NovelToon NovelToon
Di Ulang Tahun Ke-35

Di Ulang Tahun Ke-35

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami
Popularitas:525.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Di malam ulang tahun suaminya yang ke tiga puluh lima, Zhea datang ke kantor Zavier untuk memberikan kejutan.

Kue di tangan. Senyum di bibir. Cinta memenuhi dadanya.

Tapi saat pintu ruangan itu terbuka perlahan, semua runtuh dalam sekejap mata.

Suaminya ... lelaki yang ia percaya dan ia cintai selama ini, sedang meniduri sekretarisnya sendiri di atas meja kerja.

Kue itu jatuh. Hati Zhea porak-poranda.

Malam itu, Zhea tak hanya kehilangan suami. Tapi kehilangan separuh dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Layar ponsel menyala.

Hati Zhea pun terasa lega.

Tanpa membuang waktu, jemari lentiknya langsung berselancar. Mengklik aplikasi chat.

"Kosong?" Dada Zhea mulai bergemuruh. Namun ia tak putus asa. Jari-jarinya berselancar lagi.

Lalu berhenti pada sebuah folder yang diberi nama Private Chat ... folder yang bahkan Zhea baru tahu. Ia segera menscroll.

Dan di folder itu, dia melihat nama ELARA.

Huruf kapital semua. Nama yang cantik, tapi berubah menjadi horor dan menjijikan di mata Zhea.

Zhea gegas membuka percakapan.

Dan kalimat pertama langsung menghantam dadanya.

"I can't wait to feel you again, Babe. Tadi kamu sukses bikin aku nggak bisa jalan. Kamu sangat perkasa seperti biasanya. Dan di hari ulang tahunmu ini ... aku sangat bahagia karena bisa merasakan keperkasaanmu tanpa penghalang. Thanks ya, Babe."

Jantung Zhea seperti berhenti sepersekian detik. Tangannya mencengkeram erat ponsel Zavier.

Di baris bawah, ada satu voice note. Beberapa menit yang lalu.

Zhea menekan play pelan sekali, volumenya diturunkan hampir nol. Tapi suara itu tetap terdengar cukup jelas.

"Besok malam kita lanjut lagi ya, Babe. Aku belum puas. Atau kalau bisa ... untuk tiga hari ke depan, kamu nggak usah pulang ke rumahmu. Menginap saja di apartemenku. Bilang saja ke istrimu yang bodoh itu ... kalau kamu ada pekerjaan di luar kota. Dia pasti akan percaya. Karena dia sangat mencintaimu."

Mata Zhea memanas. Bukan karena ingin menangis, tapi karena api amarah yang menyala.

Zhea buru-buru memotret percakapan itu menggunakan ponselnya. "Berzinalah kalian sepuasnya." Zhea buru-buru meletakkan ponsel sang suami ke tempat semula, karena air di kamar mandi sudah berhenti.

Dia menyimpan hp-nya juga ke laci nakas, lalu beranjak membuka lemari untuk mengambil baju.

Zhea duduk tegak. Napasnya tenang seolah tidak melihat dan tidak tahu apa-apa.

Pintu kamar mandi terbuka. Zavier keluar dengan handuk kecil tersampir di leher dan handuk putih melilit dari pinggang sampai pahanya yang kekar, bau sabun menguar, rambutnya basah. "Kamu setia banget sih, nungguin aku ..." Zavier menarik ujung hidung Zhea, gemas.

Zhea menatapnya. Tersenyum kecil. "Aku kan mau ngasih kue ulang tahun ke kamu. Kita tiup lilin sama-sama," katanya.

Zavier tertawa kecil, memakai piyama yang sudah disediakan Zhea. "Ya udah ... ambil gih kuenya."

Zhea mengangguk. "Bentar, ya." Zhea turun dari ranjang. Keluar dari kamar dengan emosi yang membuncah. Sambil menuruni tangga, wanita dua puluh enam tahun itu bergumam penuh amarah. "Seandainya tidak ada Zheza ... sudah kucakar wajahmu, Zavier. Tapi aku tidak mau memberikan trauma pada bayiku."

Zhea mengambil kue yang tadi ia bawa ke kantor Zavier. Memasang lilin angka tiga puluh lima dan menghidupkannya. Lalu dengan ekspresi yang sudah tak dipenuhi amarah ... ia menaiki tangga lagi untuk menemui suaminya.

"Happy birthday to you ... happy birthday to you ... happy birthday ... happy birthday ... happy birthday to you ..." Zhea menyanyikan lagu ulang tahun itu dengan penuh penghayatan. Jika tahun-tahun sebelumnya ia menyanyikannya dengan mata berkaca-kaca penuh syukur dan keharuan, berbeda dengan malam ini. Matanya memang berkaca-kaca dan akhirnya menitikkan air mata, tapi itu bukan air mata haru, melainkan air mata kekecewaan dan kesakitan. "Selamat ulang yang ketiga puluh lima, suamiku tercinta," ucapnya sambil menyodorkan kue ulang tahun itu tepat ke depan wajah Zavier.

"Terima kasih, sayang." Zavier mengusap air mata di kedua pipi Zhea, sebelum akhirnya meniup lilin itu dengan wajah bahagia dan mata berkaca-kaca. Lalu setelahnya, ia mengambil kue itu dan menyimpannya di atas nakas. "Kamu adalah istri yang sempurna," ungkapnya seraya memeluk Zhea dengan erat. Menciumi puncak kepala bersurai hitam itu. "Aku sangat mencintaimu, Zhea Aveline Winata. Terima kasih sudah memberikan kado terindah dalam hidupku. Kehadiran Zheza telah menyempurnakan hidupku." Pelukan Zavier mengencang, dan itu membuat Zhea ingin menjerit muak.

"Dasar pendusta!" desisnya dalam hati. "Mas ... udah dulu dong meluknya. Sesak tahu," kekeh Zhea.

Zavier tertawa pelan, lalu melepaskan pelukan.

Ia membawa Zhea naik ke ranjang, dan meraih tangan istrinya itu tanpa beban. "Apakah bekas jahitan operasi caesar-mu masih sakit?"

Tubuh Zhea sedikit menegang. Refleks wanita itu melepaskan genggaman tangan Zavier di jemarinya. "Ah, kalau sakit sih enggak, tapi masih ngilu," katanya sambil menyentuh jahitan di perutnya itu. "Kenapa? Mas mau minta hak, ya?" tanya Zhea dengan rasa jijik yang membuncah. Bayangan pergulatan suaminya dan Elara datang lagi. Nyaris mengikis kewarasannya.

Zavier menggaruk tengkuk, berdeham pelan. "Sebenarnya iya, sayang. Aku sudah sangat merindukanmu. Rindu pada hangatnya rahimmu. Tapi ... jika jahitan itu masih terasa ngilu, aku tidak ingin memaksa. Aku tak mau menyakitimu. Biarlah hasrat ini kutahan sampai kamu benar-benar siap," katanya yang membuat Zhea muak dan ingin tertawa terbahak-bahak.

"Menahan hasrat? Tai anj*ng! Dasar tukang silat lidah!" Zhea mengumpat kasar dalam hatinya. "Makasih, ya, Mas. Kamu benar-benar suami yang pengertian."

"Kita tidur, yuk!" ajak Zavier.

"Tunggu dulu, Mas. Aku mau ngobrol sedikit lagi sama kamu ..." terang Zhea.

"Ngobrol apa, sayang?" Suara Zavier lembut mendayu.

Zhea menatap wajah Zavier, wajah yang dulu sangat amat ia cintai dan kagumi sepenuh hati. Iris cokelat itu terlihat jernih, natural, tapi kini pandai menyimpan kebohongan. Dia memegang tangan Zavier. Pelan. Seolah penuh cinta. "Aku cuma mau nanya ..." Zhea mengelus punggung tangan suaminya. "Kamu nggak punya perempuan lain, 'kan?"

Zavier tersenyum begitu tenang, begitu meyakinkan. Tapi pupil matanya sedikit melebar. "Tentu tidak, sayang. Untuk apa aku melirik perempuan lain, jika di rumah ini ... ada bidadari cantik yang selalu menungguku. Di hati aku, cuma ada kamu seorang." Dia mengangkat tangan Zhea, kemudian menciumnya. "Kenapa kamu nanya gitu? Kamu udah nggak percaya sama aku, ya?" Zavier balik bertanya.

Zhea mendekat, memiringkan wajahnya beberapa senti dari wajah Zavier. Suaranya lirih. "Bukan nggak percaya ... cuma mastiin aja. Karena zaman sekarang, marak banget perselingkuhan. Aku takut kamu tergoda oleh daun muda di luar sana. Secara ... kamu kan pengusaha sukses. Tampan, mapan dan berwibawa. Aku tahu banget loh, kalau banyak perempuan yang naksir kamu. Termasuk karyawan kamu sendiri," paparnya sambil merengek manja.

Zavier menatap Zhea tepat di mata. Tak ada ragu, tak ada canggung, tak ada tanda bersalah. "Memang banyak yang naksir sama aku, tapi sekali lagi aku tegaskan ... kalau cinta dan hatiku hanya untuk kamu. Demi Tuhan ... aku tidak akan pernah berpaling darimu. Bagiku ... kamu adalah wanita paling sempurna. Paling cantik, paling seksi dan paling segalanya. Cintaku udah stuck di kamu, sayang." Zavier memajukan wajah, dan mencumbu bibir Zhea. Lalu tangannya naik ke atas dada. Ketika ia ingin meremasnya, Zhea dengan cepat melepas tautan bibir mereka dan mejauhkan tangan Zavier dari dadanya.

"Jangan diremas, Mas. Nanti ASI-nya banjir," ucapnya dengan napas tersengal. Bukan karena hasrat ingin disentuh suaminya, tapi karena jijik dicium dan disentuh Zavier.

"Upps, sorry, sayang. Mas lupa kalau kamu sedang menyusui." Senyum genit terbit di bibir Zavier. Dan bersamaan dengan itu, tangisan kecil Zheza terdengar.

Zhea buru-buru turun dari ranjang, menghampiri bayinya yang kehausan. "Mas tidur duluan saja, aku mau menyusui Zheza dulu. Dan untuk kado ulang tahunnya ... aku masih mempersiapkannya. Sabar ya, Mas."

Zavier mengangguk ceria. "Iya, sayang. Nggak papa. Aku akan menantikan kado  darimu."

"Tunggulah, Mas Zavier, sayang. Kadomu akan segera datang."

_______

"Sayang, aku berangkat dulu ya." Zavier mencium kening Zhea. "Gadis kecil Papa ... sampai jumpa nanti sore ya, sayang. Papa mau berangkat kerja dulu." Dia beralih mencium pelan pipi Zheza.

"Iya, Papa. Hati-hati. Semangat kerjanya ya, Papa." Zhea membalas dengan menirukan suara bayi.

Zavier melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil. Zhea membalasnya diiringi senyum manis yang jelas dipaksakan.

Setelah mobil suaminya keluar dari halaman rumah, Zhea kembali masuk dan meletakkan Zheza di stroller. Menoel pipi putrinya lembut. "Sayang, nanti siang ... Mama mau ke kantor Papamu lagi ya, kamu sama Bi Acih dulu ya. Mama punya misi yang harus diselesaikan."

___

"Pagi, Babe." Elara langsung memeluk Zavier yang baru datang dan masuk ke ruangan.

Lelaki itu tak menolak, dia balas memeluk sekretarisnya itu.

"Babe ... nanti malam jadi 'kan kamu nginep di apartemenku?" rengek Elara manja.

Zavier melepas pelukan Elara, menarik gemas hidung gadis itu. "Mm ... lihat nanti ya, sayang. Aku harus nyari alasan yang masuk akal. Kalau terlalu mengada-ada, nanti Zhea bisa curiga," balasnya yang membuat Elara memberengut.

"Bilang aja kamu lembur dan harus nginep di kantor," ketus gadis berambut bergelombang itu.

"Nanti aku pikirkan." Zavier memungkas obrolan tentang hubungan terlarang mereka. "Apa saja jadwalku hari ini?" tanyanya mulai menanyakan pekerjaan.

Elara dengan ogah-ogahan membacakan schedule Zavier dari pagi hingga sore hari.

_____

"Bi, saya titip lagi Zheza, ya? Saya mau ke kantor Bapak dulu. Nggak akan lama, kok. Paling satu jam-an. ASI sudah ada di kulkas. Dan tolong ... jangan tinggalkan Zheza sendirian."

Bi Asih mengangguk patuh. "Siap, Bu. Hati-hati."

Zhea mencium pipi putrinya sebelum akhirnya keluar dari rumah.

Tiga puluh menit kemudian, Zhea sudah sampai di kantor suaminya. Dia berjalan anggun masuk ke lobi dan basa-basi bertanya kepada resepsionis. "Dewi ... Bapak ada di ruangannya tidak?" tanyanya.

"Bapak sedang ada meeting di luar, Bu. Tapi tidak akan lama, soalnya sudah dari satu jam yang lalu," jelas Dewi, si petugas resepsionis.

Zhea mengulum senyum samar. "Kalau begitu, bolehkah saya menunggu di ruangannya?"

"Sangat boleh, Ibu." Dewi tersenyum kecil. "Silakan. Mau tiduran juga bebas. Kantor ini kan milik suami Ibu." Dari senyum, berubah menjadi kekehan.

Zhea pun ikut terkekeh. "Ya sudah. Saya ke atas dulu ya?"

"Iya, Bu. Silakan." Dewi mengangguk ramah.

"Sempurna." Zhea menyeringai lebar saat keluar dari lift. Dia melangkah anggun menuju ruangan suaminya.

Namun saat pintu ruangan itu ia buka, mendadak bayangan menjijikan tadi malam berkelebatan.

Zhea segera menepisnya. "Aku tidak boleh membuang waktu," desisnya segera masuk.

Sesuai dengan rencana yang sudah tersusun di otaknya, Zhea memasang kamera tersembunyi berukuran kecil di beberapa titik yang bisa merekam semua kejadian di dalam ruangan ini. Tak lupa, ia juga memasang perekam suara di bawah meja kerja suaminya. Di bawah meja sofa dan di lemari yang berisi berkas-berkas.

"Beres." Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa, bertumpang kaki sambil menyeringai. "Kehancuranmu akan dimulai dari hari ini, Mas Zavier Dinata."

1
Sunaryati
Ya memang kamu harus mengikhlaskan, dan berharap mereka bahagia Zavier
Sunaryati
Emak harap pertunangan sampai pernikahan lancar, sebaiknya barengan saja sama Rafly toh Zhea yang keduy
Sunaryati
Sukses Tari
Sunaryati
Tak sadar juga malah makin menjadi. Kami benar Tari, jika kau diam kau yang akan dibunuhnya
Ita Xiaomi
Ndak boleh lebih ya😁
Ama Apr: Haha iya, nanti kebablasan
total 1 replies
@Mita🥰
😭😭😭😭😭😭😭
Ama Apr: Terharu y kk🥹
total 1 replies
Asyatun 1
lanjut
Ama Apr: siapp🫰
total 1 replies
Uthie
Akhirnya... sejak awal mampir sudah sampai di masa penantian kembali 🤩🤩😍😍

Menandakan cerita ini amat sangat berkesan untuk sy lanjuti menyimak nya terus 👍👍🤗🤗🤗

semangat selalu 👍👍👍👍
Ama Apr: Makasih kk😘😘😘. Aku senang kalau ceritaku berkesan di hati kk. Sipp🫰🫰🫰
total 1 replies
Uthie
rasain ulah penjahat 😡
Ama Apr: Kesel ya
total 1 replies
Jetva
KETIKA KAMU MASIH HIDUP DALAM KEBOHONGAN..APAKAH KAMU MENDENGAR SUARA AYAH DAN IBUMU MEMBERI NASEHAT DAN PERINGATAN AKAN MASA DEPANMU YG SURAM KRN MENYOLIMI ISTRIMU ???...TIDAK, KAMU MALAH MERASA DIRI HEBAT...MENGHIANATI ISTRIMU MENJADI KEBANGGAAN N KECONGKAKAN DIRIMU KRN KAMU MENGANGKAT KEPALAMU MENANTANG ORTUMU TTG PERNIKAHAN KEDUA DIRIMU......SUNGGUH KAMU TELAH MATI SAAT ITU...SAAT DIMANA KAU MENENTANG DGN PONGAH ORTUMU, PADAHAL KAU TAK TAU SIAPA ELARA YG SESUNGGUHNYA...TERIMA SAZA HUKUMANMU YG TIADA ARTINYA KRN NYAWA AYAHMU TAK BISA ADA LAGI...KAU KEHILANGAN TOTAL HIDUPMU...🤨🤨🤨🤨
Ama Apr: 🥹🥹 penyesalan selalu datang terakhir ya kk
total 1 replies
Soraya
semoga cepet ketauan lwt CCTV klo zavir yg bikin ayahnya meninggal
Ama Apr: Lanjut kk🫰
total 1 replies
Ita Xiaomi
Insyaa ALLAH berkah dan lancar usahamu Tari.
Ama Apr: Aamiin🫰
total 1 replies
@Mita🥰
selamat tinggal ayah bunda👋👋👋👋
Ama Apr: Haha iya
total 1 replies
Soraya
mampir thor
Ama Apr: Makasih Kk🫰, ayolah lanjut baca🤭
total 1 replies
Yuningsih Nining
ada bagus nya juga lah gantari gak lagi di akui ortu durjana nya, udah kelewat salah ngeyel merasa benar
bangkai di tutupi di buang gmn pun pasti tercium juga wuooyy laras gusti
Ama Apr: ikut emosi y kk🥲
total 1 replies
Ita Xiaomi
😢😢😢. Didikan org tua bs mengubah segalanya.
Ama Apr: Huhu🥹
total 1 replies
Ariany Sudjana
dasar Gusti dan Laras sudah gila, kok malah menyalahkan gantari, untuk semua masalah yang sudah terjadi, dan juga untuk meninggalkannya guntur. kalian sadar bos? yang jahat dan serqkah kan kalian juga, kalau kalian ga serakah, guntur masih hidup. dasar ga waras
Ama Apr: Sudah gelap mata mereka
total 1 replies
May Maya
malah bgus tari gk d aku anak lg oleh kalian org tua durjana, dah salah tp masih aja merasa benar bangkai d tutupi tetap aja tercium bgtu jg dgn kejahatan Klian itu. tari sumpahan atau cacian dari org tua durjana macam mereka tuh GK akan d dngar tuhan malah nanti nya balik k mereka jg.nanti KLO mereka knp2 entah sakit atau meninggal wessss masa bodo sja toh kau dah GK d anggap kau org asing bagi mereka itu pilihan mereka
Ama Apr: Iya, ikut sakit hati. Apalagi pas aku nulis Tari diludahi sm Gusti🥹 sakit bgt ih
total 1 replies
@Mita🥰
wes GPP tari ...semoga kamu bahagia dan tetep bheneh walaupun orang tua mu gak mengakui mu anak
Ama Apr: siap kk
total 1 replies
🥑⃟🍁Semesta❣️
ᴍᴀᴜ ʙᴇɢɪᴛᴜᴀɴ ᴘɪɴᴛᴜɴʏᴀ ɴɢɢᴀ ᴅɪᴋᴜɴᴄɪ.. ʜᴀᴅᴇʜ
Ama Apr: hha, kan anggapannya udah nggk ada org
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!