Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kemenangan dan Pengakuan di Bawah Cahaya Lampu
Suasana di dalam GOR Patriot semakin memanas memasuki babak final kategori putra. Meskipun tim putri Universitas Cakrawala harus puas di posisi ketiga karena kehilangan salah satu pemain kunci mereka—Liana—semangat juang tim tidak padam. Namun, sorotan utama sore itu tetap tertuju pada tim putra yang dipimpin oleh Justin.
Di pinggir lapangan, sebuah pemandangan mengharukan menarik perhatian banyak orang. Liana duduk di sebuah kursi roda besi, kaki kanannya terbalut perban putih yang tebal hingga ke pergelangan kaki. Wajahnya masih sedikit pucat, namun matanya berbinar penuh semangat. Di sampingnya, Dhea setia memegang botol minum dan handuk, sesekali memberikan semangat.
"Li, lo beneran kuat duduk di sini? Kalau masih perih, mending di ruang medis aja," tanya Dhea khawatir.
Liana menggeleng kuat. "Gue harus di sini, Dhe. Kak Justin dan tim putra lagi berjuang. Gue nggak mau absen di momen paling penting mereka."
Justin, yang sedang melakukan pemanasan terakhir di tengah lapangan, berkali-kali melirik ke arah kursi roda itu. Setiap kali matanya bertemu dengan mata Liana, ada sebuah kekuatan baru yang mengalir ke dalam dirinya. Rasa amarahnya terhadap kejadian sabotase Alena—yang kini kabarnya sudah diamankan pihak keamanan kampus dan kepolisian—ia ubah menjadi energi ledakan di atas lapangan.
Peluit babak final dibunyikan. Universitas Cakrawala melawan Universitas Wijaya, rival abadi mereka yang memiliki pertahanan sekuat tembok.
Pertandingan berjalan sangat sengit. Skor susul-menyusul. Justin bermain seperti orang kesetanan. Ia tidak hanya mencetak angka, tapi ia mendominasi seluruh aspek permainan. Steal, assist, block—semuanya ia lakukan dengan presisi yang menakutkan.
Memasuki dua menit terakhir, skor terpaut tipis, 78-77 untuk keunggulan tim lawan. Suasana tribun sangat tegang. Para pendukung Cakrawala bersorak riuh, namun kegelisahan menyelimuti mereka.
Justin membawa bola dari area pertahanan. Ia dikepung oleh tiga pemain lawan. Raka berteriak minta bola, namun Justin melihat celah kecil. Dengan gerakan crossover yang sangat cepat hingga lawan hampir terjatuh, Justin melesat menuju ring.
Tiba-tiba, Justin berhenti di garis three-point. Ia menoleh sekilas ke arah Liana di pinggir lapangan, memberikan sebuah anggukan kecil seolah berkata, "Ini buat lo."
Justin melompat tinggi. Tubuhnya tampak melayang di udara dengan estetika yang luar biasa. Bola terlepas dari jarinya, berputar dengan indah di udara sebelum akhirnya...
SWISH!
Bola masuk tanpa menyentuh ring sedikit pun tepat saat bel akhir berbunyi. Buzzer beater!
Skor berubah menjadi 80-78. Universitas Cakrawala keluar sebagai juara pertama!
Seluruh pemain cadangan dan ofisial berlari ke tengah lapangan, memeluk Justin dan Raka dalam euforia yang tak terbendung. Tribun bergetar oleh sorak-sorai kemenangan.
Namun, pemandangan spektakuler sesungguhnya baru saja dimulai. Saat panitia menyiapkan podium dan membawa piala emas yang besar, Justin tidak langsung bergabung dalam tarian kemenangan timnya. Ia berjalan menuju pinggir lapangan, menghampiri Liana yang sedang menangis haru di kursi rodanya.
Justin membungkuk, memegang kedua tangan Liana. "Kita menang," bisiknya lembut di tengah kebisingan.
Liana mengangguk sambil menyeka air matanya. "Kakak hebat banget. Keren banget!"
Petugas panitia kemudian memanggil sang kapten untuk memberikan sambutan kemenangan. Justin mengambil mikrofon dari atas panggung kecil di tengah lapangan. Semua mata tertuju padanya. Lampu sorot GOR kini terfokus pada sosok jangkung itu.
"Selamat malam semuanya," suara Justin bergema lewat pengeras suara, terdengar tenang namun penuh wibawa. "Terima kasih untuk tim lawan atas pertandingan yang hebat. Terima kasih untuk pelatih dan seluruh mahasiswa Universitas Cakrawala yang sudah datang mendukung."
Justin terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang.
"Kemenangan ini... bukan cuma hasil kerja keras tim di lapangan. Kemenangan ini didedikasikan untuk seseorang yang hari ini harus berkorban demi kita semua."
Tribun mendadak senyap. Ribuan mahasiswa saling lirik, bertanya-tanya siapa yang dimaksud.
Justin mengarahkan jarinya ke arah kursi roda di pinggir lapangan. "Liana Putri. Maba yang mungkin kalian kenal lewat banyak gosip beberapa hari ini. Dia cedera karena sabotase jahat, tapi dia tetap memilih duduk di sana, menahan sakit, cuma buat kasih semangat ke gue dan tim."
Liana tersentak. Ia menutupi wajahnya dengan tangan karena malu sekaligus terharu.
"Terima kasih, Liana," lanjut Justin, suaranya kini terdengar lebih emosional. "Terima kasih karena tetap ada di sana. Dan di depan kalian semua, di depan piala kemenangan ini, gue mau bilang..."
Justin menatap lurus ke arah Liana, mengabaikan kamera-kamera ponsel yang sedang merekamnya secara langsung.
"Gue sayang sama lo. Terima kasih sudah jadi alasan gue buat main sehebat tadi. Liana, I love you."
DUARRR!
Sorak-sorai yang tadi sempat senyap kini meledak sepuluh kali lebih kencang. Raka dan Kaila di belakang Justin berteriak histeris sambil berpelukan. Para mahasiswi di tribun banyak yang menjerit, ada yang patah hati, namun lebih banyak yang terpukau oleh keberanian sang Gunung Es yang akhirnya meleleh secara publik.
Dalam hitungan detik, akun Menfess kampus meledak.
"GILA! JUSTIN ADHINATA GO PUBLIC DI DEPAN SATU GOR!"
"Momen paling romantis sepanjang sejarah Cakrawala Cup!"
"Gue nangis liat Justin samperin Liana di kursi roda!"
"Alena nangis di pojokan denger pengakuan Justin!"
Justin turun dari panggung piala, menyerahkan piala itu pada Raka, dan kembali menghampiri Liana. Di depan ribuan mata, ia berlutut di depan kursi roda itu, mengambil tangan Liana dan mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat.
"Kak... malu," bisik Liana dengan wajah merah padam, namun ia tidak bisa berhenti tersenyum.
"Nggak perlu malu. Biar semua orang tahu kalau kamu punya aku," jawab Justin tegas.
Kaila datang merangkul mereka berdua. "Selamat ya kalian! Tapi Justin, lo beneran bikin satu kampus heboh. Gue rasa besok kita bakal dipanggil rektorat bukan cuma soal prestasi, tapi soal drama romantis ini!"
Justin hanya tertawa—tawa lepas yang tulus. Sore itu, di bawah cahaya lampu GOR dan di hadapan piala emas, Liana menyadari bahwa luka di kakinya tidak ada artinya dibanding kebahagiaan yang ia rasakan. Ia telah menemukan pelindungnya, kaptennya, dan cintanya.
Kisah mereka baru saja berpindah dari babak rahasia ke babak baru yang penuh cahaya. Dan bagi Liana, meskipun ia tidak bisa berjalan dengan normal untuk sementara waktu, hatinya merasa seolah-olah ia bisa terbang lebih tinggi dari lemparan bola basket mana pun.