Kiana Elvaretta tidak butuh pangeran. Di usia tiga puluh, dia sudah memiliki kerajaan bisnis logistiknya sendiri. Baginya, laki-laki hanyalah gangguan—terutama setelah mantan suaminya mencoba menghancurkan hidupnya.
Namun, demi mengamankan warisan sang kakek, Kiana harus menikah lagi dalam 30 hari. Pilihannya jatuh pada Gavin Ardiman, duda beranak satu yang juga rival bisnis paling dingin di ibu kota.
"Aku tidak butuh uangmu, Gavin. Aku hanya butuh statusmu selama satu tahun," cetus Kiana sambil menyodorkan kontrak pra-nikah setebal sepuluh halaman.
Gavin setuju, berpikir bahwa memiliki istri yang tidak menuntut cinta akan mempermudah hidupnya. Namun, dia salah besar. Kiana tidak datang untuk menjadi ibu rumah tangga yang penurut. Dia datang untuk menguasai rumah, memenangkan hati putrinya yang pemberontak dengan cara yang tak terduga, dan perlahan... meruntuhkan tembok es di hati Gavin.
Saat g4irah mulai merusak klausul kontrak, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Serangan Terakhir Mertua
"Angkat koper ini, Inah! Hati-hati! Jangan diseret kasar begitu! Itu kulit asli, harganya lebih mahal dari gaji kamu setahun!"
Suara cempreng Bu Laras menggema di ruang tamu yang berplafon tinggi. Wanita paruh baya itu berdiri sambil menunjuk-nunjuk koper Louis Vuitton miliknya dengan ujung tongkat eboni. Wajahnya masam, bibirnya ditekuk ke bawah seolah dia baru saja menelan lemon utuh beserta kulitnya.
Bi Inah yang malang hanya bisa menunduk sambil mengangkat koper berat itu dengan susah payah menuju pintu depan.
"Maaf, Bu Laras. Berat sekali isinya," gumam Bi Inah.
"Ya makanya pakai otot! Jangan cuma makan gaji buta!" semprot Bu Laras lagi.
Kiana berdiri di dekat tangga, melipat tangan di dada. Dia baru saja turun dari kamar Gavin setelah memastikan suaminya menghabiskan obat dan istirahat sebentar.
Melihat mertua Gavin sedang packing dengan gaya diva yang tantrum, sudut bibir Kiana berkedut menahan senyum puas.
Operasi "Bubur Gosong" sukses besar. Bu Laras sadar dia tidak punya celah lagi untuk menyerang. Gavin sudah memilih kubunya, dan kubu itu adalah Kiana (dan bubur pahitnya).
"Ibu yakin mau pulang sekarang?" tanya Kiana basa-basi, berjalan mendekat dengan langkah santai. "Nggak mau nunggu makan siang? Saya bisa masakkan mie instan spesial kalau Ibu mau. Kali ini dijamin matang."
Bu Laras berbalik badan dengan cepat, matanya menyipit tajam menatap Kiana.
"Simpan sindiranmu, Kiana," desis Bu Laras. Dia membetulkan selendang sutranya dengan gerakan angkuh. "Saya pulang bukan karena saya kalah. Saya pulang karena rumah ini auranya sudah kotor. Panas. Nggak cocok buat kesehatan jantung saya."
"Oh, saya pikir karena AC-nya kurang dingin," sahut Kiana polos.
"Kamu..." Bu Laras menggeram, tangannya mencengkeram tongkat lebih erat. "Dengar ya. Jangan pikir karena Gavin membelamu hari ini, posisimu aman. Laki-laki itu gampang berubah. Sekarang dia butuh kamu karena dia sakit. Tunggu saja kalau dia sudah sehat dan sadar kalau dia menikahi wanita yang bahkan nggak bisa bedain lengkuas sama jahe."
"Setidaknya saya bisa bedain mana yang tulus dan mana yang parasit, Bu," balas Kiana telak.
Bu Laras ternganga. Wajahnya merah padam. Dia hendak membalas dengan sumpah serapah, tapi suara langkah kaki kecil menghentikannya.
Alea turun dari tangga sambil menggendong tas sekolah barunya—meski hari ini hari Minggu, dia suka membawanya kemana-mana.
"Oma mau pulang?" tanya Alea, menatap tumpukan koper di pintu.
Wajah garang Bu Laras seketika berubah menjadi topeng nenek peri yang manis dan penuh kasih sayang. Perubahan ekspresinya begitu drastis sampai Kiana merasa ngeri.
"Iya, Cucu Oma sayang," Bu Laras merentangkan tangannya lebar-lebar. "Sini, peluk Oma dulu. Oma nggak tahan disini lama-lama. Udaranya nggak enak."
Alea berjalan mendekat dan membiarkan dirinya dipeluk. Bu Laras memeluk Alea erat, matanya melirik sinis ke arah Kiana di balik bahu kecil Alea.
"Kasihan kamu, Nak," bisik Bu Laras di telinga Alea, cukup keras agar Kiana dengar. "Harus tinggal sama ibu tiri yang galak. Pasti kamu menderita ya?"
Alea melepaskan pelukan itu, menatap Omanya bingung. "Aku nggak menderita kok, Oma. Aku seneng."
"Sstt... jangan bohong buat nyenengin hati orang lain," potong Bu Laras cepat.
Bu Laras kemudian merogoh tas tangannya. Dia mengeluarkan sebuah bingkai foto perak berukuran sedang. Dia berjongkok—sedikit meringis karena encok—agar sejajar dengan Alea.
"Alea, lihat ini," kata Bu Laras, menyodorkan foto itu.
Itu adalah foto close-up wajah Sarah, mendiang ibu kandung Alea, yang sedang tersenyum cantik.
"Ini Mamamu. Cantik kan? Jauh lebih cantik dan anggun daripada Tante itu," hasut Bu Laras dengan suara rendah berbisa. "Oma kasih ini buat kamu. Kamu simpan baik-baik ya. Sembunyikan di bawah bantal atau di dalam lemari baju."
Kiana menegang. Itu manuver kotor. Menggunakan memori orang mati untuk menyerang mental anak kecil.
"Kenapa harus disembunyiin, Oma?" tanya Alea polos, menerima bingkai itu.
"Karena..." Bu Laras melirik Kiana dengan tatapan menuduh. "...Ada orang jahat yang mau buang semua kenangan tentang Mama kamu. Dia mau gantiin posisi Mama kamu. Dia mau kamu lupa sama Mama Sarah. Jadi kamu harus jaga foto ini, ya? Jangan sampai diambil sama Tante Kiana."
Kiana mengepalkan tangan. Dia hendak maju untuk mengintervensi, tapi dia menahan diri. Dia ingin melihat hasil didikannya. Apakah Alea akan termakan hasutan itu?
Alea menatap foto ibunya lama. Lalu dia menatap Bu Laras.
"Oma salah," kata Alea tenang.
"Hah?" Bu Laras kaget.
"Tante Kiana nggak mau buang foto Mama," jelas Alea dengan logika anak kecil yang lurus. Dia menyerahkan kembali bingkai foto itu ke tangan Bu Laras.
"Lho? Kok dibalikin? Ambil!" paksa Bu Laras.
"Aku udah punya banyak, Oma," tolak Alea sopan. "Tante Kiana udah kumpulin semua foto Mama yang ada di tembok. Terus dimasukin ke dalam album besar yang bagus banget. Katanya biar fotonya nggak kena debu dan nggak rusak. Albumnya ada di ruang kerja Papa."
Mulut Bu Laras terbuka sedikit. "Apa? Album?"
Gavin pernah menyinggung itu sedikit, tapi mungkin Bu Laras lupa, atau… pura-pura lupa
"Iya," Alea mengangguk mantap. "Kata Tante Kiana, kita harus move on. Move on itu artinya maju ke depan, Oma. Kalau kita liatin foto Mama terus di dinding sambil sedih, nanti Mama di surga ikutan sedih. Jadi fotonya disimpan rapi, dilihat kalau lagi kangen aja. Biar Mama tenang."
Skakmat.
Bu Laras terpaku. Dia merasa seperti ditampar bolak-balik oleh cucunya sendiri.
Niatnya menanamkan benih kebencian dan ketakutan bahwa Kiana akan menghapus Sarah, justru dipatahkan oleh fakta bahwa Kiana merawat kenangan itu dengan cara yang lebih hormat dan logis.
Kiana tersenyum tipis. Good job, kiddo.
"Jadi Oma bawa aja fotonya. Di rumah udah ada yang lebih gede di album," tutup Alea, lalu membetulkan letak tas punggungnya.
Tangan Bu Laras gemetar memegang bingkai foto itu. Dia kalah telak.
Dia tidak bisa melawan logika polos seorang anak yang sudah didoktrin dengan kasih sayang yang rasional.
Bu Laras berdiri kaku. Dia menatap Kiana dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara benci, malu, dan sedikit rasa segan yang enggan dia akui.
"Baiklah," ucap Bu Laras ketus, memasukkan kembali foto itu ke tasnya dengan kasar. "Kalau memang cucuku sudah dicuci otaknya, saya bisa apa?"
Bu Laras memberi isyarat pada supir pribadinya yang sudah menunggu di depan pintu.
"Saya pamit," kata Bu Laras tanpa menoleh ke Kiana. Dia berjalan menuju pintu dengan langkah dihentak-hentakkan.
Tapi sebelum kakinya melewati ambang pintu, dia berhenti dan berbalik menatap Kiana untuk terakhir kalinya. Dia harus meninggalkan satu ancaman terakhir agar terlihat berwibawa.
"Heh, Kiana!" seru Bu Laras.
"Ya, Bu?"
"Awas kalau cucuku sampai kurus kering gara-gara masakanmu! Kalau bulan depan berat badan Alea turun satu ons saja, saya datang lagi bawa katering satu truk!" ancam Bu Laras sambil mengacungkan tongkatnya.
Kiana tertawa kecil. "Siap, Bu. Tenang saja, Alea bakal lebih gembul dari sebelumnya. Hati-hati di jalan."
Bu Laras mendengus keras, lalu masuk ke dalam mobil Alphard hitamnya dan membanting pintu. Mobil itu melaju pergi, membawa serta awan mendung yang menyelimuti rumah itu sejak kemarin sore.
"Dah Oma!" Alea melambaikan tangan dengan ceria, sama sekali tidak merasa sedih ditinggal neneknya.
Kiana menghembuskan napas panjang, rasanya beban lima puluh kilo baru saja diangkat dari pundaknya.
"Akhirnya..." desah Kiana. "Rumah ini bebas polusi suara."
Satu jam kemudian.
Suasana rumah kembali tenang. Gavin, yang merasa sedikit lebih baik setelah makan dan minum obat, turun ke lantai bawah.
Dia masih memakai piyama dan wajahnya agak pucat, tapi dia bersikeras ingin duduk di sofa ruang tengah. Dia bosan di kamar.
Kiana duduk di sampingnya, memijat pelipisnya sendiri sambil mengecek email di iPad. Alea sedang asyik main lego di karpet.
"Maaf ya soal Mama Laras," kata Gavin pelan, memecah keheningan. Tangannya meraih tangan Kiana yang bebas, menggenggamnya di atas sofa. "Mulutnya memang... tajam. Dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau Sarah sudah nggak ada."
Kiana menoleh, tidak menepis tangan Gavin. "Nggak apa-apa. Wajar. Dia ibu yang kehilangan anak. Aku cuma berharap dia nggak nularin sifat toxic-nya ke Alea."
"Kayaknya nggak mempan," Gavin tertawa kecil melihat Alea. "Anak itu lebih dengerin kamu daripada neneknya."
"Jelas. Aku kan asik," Kiana menyombongkan diri sedikit, membuat Gavin tersenyum gemas.
Suasana begitu damai. Kiana menyandarkan kepalanya ke bahu Gavin sejenak, menikmati momen langka di mana tidak ada drama, tidak ada kebakaran, dan tidak ada musuh.
Hanya ada mereka. Keluarga kecil yang aneh tapi nyaman.
Namun, kedamaian di dunia Kiana Elvaretta adalah barang mewah yang langka.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Ponsel Kiana yang tergeletak di meja kopi bergetar panjang dan agresif.
Kiana menegakkan tubuh, meraih ponselnya. Nama yang tertera di layar membuat keningnya berkerut dalam.
Kompol Aryo (Reskrim Polres Tanjung Jaya)
Jantung Kiana berdegup kencang. Ini soal kebakaran.
"Siapa?" tanya Gavin, merasakan ketegangan Kiana.
"Polisi," jawab Kiana singkat. Dia menekan tombol terima dan me- loudspeaker agar Gavin bisa dengar. "Halo, Pak Aryo? Bagaimana? Sudah ada perkembangan?"
Suara berat dan serius dari seberang sana terdengar jelas di ruang tengah yang sunyi.
"Selamat siang, Bu Kiana. Maaf mengganggu hari Minggunya. Kami baru saja menerima hasil forensik awal dari Labfor Mabes Polri terkait barang bukti jerigen bensin yang ditemukan di TKP Gudang A."
Kiana menahan napas. Gavin mencondongkan tubuhnya mendekat ke ponsel.
"Ya, Pak? Apa hasilnya? Ada sidik jari?" tanya Kiana tidak sabar.
"Ada, Bu. Sangat jelas. Pelaku sepertinya terburu-buru atau amatir sehingga meninggalkan jejak jari jempol dan telunjuk yang utuh di gagang jerigen yang tidak terbakar habis."
"Siapa, Pak? Apakah ada di database kriminal?" desak Gavin.
"Bukan di database kriminal, Pak Gavin. Tapi kami mencocokkannya dengan database E-KTP dan... kebetulan juga cocok dengan data sidik jari karyawan di perusahaan Ibu yang pernah didaftarkan untuk SKCK massal tahun lalu."
Kiana terbelalak. Karyawan? Orang dalam?
"Maksud Bapak... pelakunya karyawan saya sendiri?" suara Kiana bergetar menahan amarah. "Siapa namanya?"
Hening sejenak di ujung telepon, seolah polisi itu sedang membaca berkas.
"Sidik jari itu identik 99,9 persen dengan saudara Ujang Suparman. Mandor gudang Ibu."
Dunia Kiana serasa runtuh untuk kedua kalinya.
Pak Ujang?
Pak Ujang yang setia? Yang sudah bekerja dengan Kakek Adijaya selama dua puluh tahun? Yang kemarin menangis di lokasi kebakaran?
"Nggak mungkin..." bisik Kiana, menggelengkan kepala. "Pasti ada kesalahan. Pak Ujang itu orang kepercayaan saya!"
"Bukti forensik tidak bisa bohong, Bu. Kami sudah mengeluarkan surat penangkapan. Tim kami sedang menuju ke kediaman saudara Ujang sekarang. Kami harap Ibu dan Pak Gavin bisa datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tambahan."
Sambungan telepon terputus.
Kiana menjatuhkan ponselnya ke sofa. Tangannya gemetar hebat. Dia merasa dikhianati.
Rasanya lebih sakit daripada serangan Bu Laras. Bu Laras adalah musuh yang terlihat, tapi Pak Ujang... dia adalah keluarga.
"Ujang..." desis Gavin, rahangnya mengeras. Matanya berkilat marah. "Berani-beraninya dia..."
"Kenapa, Gavin?" Kiana menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa dia tega bakar tempat dia cari makan selama dua puluh tahun? Aku nggak pernah telat bayar gaji dia. Aku kasih bonus. Kenapa?"
Gavin meraih bahu Kiana, meremasnya kuat.
"Itu yang akan kita cari tahu," ucap Gavin dingin. Dia berdiri, mengabaikan rasa pusing yang masih tersisa di kepalanya. Sakitnya hilang digantikan adrenalin kemarahan.
"Ganti baju, Kiana. Kita ke kantor polisi sekarang. Aku akan pastikan dia bicara."
Kiana mengangguk kaku. Air matanya kering, digantikan oleh tatapan dingin seorang CEO yang siap menghancurkan pengkhianat.