Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Menunggu Giliran
## Bab 28: Menunggu Giliran
Dua carik tiket kertas di tangan Rafi terasa sedikit lembap. Keringat tipis di telapak tangannya, meski ia berada di bawah hembusan AC Irian Kisaran yang stabil, adalah bukti sisa ketegangan dari antrean Bab 27 tadi. Kini, ia dan Nisa terduduk di deretan kursi tunggu plastik berwarna abu-abu yang diletakkan tepat di depan pintu masuk studio 5D Cinema.
Kursi ini sempit. Secara teknis, kursi ini dirancang hanya untuk menunggu, bukan untuk bersantai. Namun bagi Rafi, jarak antara dirinya dan Nisa yang hanya dipisahkan oleh satu jengkal ruang kosong terasa begitu intens. Ia bisa mencium aroma sisa-sisa parfum Nisa yang kini bercampur dengan aroma *butter* dari gerai jagung manis di seberang mereka.
Di dalam studio, terdengar suara dentuman bas yang berat dan teriakan histeris penonton kloter sebelumnya. Pintu studio yang dilapisi kulit sintetis hitam itu sesekali bergetar.
"Dengar suaranya aja udah seram ya, Fi," ujar Nisa. Ia mencoba merapikan anak rambut yang menempel di pipinya akibat keringat perjalanan tadi.
Rafi menoleh, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat sebagai pria yang memegang kendali. "Biasanya itu cuma efek suara aja, Nis. Biar penontonnya makin deg-degan. Namanya juga trik pemasaran hiburan."
Secara analitis, Rafi sebenarnya sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia sudah membayar delapan puluh ribu rupiah (Bab 27), dan secara logis, ia tidak ingin terlihat pengecut di wahana yang ia bayar dengan "darah" hasil mengetik tugas selama sebulan.
Untuk membuang rasa canggung yang mulai merayap karena hening yang terlalu lama, Rafi merogoh ponsel di sakunya. Layarnya menunjukkan pukul 11.15. Masih ada sekitar tujuh menit sebelum pintu terbuka.
"Tadi malam aku sempat lihat TikTok, ada tren baru yang pakai lagu galau itu, Nis. Yang orang-orang bikin video transisi dari baju rumah ke baju pergi," kata Rafi, membuka percakapan yang paling aman untuk remaja zaman sekarang: media sosial.
Nisa langsung menoleh, matanya berbinar. "Oh, yang *glow up challenge* itu? Iya, aku juga sering lewat di FYP. Tapi menurutku banyak yang berlebihan, masak pakai filter sampai mukanya jadi beda jauh gitu."
Rafi tertawa kecil. "Betul. Secara teknis, filter itu cuma manipulasi piksel. Tapi ya namanya juga buat konten, kan orang penginnya kelihatan sempurna."
"Kamu nggak mau bikin konten kayak gitu juga, Fi? Kamu kan hari ini rapi kali pakai kemeja flanel," goda Nisa sambil melirik kemeja biru Rafi (Bab 13).
Jantung Rafi seolah melompat. Pujian kecil itu terasa lebih bermakna daripada nilai seratus di ulangan matematika. Namun, sisi skeptisnya segera mengerem rasa senangnya. *Ingat Rafi, jangan kepedean. Dia cuma basa-basi.*
"Ah, aku nggak bakat jadi seleb TikTok, Nis. HP-ku aja kameranya kalau buat rekam malam hari kayak banyak semutnya," jawab Rafi jujur, teringat ponselnya yang merupakan seri lama dengan layar retak di sudut (Bab 23). "Lagian, biaya paket data buat unggah video resolusi tinggi itu mahal. Bisa buat makan siang tiga hari."
Nisa mengangguk-angguk setuju. "Iya sih, paket internet sekarang naiknya nggak kira-kira. Kadang jatah uang jajan habis cuma buat beli kuota biar bisa ngerjain tugas sekolah yang semuanya pakai link YouTube."
Percakapan mengalir ke arah realitas ekonomi yang mereka hadapi sebagai pelajar di daerah. Bagi mereka, hiburan seperti Irian Kisaran ini adalah sebuah kemewahan yang harus dijadwalkan. Mereka membahas tentang tren TikTok lainnya—tentang makanan viral yang harganya tidak masuk akal hingga tentang lagu-lagu yang mendadak populer meski liriknya sulit dimengerti.
Rafi merasa beruntung. Membahas tren digital adalah jembatan yang paling efektif untuk menutupi perbedaan latar belakang mereka. Di dunia digital, mereka setara. Mereka menonton video yang sama, menertawakan meme yang sama, dan mengeluhkan harga kuota yang sama.
Namun, di tengah tawa Nisa, Rafi tetap tidak melepaskan kewaspadaannya. Matanya sesekali melirik ke arah pintu studio. Ia melihat petugas berbaju merah sedang membersihkan kacamata 3D di atas meja konter.
Secara mikroskopis, Rafi memperhatikan cara Nisa duduk. Nisa sesekali memainkan ujung tasnya, kakinya sedikit bergoyang—tanda bahwa dia pun sebenarnya merasa gugup menghadapi film horor di dalam nanti. Ada rasa bangga di hati Rafi. Ia berhasil menciptakan momen di mana Nisa merasa "hidup" dengan adrenalin yang tertahan.
*Delapan puluh ribu untuk momen ini,* batin Rafi. *Secara ekonomi, ini adalah pengeluaran non-produktif. Tapi secara emosional, ini adalah investasi strategis.*
Tiba-tiba, suara bas dari dalam studio berhenti. Pintu hitam itu terbuka, dan beberapa remaja keluar dengan wajah pucat namun tertawa-tawa. Beberapa dari mereka sibuk membetulkan kerudung atau baju yang sedikit basah karena efek semprotan air.
Seorang petugas berdiri di ambang pintu. "Kloter selanjutnya, film *The Haunted House*, silakan masuk!"
Rafi berdiri lebih dulu. Ia menawarkan tangannya untuk membantu Nisa berdiri, sebuah gerak-gerik *gentleman* yang ia latih di depan cermin Bab 15. Nisa menerima bantuan itu dengan senyuman kecil yang membuat lutut Rafi terasa lemas sesaat.
"Ayo, Nis. Kita lihat seberapa seram rumah hantunya," ujar Rafi sambil melangkah menuju pintu gelap itu.
Ia menyerahkan dua tiketnya kepada petugas. Saat ia melangkah masuk ke dalam kegelapan studio yang berbau mesin dan karet, Rafi meraba saku belakangnya. Dompetnya masih ada. Keberaniannya masih utuh. Dan di sampingnya, Nisa berjalan dengan tangan yang hampir menyentuh lengannya.
Langkah mereka menembus tirai hitam studio, meninggalkan kebisingan mall untuk masuk ke dalam simulasi ketakutan yang telah Rafi beli dengan seluruh kerja kerasnya selama sebulan terakhir.
---