Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga Hitam Pengganggu!
Xu Hao terus melesat di dalam jurang yang gelap. Kabut hitam di sekelilingnya semakin pekat, tekanan kesengsaraan semakin berat, namun ia tetap melaju dengan kecepatan tinggi. Kaki kanannya menapak di atas bongkahan batu besar, lalu melompat lagi, meninggalkan jejak ungu di belakangnya.
Namun naga hitam itu seakan tidak ingin melepaskan Xu Hao. Dari kejauhan, Xu Hao merasakan kehadiran makhluk itu semakin mendekat. Napasnya yang berat terdengar jelas, menggetarkan dinding-dinding jurang.
Naga hitam itu membuka mulutnya lebar-lebar. Di dalam mulutnya, energi hitam pekat berkumpul, bercampur dengan aura kematian dan korosif yang sangat mematikan. Bahkan kabut hitam di sekitarnya tersedot ke dalam mulut naga itu, menjadi bagian dari serangan.
WUSSHHH!
Semburan energi hitam melesat ke arah Xu Hao. Energi itu begitu pekat hingga ruang di sekitarnya bergetar dan retak. Apa pun yang terkena semburan ini, jika kultivasinya di bawah Raja Dewa, dipastikan akan hancur lebur dalam hitungan detik.
Xu Hao merasakan bahaya di belakangnya. Ia berbalik dengan wajah marah. Matanya memancarkan kilat ungu terang.
"Aku sudah bilang jangan mengikutiku!"
Xu Hao tidak menghindar. Ia justru langsung melesat ke arah semburan energi hitam itu. Tubuhnya menembus energi kematian tanpa rasa takut.
Naga hitam itu terbelalak. Matanya yang merah menyala membesar melihat Xu Hao melesat keluar dari semburan energinya dalam keadaan utuh. Bahkan pakaian Xu Hao tidak sedikit pun rusak. Hanya asap tipis mengepul dari tubuhnya, lalu hilang.
"Ini bahaya!"
Insting bertahan naga itu langsung aktif. Ia tidak berpikir panjang. Tubuh raksasanya langsung berbalik arah dan melesat cepat menjauh. Ekornya menyapu dinding jurang, menyebabkan runtuhan batu di mana-mana.
Xu Hao mengejar dengan kemarahan membara. Matanya ungu terang di tengah kegelapan.
"Berhenti! Lawan aku!"
Namun naga hitam itu terus melesat cepat. Ia tidak peduli dengan teriakan Xu Hao. Yang ia tahu, dewa di depannya ini bukan dewa biasa. Dewa Bumi yang bisa kebal terhadap semburan energi kematiannya? Itu tidak masuk akal. Tapi kenyataan ada di depan matanya.
Xu Hao berhenti. Ia menghela nafas panjang, menekan amarahnya. Tubuhnya perlahan tenang.
Ia menatap ke arah naga itu yang sudah jauh, lalu berkata dengan suara dingin, "Jika takut, jangan jadi pemburu."
Setelah itu, ia berbalik dan melesat lagi, melanjutkan perjalanannya menuju ujung jurang. Kini kecepatannya lebih tinggi dari sebelumnya. Ia ingin segera keluar dari tempat ini.
Di kejauhan, naga hitam itu berhenti setelah merasa cukup jauh. Ia berbalik, matanya menyipit menatap ke arah Xu Hao yang semakin menjauh.
Napasnya berat, bukan karena lelah, tapi karena terkejut.
"Dia tidak terpengaruh energi hitam milikku," gumamnya pelan. "Apa mungkin tubuhnya kebal mutlak? Atau dia punya teknik rahasia?"
Ia merenung sejenak. Lalu matanya menyala.
"Tapi aku masih punya serangan lain. Raungan nagaku bisa menghancurkan jiwa Dewa Langit bintang sepuluh sekalipun. Dewa rendahan itu pasti tidak akan tahan."
Naga hitam itu langsung melesat lagi. Kali ini dengan tekad baru. Ia tidak akan menyerah. Dewa bumi itu terlalu menarik untuk dilepaskan begitu saja.
Xu Hao terus terbang. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali merasakan kehadiran naga hitam itu semakin dekat. Lebih cepat dari sebelumnya.
Xu Hao mengerutkan kening. "Makhluk ini benar-benar suka bermain."
Xu Hao mempercepat terbangnya. Tubuhnya melesat seperti kilat ungu, meninggalkan jejak panjang di belakang. Namun naga hitam itu terus mengejar dengan kecepatan yang bahkan lebih tinggi.
"Aku tidak akan membiarkanmu kabur, Dewa Bumi rendahan!" teriak naga itu dari kejauhan. "Kau akan menjadi makan malamku!"
Xu Hao tidak menjawab. Ia terus fokus terbang.
Jarak antara mereka semakin dekat. Satu kilometer. Lima ratus meter. Tiga ratus meter.
Naga hitam itu membuka mulutnya lebar-lebar. Ia menarik nafas dalam, lalu mengeluarkan raungan.
"ROAAARRRRRR!!!"
Suara raungan itu begitu dahsyat. Bukan suara biasa, tapi gelombang suara yang menyerang langsung ke jiwa. Dinding-dinding jurang bergetar hebat, retak-retak di mana-mana. Batu-batu besar berjatuhan. Kabut hitam tersapu oleh gelombang suara.
Raungan itu menggema di seluruh jurang, mencapai setiap sudut, setiap celah. Makhluk-makhluk di kejauhan yang mendengarnya langsung bersembunyi ketakutan.
Xu Hao berhenti.
Ia berdiri di atas sebongkah batu, tubuhnya tidak bergerak. Wajahnya sangat muram. Matanya yang tadinya dingin, kini memancarkan aura mengerikan.
Raungan itu tidak mempengaruhinya sama sekali.
Pohon Willow di Dantiannya bergoyang pelan, melindungi jiwanya bersama hukum asal. Dao Pemberontakan membungkus seluruh tubuhnya, memblokir serangan jiwa itu dengan mudah.
Xu Hao menghilang.
Detik berikutnya, ia muncul tepat di depan kepala naga hitam itu. Jarak antara mereka kurang dari satu meter. Mata ungu Xu Hao menatap langsung ke mata merah naga itu.
Naga hitam itu hampir menjerit kaget. Instingnya yang tajam menyelamatkannya. Sebelum Xu Hao sempat menyerang, ia sudah berbalik dan melesat cepat menjauh. Ekornya menyapu keras, menciptakan dinding debu untuk menghalangi Xu Hao.
Xu Hao menangkap ekor itu dengan tangan kirinya. Tarikan keras, tapi naga itu melepaskan ekornya, mengorbankan beberapa sisik yang tercabut, lalu terus melesat.
Xu Hao memegang sisik hitam di tangannya. Ia menatapnya sebentar, lalu membuangnya.
Ia malas mengejar lagi.
Xu Hao turun ke tanah. Ia mencari tempat yang agak datar di antara bebatuan, lalu duduk bersila. Matanya terpejam. Tangannya diletakkan di atas lutut, telapak tangan menghadap ke atas.
Ia akan menunggu.
Di jarak sepuluh kilometer, naga hitam itu berhenti. Ia menoleh ke belakang, mengamati dengan mata tajamnya. Penglihatannya bisa menembus kabut hitam dengan mudah.
Ia melihat Xu Hao duduk bersila di atas batu, tidak bergerak.
Naga itu mengerutkan kening. Lalu ia berbaring di atas tanah keras, meletakkan kepalanya di atas kedua kaki depannya.
"Makananku ini cukup licik," gumamnya. "Dia tahu aku akan mengejar, jadi dia menunggu. Menunggu aku datang sendiri."
Ia tersenyum sinis.
"Baiklah bocah. Kita sama-sama menunggu. Aku punya kesabaran ribuan tahun. Aku bisa menunggumu sampai kau bosan. kau bagaimana? Tidak kan?"
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"