura berani.

"Cantik sekali, Nyonya," puji Bi Ijah tulus.

Pintu terbuka, dan Arkan masuk. Pria itu sudah memakai setelan tuksedo hitam yang membuatnya terlihat sepuluh kali lebih tampan. Arkan berhenti melangkah saat matanya bertemu dengan mata Alana. Untuk pertama kalinya, Alana melihat pria dingin itu tertegun selama beberapa detik.

"Lumayan," ucap Arkan singkat, mencoba menguasai dirinya kembali. "Tapi ingat, jangan cuma cantik. Mulutmu itu... gunakan untuk membalas setiap sindiran yang akan mereka lemparkan nanti."

"Mas tenang aja. Soal urusan julid dan nyautin omongan orang, saya pemegang sabuk hitam," balas Alana sambil memperbaiki posisi anting berliannya.

Mereka tiba di sebuah rumah mansion kolonial yang sangat besar. Begitu masuk, suasana terasa sangat berat. Di meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati kuno, sudah duduk beberapa orang. Ada seorang pria tua yang menatap tajam—itu pasti sang Kakek, kepala keluarga. Di sampingnya ada seorang wanita paruh baya yang memakai perhiasan berlebihan, dan seorang pria muda yang menatap Arkan dengan kebencian yang terang-terangan.

"Jadi, ini 'sampah' yang kamu pungut dari jalanan, Arkan?" suara wanita paruh baya itu memecah keheningan. Ia menatap Alana dengan hina, seolah Alana adalah kotoran yang menempel di sepatunya. "Namanya siapa tadi? Al... Alana? Saya dengar kamu baru saja dicampakkan oleh pacarmu yang miskin itu?"

Arkan hendak bicara, tapi Alana lebih cepat. Ia tersenyum sangat manis, meletakkan tas tangannya di atas meja dengan elegan.

"Selamat malam, Tante. Betul, nama saya Alana. Dan soal dicampakkan... yah, terkadang kita memang harus membuang sampah plastik di pinggir jalan sebelum akhirnya menemukan berlian murni seperti Mas Arkan di depan mata. Tante sendiri bagaimana? Kebayanya bagus sekali, tapi sepertinya agak kurang cocok ya dengan warna kulit Tante yang sedikit... kusam? Mungkin butuh lebih banyak istirahat atau mungkin... berhenti mengurusi hidup orang?"

Suasana meja makan mendadak hening. Sang Kakek tiba-tiba tertawa keras, suaranya menggelegar di ruangan itu. Sementara si wanita paruh baya itu—Tante Sofia, ibu tiri Arkan—wajahnya merah padam.

"Berani sekali kamu!" bentak pria muda di sampingnya, sepupu Arkan yang bernama Dion. "Kamu tidak tahu sedang bicara dengan siapa?!"

"Saya tahu," jawab Alana tenang sambil mengambil sendok peraknya. "Saya sedang bicara dengan orang-orang yang panik karena posisi mereka di perusahaan terancam, kan? Mas Arkan sudah cerita banyak."

Arkan menatap Alana dengan binar mata yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa bangga yang terselip di sana. Pertempuran pertama dimenangkan oleh Alana.

Namun, di tengah makan malam, saat Alana izin ke toilet, ia tersesat di lorong rumah yang luas itu. Saat hendak berbalik, ia mendengar suara bisikan dari balik sebuah pintu perpustakaan yang sedikit terbuka.

"Jangan biarkan gadis itu hidup sampai hari pernikahan kontrak itu diresmikan. Arkan pikir dia bisa menggunakan gadis rakyat jelata itu untuk mengamankan wasiat Ayah? Kita harus menyingkirkannya malam ini juga."

Langkah kaki terdengar mendekat ke arah pintu. Alana mematung. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa terpaku di lantai marmer yang dingin.

Pintu perpustakaan itu terbuka perlahan. Seseorang keluar dengan pisau kecil di tangannya yang tersembunyi. Alana terpojok di lorong gelap. Akankah Arkan datang tepat waktu, ataukah pesan misterius itu benar bahwa Alana dibawa ke sini hanya untuk dikorbankan?

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!