Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Intrik Singgasana dan Racun Sukma
Fajar baru saja menyingsing, menyemburkan warna merah keemasan di ufuk timur saat Ranu, Ki Sastro, dan Ki Garna berdiri di depan gubuk mereka. Nyai Sumi melepaskan putranya dengan berat hati, air matanya tak kunjung kering. Namun, ia tahu bahwa Ranu bukan lagi bocah yang bisa ia simpan di bawah ketiaknya.
"Berhati-hatilah, Ranu. Jaga dirimu baik-baik di kota raja," bisik Nyai Sumi sambil membelai rambut Ranu.
"Dinda Ibu, jangan khawatir. Ranu pergi untuk memastikan tidak ada lagi pedang yang berani terhunus di depan pintu rumah kita," jawab Ranu dengan senyum tipis yang menenangkan.
Perjalanan menuju Ibu Kota Durja memakan waktu dua hari dengan menunggang kuda. Sepanjang jalan, Ranu melihat betapa menderitanya rakyat Durja. Ladang-ladang yang subur mulai terbengkalai, dan wajah-wajah penduduk tampak lesu karena seringnya penjarahan. Ranu hanya diam, namun mata peraknya mencatat setiap ketidakadilan yang ia lihat.
Sesampainya di gerbang istana yang megah namun tampak suram, Ki Sastro mengeluarkan sebuah lencana perak berbentuk bunga teratai. Para penjaga yang tadinya bersikap kasar langsung membungkuk hormat.
"Ki Sastro! Anda kembali? Kami kira Anda sudah tewas di tangan pengejar dari Mahesa," ucap salah satu kepala penjaga dengan nada terkejut.
"Aku belum diizinkan mati oleh Yang Maha Kuasa sebelum melihat Raja sembuh," jawab Ki Sastro tegas. "Buka gerbangnya! Aku membawa seseorang yang bisa menyelamatkan Baginda."
Para penjaga menatap Ranu dengan dahi berkerut. "Bocah ini? Ki Sastro, apakah Anda sudah gila karena terlalu lama di hutan?"
"Diam kau! Jangan menilai gunung dari rendahnya lembah. Cepat buka!" bentak Ki Sastro.
Mereka pun masuk ke dalam istana. Di dalam, suasana sangat mencekam. Di aula utama, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian kebesaran yang mewah namun wajahnya menyiratkan kelicikan. Ia adalah Patih Kebo Kenanga, orang kedua di kerajaan yang saat ini memegang kendali sementara karena Raja sedang terbaring lemah.
"Ah, Ki Sastro... kau kembali membawa harapan atau sekadar membawa beban baru?" tanya Patih Kebo Kenanga dengan suara serak, matanya tertuju pada Ranu.
"Hamba membawa harapan, Patih. Ini adalah Ranu Wara. Dia memiliki kemampuan untuk menawarkan racun hitam yang menjangkiti tubuh Baginda Raja," ujar Ki Sastro sambil memberi hormat.
Patih Kebo Kenanga tertawa mengejek, suaranya menggema di aula yang luas itu. "Seorang bocah? Ki Sastro, kau sudah terlalu tua untuk melawak. Tabib-tabib terhebat dari lima kerajaan sudah menyerah, dan kau membawa bocah ingusan yang bahkan belum bisa memegang keris dengan benar?"
Ranu melangkah maju, tanpa membungkuk sedikit pun. Ia menatap langsung ke mata Patih Kebo Kenanga. "Patih yang terhormat, warna hitam di bawah matamu dan bau kemenyan yang menempel di jubahmu menceritakan lebih banyak daripada lidahmu. Kau tahu persis mengapa para tabib itu gagal, bukan?"
Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Para pengawal di aula itu meraba gagang senjata mereka. Patih Kebo Kenanga tertegun, wajahnya memucat sesaat sebelum berubah menjadi merah padam karena marah. "Lancang sekali kau, bocah! Berani-beraninya kau bicara seperti itu di hadapanku!"
"Ranu, jaga bicaramu!" bisik Ki Sastro panik.
Namun Ranu tidak peduli. "Ki Sastro, bawa aku ke kamar Baginda Raja sekarang. Semakin lama kita berdebat dengan lalat di sini, semakin dekat maut menjemput sang penguasa."
"Tangkap bocah ini! Dia pasti mata-mata dari Mahesa!" perintah Patih Kebo Kenanga.
Empat orang pengawal istana yang berada di Ranah Otot Perunggu tingkat puncak merangsek maju. Mereka adalah prajurit pilihan. Namun, bagi Ranu, gerakan mereka seperti siput yang merangkak.
Ranu hanya mengibaskan lengan bajunya. Sebuah gelombang tekanan udara yang sangat padat meledak ke depan. DUAK! Keempat pengawal itu terlempar ke belakang, menghantam pilar-pilar marmer hingga retak. Mereka jatuh pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara.
Patih Kebo Kenanga berdiri dari kursinya, tangannya gemetar. Ia menyadari bahwa bocah di depannya setidaknya berada di Ranah Inti Bumi atau bahkan lebih tinggi.
"Ki Sastro, bawa aku sekarang," perintah Ranu dengan nada yang tidak boleh dibantah.
Ki Sastro, yang juga terpana, segera memimpin jalan menuju kamar pribadi raja, meninggalkan Patih Kebo Kenanga yang terpaku dalam ketakutan dan amarah yang terpendam.
Di dalam kamar raja, bau busuk dari luka yang tak kunjung sembuh menusuk hidung. Di atas tempat tidur emas, terbaring seorang pria yang dulunya gagah, kini hanya tinggal kulit membungkus tulang. Ia adalah Raja Prabu Dirja. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan pakaian kerajaan tampak menangis tersedu-sedu. Ia adalah Diajeng Sekar Arum, putri tunggal sang raja.
"Paman Sastro! Kau kembali!" seru Diajeng Sekar Arum dengan secercah harapan di matanya.
"Hamba datang, Gusti Diajeng. Dan hamba membawa penolong," ucap Ki Sastro.
Ranu mendekati tempat tidur. Ia melihat uap hitam tipis menyelimuti jantung raja. Itu bukan sekadar racun kimia, tapi Racun Hitam Sukma—sebuah kutukan kuno yang menggunakan energi gelap untuk memakan jiwa penderitanya perlahan-lahan.
"Siapa yang melakukan ini sangat kejam," gumam Ranu. "Mereka tidak hanya ingin dia mati, mereka ingin jiwanya hancur agar tidak bisa bereinkarnasi dengan tenang."
Ranu duduk bersila di samping tempat tidur. Ia memejamkan mata peraknya. Tiba-tiba, dari tubuhnya keluar cahaya perak yang sangat lembut. Ia meletakkan telapak tangan kecilnya di atas dada sang raja.
"Ranu, apakah kau butuh bantuan atau alat tabib?" tanya Ki Sastro cemas.
"Diamlah, Ki. Aku sedang memasuki alam sukmanya," jawab Ranu pendek.
Dalam penglihatan batin Ranu, ia kini berada di sebuah ruang gelap yang dipenuhi oleh rantai-rantai hitam yang melilit sosok Prabu Dirja. Di tengah kegelapan itu, muncul sesosok makhluk bayangan dengan mata merah menyala—manifestasi dari racun tersebut.
"Manusia kecil, beraninya kau mengganggu santapanku!" geram makhluk bayangan itu.
Ranu dalam bentuk sukmanya tampil sebagai sosok pemuda agung dengan jubah cahaya yang menyilaukan. "Hanya seekor iblis rendahan dari neraka tingkat tiga, berani sekali kau menyentuh urusan di bumi yang aku pijak?"
"Siapa kau?!" Makhluk itu ketakutan merasakan otoritas yang begitu besar.
"Aku adalah pemilik cakrawala yang kau lupakan," ucap Ranu dingin.
Ranu mengulurkan tangannya. Sebuah pedang cahaya terbentuk secara instan. Dengan satu tebasan ringan, seluruh rantai hitam itu hancur menjadi debu. Makhluk bayangan itu memekik ngeri sebelum lenyap ditelan cahaya perak Ranu.
Di dunia nyata, tubuh Raja Prabu Dirja tiba-tiba mengejang hebat. Ia memuntahkan cairan hitam kental yang sangat busuk ke lantai. Seketika, warna wajahnya yang tadinya pucat pasi mulai berubah menjadi kemerahan. Napasnya yang tadi tersengal-sengal kini menjadi teratur.
Ranu membuka matanya. Ia tampak sedikit lelah; keringat membasahi dahinya. Menggunakan energi dewa dalam tubuh manusia memang sangat menguras tenaga.
"Baginda... Baginda Raja!" seru Diajeng Sekar Arum sambil memegang tangan ayahnya.
Prabu Dirja perlahan membuka matanya. Ia melihat putrinya, lalu beralih ke sosok bocah bermata perak yang duduk di sampingnya. "Di... di mana aku? Siapa... siapa anak ini?"
"Dia yang telah menyelamatkanmu, Ayahanda," ucap Sekar Arum sambil terisak bahagia.
Ki Sastro segera bersujud. "Ampun Baginda, ini adalah Ranu Wara. Dia adalah keajaiban yang dikirimkan langit untuk Kerajaan Durja."
Prabu Dirja mencoba duduk dengan bantuan putrinya. Meskipun masih lemah, wibawa seorang raja mulai kembali terpancar. "Ranu Wara... aku berhutang nyawa padamu. Katakan, apa yang kau inginkan sebagai imbalan? Emas? Tanah? Atau jabatan?"
Ranu berdiri dan merapikan bajunya yang sederhana. "Aku tidak butuh emas atau jabatan, Baginda. Aku hanya ingin Baginda membersihkan istana ini dari pengkhianat. Patih Kebo Kenanga adalah orang yang memelihara racun itu di dalam kamarmu."
Semua orang di ruangan itu terperangah. Namun, sebelum Prabu Dirja sempat menjawab, tiba-tiba pintu kamar didobrak dari luar.
Patih Kebo Kenanga masuk bersama puluhan pendekar bayaran yang mengenakan topeng hitam. "Hahaha! Sayang sekali kau terlalu cepat menyembuhkannya, bocah! Tapi tidak masalah. Jika raja tidak mati karena racun, maka dia akan mati karena pedang!"
Patih Kebo Kenanga kini tidak lagi menyembunyikan kekuatannya. Ia melepaskan jubah luarnya, memperlihatkan otot-otot yang dialiri energi gelap. Ia ternyata adalah seorang pendekar Ranah Jiwa Rimba tingkat awal—tingkatan yang sangat tinggi untuk ukuran kerajaan kecil seperti Durja.
"Sastro! Kau dan bocah itu akan mati di sini!" teriak Patih Kebo Kenanga sambil menghunus keris hitam yang mengeluarkan aura jahat.
Ranu melangkah di depan Raja dan Diajeng Sekar Arum. Ia menatap ke arah luar jendela, di mana bintang-bintang mulai terlihat karena malam telah tiba. Bintang kedua di punggungnya mulai terasa panas.
"Ki Sastro, lindungi Raja dan Diajeng," perintah Ranu.
"Tapi Ranu, dia berada di Ranah Jiwa Rimba! Kau baru saja kehabisan energi!" seru Ki Sastro khawatir.
Ranu menoleh sedikit, mata peraknya bersinar dengan intensitas yang mengerikan. "Energi manusiaku mungkin habis, tapi otoritas dewa tidak mengenal kata habis. Perhatikanlah, Ki... bagaimana cara langit menghukum pengkhianat."
Ranu maju selangkah. Meskipun ia kecil, di mata Patih Kebo Kenanga, sosok Ranu tiba-tiba tampak membesar hingga memenuhi seluruh ruangan.
"Jurus Bintang Kedua: Kehampaan Jagat!" bisik Ranu.
Seketika, seluruh cahaya di dalam ruangan itu tersedot hilang. Kegelapan total menyelimuti segalanya selama satu detik, dan dalam satu detik itu, hanya terdengar suara jeritan-jeritan mengerikan dari para pendekar bertopeng.
Saat cahaya kembali, Patih Kebo Kenanga sudah tergeletak di lantai dengan tubuh yang tidak terluka sedikit pun, namun matanya putih kosong. Jiwanya telah ditarik keluar dan dihancurkan oleh Ranu dalam sekejap mata. Para pendekar bayarannya pingsan dengan mulut berbusa.
Ranu berdiri tegak, napasnya sedikit berat. Ia menoleh ke arah Prabu Dirja yang masih terpaku tak percaya.
"Urusan istanamu sudah selesai, Baginda. Sekarang, tepati janjimu. Berikan kedamaian pada rakyat Durja, dan lindungi keluargaku di desa," ucap Ranu.
"Tunggu, Ranu! Kau mau ke mana?" tanya Diajeng Sekar Arum.
"Aku harus pergi ke Pegunungan Larangan," jawab Ranu sambil berjalan menuju pintu. "Ada sesuatu di sana yang memanggilku. Sesuatu yang menjadi kunci untuk aku kembali ke atas."
Ranu berjalan keluar dari kamar raja, meninggalkan keheningan yang dalam. Ia tahu, perjalanannya di bumi baru saja dimulai. Kerajaan Mahesa pasti tidak akan tinggal diam setelah mendengar kematian Patih Kebo Kenanga yang merupakan sekutu mereka. Namun bagi Ranu, Mahesa hanyalah kerikil kecil di jalannya menuju takhta tertinggi di langit sembilan.
......................