NovelToon NovelToon
Kinan

Kinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Lain / Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.

Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.

Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makam

Minggu pertama setelah pemakaman, Raka tidak pergi bukan karena tidak ingin atau karena sudah move on—kata-kata yang bahkan tidak masuk akal untuk diucapkan. Tapi tidak sanggup setiap kali membayangkan berdiri di depan gundukan tanah yang menutupi tubuh berhenti berfungsi. Jantungnya berdetak terlalu kencang, terlalu keras, terlalu menyakitkan. Napasnya tersendat, seolah ada tangan yang mencengkeram tenggorokan menahan melarang.

Ia berdiri di depan pintu rumah tiga kali pagi berbeda, pakaian yang sama—kemeja yang tidak dicuci, celana yang sama, sandal jepit yang Kinan beli untuknya. Tiga kali ia berjalan ke terminal, naik angkot, turun di depan gerbang pemakaman. Tiga kali ia berdiri di sana, menatap gerbang besi yang berkarat, menatap jalan setapak menuju ke dalam, menatap pohon-pohon yang rindang dan tidak peduli.

Tiga kali ia tidak bisa masuk kakinya seperti dipaku, tubuh membeku, pikirannya berteriak—Dia di sana di dalam dibawah tanah.—tapi suara itu terlalu keras, terlalu nyata, terlalu menghancurkan untuk didengar.

Minggu kedua, Raka berdiri di gerbang selama satu jam.

Pukul delapan pagi, ia sudah di sana. Pukul sembilan, masih berdiri. Pukul sepuluh, masih tidak bisa bergerak. Matahari naik, panas menyengat, keringat mengalir di punggung dan dahi—tapi ia tidak merasakan, dingin, hampa ketakutan yang tidak masuk akal tapi sangat nyata.

Takut apa? Ia tidak tahu. Takut melihat nama Kinan di batu nisan? Takut mengucapkan selamat tinggal yang sebenarnya? Takut... takut bahwa jika ia berdiri di sana, di depan makam, ia harus menerima bahwa ini nyata? Bahwa Kinan benar-benar pergi? Bahwa tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi mungkin, tidak ada lagi apa pun kecuali gundukan tanah dan kenangan yang akan pudar?

Maya menemukannya di sana. Pukul sebelas, dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya, tubuh kecil tampak seperti akan roboh kapan saja.

"Ra," panggilnya, suaranya pelan, tidak memaksa. "Lo di sini dari tadi pagi. Ibu lo telepon gue. Dia khawatir."

Raka menatapnya tidak mengenali, atau tidak sanggup mengenali. Matanya kosong, fokus pada gerbang, pada jalan setapak, pada apa pun kecuali Maya yang berdiri di depannya.

"Gue nggak bisa," katanya parau, asing, milik orang yang tidak ia kenal. "Gue... gue nggak bisa masuk, May. Gue nggak sanggup liat... liat dia di sana. Di tanah sendirian. Gue nggak sanggup."

Maya tidak menjawab. Hanya berdiri di sampingnya, tidak menyentuh, tidak memaksa menemani dalam sunyi yang menghancurkan.

Satu jam lagi berlalu. Raka masih berdiri. Maya masih di sampingnya. Pengunjung pemakaman lewat—keluarga dengan anak kecil, pria tua dengan tongkat, perempuan muda dengan bunga di tangan. Semua melirik, berpikir, semua berpikir hal yang sama—Orang gila yang kehilangan.

Tapi tidak ada yang berhenti bertanya. Karena pemakaman adalah tempat untuk duka pribadi, kesedihan yang tidak bisa dibagi, untuk orang-orang yang berjuang dengan kehilangan diri mereka sendiri.

Akhirnya, pukul satu siang, Raka bergerak menjauh, melarikan diri dari apa yang tidak sanggup dihadapi.

"Minggu depan," katanya pada Maya tidak yakin. "Minggu depan gue akan coba lagi. Gue... gue janji. Minggu depan."

Tapi minggu depan datang, dan Raka tidak pergi. Tidak ke terminal, tidak ke gerbang, tidak ke mana pun kecuali kamar yang gelap dan dapur yang bau kopi basi.

---

Minggu ketiga, Maya datang ke rumah pukul enam pagi.

Raka masih terbaring di lantai dapur, posisi yang sama seperti semalam, dengan bantal yang tidak lagi berbau Kinan dan mata yang terbuka lebar sejak maghrib tidak tidur, menunggu sesuatu yang tidak datang.

"Ra," Maya berlutut di sampingnya. "Gue mau ajak lo ke suatu tempat. Lo nggak perlu ngomong. Nggak perlu lakuin apa pun. Cuma... cuma ikut gue. Boleh?"

Raka mengangguk. Tidak peduli ke mana, untuk apa, hanya ingin bergerak, ingin keluar, ingin... ingin apa pun yang membuatnya merasa hidup, meski hanya fisik, hati sudah mati.

Mereka naik angkot. Berdiri di tengah kerumunan sesak, bau, hidup—terlalu hidup, terlalu nyata, menyakitkan baginya. Maya berdiri di depan melindungi, membentuk dinding kecil dengan tubuhnya yang mungil.

Turun di depan gerbang pemakaman. Raka membeku lagi. Tapi kali ini—kali ini Maya tidak membiarkan, menarik tangannya—melewati gerbang masuk ke dalam.

Jalan setapak yang berbatu. Rumput yang tumbuh liar di sela-sela. Pohon-pohon yang rindang, tidak peduli terus tumbuh. Raka melihat semuanya dan tidak melihat apa pun. Hanya mengikuti Maya, langkah demi langkah, napas demi napas, menuju ke tempat yang tidak ingin dituju.

Gundukan tanah masih segar berwarna coklat gelap, berbau tanah baru digali, memiliki bentuk yang jelas—belum rata dengan tanah di sekelilingnya, tidak ditumbuhi rumput liar menjadi bagian dari lanskap yang abadi.

Sebuah nisan papan kayu"Kinan Maharani" tertulis tangan memberi penghormatan.

Di atas batu, beberapa batu kecil yang diletakkan pengunjung berziarah, doa, tanda Kinan tidak sendiri lagi, meski Raka tidak pernah datang. Dan satu bunga mawar putih layu, tangkai patah, kelopak mengering dan jatuh—mungkin dari Ibu Rini sebelum pulang kampung, dari tetangga yang kasihan, mungkin dari siapa pun kecuali dirinya.

Ia berlutut menekan tanah masih lembut, merasakan getaran langkahnya. "Kinan Maharani"—dua kata yang dulu menjadi segalanya, menjadi kenangan di kayu lapuk.

"Nan," bisiknya, suaranya pecah di tengah angin yang bertiup pelan. " Mas di sini. Mas... akhirnya datang." Tanpa bunga, doa yang terstruktur, persiapan atau penyesalan atau apa pun yang seharusnya dibawa ke tempat seperti ini. Hanya kehadiran, suara, kehancuran yang ia bawa sebagai persembahan.

Ia berbicara panjang lebar, seperti yang ia lakukan di rumah sakit, di dalam kamar, cerita tentang minggu-minggu berlalu—tidur yang tidak pernah datang, tanaman yang mulai hidup, Maya datang, Laras yang mengganggu, dan tentang Pak Dedi ternyata punya luka.

"Mas rindu Nan," ucapnya akhir dengan air mata mengalir perlahan. " Mas datang ke sini, ngomong, tapi kamu nggak denger. Mas nggak tahu lagi caranya."

Ia menekan batu nisan kasar, dingin, dan secara tidak sadar menggali tanah di sekitarnya. Maya berdiri di belakang beberapa langkah menjauh, memberi privasi, memberi ruang tetapi siap menarik jika ia terlalu jauh, terlalu dalam dengan sesuatu yang tidak bisa kembali.

Angin bertiup kencang. Daun-daun akasia berguguran, beberapa mendarat di gundukan tanah, di pundak Raka, di batu nisan seakan mencari jawaban menenangkan, dari tempat yang tidak bisa dijangkau.

Raka merasakan daun di punggung, lalu mengangkat kepala, menatap pohon akasia muda "Kamu di sana, Nan?" tanyanya pelan, hampir tidak terdengar. "Kamu ... denger ?Kamu liat Mas?"

Sunyi. Hanya sunyi yang menjawab menertawakan kebodohan, mengingatkannya lagi dan lagi: Dia sudah tidak ada.

Tiba tiba angin berubah arah membawa bau—bau familiar losion melati yang ia pakai, sabun bayi yang ia suka, seperti... seperti dirinya masih hidup dalam ingatan, dalam rindu, dalam cara yang tidak bisa dijelaskan.

Raka menutup mata. Menarik napas dalam-dalam, mencoba menangkap bau itu, mencoba menahan, mencoba percaya bahwa ini bukan hanya angin, bukan hanya imajinasi, bukan keinginan yang membentuk realitas.

"Mas sayang, Nan," bisiknya, untuk terakhir kalinya, untuk pertama kali, untuk setiap kali yang akan datang, "Mas gak akan ninggalin kamu sendirian. Mas janji.."

Maya mendekat. Dengan mata basah tangan gemetar menyentuh bahunya,"Pulang, Ra," katanya seperti permohonan. "Kita... kita bisa balik lagi lain kali. Kapan pun lo mau. Gue temenin. Selalu."

Raka mengangguk.

"Minggu depan," katanya, suaranya lebih tenang dari sebelumnya. "Mas bakal balik minggu depan bawa bunga Mawar putih. Atau melati. Atau apa pun yang kamu mau."

Di pintu gerbang, Raka berhenti secara tiba tiba mencengkram tangan Maya, menoleh sekali lagi ke arah makam." May ..gue lihat..."

" Liat apa?"

Matanya mendelik menatap baris ketiga, pohon akasia, bayangan shiluet perempuan memakai baju putih disana

" Kinan...?"

" Apa?"

" Gue liat dia May...diantara pepohonan akasia."

Maya mengernyit melihat apa yang ditunjuknya tapi hanya lambaian dedaunan pepohonan," Lu berhalusinasi Ra."

" Kita kembali..May...Kinan masih hidup ...kinan ada disana."

Gadis itu menghentak tangannya ..." Raka...liat gue...liat ...teriaknya kuat, " Kinan sudah pergi ..jangan menambah beban."

" May ....Raka menangis teriak Isak ditanah seperti anak kecil, " Kinan masih hidup ...Kinan.."

" Stop Raka, kita pulang." Maya menarik tangan dengan kuat, mengajak nya pergi dari areal pemakaman" Nanti dirumah kita cerita."

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
buset antara kisah romantis dan horor ....kadang2 serem ya 🤭
Ddie: ya terkadang cinta bisa membuat romantis dan horor, horor kalau kena tolak, horor dia kawin dengan orang lain, horor cinta tak terbalas ..😄
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kok AQ serem sih baca nya 😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: aq gak berbakat nulis ..enak baca aja 🤣
total 4 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
Raka yang terpuruk dan Maya yang simpati karena ada maksud 🤭...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: idih 🤣🤣
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seperti nya maya mencintai Raka ...dan yang dia lakukan untuk mencari simpati ke Raka ...aah kebanyakan sahabat seperti itu sih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: nama pasaran malah wkwk
total 6 replies
Soraya
mampir thor
Ddie: terimakasih banyak ya dk
total 1 replies
falea sezi
nyesek bgt baru jg baca/Shame/
Ddie: cinta sejati itu selalu ada dimana pun dk ..walau hidup dalam dimensi lain, kematian
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aku masih di sini dekap hampa di hati....
mampir 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: yups betul sekali 🤣
total 2 replies
Ddie
mengapa engkau pergi membawa cinta jika membuatku kehilangan? Kematian bukanlah takdir tapi mimpi panjang menghadap Tuhan. Disini aku melihatmu tanpa bisa menyentuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!