Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: LEMBARAN BARU DI TANAH ASING
BAB 30: LEMBARAN BARU DI TANAH ASING
Hujan gerimis membasahi kota kecil di pinggiran Punjab, jauh dari hiruk-pikuk Delhi yang penuh intrik dan kepalsuan. Di sebuah rumah sederhana berdinding putih dengan kebun kecil di depannya, Arlan sedang sibuk memperbaiki atap teras yang bocor. Tangannya yang dulu halus kini mulai kasar karena kerja fisik, namun matanya memancarkan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sudah beberapa bulan berlalu sejak malam dramatis di kediaman Vashishth. Arlan memilih untuk menjauh, membawa Ibu Sujati ke tempat di mana identitas mereka tidak akan menjadi bahan gunjingan. Di sini, Arlan dikenal sebagai pria pekerja keras yang pendiam. Tidak ada yang tahu bahwa dia adalah putra dari seorang Jenderal besar, dan tidak ada yang tahu tentang luka dalam yang ia bawa di balik kemeja sederhananya.
Ibu Sujati keluar dari pintu dapur, membawa dua gelas teh hangat. Wajahnya tampak jauh lebih sehat. Garis-garis kecemasan yang dulu selalu menghiasi keningnya kini mulai memudar. "Arlan, turunlah sebentar. Tehnya sudah siap. Jangan terlalu memaksakan diri, Nak."
Arlan turun dari tangga kayu dengan cekatan. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Hanya sedikit lagi, Bu. Aku tidak ingin air hujan merusak kursi kayu kesukaanmu di teras."
Mereka duduk berdua di teras, menikmati aroma tanah basah. Arlan menyesap tehnya, pikirannya melayang sejenak ke Delhi. Ia bertanya-tanya bagaimana kabar Rayhan dan Vanya. Apakah Rayhan berhasil menghadapi persidangan ibunya? Apakah Vanya akhirnya bisa mencintai Rayhan dengan sepenuh hati? Setiap kali pikiran itu muncul, Arlan segera menepisnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melepaskan keinginan yang mustahil itu.
Sementara itu, di Delhi, kediaman Vashishth terasa sangat sunyi dan hampa. Rayhan duduk di ruang kerja mendiang ayahnya, dikelilingi oleh tumpukan berkas hukum. Sejak penahanan Suman, Rayhan harus menghadapi tekanan dari berbagai pihak militer yang mencoba menutupi skandal ini demi menjaga nama baik institusi. Namun, Rayhan tetap teguh. Baginya, hukum harus ditegakkan, bahkan jika itu menghancurkan hatinya setiap kali melihat ibunya di balik jeruji besi.
Vanya masuk ke ruangan dengan membawa nampan makanan. Sejak kepergian Arlan, hubungan Vanya dan Rayhan dipenuhi dengan rasa hormat yang mendalam, namun ada jarak emosional yang sulit dijembatani. Mereka adalah suami istri secara hukum, namun mereka seperti dua orang asing yang berbagi beban rahasia yang sama.
"Kau harus makan, Rayhan. Kau sudah tidak keluar dari ruangan ini sejak kemarin," ucap Vanya lembut.
Rayhan mendongak, matanya merah karena kurang tidur. "Vanya... aku menemukan sesuatu di brankas tersembunyi Ayah. Ini bukan sekadar surat cinta untuk Ibu Sujati. Ini adalah surat wasiat resmi yang sudah disahkan oleh notaris militer dua puluh tahun lalu."
Vanya meletakkan nampannya dan mendekat. "Surat wasiat? Apa isinya?"
Rayhan membuka sebuah amplop tua yang sudah menguning. "Ayah ternyata sudah membagi seluruh hartanya secara adil. Separuh untukku dan Ibu Suman, dan separuh lagi untuk Arlan dan Ibu Sujati. Ayah juga meninggalkan sebuah pengakuan tertulis bahwa Arlan adalah ahli waris sah yang memiliki hak atas tanah keluarga di perbatasan utara. Tanah yang selama ini dikuasai secara ilegal oleh Hendra Kashyap melalui manipulasi dokumen."
Vanya menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi... semua kekayaan yang dimiliki ayahku di Simla, tanah-tanah perkebunan itu... sebenarnya milik Arlan?"
"Benar," suara Rayhan terdengar berat. "Inilah alasan sebenarnya mengapa Hendra mencoba membunuh Arlan berkali-kali. Bukan hanya soal cinta Arlan padamu, tapi karena Hendra tahu jika Arlan mengingat identitasnya, Hendra akan jatuh miskin dan mendekam di penjara. Dan Ibu... Ibu tahu tentang surat ini. Dia menyembunyikannya agar aku tetap menjadi ahli waris tunggal."
Rayhan berdiri, ia berjalan menuju jendela yang menatap ke arah paviliun kosong. "Aku harus menemukan Arlan, Vanya. Dia harus tahu kebenaran ini. Harta ini bukan milikku. Aku tidak bisa hidup dalam kemewahan yang dibangun di atas pencurian hak saudaraku sendiri."
"Tapi Rayhan, Arlan sudah pergi tanpa meninggalkan alamat. Bagaimana kita bisa mencarinya tanpa menimbulkan kegaduhan baru?" tanya Vanya cemas.
"Aku akan menggunakan jaringan intelijenku secara pribadi. Aku tidak akan membiarkan hukum ini tergantung begitu saja. Arlan berhak mendapatkan kembali apa yang dicuri darinya," tegas Rayhan.
Di saat yang sama, di penjara wanita Delhi, Suman sedang duduk di pojok selnya. Wajahnya tidak lagi menunjukkan penyesalan. Dia justru terlihat sedang merencanakan sesuatu. Seorang pengacara masuk menemuinya, membisikkan sesuatu yang membuat senyum licik kembali muncul di bibir Suman.
"Hendra sudah bebas bersyarat karena kurangnya bukti fisik primer?" bisik Suman.
"Benar, Nyonya. Dia punya koneksi kuat di pengadilan tinggi. Dia sekarang sedang mencari Arlan untuk menyelesaikan apa yang dia mulai di taman malam itu," jawab sang pengacara.
Suman mengepalkan tangannya. "Bagus. Biarkan Hendra yang melakukan pekerjaan kotor itu. Jika Arlan lenyap, surat wasiat itu tidak akan berguna lagi. Dan Rayhan akan tetap menjadi pewaris tunggal, suka atau tidak suka."
Kembali ke Punjab, Arlan sedang berjalan menuju pasar desa ketika ia merasa ada sebuah mobil jeep yang membuntutinya dari kejauhan. Arlan mempercepat langkahnya, masuk ke dalam gang-gang sempit. Instingnya mengatakan bahwa kedamaian yang ia bangun selama beberapa bulan ini akan segera berakhir.
Arlan berhenti di sebuah sudut yang sepi, ia mengambil sebilah kayu yang tergeletak di tanah. Saat mobil itu mendekat dan dua orang pria bertubuh besar turun, Arlan sudah bersiap dalam posisi tempur.
"Siapa yang mengirim kalian? Hendra? Atau Suman?" tanya Arlan dengan nada dingin.
Para pria itu tidak menjawab, mereka langsung menyerang. Namun Arlan bukan lagi pria yang lemah. Dia melawan dengan kemarahan yang terpendam, menjatuhkan salah satu penyerang dengan satu tendangan kuat di dada. Perkelahian itu berlangsung cepat. Arlan berhasil membuat mereka kabur, namun ia tahu ini baru permulaan.
Arlan berlari kembali ke rumahnya. Ia menemukan ibunya sedang gemetar di dalam rumah. "Arlan... ada orang yang mengawasi kita."
Arlan memeluk ibunya. "Kita tidak aman di sini, Bu. Mereka sudah menemukan kita. Kita harus bergerak kembali. Tapi kali ini, aku tidak akan lari. Aku akan kembali ke Delhi, menemui Rayhan, dan menyelesaikan ini semua secara terbuka."