Kiana Elvaretta tidak butuh pangeran. Di usia tiga puluh, dia sudah memiliki kerajaan bisnis logistiknya sendiri. Baginya, laki-laki hanyalah gangguan—terutama setelah mantan suaminya mencoba menghancurkan hidupnya.
Namun, demi mengamankan warisan sang kakek, Kiana harus menikah lagi dalam 30 hari. Pilihannya jatuh pada Gavin Ardiman, duda beranak satu yang juga rival bisnis paling dingin di ibu kota.
"Aku tidak butuh uangmu, Gavin. Aku hanya butuh statusmu selama satu tahun," cetus Kiana sambil menyodorkan kontrak pra-nikah setebal sepuluh halaman.
Gavin setuju, berpikir bahwa memiliki istri yang tidak menuntut cinta akan mempermudah hidupnya. Namun, dia salah besar. Kiana tidak datang untuk menjadi ibu rumah tangga yang penurut. Dia datang untuk menguasai rumah, memenangkan hati putrinya yang pemberontak dengan cara yang tak terduga, dan perlahan... meruntuhkan tembok es di hati Gavin.
Saat g4irah mulai merusak klausul kontrak, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Solusi dari Kakek
"Turun nol koma lima persen! Kamu mau bikin jantung Kakek copot mendadak, hah?!"
Suara Kakek Adijaya menggelegar dari ponsel yang dipegang Kiana, begitu keras sampai Gavin yang sedang menyetir di sebelahnya bisa mendengar omelan itu dengan jelas.
Kiana menjauhkan ponsel dari telinganya sambil meringis ngeri. "Kek, dengar dulu. Itu fluktuasi biasa. Berita kebakaran memang bikin panik pasar sedikit, tapi aku sudah siapkan press release. Tim PR lagi kerja keras buat—"
"PR, PR! Kakek nggak butuh rilis pers yang bahasanya muter-muter kayak gasing!" potong Kakek Adijaya galak. "Pasar butuh kepastian! Investor butuh lihat kalau keluarga Adijaya itu solid, harmonis, dan nggak goyah cuma gara-gara satu gudang angus!"
Kiana memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Terus Kakek mau aku ngapain? Joget TikTok di depan reruntuhan gudang buat naikin saham?"
"Liburan!" sentak Kakek.
Kiana melongo, menatap ponselnya tak percaya. "Apa?"
"Kalian pergi ke Bali. Sekarang. Tiket pesawat first class sudah Kakek kirim ke email Gavin. Berangkat flight jam dua siang ini. Tiga hari dua malam. Di sana kalian harus happy-happy. Foto yang banyak. Posting di Instakilo, TokTok, Linkedan, kalau perlu di koran lampu merah! Tunjukkan kalau CEO Kiana dan suaminya itu bahagia, kaya raya, dan nggak pusing soal duit receh lima puluh miliar!"
"Kek, ini gila!" protes Kiana, suaranya naik satu oktaf. "Aku nggak bisa ninggalin kantor. Klaim asuransi gudang itu lagi bermasalah. Admin lalai perpanjang polis bulan lalu, jadi aku harus cari celah hukum biar tetap bisa cair. Kalau aku pergi, siapa yang urus negosiasi sama pihak asuransi? Ini lima puluh miliar, Kek!"
"Itu urusan manajer kamu! Kamu itu CEO, tugas kamu itu branding!" Kakek tidak mau dibantah. "Dengar ya, Kiana. Kalau sampai jam dua siang nanti kaki kamu belum napak di Bandara Soekarno-Hatta, dana investasi buat pembangunan gudang baru di Cikarang, Kakek bekukan."
Kiana ternganga. Ancaman macam apa itu? "Kek, itu curang! Lagian kita lagi di jalan, nggak bawa baju ganti! Mana sempat pulang packing!"
Terdengar tawa licik Kakek dari seberang telepon.
"Jangan banyak alasan. Pak Joko supir kantor sudah tunggu kalian di Drop Off Terminal 3. Dia bawa koper kalian. Bi Inah sudah Kakek suruh packing baju kalian bertiga sejak tadi pagi. Tinggal ambil, masuk pesawat, beres."
Kiana lemas. Kakek tua itu benar-benar selangkah di depan. Dia sudah merencanakan penculikan berkedok liburan ini dengan rapi.
"Kek, itu curang!"
"Bodo amat. Kakek tunggu foto kalian pake baju pantai. Awas kalau mukanya cemberut. Klik."
Sambungan telepon putus.
Kiana menatap layar ponselnya dengan tatapan ingin membanting benda mahal itu ke aspal jalan tol.
"Dia beneran gila," desis Kiana, melempar ponselnya ke dalam tas dengan kasar. "Gavin, putar balik. Kita nggak bisa pergi. Asuransi itu prioritas. Aku nggak peduli sama koper yang dibawa Pak Joko."
Gavin tetap tenang, matanya fokus ke jalanan, tangannya santai memutar setir. Tapi bukannya putar balik ke arah kantor atau rumah, dia malah menyalakan lampu sein kanan, mengambil jalur masuk tol bandara.
"Kita ke Bali, Kiana," kata Gavin datar.
"Kamu denger nggak sih aku ngomong apa?!" Kiana menoleh tajam, matanya menyala marah. "Gudang itu nyawa perusahaan sekarang. Kalau dananya nggak cair, arus kas perusahaan macet! Kita bisa kolaps!"
"Justru itu," Gavin menoleh sekilas, tatapannya serius dan tajam. "Kamu tahu Kakek. Dia nggak pernah main-main soal ancaman duit. Kalau dia bilang bekukan dana, dia bakal lakuin. Kamu kehilangan lima puluh miliar dari asuransi itu buruk, tapi kehilangan suntikan modal dari Kakek buat proyek Cikarang itu kiamat. Nilainya tiga kali lipat."
Kiana terdiam. Argumen Gavin masuk akal. Sangat masuk akal. Dan itu yang paling menyebalkan. Dia benci kalau Gavin benar.
"Tapi kerjaan aku..." Kiana melemas, bersandar pasrah di jok mobil kulit itu. "Gimana aku bisa tenang liburan kalau otakku isinya pasal asuransi?"
"Delegasikan. Kamu punya tim legal yang kamu gaji mahal. Biar mereka yang pusing cari celah polis asuransi itu," Gavin mengulurkan tangan kirinya, menepuk punggung tangan Kiana pelan. Sentuhan itu hangat dan menenangkan. "Anggap aja ini perjalanan dinas. Dinas jadi istri bahagia."
"Istri bahagia apanya," gerutu Kiana sambil membuang muka ke jendela, melihat pemandangan jalan tol yang gersang. "Istri stres iya."
Di kursi belakang, Alea yang sedari tadi mendengarkan dengan headphone menggantung di leher, tiba-tiba menyembulkan kepalanya di antara kursi depan.
"Kita mau ke Bali, Pa? Ke pantai?" tanya Alea antusias, matanya berbinar-binar penuh harap.
"Iya, Sayang. Kakek kasih hadiah liburan. Kita main air sepuasnya," jawab Gavin lembut, senyumnya langsung merekah untuk putrinya.
Melihat binar bahagia di mata Alea—yang beberapa hari ini ikut tegang karena teror kebakaran dan nenek sihir Bu Laras—hati Kiana sedikit luluh. Anak itu butuh hiburan.
"Oke," desah Kiana panjang, menyerah. "Demi investasi. Dan demi Alea. Tapi awas ya kalau Kakek ngerencanain yang aneh-aneh lagi."
Ternyata, firasat Kiana benar seratus persen. Kakek Adijaya tidak pernah main bersih.
Setelah mengambil koper dari Pak Joko di lobi keberangkatan (yang benar-benar sudah siap sedia dengan tiga koper besar), penerbangan dua jam yang melelahkan, ditambah satu jam perjalanan darat menembus kemacetan Sunset Road, mereka akhirnya tiba di Nusajaya Kencana Luxury Resort & Villa.
Sebuah resor bintang lima di daerah Uluwatu yang bertengger di atas tebing dengan pemandangan Samudra Hindia yang spektakuler.
Lobi hotelnya terbuka, angin laut langsung menyapa wajah mereka, mengacak-acak rambut Kiana. Mewah, tenang, dan sangat romantis.
Terlalu romantis. Bau dupa dan bunga kamboja di mana-mana.
Gavin menyerahkan KTP dan bukti booking elektronik ke resepsionis wanita yang tersenyum terlalu lebar, seolah senyumnya dikunci pakai lem super.
"Selamat datang, Bapak Gavin dan Ibu Kiana. Wah, Pak Adijaya sudah pesan tempat terbaik untuk keluarga harmonis ini," sapa resepsionis itu dengan nada yang dibuat-buat manis.
"Terima kasih," jawab Gavin singkat, wajahnya lelah. "Kunci kamar kami?"
Resepsionis itu mengetik sesuatu di komputernya, lalu keningnya berkerut dramatis. Aktingnya buruk sekali. "Aduh... mohon maaf sekali, Pak, Bu. Sepertinya ada kesalahan teknis di sistem kami."
Kiana langsung siaga. Radar bahayanya menyala merah. Dia maju selangkah. "Kesalahan teknis apa, Mbak?"
"Begini, Bu. Pak Adijaya memesan Royal Family Suite yang ada dua kamar tidurnya. Tapi, entah kenapa di sistem kami pesanan itu tidak masuk kemarin, jadi suite-nya sudah diberikan ke tamu lain dari Arab Saudi yang bawa rombongan besar."
"Terus?" Kiana melipat tangan di dada, kakinya mengetuk-ngetuk lantai marmer. "Solusinya apa? Jangan bilang kami harus tidur di lobi."
"Oh, tentu tidak, Bu!" Resepsionis itu tertawa renyah. "Sebagai kompensasi, kami sudah siapkan satu-satunya villa yang tersisa. Ini upgrade sebenarnya, harganya lebih mahal dari Family Suite. Namanya Cliffside Honeymoon Villa."
Kiana memejamkan mata. Rahangnya mengeras.
Honeymoon Villa.
Tentu saja. Dasar Kakek tua licik.
"Mbak," Kiana mencondongkan tubuhnya ke meja marmer, menatap resepsionis itu tajam. "Jujur sama saya. Ini instruksi Kakek saya kan? Dia yang suruh bilang kamar penuh?"
trimakasih ya sudah buat cerita ini
ditunggu karya selanjutnya⚘️⚘️⚘️