NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Jebakan Tangga

​"Berhenti di situ!"

​Ziva baru saja menapakkan kaki di anak tangga pertama menuju lantai dua ketika suara melengking itu menghentikannya. Dia mendongak malas. Di puncak tangga yang melingkar mewah itu, Sienna berdiri dengan tangan berkacak pinggang. Matanya sembap, hidungnya merah, tapi tatapannya penuh dendam kesumat.

​"Belum puas menangis di kamar mandi?" tanya Ziva santai, satu tangannya memegang railing tangga. "Kusarankan kau segera pulang dan kompres matamu dengan es batu. Kalau bengkaknya menetap, kau bisa kehilangan kontrak iklan kosmetikmu besok pagi."

​"Tutup mulutmu!" teriak Sienna. Suaranya bergema di langit-langit mansion yang tinggi. "Kau pikir kau sudah menang hanya karena kau berhasil menghinaku di depan Elzian? Kau salah besar, Ziva. Elzian mencintaiku. Dia tertawa tadi bukan karena mengejekku, tapi karena dia stres menghadapi istri kampung sepertimu!"

​Ziva menghela napas panjang. Dia mulai melangkah naik, satu per satu anak tangga dipijaknya dengan tenang.

​"Sienna, delusi itu penyakit jiwa. Butuh rujukan ke psikiater?" tanya Ziva sambil terus naik. "Minggir. Aku mau tidur. Energiku terlalu mahal untuk meladeni drama murahan ini."

​Sienna tidak minggir. Dia justru berdiri tepat di tengah jalan, memblokir akses Ziva ke koridor lantai dua. Wajahnya menyeringai licik.

​"Kau benar, Ziva. Energimu memang harus dihemat," bisik Sienna saat Ziva sudah berdiri hanya dua langkah di depannya. "Karena sebentar lagi, kau akan butuh banyak tenaga untuk mengemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari sini."

​Ziva mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

​Tiba-tiba, Sienna mencengkeram pergelangan tangan Ziva dengan kuku-kukunya yang tajam. Cengkeramannya kuat dan menyakitkan.

​"Lepaskan aku! Tolong! Jangan dorong aku, Ziva!"

​Sienna berteriak kencang seolah-olah sedang disiksa. Padahal Ziva hanya berdiri diam, bahkan tidak menarik tangannya.

​Ziva memiringkan kepala, menatap Sienna dengan tatapan bosan. "Wow. Taktik 'Playing Victim' klasik? Kau nonton sinetron tahun berapa? Ini basi sekali."

​"Elzian akan melihat ini! Dia akan melihat betapa jahatnya kau!" desis Sienna pelan dengan senyum penuh kemenangan, sebelum kembali berteriak histeris. "Ziva, jangan! Aku bisa jatuh! Aaaaa!"

​Dan dalam hitungan detik, Sienna melakukan aksi nekatnya.

​Dia menyentakkan tubuhnya sendiri ke belakang. Dia sengaja melepaskan keseimbangannya, membiarkan gravitasi menarik tubuh langsingnya jatuh menuruni tangga marmer yang curam itu. Tujuannya jelas: lecet sedikit tidak masalah, asalkan Ziva tertuduh sebagai pelaku kekerasan.

​Di dalam bayangan Sienna, Ziva akan panik, mencoba menangkapnya, atau setidaknya terlihat bersalah.

​Tapi Ziva adalah Ziva.

​Saat Sienna mulai menjatuhkan diri, Ziva tidak maju untuk menolong. Refleks bedahnya bekerja. Dia justru mundur selangkah dengan cepat, menarik tangannya yang tadi dicengkeram Sienna agar tidak ikut terseret.

​Dan yang lebih mengejutkan, tangan kanan Ziva sudah memegang ponsel yang kameranya menyala.

​"Senyum! Masuk kamera!" seru Ziva datar.

​BUGH!

​GEDEBUK!

​Tubuh Sienna menggelinding jatuh. Dia tidak sempat menyiapkan pendaratan karena kaget melihat Ziva merekamnya. Bahunya menghantam pinggiran tangga, kakinya terkilir, dan dia berakhir terkapar di bordes tengah tangga dengan posisi yang sangat tidak elegan. Gaun mininya tersingkap, rambutnya yang tadi badai kini kusut masai seperti sarang burung.

​"AAAAKH! Sakit!" jerit Sienna. Kali ini jeritannya asli. Tulang ekornya terasa remuk menghantam marmer keras.

​Ziva berdiri di puncak tangga, menatap ke bawah sambil memeriksa hasil rekaman di ponselnya. Dia mengangguk-angguk puas.

​"Sudut pengambilan gambarnya pas sekali," komentar Ziva santai, suaranya cukup keras untuk didengar Sienna yang sedang mengerang di bawah. "Pencahayaannya bagus, resolusi 4K, dan aktingmu... hmm, lumayan meyakinkan. Sayang sekali ekspresi kagetmu saat melihat ponselku tadi merusak estetika videonya."

​Sienna mendongak dengan wajah meringis kesakitan. Air matanya mengalir deras menahan nyeri di pinggangnya.

"Kau... kau merekamnya?"

​"Tentu saja," jawab Ziva sambil menuruni tangga perlahan, mendekati Sienna yang terkapar. "Di zaman sekarang, bukti digital itu raja, Nona Model. Kau pikir aku akan membiarkan diriku difitnah begitu saja? Aku dokter, aku bekerja berdasarkan bukti dan fakta, bukan asumsi."

​Ziva berhenti dua anak tangga di atas Sienna. Dia menunjuk sudut langit-langit di seberang mereka.

​"Dan satu lagi, Sienna. Lihat benda hitam kecil yang berkedip merah di sana?"

​Sienna mengikuti arah telunjuk Ziva. Di sudut pilar, sebuah kamera CCTV canggih menyorot tepat ke arah tangga.

​"Itu CCTV model terbaru. Merekam suara dan gambar dengan jernih 24 jam non-stop," jelas Ziva dengan nada mengejek. "Bahkan tanpa rekaman ponselku, semua orang bisa melihat dengan jelas kalau kau melempar dirimu sendiri seperti nangka busuk yang ada ulatnya. Kau bukan didorong, kau cuma... bodoh."

​Wajah Sienna pucat pasi. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa malu dan panik yang menjalar di dadanya. Rencananya hancur total. Dia lupa kalau ini rumah CEO teknologi, bukan rumah panggung di desa.

​"Kau menjebakku..." isak Sienna putus asa.

​"Kau menjebak dirimu sendiri," koreksi Ziva dingin.

​Tepat saat itu, suara desingan halus dari motor kursi roda terdengar mendekat dari arah ruang makan.

​Sienna menoleh cepat. Mata sembapnya menangkap sosok Elzian yang muncul di kaki tangga. Pria itu menatap pemandangan kacau di hadapannya dengan wajah tanpa ekspresi.

​Kesempatan terakhir. Sienna memutuskan untuk bertaruh pada sisa-sisa rasa kasihan Elzian. Dia tidak peduli soal CCTV atau rekaman ponsel, dia yakin dia bisa memanipulasi Elzian dengan air matanya.

​"Elzian!"

​Sienna merangkak turun dengan susah payah, menyeret kakinya yang sakit menuju Elzian. Dia menangis meraung-raung, kali ini mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya.

​"Elzian, tolong aku! Sakit sekali!" Sienna mengulurkan tangan pada Elzian, wajahnya penuh derita. "Istrimu... istrimu gila! Dia mendorongku dari atas! Dia mau membunuhku, Elzian! Lihat kakiku, aku tidak bisa berdiri!"

​Sienna menunjuk Ziva dengan jari gemetar. "Dia cemburu padaku! Dia iblis! Usir dia, Elzian! Penjarakan dia!"

​Ziva hanya berdiri diam di tengah tangga, ponselnya masih menyala di tangan. Dia menatap Elzian, menunggu reaksi suaminya itu. Apakah pria itu akan termakan drama murahan ini?

​Elzian menatap Sienna yang bersimpuh di lantai, lalu perlahan tatapannya naik ke arah Ziva yang berdiri tegak dan angkuh. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Elzian selama beberapa detik yang menyiksa.

​Sienna tersenyum dalam hati. Dia pasti percaya padaku. Dia diam karena dia marah pada Ziva.

​"Elzian..." panggil Sienna lagi, suaranya melembut merayu. "Hukum dia..."

​Elzian akhirnya membuka mulutnya.

​"Sienna," panggil Elzian datar.

​"Ya, Sayang?" Sienna menatap penuh harap.

​"Kau bilang kakimu sakit dan tidak bisa berdiri?"

​"Iya! Sakit sekali! Mungkin patah!" adu Sienna semangat.

1
Warni
🥰🤭🤭🤭🤭😂
Warni
Lebih galak Ziva.
Warni
😫
Warni
😂
Warni
🤭
Warni
Ngambek nanti si Suami klu tulisannya di ejek jelek.
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kalau orang mengira Elzian lumpuh maka kakinya adalah istrinya sendiri. good job Ziva
Ma Em
Akhirnya Ziva bisa mengalahkan Elzian akibat egonya yg terlalu tinggi dan keras kepala orang lain tdk ada yg berani melawan Elzian tapi Ziva bisa mengalahkan nya hebat kamu Ziva .
Savana Liora: iya. mantap
total 1 replies
Warni
🥰
Warni
Mengamuk.🤣
Warni
😂
Warni
😁
Warni
😂
Warni
Jangan bilang Dokter Rayn di pindah tugaskan.🤭
Warni
😂🥰🥰🥰
Warni
🥰
Warni
🤣
Warni
Oh mampus.
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
Aanisa aliya
lanjutkan
Savana Liora: besok ya
total 1 replies
Warni
Ohhh,mantap pak.Suami siaga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!