Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di kejar anjing
Dira terus bersembunyi di antara motor-motor yang diparkir itu. Ethan masih di dalam warung makan. Tentu saja Dira tidak berani keluar dan menampakkan diri. Ethan itu pintar. Dia bisa mencocokkan segala hal kalau sudah curiga.
Dira yakin sekali tidak akan lama bagi Ethan untuk tahu keberadaan Arel kalau laki-laki itu mulai menyelidiki. Jadi yang harus dia lakukan sekarang adalah, terus membuat pria itu membencinya dan tidak mau tahu lagi tentang hidupnya. Dengan begitu, hidupnya akan aman-aman saja.
Akhirnya dia pergi juga.
Gumam Dira ketika melihat Ethan sudah tidak ada lagi di warung makan itu, ia baru bernafas lega. Ella dan putranya juga sudah pergi. Aman.
Dira masih menunggu beberapa detik lagi, memastikan bayangan tinggi Ethan benar-benar menghilang dari sudut jalan. Ia bahkan berjalan memutar sedikit, pura-pura melihat etalase toko kosong, hanya untuk memastikan pria itu tidak terlihat lagi.
Setelah yakin benar-benar aman, barulah Dira melangkah keluar dari persembunyiannya. Kakinya terasa lemas. Ia bersandar sebentar pada salah satu motor, menutup mata, menarik napas panjang. Hari ini hampir saja menghancurkan semuanya.
Saat Dira berjalan keluar di jalan raya sepi area taman, langkahnya terhenti. Ia kaget, bukan karena Ethan, tapi di depan sana seekor anjing helder sedang menatapnya ganas, gaya binatang itu seperti sudah siap-siap memangsanya. Dira menelan ludah, kakinya mulai mengambil ancang-ancang untuk lari. Dia paling takut dengan yang namanya anjing. Dulu dia pernah digigit anjing, traumanya sampai sekarang.
Dira menghitung dalam hati.
Satu ... Dua ... Tiga ...
"Hwaaaaa ..."
Perempuan itu lari kencang sekali. Si helder jelas langsung mengejarnya sambil menggonggong. Sandal Dira nyaris terlepas, napasnya tersengal, jantungnya seperti mau meledak. Gonggongan anjing itu makin keras dan makin dekat. Jalanan di sisi taman benar-benar sepi, tidak ada pedagang, tidak ada satpam, bahkan suara kendaraan pun jarang lewat.
"Ya Tuhan … ya Tuhan …" gumamnya panik.
Di ujung jalan setapak, ia melihat sosok tinggi berjalan santai dengan kedua tangan di saku celana. Dari belakang orang itu tampak familiar. Tanpa pikir panjang, Dira langsung berlari ke arah orang itu.
"Tolooooong!"
Pria itu berbalik. Dan waktu seakan berhenti beberapa detik.
Itu Ethan.
Pantas dia saja familiar dari belakang. Tapi Dira tidak punya waktu untuk kaget atau malu. Ini masalah hidup dan mati dia. Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia langsung melompat ke tubuh Ethan dan memeluk leher pria itu erat-erat.
"Lari! Lari! Ada anjing!" teriaknya histeris.
Ethan refleks menangkap tubuh Dira yang menempel padanya seperti koala panik. Bahkan sebelum sempat kesal dan memahami situasi, ia sudah mendengar gonggongan keras mendekat.
Seekor anjing helder besar berlari ke arah mereka dengan taring terlihat jelas.
"Ck."
Tanpa banyak bicara, Ethan langsung berbalik dan berlari.
Dengan satu tangan menopang paha Dira dan tangan lainnya menjaga keseimbangan, ia berlari cepat menyusuri sisi taman. Tubuh Dira yang tidak kecil sama sekali terasa ringan dalam gendongannya, setidaknya bagi pria dengan kekuatan dan stamina seperti dirinya.
"Cepat! Dia dekat banget!" Dira menoleh ketakutan, wajahnya hampir menempel di leher Ethan.
"Aku tahu," jawab Ethan datar, tapi langkahnya makin cepat.
Anjing itu masih mengejar.
Ethan mengedarkan pandangan cepat. Matanya menangkap sebuah pohon besar dengan batang kokoh di tengah taman, cabangnya rendah dan cukup kuat untuk dipanjat. Ia langsung mengubah arah.
"Pegang yang kuat," perintahnya singkat.
Dira makin mengeratkan pelukannya. Begitu sampai di bawah pohon, Ethan mengangkat tubuh Dira lebih tinggi.
"Naik. Cepat."
"A-aku nggak bisa ..."
"Bisa. Kau mau di gigit anjing?"
Dira menggeleng. Dengan satu dorongan kuat, Ethan membantu Dira meraih cabang pertama. Tangannya gemetar, tapi rasa takut pada anjing jauh lebih besar daripada takut jatuh.
"Ayo!" Ethan menahan tubuhnya dari bawah.
Dira akhirnya berhasil duduk di cabang tebal itu. Ethan menyusul, melompat ringan dan naik dengan cekatan.
Anjing itu berhenti di bawah, menggonggong keras, melompat-lompat mencoba meraih mereka. Dira hampir menangis. Ia spontan meraih lengan Ethan dan memeluknya erat. Gerakannya reflek tanpa pikir panjang. Tanpa sadar kalau lelaki di sebelahnya adalah si mantan kekasih yang putus dengannya bukan dengan cara baik-baik. Semua itu karena dia terlalu takut dengan anjing.
"Dia nggak bakal bisa naik, kan?"
"Tidak," jawab Ethan tenang.
Gonggongan itu masih menggema beberapa menit sebelum akhirnya perlahan menjauh. Mungkin kehilangan minat.
Dira masih memejamkan mata, wajahnya menempel di dada Ethan. Napasnya belum stabil.
"Sudah aman," ucap Ethan pelan.
Butuh beberapa detik sampai Dira sadar … posisinya. Ia duduk sangat dekat. Tangannya melingkar di tubuh Ethan. Bahkan pahanya hampir menindih paha pria itu di cabang sempit tersebut. Begitu sadar, Dira langsung menjauh mendadak.
"Maaf!" katanya cepat, wajahnya merah bukan main.
"Aku refleks."
Ethan menatapnya tanpa ekspresi jelas. Namun matanya menelusuri wajah Dira yang masih pucat.
"Kau takut anjing?" tanyanya. Dia baru tahu.
Dira mengangguk pelan.
"Pernah digigit waktu kecil."
Hening sesaat.
Angin malam berhembus pelan. Situasinya berubah absurd, dua orang dewasa bertengger di atas pohon gara-gara seekor anjing.
Ethan menatap lurus ke depan. Sebelum menanyakan sesuatu yang membuat Dira sadar kalau sebenarnya dia tidak boleh ketahuan ada di sekitar sini. Ini semua gara-gara si anjing sialan itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ethan mengajukan pertanyaan seperti menginterogasinya.
Dira cepat-cepat memikirkan alasan.
"A-aku, biasanya lewat sini kalau pulang kerja." sahutnya cepat. Ethan terus menatapnya, menatap ke dalam matanya.
"Kau kerja di mana?" nada suara itu rendah.
Dira menelan ludah.
"Aku rasa k-kau tidak perlu tahu."
Ethan mendengus keras. Dia hendak berbicara lagi tapi ponsel Dira berdering. Wanita itu cepat-cepat membuka tas sampirnya dan melihat siapa yang memanggil. Mata terang Ethan lagi-lagi membaca
'My baby'
Nama itu lagi. Dia tersenyum miring, menunggu Dira akan mengangkat panggilan tersebut, tapi malah langsung di matikan. Ethan tertawa rendah, lalu melompat turun hanya dalam satu gerakan ringan. Ia mendarat mulus di tanah, lalu menengadah menatap Dira yang masih terpaku di atas.
Ia tahu wanita itu pasti bingung bagaimana caranya turun dari atas sana, jadi Ethan bersandar di pohon yang lain sambil memeluk dada, menunggu wanita itu turun sendiri. Ingin menikmati melihat Dira kesulitan turun dari atas pohon tersebut.
terimakasih thor udah up