Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Untuk Bu Bidan
"Ayah mau berangkat kerja?"
Andini yang hari ini libur sekolah masih memakai baju tidur sambil memeluk boneka kesayangannya.
"Iya. Tapi hari ini Ayah kerja di lokasi bendungan. Andini mau tunggu di rumah aja, atau Ayah antar dulu ke rumah Mbak Yanti? Nanti kamu main sama Sari," tawar Arga.
Setelah memakai sepatu botnya, Arga bangkit berdiri.
"Andini mau mandi dulu, Ayah. Udah janjian sama Sari dan Sakila main sepeda," jawab Andini di ambang pintu.
"Tapi main nya hati-hati dan jangan jauh-jauh, ya. Kalo laper, Ayah udah masak. Nasinya di mejikom," pesan Arga.
"Iya, Ayah."
Gadis itu mengulurkan tangan ke arah sang ayah.
Arga dengan cepat meraih tangannya, berpikir putrinya mengajak salaman.
"Ayah, Andini minta uang jajan!" rengek gadis itu sambil menghentakkan kaki.
Tawa Arga meledak. "Oh, kamu mau minta uang jajan. Ayah kira kamu mau salam."
Arga merogoh saku celananya dan menyerahkan uang sepuluh ribu rupiah. "Nih, cukup nggak sampe sore?"
Andini memperhatikan uang berwarna ungu itu. "Cukup, Ayah. Ini cukup banget," jawabnya yang biasa dikasih lima ribu rupiah.
"Ya udah. Kalo gitu, Ayah berangkat dulu." Arga mengusap puncak kepala Andini.
"Kalo mau keluar, jangan lupa kunci pintu," pesannya. Ia memberikan kecupan singkat di kening Andini sebelum pergi meninggalkan rumah.
Andini menatap kepergian ayahnya dengan senyuman lebar. Setelah itu, dia berlari masuk ke dalam kamar. Meraih celengan ayam yang sudah terasa berat.
"Isinya udah cukup buat beli hadiah belum, ya?"
Andini membawa celengan itu ke dapur dan membelainya dengan pisau. Matanya berbinar saat melihat uang kertas dan koin di dalamnya.
"Beli apa ya buat Bu bidan?" gumamnya.
Andini menghitung uang di dalam celengan.
"Seribu... Dua ribu..."
"Wah, ada dua puluh ribu. Di tambah dari ayah tadi sepuluh ribu. Jadi tiga puluh ribu."
Ia memasukkan semua uang itu ke dalam kantong plastik bening dan menyimpannya di kamar. Selanjutnya, gadis itu mandi dan bersiap pergi bermain.
"Sari, Sakila, temenin aku ke pasar, ayo!" ajak Andini yang baru tiba di depan warung.
Terlihat kedua temannya sudah menunggu.
"Ngapain ke pasar, Din?" tanya Sari.
"Beli hadiah buat Bu bidan," jawab Andini tanpa turun dari sepeda.
"Ayo. Tapi traktir beli minuman nanti, ya," ujar Sakila.
Andini terdiam sejenak. "Boleh deh. Tapi beli minumannya setelah dapat hadiah buat Bu bidan," angguk Andini.
Mereka bertiga mengayuh sepeda dengan ceria sampai ke pasar. Tiba di sana, Andini celingukan, tak tahu harus mencari hadiah ke mana.
"Kamu mau beli hadiah apa?" tanya Sari.
Mereka memarkirkan sepeda di tempat parkir motor. Setelah itu berjalan masuk ke area pasar.
"Beli apa, ya? Aku juga bingung," jawab Andini sambil melihat-lihat sekitar.
"Beli ikat rambut aja," usul Sakila.
"Ih, jangan. Ikat rambut nggak spesial," ujar Andini.
"Nanti kalo putus dan udah jelek, nggak bisa dipake lagi," lanjutnya.
"Terus mau beli apa?" tanya Sari, ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Kita lihat dulu di tukang aksesoris, kali aja nemu sesuatu," kata Andini, ia mempercepat langkah dan berhenti di penjual aksesoris.
Matanya memicing, mengamati satu per satu barang, mulai dari jepit, ikat rambut, mainan sampai tatapannya terhenti pada sebuah Bros berwarna putih.
"Yang ini cantik. Buat kerudung kan, Pak?" tanya Andini sambil menuju sebuah Bros bulat yang dikelilingi bola mutiara dan terdapat satu bunga di pinggirnya.
"Iya, itu buat kerudung," jawab si penjual.
"Berapa ini, Pak?"
"Yang itu 20.000. Kalo yang ini lima ribuan."
"Mahal, Din. Nyari yang lima ribuan aja," bisik Sakila.
"Ih, masa hadiah buat Bu bidan Bros lima ribuan," kata Andini.
"Emang kamu punya uangnya buat beli itu?" tanya Sari.
Andini mengangguk lalu mengeluarkan plastik dari saku celananya. Ia menggantung uang untuk membayar Bros tersebut.
"Ini, Pak. Makasih, ya."
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, mereka langsung pergi.
"Ini uangnya masih ada sisa. Kita jajan, yuk!" ajak Andini melangkah ceria mendekati tukang cilok.
Ia mentraktir teman-temannya, per satu orang tiga ribu. Cilok dan juga minuman.
"Ayo pulang. Aku udah nggak sabar kasih hadiah ini sama Bu bidan," ajak Andini kembali ke tempat parkir sepedanya.
"Dini, kamu kenapa kasih Bu bidan hadiah?" tanya Sakila setelah tiba di parkiran.
Andini tersenyum lebar. "Bu bidan bakal jadi ibu aku nanti. Jadi, aku harus baik sama dia," jawab Andini sambil tersenyum lebar.
"Wah, beneran ayah kamu mau nikah sama Bu bidan?" tanya Sari tak percaya.
Sakila hanya melongo.
"Kalian bantuin dong, biar mereka cepet nikah. Aku kan pengen punya ibu juga kayak kalian," ujar Andini sambil mengerucutkan bibir.
"Emang mereka saling cinta, ya, Din? Kata ayah dan ibu, menikah itu harus saling cinta," ucap Sakila membuat Andini bengong.
Gadis itu tidak mengerti apa itu cinta.
"Aku nggak tau. Tapi, selama ini Bu bidan baik sama aku dan ayah. Dia kasih aku banyak buku, ngerawat aku pas sakit, terus nyuapin aku makan."
"Wah, berarti Bu bidan sayang sama kamu, Din," timpal Sari.
"Tapi aku nggak tau, apa Bu bidan cinta sama ayah. Cara cari taunya gimana, ya?"
Ketiga gadis itu terdiam cukup lama sambil memutar otak.
"Aku ada cara, Din!" seru Sari.
Ketiganya kemudian berembuk, mendengarkan rencana Sari.
"Gimana? Rencananya bagus, kan?" tanya Sari sambil menaik-turunkan alis.
Andini tanpa ragu mengangguk singkat. "Iya. Aku setuju. Ayo, kita ke rumah Bu bidan. Semoga aja dia ada di rumah. Ini kan hari Minggu."
Ketiga gadis itu kembali mengayuh sepeda meninggalkan keramaian pasar menuju kediaman Rini.
Sesampainya di sana. Terlihat beberapa orang yang mengantre untuk diperiksa. Andini mengintip dari balik tembok.
"Bu bidan kayaknya sibuk, Din. Kasih nanti aja hadiahnya," kata Sari.
Andini menggeleng cepat. "Aku udah nggak sabar pengen tau Bu bidan cinta nggak sama ayah."
"Terus gimana? Aku dan Sakila nggak bisa lama-lama. Tadi kan izinnya cuma sebentar ke ibu," ujar Sari menatap Andini yang masih memperhatikan antrian panjang.
"Ya udah, kalian pulang aja. Aku kasih ini sendiri ke Bu bidan," putus Andini.
Sari dan Sakila serempak mengangguk. "Semoga Bu bidan dan ayah kamu saling cinta ya, Din. Jadi mereka bisa nikah."
Ketiganya saling tos. Sari dan Sakila segera pergi meninggalkan Andini. Sementara gadis itu, justru ikut mengantri di depan rumah bidan Rini.
"Din, kamu sakit?" tanya salah seorang warga yang mengenali Andini.
Andini terkejut sesaat. "Kalo aku bilang nggak sakit, pasti nanti di suruh pulang," batinnya. Ia akhirnya mengangguk cepat.
Hampir satu jam Andini menunggu gilirannya. Perutnya sudah keroncongan karena tak sempat makan, tapi dia berusaha tahan.
Perempuan yang mengenalinya tadi bahkan sudah pulang. Kini, giliran Andini yang masuk ke ruang pemeriksaan.
Di dalam ruangan, Rini terkejut saat melihat Andini. "Loh, Andini... kamu di sini? Kenapa? Kamu sakit?"
Andini melangkah masuk sambil menyembunyikan tangan di belakang tubuh. Ia tersenyum lebar, cengengesan.
"Andini nggak sakit, Bu bidan."
"Terus kenapa?" tanya Rini, mengamati wajah Andini yang nampak lelah.
Andini tiba-tiba mengulurkan tangan, memperlihatkan Bros yang dia beli di pasar. "Bu bidan, Dini kemari karena disuruh Ayah kasih ini buat Bu bidan."
Bersambung...