Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Mata Elang Dari Batavia
Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah daun jati di lokasi kejadian sabotase semalam terasa panas dan menekan. Letnan De Klerk berdiri kaku, wajahnya pucat pasi saat melihat barisan kereta kuda yang kini hanya menjadi rongsokan besi dan kayu di pinggir jalan raya pos. Kopi-kopi mahal berserakan, bercampur lumpur dan cairan kuning yang masih mengeluarkan bau menyengat.
Namun, perhatian semua orang tertuju pada seorang pria yang baru saja turun dari kereta kuda tertutup. Pria itu tidak mengenakan seragam tempur, melainkan setelan jas sipil berwarna abu-abu dengan topi tinggi. Matanya yang tajam di balik kacamata bundar memindai setiap jengkal kerusakan dengan ketelitian seorang kurator museum.
"Kapten Van De Berg, terima kasih sudah datang secepat ini dari Semarang," ucap De Klerk dengan nada gemetar.
Van De Berg tidak menjawab. Ia berlutut di samping as roda yang patah. Ia mengeluarkan sapu tangan sutra, lalu menyeka sedikit sisa cairan kuning yang masih menempel di besi. Ia mencium aromanya, lalu menyentuhkan ujung lidahnya dengan sangat hati-hati. Ia segera meludah.
"Asam sulfat pekat," gumam Van De Berg. Suaranya tenang namun dingin. "Dicampur dengan partikel silika halus. Siapa pun yang melakukan ini, De Klerk, dia tidak ingin merampok. Dia ingin menghancurkan mekanisme."
"Perampok pribumi mana yang tahu soal asam sulfat, Kapten? Mungkin mereka mencurinya dari gudang farmasi di pelabuhan?" tanya De Klerk mencari pembenaran.
Van De Berg berdiri, membersihkan debu di celananya. "Mencuri itu mudah. Tapi menghitung dosis yang tepat agar besi ini memuai dan mengunci tepat saat kereta mencapai kecepatan maksimal? Itu membutuhkan perhitungan koefisien muai panas. Ini bukan pekerjaan perampok. Ini pekerjaan seorang insinyur."
Mata Van De Berg menyipit menatap ke arah hutan bakau yang luas di kejauhan. "Cari tahu siapa orang pribumi yang pernah bekerja di pabrik gula atau bengkel kapal Belanda dalam sepuluh tahun terakhir. Cari seseorang yang terlalu pintar untuk ukuran seorang budak."
Sementara itu, jauh di jantung rawa Segoro Wedhi, Jatmika tidak sedang merayakan kemenangan. Ia sedang berdiri di depan sebuah lubang besar yang digali oleh Darman dan sepuluh orang lainnya.
"Jatmika, untuk apa kita menanam pipa-pipa bambu ini di bawah tanah? Bukankah lebih baik kita membuat lebih banyak bom kilat?" tanya Darman sambil menyeka lumpur di wajahnya.
Jatmika menggeleng. "Bom kilat hanya untuk mengejutkan. Jika mereka mengirim Marsose (pasukan elit), mereka tidak akan lari hanya karena cahaya terang. Kita butuh Sistem Peringatan Dini."
Jatmika sedang membangun Telegraf Akustik sederhana. Ia menyambungkan pipa-pipa bambu besar yang telah dilapisi getah damar agar kedap suara, ditanam sedalam satu meter di bawah permukaan rawa, menghubungkan titik-titik pengintai terluar langsung ke pusat markas.
"Prinsipnya sederhana," Jatmika menjelaskan pada Suro yang memperhatikan dengan heran. "Suara merambat lebih cepat dan lebih jauh di dalam medium padat atau ruang tertutup daripada di udara terbuka yang penuh suara angin dan burung. Jika penjaga kita di depan berbisik ke dalam lubang bambu ini, aku bisa mendengarnya di sini."
Jatmika menempelkan telinganya ke ujung bambu yang muncul di gubuk utamanya. "Coba, Darman. Pergi ke pohon bakau besar di ujung sana, lalu ketuk bambunya tiga kali."
Darman berlari pergi. Beberapa menit kemudian, terdengar suara tok... tok... tok... yang sangat jernih keluar dari lubang bambu di depan Jatmika.
Suro terperangah. "Gusti... ini seperti bicara dengan hantu! Kita bisa tahu posisi musuh tanpa mereka sadari kita sedang mengawasi."
"Benar," sahut Jatmika. "Tapi itu saja tidak cukup. Suro, aku butuh besi bekas. Sebanyak yang bisa kamu dapatkan. Kita akan mulai memproduksi Ranjau Statis."
Jatmika tahu bahwa Van De Berg—atau siapa pun yang dikirim Belanda—pasti akan melacak jejak asam sulfat itu. Mereka akan segera menyadari bahwa bahan baku asam itu berasal dari belerang, dan sumber belerang terdekat adalah kawah gunung di selatan atau perdagangan ilegal di pesisir.
"Kita punya waktu mungkin satu minggu sebelum mereka menemukan pintu masuk rawa ini," Jatmika bergumam pada dirinya sendiri.
Malam itu, markas Serikat Bayangan berubah menjadi pabrik manufaktur mini. Di bawah arahan Jatmika, beberapa pria mulai menempa besi bekas menjadi piringan-piringan kecil. Jatmika sendiri sibuk dengan botol-botol kaca yang ia dapatkan dari pasar gelap. Ia sedang meracik Merkuri Fulminat—sebuah zat pemicu ledakan yang sangat sensitif terhadap tekanan.
Ia tahu risiko menggunakan zat ini tanpa laboratorium yang memadai. Satu guncangan salah, dan gubuk ini akan rata dengan tanah. Tapi ia tidak punya pilihan. Senapan sundut para pengikutnya tidak akan menang melawan senapan modern Belanda dalam perang terbuka. Ia harus mengubah rawa ini menjadi labirin kematian.
"Jatmika," Pak Sahid mendekat, membawa sepiring nasi jagung. "Kamu terlihat sangat lelah. Matamu tidak pernah berkedip sejak sore."
Jatmika menghela napas, menerima piring itu. "Aku hanya takut, Pak. Takut kalau pengetahuanku ini tidak cukup cepat untuk melindungi kalian. Belanda punya ribuan tentara. Kita hanya punya sains dan keberanian."
"Dan kepemimpinanmu," tambah Pak Sahid lembut. "Rakyat mulai memanggilmu 'Raden Sains'. Mereka percaya padamu."
Jatmika tersenyum kecut. Raden Sains. Sebuah gelar yang aneh di tahun 1853. Tapi ia menerimanya. Jika sebuah gelar bisa memberikan harapan bagi mereka yang tertindas, maka ia akan memikulnya.
Namun, di perbatasan rawa, seorang pemburu burung yang merupakan mata-mata Mandor Kromo tanpa sengaja melihat jejak kaki Darman yang berlumpur mengarah ke vegetasi yang tidak biasa. Ia tidak melaporkannya dengan berteriak, melainkan menandai pohon terdekat dengan sayatan parang.
Awan gelap pertempuran besar mulai berkumpul di atas Segoro Wedhi.