Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT PERUT NAGA DAN DOKTER GILA DI SEMI-FINAL
Rumput liar di pinggir lorong itu mendesis pelan, lalu berubah menjadi abu hitam. Tapi Feng sama sekali tidak sadar ada bahaya mematikan yang baru saja mengintainya dari kegelapan. Dia sedang sibuk menepuk-nepuk punggung Buntel yang berjalan terseret-seret.
"Kyuuuuk..." erang Buntel dengan suara menyedihkan.
Naga perak itu terlihat lemas. Perutnya buncit dan sangat keras seperti menelan batu bata. Setiap kali dia menghela napas, asap hitam yang bau karat keluar dari hidungnya.
"Tuh kan, ngeyel," omel Feng sambil memapah Buntel kembali ke kamar asrama. "Sudah dibilang jantung baja itu bukan kerupuk. Kerasnya minta ampun. Sekarang rasakan sendiri akibatnya, perutmu kembung kan."
Sampai di asrama, Buntel langsung ambruk di atas kasur jerami. Dia memuntahkan percikan api kecil yang tidak panas sama sekali, lalu meringkuk memegangi perutnya.
"Sistem, coba periksa kadal rakus ini. Dia nggak akan mati keracunan besi tua, kan?" batin Feng sedikit cemas.
SISTEM: MEMINDAI TARGET. DIAGNOSIS: GANGGUAN PENCERNAAN BERAT AKIBAT MAKAN INTI BAJA.
STATUS: LAMBUNG NAGA SEDANG BERUSAHA KERAS MENGHANCURKAN LOGAM ITU.
SARAN: TARGET BUTUH ISTIRAHAT TOTAL SELAMA 24 JAM. DILARANG IKUT BERTARUNG ATAU PERUTNYA BISA MELEDAK.
"Dengar itu, Buntel?" Feng menepuk kepala naganya pelan. "Besok kau tidur saja di sini. Biar bosmu ini yang kerja keras cari tiket makan gratis di final."
Buntel hanya bisa mengangguk lemah. Dia mengeluarkan bunyi *ngik* pelan sebelum menutup matanya untuk tidur.
Malam itu terasa lebih sepi tanpa dengkuran berisik Buntel. Feng tahu, besok dia harus maju ke babak Semi-Final sendirian.
---
Pagi harinya, suasana di Arena Naga Langit terasa sangat tegang. Tidak ada lagi sorak-sorai ejekan yang ramai seperti kemarin. Ribuan murid duduk diam, menatap cemas ke arah papan pengumuman besar di tengah arena.
Hanya tersisa empat orang di turnamen ini. Long Chen, Feng, dan dua murid lainnya.
Tetua Agung Yue menghampiri Feng di ruang tunggu peserta. Langkah wanita anggun itu terlihat berat. Wajahnya sangat pucat dan keringat dingin menetes di dahinya. Tangannya gemetar saat memegang secarik kertas undian.
"Ada apa, Tetua? Kok pucat begitu? Belum sarapan?" tegur Feng yang sedang santai melakukan pemanasan dengan meregangkan pinggangnya.
"Feng... undianmu baru saja keluar," suara Tetua Agung Yue terdengar bergetar. "Lawanmu di Semi-Final... Mo Xie."
Feng menghentikan pemanasannya, alisnya berkerut bingung. "Mo Xie? Namanya kayak merek obat nyamuk. Siapa dia?"
"Dia murid dari Paviliun Obat Gelap. Julukannya Dokter Gila," jelas Tetua Agung Yue sambil menelan ludah. "Dia tidak bertarung pakai pedang, tapi pakai racun mayat dan cairan kimia mematikan. Semua lawan yang pernah dihadapinya tidak ada yang selamat utuh. Mereka dibius, lalu dibawa ke ruang bedahnya dan tidak pernah kembali."
"Lho, kok sekte biarkan orang gila begitu ikut turnamen resmi?" Feng melotot heran.
"Karena meracik racun juga bagian dari ilmu sekte kita," desah Tetua Agung Yue dengan wajah putus asa. "Feng, dengarkan aku baik-baik. Kalau kau merasa tubuhmu kaku, atau matamu tiba-tiba buram nanti, langsung angkat tangan dan teriak menyerah. Jangan tunggu sampai dia menyuntikkan sesuatu padamu."
Belum sempat Feng menjawab, pintu ruang tunggu mendadak terbuka dengan suara derit yang panjang.
Suhu ruangan langsung turun drastis. Udara tiba-tiba dipenuhi bau obat yang sangat menyengat, dicampur dengan bau busuk seperti daging yang sudah basi berhari-hari.
Seorang pemuda kurus kering dengan kulit seputih mayat masuk ke ruangan. Matanya memiliki lingkaran hitam yang sangat tebal, seolah dia tidak pernah tidur bertahun-tahun. Dia memakai jubah putih yang kotor oleh noda cairan hijau dan cokelat. Di pinggangnya bergantung banyak botol kaca kecil berisi cairan aneh.
Itu dia, Mo Xie si Dokter Gila.
Mo Xie sama sekali tidak menoleh ke arah Tetua Agung Yue. Matanya langsung terkunci pada Feng. Pandangannya sangat lapar, persis seperti orang kelaparan yang melihat sepotong ayam goreng besar.
"Hehehe..." Mo Xie tertawa pelan. Suaranya serak dan basah, bikin merinding. "Jadi ini dia orangnya. Tubuh tanpa setetes pun energi Qi, tapi bisa menghancurkan jantung baja pakai tangan kosong. Sangat luar biasa... Anatomi tubuh yang sangat indah."
Feng refleks mundur selangkah, mengusap lengannya yang merinding. "Mas, matanya biasa aja dong. Jangan lihat saya begitu. Saya ini laki-laki tulen."
Mo Xie tidak peduli dengan ucapan Feng. Dia malah melangkah maju perlahan mendekati Feng.
"Ototmu sangat padat, tapi saluran energimu kosong melompong. Kau aneh sekali. Aku jadi penasaran..." Mo Xie menjilat bibirnya yang kering. "...bagaimana reaksi sel darahmu kalau disuntikkan racun laba-laba neraka? Apa kau akan meleleh, atau berubah jadi monster peliharaanku yang baru?"
"Maaf ya, Mas Dokter," tolak Feng tegas sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Saya paling benci disuntik. Apalagi Mas tidak punya kartu asuransi kesehatan sekte, kan? Kalau saya mendadak cacat atau gatal-gatal, siapa yang mau bayar biaya rumah sakitnya?"
Mo Xie menyeringai lebar. Deretan giginya terlihat kuning dan runcing seperti gigi hiu. "Kau tidak butuh rumah sakit. Ranjang bedah di ruanganku sangat empuk, Feng. Kau pasti suka. Tubuhmu akan jadi karya seni terbesarku."
SISTEM MUNCUL DENGAN LAYAR MERAH: AWAS! TARGET MENGELUARKAN BAU RACUN LEWAT NAPASNYA. RADIUS BAHAYA: 2 METER.
Feng langsung menutup hidungnya rapat-rapat dan mundur dua langkah lagi. "Aduh, bau napas Mas busuk banget! Kayak sampah numpuk belum dibuang sebulan! Sikat gigi dulu sana sebelum ngajak ngobrol orang!"
Mo Xie tertawa makin keras mendengar hinaan itu. Urat-urat hijau menonjol di pelipisnya. "Kita lihat saja nanti, seberapa sombong mulutmu itu di atas arena."
Pemuda pucat itu berbalik dan berjalan keluar ruangan. Bau bahan kimianya perlahan hilang, tapi hawa dingin dan ketegangan masih tertinggal pekat di ruangan itu.
Tetua Agung Yue menatap Feng dengan tatapan memohon. "Kau dengar sendiri kan ancamannya? Dia benar-benar mengincar tubuhmu untuk dibedah. Mana Buntel? Kau butuh api nagamu untuk membakar kabut racunnya dari jarak jauh!"
"Kan tadi saya sudah bilang, Buntel lagi sakit perut di kasur," jawab Feng santai sambil menurunkan tangannya dari hidung. "Hari ini saya maju sendiri."
"APAA?!" Tetua Agung Yue nyaris menjerit panik. "Kau sudah gila?! Melawan ahli racun tanpa senjata, tanpa pelindung sihir, dan tanpa naga? Itu sama saja mengantar nyawa!"
"Tenang saja, Tetua. Racun itu kan pada dasarnya cairan ramuan. Cairan itu bisa dihitung sebagai kalori. Semakin beracun, mungkin kalorinya makin tinggi buat saya," ucap Feng asal-asalan untuk menenangkan.
Sebenarnya Feng juga sedikit gugup, tapi dia tidak mungkin mundur. Tiket makan siang gratis seumur hidup di Kantin VIP tinggal dua langkah lagi. Dia tidak mau usahanya selama ini sia-sia.
TENG! TENG! TENG!
Lonceng raksasa tanda pertandingan dimulai dibunyikan. Wasit sudah berdiri di tengah arena pasir.
"PESERTA SEMI-FINAL PERTAMA! MO XIE DARI PAVILIUN OBAT GELAP, MELAWAN FENG DARI ASRAMA LUAR! HARAP MEMASUKI ARENA!"
Feng berjalan santai keluar dari lorong. Langit siang ini kebetulan agak mendung, membuat suasana arena terasa redup dan suram. Di seberangnya, Mo Xie sudah berdiri dengan punggung agak bungkuk, tersenyum seram.
Anehnya, penonton di tribun sangat sepi di bagian bawah. Ternyata, ribuan murid sudah mengevakuasi diri mereka ke bangku paling atas, berdesak-desakan karena takut terkena cipratan racun Mo Xie. Para panitia di pinggir lapangan bahkan memakai masker kain berlapis-lapis dan berdiri sangat jauh.
Di kursi VIP, Long Chen tersenyum puas melihat Feng. "Berakhir sudah keberuntungan si sampah itu. Racun Mo Xie tidak butuh adu fisik. Feng akan mati membusuk dari dalam paru-parunya."
Wasit mengangkat benderanya tinggi-tinggi. Dia sendiri memakai penutup hidung khusus.
"Ingat aturannya, dilarang membunuh dengan sengaja! Pertandingan... MULAI!"
Begitu teriak "mulai", wasit itu langsung melesat terbang ke udara setinggi mungkin, tidak berani diam di arena.
Mo Xie tidak membuang waktu satu detik pun. Dia tidak berlari menyerang. Dia hanya merogoh saku jubahnya dan melempar tiga buah bola kaca kecil ke pasir di depannya.
PRANG!
Tiga bola kaca itu pecah. Seketika, asap berwarna ungu gelap meledak keluar seperti gunung meletus. Asap itu menyebar dengan sangat cepat, menyapu lantai arena. Mengerikannya, pasir putih yang terkena asap itu langsung berdesis keras dan meleleh menjadi lumpur hitam berbau busuk.
"Asap Peleleh Tulang," gumam Mo Xie sambil tertawa serak dari balik kabut. "Tarik napas dalam-dalam, Feng. Biarkan racunku melembekkan dagingmu supaya gampang aku potong-potong nanti."
Asap ungu itu bergerak seperti ombak, mengepung Feng dari segala arah. Baunya sangat menyengat mata dan hidung.
"Sistem!" panggil Feng panik dalam hati, sambil menahan napas rapat-rapat. "Racun ini bisa diserap jadi bumbu makanan lagi tidak?!"
SISTEM MERESPON CEPAT: ANALISIS ASAP SELESAI. PERINGATAN! INI BUKAN RACUN BIASA. INI CAIRAN ASAM PELELEH TINGKAT TINGGI.
JIKA DIHIRUP, PARU-PARU TUAN AKAN HANCUR MELELEH DALAM LIMA DETIK.
TIDAK BISA DIUBAH MENJADI KALORI.
"Sialan!" umpat Feng dalam hati. "Terus aku harus bagaimana?! Kabutnya sudah di depan mata!"
SISTEM: SARAN TAKTIK: GUNAKAN KEKUATAN PARU-PARU TUAN UNTUK MENIUP ANGIN KENCANG. TIUP ASAP ITU KEMBALI KEPADA PEMILIKNYA. BIAYA: 10 JAM WAKTU HIDUP.
"Mahal amat cuma buat niup angin! Tapi ya sudahlah, daripada mati meleleh jadi bubur!"
Asap ungu itu kini berjarak kurang dari satu meter dari wajah Feng. Kulit wajahnya bahkan sudah terasa panas dan perih hanya karena terkena uap dari asap mematikan itu. Feng bersiap menarik napas untuk meniup sekuat tenaga.
Tiba-tiba, dari balik kabut pekat yang membutakan pandangan itu, sebuah bayangan panjang melesat ke arah wajah Feng dengan kecepatan kilat.
Itu bukan pedang atau pisau. Itu adalah sebuah jarum suntik raksasa! Ukuran jarumnya sebesar lengan orang dewasa, berkilau hijau mematikan, dan terhubung ke sebuah tabung cairan di punggung Mo Xie.
"Jangan lari, Kelinci Percobaanku!" teriak Mo Xie dengan nada girang dan gila.
Jarum tajam itu meluncur deras, mengincar langsung dada kiri Feng. Karena terhalang asap tebal, Feng terlambat melihat serangan mematikan itu. Kematian kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari jantungnya.