Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"aku menemukan rasa di antara pasang yang sabar pada tangan-tangan Yang tak menarik namun selalu menopang"
PERTANDINGAN VOLI YANG SERU
Matahari pagi sudah mulai menyinari lapangan olahraga SMA 2 Nusa Bina. Siswa-siswi dari kelas XI IPS 1, 2, dan MIPA 1 berkumpul di sana untuk mengikuti pelajaran olahraga yang diampu oleh Bapak Sudarno, guru olahraga yang dikenal dengan sikapnya yang riang dan penuh semangat.
“Kalian akan bermain voli hari ini!” teriak Bapak Sudarno dengan suara yang kuat hingga terdengar di seluruh lapangan. “Bagi diri kalian menjadi empat tim yang seimbang ya! Jangan sampai ada tim yang terlalu kuat atau terlalu lemah!”
Elona berdiri bersama teman-teman kelasnya, melihat dengan cemas jumlah teman yang hadir hari ini. Hanya ada lima orang siswa dari kelas XI IPS 2 yang datang – biasanya mereka ada delapan orang. Dia melihat ke arah tim lain yang sudah mulai berkumpul: Rekai, Kalash, dan Biru sudah bergabung dengan beberapa siswa dari kelas MIPA 1, sementara Luna memimpin tim dari kelas XI IPS 1 dengan penuh semangat.
“Pak Guru, kelas kami kekurangan orang nih!” teriak salah satu teman Elona dengan suara khawatir. “Kita hanya ada lima orang saja!”
Bapak Sudarno segera mendekat dan menghitung jumlah siswa di setiap tim. Setelah melihatnya dengan cermat, dia menoleh ke arah Biru yang sedang melakukan pemanasan dengan rekannya. “Oskar Biru! Kamu pindah ke tim Mahira Elona saja ya! Biar semua tim punya jumlah orang yang sama!”
Biru yang tengah meregangkan ototnya segera berhenti dan mengangguk dengan sopan. “Baik, Pak Guru.”
Rekai dan Kalash langsung tertawa kecil melihat ekspresi sedikit terkejut pada wajah Biru. “Waduh Pak Ketua, terpaksa ya masuk ke tim Elona!” goda Kalash dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh Bapak Sudarno.
“Jangan banyak omong!” bisik Biru dengan tatapan tajam, tapi matanya sudah mulai menunjukkan sedikit senyum. Dia kemudian berjalan menuju tim Elona dengan langkah mantap, sementara teman-teman Elona melihatnya dengan ekspresi yang campuran antara terkejut dan senang.
“Pak Ketua mau masuk ke tim kita ya?” tanya Elona dengan suara sedikit gugup.
Biru mengangguk dengan senyum tipis. “Hanya untuk permainan saja. Mari kita bekerja sama dengan baik ya.”
Sementara itu, Luna yang melihat hal ini langsung mengerutkan kening dengan wajah yang marah. Dia melihat bagaimana Biru berdiri berdampingan dengan Elona dan bahkan memberikan arahan tentang bagaimana mereka harus membentuk formasi permainan.
“ dia berpura-pura bisa bermain voli dengan baik?” gumam Luna dengan nada penuh rasa tidak suka. Dia kemudian mengumpulkan teman-teman timnya dan mulai memberikan arahan dengan suara yang lebih keras dari biasanya. “Kita harus menang dengan telak ya! Jangan sampai mereka mengalahkan kita!”
Setelah semua tim siap, permainan akhirnya dimulai. Tim Luna memulai dengan servis yang kuat – dan seperti yang diantisipasi oleh Rekai dan Kalash, Luna sengaja menargetkan servisnya ke arah Elona yang sedang berdiri di bagian belakang lapangan.
“Elona, hati-hati!” teriak Biru dengan cepat.
Elona yang sudah siap mengantisipasinya dengan cepat melompat dan mengembalikan bola dengan sempurna. Bola melayang tinggi ke udara menuju bagian tengah lapangan tim Luna. Saat salah satu pemain tim Luna mencoba mengembalikannya, bola justru meleset dan langsung menghantam wajah Luna yang sedang berusaha menyelamatkan bola tersebut.
“THUMP!”
Suara benturan yang jelas terdengar di seluruh lapangan, diikuti dengan suara terkejut dari semua siswa yang melihatnya. Luna langsung menjatuhkan tangannya ke wajahnya, sementara bola voli jatuh dengan lembut di dekat kakinya.
Sebentar saja suasana menjadi sunyi, namun kemudian diikuti dengan suara tertawa riang dari seluruh siswa di lapangan – termasuk Rekai dan Kalash yang tidak bisa menahan tawa mereka. Bahkan Bapak Sudarno yang biasanya serius juga tertawa kecil melihat ekspresi kaget pada wajah Luna.
“Kak Luna tidak apa-apa kan?” tanya Elona dengan suara khawatir, berusaha menahan tawa yang ingin keluar.
Luna menarik tangannya dari wajahnya dengan wajah yang merah karena marah tapi juga sedikit malu. Bibirnya sedikit memar dan ada bekas sedikit merah di pipinya. “Aku tidak apa-apa!” serunya dengan suara yang sedikit terengah-engah. “Ini hanya kebetulan saja!”
Bapak Sudarno segera mendekat untuk memeriksa kondisinya. “Tenang saja Luna, kamu benar-benar tidak apa-apa? Kalau perlu kita bisa berhenti sebentar ya.”
“Tidak perlu Pak Guru!” jawab Luna dengan tegas. “Kita bisa melanjutkan permainan saja!”
Permainan pun dilanjutkan dengan semangat yang lebih tinggi. Biru ternyata sangat pandai bermain voli – dia sering menyelamatkan bola yang hampir jatuh dan memberikan umpan yang tepat ke arah Elona atau teman-teman lainnya yang sedang siap untuk menyundul bola ke daerah lawan.
Elona sendiri juga menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Meski biasanya lebih suka bermain bola basket, dia ternyata memiliki refleks yang cepat dan kekuatan yang cukup untuk memberikan serangan yang kuat ke arah tim lawan. Saat dia berhasil menyundul bola hingga tidak bisa diembalikan oleh tim Luna, teman-temannya langsung bersorak riang.
“Bagus sekali Elona!” pujian Biru dengan suara yang jelas terdengar. Wajahnya yang biasanya dingin kini penuh dengan semangat dan senyum lebar.
Rekai dan Kalash yang sedang bermain di tim lain tidak bisa tidak tertawa melihat bagaimana Biru yang biasanya sangat terkendali menjadi begitu bersemangat dalam permainan. “Waduh Pak Ketua benar-benar serius ya!” gumam Rekai sambil mengembalikan bola yang datang ke arahnya.
“Harus dong, dia mau menunjukkan kemampuannya sama Elona kan?” jawab Kalash dengan senyum menyeringai sebelum melompat tinggi untuk menyundul bola ke daerah lawan.
Sementara itu, Luna yang sudah mulai merasa frustrasi karena timnya terus dikalahkan, mencoba memberikan servis yang lebih kuat lagi. Namun kali ini, bola yang dia servis terlalu tinggi dan keluar dari lapangan permainan. Bapak Sudarno segera membunyikan peluit untuk menandakan bahwa poin tersebut dinyatakan untuk tim Elona dan Biru.
“Permainan berakhir! Pemenangnya adalah tim Mahira Elona dan Oskar Biru!” teriak Bapak Sudarno dengan suara riang.
Teman-teman tim Elona langsung bersorak dan berpelukan dengan gembira. Biru juga tersenyum lebar dan memberikan jempolan pada Elona. “Kamu bermain sangat baik sekali,” ujarnya dengan suara penuh penghargaan.
Elona tersenyum kembali dengan wajah yang sedikit memerah karena keringat dan kegembiraan. “Terima kasih Pak Ketua. Kamu juga sangat hebat!”
Di sisi lain lapangan, Luna berdiri dengan wajah yang masih merah karena marah dan sedikit kelelahan. Rekai mendekat padanya dengan senyum ramah. “Kamu juga bermain dengan baik Luna. Cukup saja ya untuk hari ini, besok kita bisa bermain lagi.”
Luna hanya mengangguk dengan tidak suka dan segera berjalan pergi meninggalkan lapangan. Namun sebelum pergi, dia melihat sekali lagi ke arah Biru dan Elona yang sedang tertawa bersama teman-temannya, dan merasakan rasa iri yang semakin besar di dalam hatinya.
Saat siswa-siswi mulai bergerak kembali ke kamar ganti, Rekai dan Kalash mendekat ke arah Biru dengan wajah yang penuh candaan. “Waduh Pak Ketua, bermainnya keren banget ya tadi! Apalagi pas kasih pujian sama Elona, wajahnya jadi merah kayak apel!” goda Kalash dengan suara tinggi hingga beberapa siswa lain yang lewat juga tertawa.
Biru hanya menepuk bahu Kalash dengan sedikit keras tapi tetap dengan senyum di wajahnya. “Jangan mengada-ada lagi! Sekarang kita harus segera beranjak ke kamar ganti sebelum terlambat masuk kelas!”
Meskipun katanya begitu, di dalam hati Biru merasa sangat senang bisa bermain bersama Elona dan melihat sisi lain dari gadis tomboy yang biasanya selalu terlihat kuat dan tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Dia merasa bahwa hari ini adalah hari yang baik untuk bisa lebih dekat dengannya tanpa tekanan dari pekerjaan OSIS atau masalah dengan Luna.
Sementara itu, Elona sedang berjalan bersama teman-temannya dengan wajah yang masih penuh senyum. Dia tidak bisa tidak berpikir tentang bagaimana Biru ternyata bisa sangat ramah dan menyenangkan ketika bermain bersama. Mungkin saja neneknya benar – mungkin tidak semua pria seperti ayahnya. Namun untuk saat ini, dia hanya ingin menikmati kebahagiaan dari kemenangan mereka dalam permainan voli pagi itu.