NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJAMUAN

07:45 PM. Azure Bay Resort, Maladewa.

Lampu lampu lampion gantung berwarna kuning keemasan bergoyang pelan tertiup angin laut, menciptakan pantulan cahaya yang menari di permukaan kolam renang pribadi Villa 402.

Aroma lobster panggang dengan mentega bawang memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi sampanye yang baru saja dituangkan. Jika ada orang yang melihat dari kejauhan, mereka hanya akan melihat sepasang kekasih yang sedang merayakan bulan madu mewah.

Liana duduk di kursi rotan yang empuk, sudah berganti pakaian dengan dress pantai sutra tipis berwarna putih yang ia temukan di butik kecil dalam kompleks resort tentu saja dibayar dengan kartu kredit digital hantu milik Bimo.

Rambutnya yang masih agak lembap disisir ke belakang, menonjolkan leher jenjangnya yang biasanya tersembunyi di balik kerah jaket taktis.

"Raka, jika ini adalah cara kita mati, setidaknya perutku mati dalam keadaan bahagia," gumam Liana sambil menyuapkan potongan daging lobster ke mulutnya. Ia memejamkan mata, menikmati rasa gurih yang meledak di lidahnya.

Raka duduk di depannya, masih mengenakan kemeja linen putih longgar. Meski penampilannya santai, matanya tetap waspada, memindai kegelapan laut di balik dek kayu. Namun, melihat Liana yang tampak begitu menikmati makanannya, pertahanan Raka sedikit melonggar.

"Kau makan seperti orang yang tidak pernah melihat makanan selama sepuluh tahun," goda Raka sambil menyesap cokelat panasnya ia tetap menolak alkohol demi menjaga ketajaman refleksnya.

Liana membuka matanya, menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sepuluh tahun terakhir aku makan untuk bertahan hidup, Raka. Mi instan di depan monitor, protein bar di dalam pelarian... Ini," ia menunjuk piring di depannya, "ini adalah kehidupan yang kita lupakan." Ia mengambil segelas sampanye dan mengangkatnya. "Untuk para hantu yang akhirnya mencicipi surga."

Raka mengangkat cangkir cokelatnya, denting kaca dan keramik terdengar pelan di tengah suara ombak. "Untuk surga yang mungkin hanya bertahan sampai fajar."

Liana meletakkan gelasnya, lalu bangkit dan berjalan mendekati Raka. Ia tidak duduk kembali di kursinya, melainkan duduk di pinggiran meja, tepat di samping Raka. Ia meraih tangan Raka yang besar dan kasar, lalu mulai memainkan jari jari pria itu.

"Kau tahu apa yang paling aneh, Raka?" bisik Liana.

"Apa?" tanya Raka.

"Di sini, dengan semua kemewahan ini, aku merasa lebih takut daripada saat kita terjun bebas dari pesawat tadi pagi." ucap Liana.

Raka menoleh, menatap wajah Liana yang diterangi cahaya lilin. "Kenapa?"

"Karena di pesawat, tujuannya jelas bertahan hidup. Tapi di sini... aku mulai membayangkan bagaimana jika ini tidak pernah berakhir. Bagaimana jika kita bisa benar benar berhenti?" Liana menatap mata Raka dalam dalam. "Aku takut karena aku mulai merasa punya sesuatu yang sangat berharga untuk dilepaskan."

Raka terdiam. Ia merasakan kehangatan tangan Liana menjalar ke kulitnya. Dengan gerakan yang tidak terduga, ia menarik Liana agar duduk di pangkuannya. Liana sedikit terpekik pelan, namun ia segera melingkarkan lengannya di leher Raka, menyandarkan keningnya di kening pria itu.

"Aku tidak akan membiarkanmu melepaskannya, Li," kata Raka, suaranya rendah dan penuh determinasi. "Aegis hanyalah baris kode. Yudha hanyalah manusia. Tapi apa yang ada di antara kita... itu adalah variabel yang tidak bisa mereka kalkulasi."

Raka mencium hidung Liana, sebuah gestur yang begitu manis hingga membuat Liana tertawa kecil di tengah ketegangannya. "Kau belajar dari mana gerakan seperti ini, Kapten? Apa ada manual Cara Menghadapi Pasangan di perpustakaan Unit 09?"

"Aku mengunduh modul baru saat kau sedang mandi tadi," sahut Raka datar, yang langsung disambut cubitan pelan di perutnya oleh Liana.

Momen itu terhenti saat jam tangan taktis Raka bergetar. Sebuah grafik gelombang frekuensi muncul di layar kecilnya.

"Transmisi dimulai," ucap Raka, suaranya kembali menjadi dingin dan profesional. Ia menurunkan Liana dari pangkuannya dengan lembut.

Liana segera menyambar tabletnya yang disembunyikan di bawah serbet makan. "Frekuensi Sub Vocal. Yudha sedang berkomunikasi dengan satelit pusat. Raka... sinyalnya bukan dari daratan. Sinyalnya berasal dari tepat di bawah kaki kita."

Raka berdiri, matanya menatap lantai kayu jati villa tersebut. Ia berlutut, menempelkan telinganya ke lantai. Di balik suara ombak, ada dengung mesin yang sangat halus, ritme yang hanya bisa dideteksi oleh telinga yang terlatih.

"Pusat pendingin," gumam Raka. "Mereka menggunakan air laut untuk mendinginkan server raksasa di bawah resort ini."

Liana mengetik dengan cepat. "Aku mencoba melakukan ping balik. Jika aku bisa memicu error kecil di sistem pendinginnya, mereka harus membuka pintu darurat di dermaga utama untuk pembuangan uap."

"Lakukan sekarang. Aku akan bersiap di titik masuk," Raka bangkit, namun Liana menahan ujung kemejanya.

"Tunggu, Raka. Ada satu hal lagi." Liana menatap layar dengan kening berkerut. "Sinyal Yudha... dia tidak mengirim perintah. Dia sedang mengirim data biometrik. Detak jantungnya sangat lambat. Terlalu lambat untuk manusia yang sedang bangun."

"Maksudmu dia sedang tidur?" ucap Raka.

"Atau dia sedang dalam keadaan stasis. Dia menghubungkan kesadarannya sepenuhnya ke dalam jaringan Aegis. Dia bukan lagi mengendalikan sistem, Raka. Dia menjadi sistem itu." jelas Liana.

Tiba tiba, pintu kaca villa yang menghadap ke koridor resort diketuk dengan pelan. Tiga ketukan ritmis.

Tok...

Tok

Tok.

Raka secara instan menarik pistolnya, mengarahkannya ke pintu sambil mendorong Liana ke balik sofa. "Siapa?"

"Layanan kamar, Tuan. Saya membawa cokelat panas tambahan yang Anda minta," suara itu terdengar ramah, namun ada sesuatu yang salah. Suaranya terlalu jernih, terlalu sempurna.

Raka memberi isyarat pada Liana untuk tetap diam. Ia mendekati pintu, memutar kunci, dan membukanya sedikit.

Di luar berdiri seorang pelayan resort dengan seragam putih bersih. Namun, matanya tidak menatap Raka. Matanya kosong, bersinar biru redup di bagian pupilnya. Di tangannya, ia memegang nampan perak, namun di atas nampan itu bukan cokelat panas, melainkan sebuah proyektor holografik kecil.

Proyektor itu menyala.

Sosok Yudha muncul dalam bentuk cahaya biru yang bergetar. Wajahnya tampak lebih muda, tanpa bekas luka, persis seperti saat mereka pertama kali bertemu.

"Kalian makan dengan sangat lahap," suara hologram Yudha bergema di ruangan. "Senang melihat aset terbaikku masih memiliki nafsu makan. Tapi Raka, Liana... perjamuan ini sudah selesai."

"Dimana kau, Yudha?" tanya Raka dingin.

"Aku ada di mana mana. Di dalam kabel fiber optik yang melintasi samudra ini, di dalam satelit yang mengawasi napas kalian, dan di dalam setiap detak jantung yang terhubung ke jaringan," hologram itu tersenyum, namun senyumnya terasa mekanis. "Kalian ingin masuk ke The Grid? Pintu sudah terbuka. Aku ingin kalian melihat sendiri dunia baru yang sedang aku bangun. Dunia tanpa rahasia. Dunia tanpa pengkhianatan."

Hologram itu menghilang. Sang pelayan resort jatuh pingsan ke lantai seolah olah baterainya baru saja dicabut. Di saat yang sama, sirene rendah mulai berbunyi di seluruh resort, namun bukan sirene bahaya, melainkan nada harmonis yang aneh.

"Liana, sekarang!" teriak Raka.

Liana menekan tombol terakhir di tabletnya. Di luar villa, di tengah laut, sebuah pintu raksasa di bawah dermaga terbuka, menyemburkan uap panas ke udara malam.

"Pintu terbuka, Kapten! Tapi kita punya waktu kurang dari dua menit sebelum sistem keamanannya melakukan reboot!" Liana berlari ke arah Raka, tas ransel taktisnya sudah di pundak.

Raka menatap Liana sejenak. Ia meraih tengkuk Liana dan mencium bibirnya dengan cepat namun dalam sebuah ciuman yang penuh dengan adrenalin dan janji. "Ayo kita selesaikan ini."

"Dan toko bukunya?" tanya Liana sambil mengatur napas.

"Akan kita bangun di atas puing puing Aegis," jawab Raka.

Mereka melompat dari teras villa, kembali ke dalam air yang gelap, menuju lubang uap yang menganga di bawah dermaga. Malam di Maladewa yang tadinya manis dan tenang kini telah berubah menjadi arena pertempuran terakhir.

Dua hantu melawan tuhan digital. Dan di bawah sana, di kedalaman yang sunyi, jantung Aegis sedang menunggu untuk dihancurkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!