NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHKOTA DI ATAS PASIR

Dentuman musik house yang keluar dari sound system senilai ratusan juta rupiah seolah menggetarkan kaca-kaca jendela penthouse mewah di lantai 45 itu. Aroma cerutu Kuba yang pekat bercampur dengan wangi parfum desainer papan atas, menciptakan atmosfer yang memabukkan bagi siapa saja yang ada di sana.

Di tengah kerumunan sosialita dan pengusaha kelas kakap, Hafiz berdiri tegak dengan gelas kristal berisi cairan amber yang mengkilap tertimpa lampu laser. Jas kasmir berwarna navy buatan penjahit terbaik di Italia melekat sempurna di tubuh tegapnya, memberikan kesan dominasi yang tak terbantahkan. Ia tidak perlu banyak bicara; keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat orang-orang di sekelilingnya merasa perlu untuk menunduk atau sekadar mencari muka.

"Satu triliun, Fiz! Kamu benar-benar gila! Dalam enam bulan, kamu sudah jadi raja properti baru di kota ini!" teriak salah satu rekan bisnisnya, Bima, sambil menepuk bahu Hafiz dengan kasar.

"Uang itu nggak punya kaki, Bram. Tapi dia tahu siapa yang punya magnet paling kuat buat narik dia datang," sahut Hafiz santai, lalu meneguk minumannya hingga tandas. Rasa panas membakar tenggorokannya, namun ia menikmati sensasi itu.

Ia melihat para pengusaha yang dulu meremehkannya, kini mengantre hanya untuk sekadar berjabat tangan atau memberikan kartu nama yang mungkin akan berakhir di tempat sampah. Di titik ini, Hafiz merasa seperti Tuhan kecil. Uang adalah agamanya, dan angka-angka di rekening adalah nabinya yang paling setia.

Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya bergetar. Hafiz merogohnya dengan malas. Begitu melihat nama 'Ibu' di layar, dahinya berkerut seketika.

Hafiz melangkah menjauh, menuju balkon yang lebih tenang agar suaranya tidak tenggelam dalam kebisingan pesta. Tapi tak cukup untuk mendinginkan kepalanya yang sedang mendidih oleh rasa bangga. Ia menekan tombol hijau dengan gerakan malas.

"Ya, Bu? Hafiz lagi sibuk banget sekarang. Ada acara penting," sapa Hafiz tanpa basa-basi. Tak ada sedikit pun nada hangat yang tersisa untuk wanita yang telah membesarkannya dengan cucuran keringat.

"Assalamualaikum, Le... Ibu cuma mau tanya kabar. Ibu rindu suara kamu," suara lembut di seberang sana terdengar sangat kontras dengan dentuman musik di belakang Hafiz. Suara itu bergetar, penuh kerinduan yang ditahan sedemikian rupa.

"Hafiz sehat, Bu. Sehat banget. Ibu butuh apa sebenarnya? Uang bulanan kurang? Besok Hafiz suruh sekretaris kirim dua kali lipat dari biasanya. Ibu beli saja apa yang Ibu mau di desa sana," potong Hafiz cepat, ia ingin segera mengakhiri percakapan ini.

"Bukan uang, Fiz. Ibu tadi habis dari makam Bapakmu. Ibu kepikiran kamu terus sejak tadi sore... Hati-hati, Le. Jangan terlalu tinggi terbangnya, nanti kamu lupa jalan pulang ke bumi. Bumi itu keras kalau kamu jatuh tanpa persiapan."

Hafiz memutar bola matanya, sebuah ekspresi muak yang untungnya tak bisa dilihat sang ibu melalui sambungan telepon.

"Ibu mulai lagi, deh. Hafiz sukses begini juga buat Ibu, buat angkat martabat keluarga kita. Biar Ibu nggak usah jualan nasi uduk lagi di depan pasar. Biar tetangga-tetangga yang dulu menghina kita tahu siapa Hafiz sekarang!" ucapnya dengan nada tinggi yang ketus.

"Ibu lebih suka kamu jualan nasi uduk di samping Ibu tapi hatimu tenang, Le, daripada kaya raya tapi hatimu kosong dan jauh dari Gusti Allah. Kapan terakhir kamu sujud, Le? Kapan terakhir dahi kamu menyentuh sajadah?"

Hafiz merasa dadanya sesak karena emosi. Pertanyaan itu terasa seperti serangan pribadi bagi gaya hidupnya yang sekarang. Ia benci diingatkan tentang masa lalunya yang miskin dan penuh keterbatasan.

"Bu, sudahlah! Sholat nggak bakal bikin proyek reklamasi Hafiz cair! Sekarang ini zaman kompetisi, zaman kerja keras, bukan zaman nunggu keajaiban lewat doa-doa di tengah malam. Dunia bisnis itu logis, Bu, bukan mistis!"

"Astaghfirullah, Hafiz... Jaga lisanmu, Le. Gusti Allah itu zat yang membolak-balikkan hati manusia. Jangan sampai Dia ambil semua mainan dunia kamu ini cuma karena kamu sombong. Ibu takut, Fiz... Ibu takut..."

"Kalau Dia mau ambil, ambil saja sekarang! Hafiz sudah punya sistem yang kuat. Hafiz punya pengacara terbaik, punya asisten paling setia, dan punya koneksi di mana-mana! Nggak bakal ada yang bisa hancurin Hafiz!"

Pip!

Hafiz memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kursi santai di balkon dengan kasar. Napasnya memburu, amarah kecil menyulut di matanya.

Ibu selalu saja begini. Selalu mau bikin aku merasa berdosa di tengah kesuksesanku! batinnya kesal.

Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu kembali masuk ke dalam, disambut oleh aroma alkohol dan tawa yang memuja-muja namanya.

"Siapa, Fiz? Kok mukanya kusut gitu setelah teleponan?" Cindy, kekasihnya yang merupakan model papan atas, menghampiri sambil merangkul lengan Hafiz manja. Cindy menatap Hafiz dengan tatapan memuja.

"Biasa, orang tua di desa. Terlalu banyak khotbah dan terlalu sedikit pengertian," jawab Hafiz singkat sambil membelai rambut Cindy. Sentuhan Cindy yang dingin karena AC ruangan terasa jauh lebih menyenangkan bagi Hafiz daripada nasihat ibunya yang hangat namun pedas.

"Aduh, mending kita happy-happy aja. Tuh, teman-teman sudah nungguin buat toast kemenangan terbesar kita tahun ini," ajak Cindy dengan suara manja yang dibuat-buat, menarik Hafiz kembali ke pusat keramaian.

Di pojok ruangan, Robi, asisten pribadi sekaligus tangan kanannya, sudah menunggu dengan tumpukan dokumen tipis dan sebuah tablet.

"Gimana, Rob? Semua berkas untuk tender besok pagi sudah siap?" tanya Hafiz sambil menerima gelas baru dari tangan seorang pelayan yang melintas.

Robi mengangguk mantap. "Beres, Bos. Proyek reklamasi sudah masuk tahap final. Bos tinggal tanda tangan beberapa berkas administratif di tablet ini, dan besok pagi jam delapan kita tinggal ketok palu kemenangan."

"Bagus! Kamu memang nggak pernah ngecewain aku, Rob. Nggak sia-sia aku kasih bonus mobil sport bulan lalu. Kamu layak dapetin itu karena kesetiaanmu," puji Hafiz bangga.

Robi tertawa kecil. "Apapun buat Bos Hafiz. Tanpa bimbingan Bos, saya ini cuma remahan rengginang di pinggir jalan."

Hafiz menepuk-nepuk bahu Robi dengan akrab. Di mata Hafiz, kesetiaan bisa dibeli dengan uang, dan ia merasa sudah membayar Robi dengan harga yang sangat mahal.

Pesta akhirnya mulai mereda ketika fajar hampir menyingsing di ufuk timur. Satu per satu tamu pulang dalam keadaan setengah sadar. Cindy sudah tertidur di kamar utama setelah mengeluh pening, meninggalkan Hafiz yang masih terduduk sendirian di sofa ruang tamu yang berantakan dengan botol-botol kosong yang harganya jutaan rupiah per botol.

Wajahnya tampak lelah, namun matanya masih menyiratkan keangkuhan yang sama. Ia merasa sangat kuat, sangat tak tersentuh oleh takdir mana pun.

"Aku nggak akan pernah jatuh, Bu. Lihat saja, besok Hafiz akan jadi orang terkaya di industri ini dan membungkam semua orang yang pernah meremehkan kita," bisiknya pada keheningan ruangan.

Hafiz meraih ponselnya. Ia ingin memastikan sekali lagi jadwal keberangkatan ke kantor pagi ini. Ia ingin menelepon Robi untuk memastikan supir sudah siap di bawah.

Hafiz menekan tombol panggil ke nomor Robi.

Tuuut... tuuut... tuuut...

Tidak ada jawaban. Hafiz mengernyitkan dahi. Ia mencoba lagi untuk kedua kalinya, namun hasilnya sama. Robi tidak mengangkat teleponnya.

"Sialan, apa dia ketiduran?" gerutu Hafiz kesal. Ia merasa sedikit tersinggung asistennya tidak siaga di jam krusial seperti ini.

Hafiz mencoba menelepon untuk ketiga kalinya. Ia menunggu dengan tidak sabar sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja kaca. Namun, kali ini, bukan nada sambung yang ia dengar.

Sebuah suara operator yang datar dan dingin tiba-tiba menyahut dari balik ponselnya.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi..."

Hafiz menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia menatap layar itu dengan dahi berkerut dalam. Tidak aktif? Di pagi buta sebelum tender besar mereka?

"Robi, kau main-main denganku?" gumam Hafiz lirih, namun kali ini ada sedikit getaran asing di suaranya yang tak mampu ia jelaskan.

Apakah Robi sengaja menghilang di saat-saat paling penting? Ataukah ini awal dari badai yang diramalkan Ibunya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!