Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Salju Pertama di London
Mobil Rolls-Royce Cullinan hitam itu meluncur senyap menembus jalanan pusat kota London yang diselimuti kabut tipis musim dingin. Di dalam kabin yang hangat dan beraroma kulit mewah, Amara menempelkan wajahnya ke jendela kaca. Matanya yang bulat melebar, berkilau penuh binar kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. Bangunan-bangunan bergaya Victoria yang kokoh, lampu jalanan yang klasik, hingga bus tingkat merah yang ikonik lewat di depan matanya seperti adegan dalam film.
"Woahh..." desah Amara tanpa sadar. Mulutnya sedikit menganga, benar-benar terpesona oleh pemandangan kota yang begitu kontras dengan hiruk pikuk Jakarta yang biasa ia lihat.
Arlan, yang duduk di sampingnya sambil memangku Kenzo, melirik dari sudut mata. Ia melihat bagaimana hidung mungil Amara sampai menempel di kaca, menciptakan uap tipis di sana. Sebuah dengusan pelan keluar dari hidung Arlan, namun itu bukan dengusan benci, melainkan rasa geli melihat kepolosan gadis itu yang nampak begitu "kampungan" namun menggemaskan di matanya.
"Kau suka?" tanya Arlan dengan nada datar namun sedikit dalam.
Amara mengangguk semangat tanpa melepaskan pandangannya dari luar. "Iya, Tuan! Ini benar-benar pertama kalinya saya melihat tempat seperti ini. Sangat indah, suasananya tenang... dan lihat itu! Lampu-lampunya sangat cantik!"
Arlan menyunggingkan senyum yang sangat tipis—sebuah senyum langka yang hanya muncul saat ia melihat kejujuran di wajah Amara. Ia sedikit bergeser, mendekatkan wajahnya ke sisi kepala Amara hingga ia bisa mencium aroma sampo stroberi milik gadis itu.
"Mau melakukan §êk§ sambil melihat salju turun di jendela?" bisik Arlan tepat di telinga Amara. Suaranya berat, penuh dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Amara meremang seketika.
Pipi Amara langsung memerah hebat, menjalar hingga ke lehernya. Ia menarik diri dari jendela dan menoleh ke arah Arlan dengan wajah malu sekaligus kesal. "Tuan! Kenapa selalu berkata seperti itu? Kita sedang di jalan, dan ada Kenzo..." gerutunya kecil sambil mengerucutkan bibirnya.
Arlan terkekeh rendah, suara tawanya yang maskulin memenuhi kabin mobil. "Tapi kau suka, bukan? Kau suka saat aku mêñggågåhïmµ dan membuatmu kehilangan akal, Amara. Tubuhmu tidak pernah berbohong padaku."
Amara segera memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak berani membalas karena ia tahu Arlan benar. Di luar sana, butiran putih lembut mulai turun dari langit—salju pertama di musim ini. Pemandangan itu begitu romantis, namun juga terasa berbahaya karena gairah tuannya yang seolah tak pernah padam.
Tiba-tiba, Kenzo yang sedari tadi terlelap di pangkuan Arlan mulai bergerak gelisah. Bayi mungil itu merengek pelan, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu. Arlan yang menyadari hal itu segera mengangkat Kenzo dengan kedua tangannya yang kuat.
"Sepertinya dia lapar. Susui dia," perintah Arlan seraya memberikan bayi gembul itu ke pelukan Amara.
Amara dengan sigap menyambut Kenzo. Ia merasakan þµ†ïñgñɏå mulai berdenyut—sebuah reaksi alami saat ia mendengar tangisan bayi itu. Tanpa banyak bicara, Amara membuka kancing coat panjangnya dan melonggarkan daster bagian dalam. Dengan gerakan yang sudah terbiasa, ia mengeluarkan salah satu þåɏµÐåråñɏå yang besar dan penuh, berkilau karena kencangnya produksi ASI.
Kenzo langsung menyambar þµ†ïñg pengasuhnya dengan lahap. Suara isapan yang ritmis kini terdengar di dalam mobil yang sedang melaju. Amara menunduk, menatap tuan mudanya dengan kasih sayang, sementara di sampingnya, Arlan kembali menatapnya dengan pandangan lapar.
Bagi Arlan, pemandangan Amara yang sedang menyusui di dalam mobil yang menembus salju London adalah pemandangan paling erotis sekaligus indah yang pernah ia lihat. Ia membiarkan tangan besarnya merayap, mengelus lutut Amara yang terekspos, sementara matanya tak lepas dari þåɏµÐårå Amara yang sesekali terlihat dari balik bayangan coat-nya.
***
Lantai granit yang dipoles sempurna memantulkan kemilau lampu gantung kristal saat Amara melangkah masuk ke dalam penthouse yang terletak di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit paling bergengsi di London. Dinding kacanya yang setinggi langit-langit menyajikan panorama 360 derajat kota London yang sedang diguyur salju. Amara berdiri terpaku, mulutnya sedikit terbuka saat ia membandingkan kemewahan ini dengan mansion di Jakarta. Jika di Indonesia Arlan adalah raja di istana tropis, maka di sini ia adalah penguasa di tengah kemewahan modern yang dingin dan elegan.
Arlan bergerak dengan efisiensi yang mematikan. Ia membawa Kenzo—yang sudah terlelap akibat kekenyangan ASI selama perjalanan tadi—ke dalam sebuah kamar bayi yang sudah disiapkan dengan furnitur kayu ek yang hangat. Hanya butuh beberapa menit bagi Arlan untuk memastikan putranya aman, sebelum ia kembali ke ruang tengah dengan langkah yang bergetar penuh predator.
Amara masih berdiri di tengah ruangan, memandangi gemerlap lampu Big Ben dari kejauhan, saat ia merasakan sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya. Tubuh Arlan yang panas menempel erat di punggungnya, menciptakan kontras yang tajam dengan suhu dingin di luar sana.
"Masih ingin terus menganga, atau ingin aku melakukan sesuatu pada mulutmu itu?" bisik Arlan rendah.
Tanpa peringatan, tangan Arlan bergerak naik, menyusup ke balik coat tebal Amara dan langsung meremas þåɏµÐåråñɏå yang masih terasa penuh dan sensitif.
"A-akh! Tuan!" Amara memekik kaget, tubuhnya berjengit saat merasakan telapak tangan Arlan yang kasar dan hangat menguasai dadanya.
Pekikan pelan itu justru menjadi pemicu bagi Arlan. Suara itu bagaikan musik yang membangkitkan rasa lapar yang sudah ia tahan sejak di mobil. Arlan menarik wajah Amara ke belakang, memaksanya mendongak, dan langsung mêlµmå† bibir gadis itu dengan ¢ïµmåñ yang sangat menuntut. Lidahnya menjelajahi rongga mulut Amara dengan dominasi penuh, seolah ingin menghapus rasa dingin London dengan api gåïråhñɏå.
Dalam benak Arlan, ia sudah merencanakan berbagai macam posisi yang akan ia lakukan pada Amara di atas sofa kulit Italia, di depan dinding kaca yang menghadap salju, hingga di atas meja dapur marmer yang dingin. Ia ingin menaklukkan Amara di setiap sudut penthouse ini sementara Kenzo tertidur pulas.
Namun, tepat saat tangan Arlan mulai menarik ritsleting daster Amara, sebuah suara yang sangat tidak romantis memecah suasana.
Kruuukkk...
Perut Amara berbunyi cukup nyaring, mengkhianati rasa lapar yang ia tahan karena kelelahan perjalanan jauh. Amara seketika mematung, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Ia merasa sangat malu karena tubuhnya bereaksi di saat yang paling tidak tepat.
Arlan melepaskan ¢ïµmåññɏå, napasnya masih memburu. Ia menatap Amara sejenak, lalu mendengus pelan. Tidak ada amarah di matanya, hanya rasa geli yang tertahan.
"T-Tuan... maaf, saya... saya belum makan sejak di pesawat tadi," bisik Amara sambil menunduk dalam, mencoba menutupi perutnya dengan tangan.
Melihat wajah pengasuhnya yang nampak begitu bersalah, Arlan melepaskan pelukannya. "Tentu saja. Perjalanan belasan jam dan kau terus menyusui Kenzo. Kau pasti kehabisan tenaga."
Arlan melangkah menuju dapur modern yang didominasi warna hitam dan perak. Amara yang melihat tuannya berjalan ke arah kompor langsung merasa tidak enak hati. Sebagai pelayan dan pengasuh, sudah kewajibannya untuk melayani kebutuhan Arlan, bukan sebaliknya.
"Tuan! Biar saya saja yang masak. Tuan pasti lelah," Amara berlari kecil mencoba mendahului Arlan ke dapur. "Tuan mau makan apa? Saya bisa buatkan pasta atau nasi goreng sederhana."
Arlan berhenti dan mengangkat satu tangannya, menghalangi langkah Amara. "Duduk, Amara. Itu perintah."
"Tapi Tuan—"
"Duduk di kursi bar itu dan perhatikan aku. Aku tidak ingin kau menyentuh peralatan dapur dengan tanganmu yang masih gemetar itu," ujar Arlan sambil mulai menyingsingkan lengan kemejanya hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh dan urat-urat yang menonjol.
Amara akhirnya menurut dengan ragu. Ia duduk di kursi tinggi di depan meja marmer, memperhatikan Arlan yang mulai bergerak dengan sangat lihai di dapur. Pria itu mengambil sepotong wagyu steak dari lemari es, menghancurkan lada hitam, dan memanaskan wajan dengan gerakan yang sangat maskulin.
Melihat sosok Arlan Aditama—sang pengusaha bertangan besi—sedang memasak khusus untuknya di tengah malam London yang bersalju, membuat hati Amara bergetar dengan cara yang berbeda. Ini bukan hanya tentang nafsu, melainkan tentang perhatian kecil yang membuatnya merasa begitu istimewa.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Arlan tanpa menoleh, sudut bibirnya sedikit terangkat saat ia mencium aroma daging yang mulai terpanggang sempurna. "Kau ingin aku memasak untukmu, atau kau ingin aku menjadi hidangan utamamu setelah ini?"