NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Operasi.

Lorong rumah sakit jantung itu panjang, dingin, dan beraroma antiseptik yang menusuk hidung. Lampu fluorescent berkedip pelan, menimbulkan bayangan tipis di lantai yang mengilap. Suara langkah kaki terdengar menggema setiap kali mereka melangkah, tap… tap… tap….

Hanna berdiri beberapa langkah di depan, matanya merah dan berkaca-kaca, tangan gemetar menggenggam lengan Kenzi. Suaranya serak ketika memanggil, “Cila…!”

Aki menunduk sedikit, menahan napas, dan mundur satu langkah. Bahunya tegang, tangan mengepal di saku jas laboratoriumnya. “Hanna… kami… Chika dan aku akan mencari dokter yang akan mengoperasi Cila,” ucapnya, suaranya datar tapi jelas mengandung tekad.

Chika ikut mundur, menatap Hanna dengan mata hijau mudanya yang berkilau. “Kami akan pastikan semuanya aman,” tambahnya, suaranya ceria tapi sedikit gemetar karena ketegangan yang mulai terasa. Rambut pirang kepangnya sedikit menempel di wajah karena keringat gugup.

Hanna mengangguk perlahan, bibirnya bergetar. “Baiklah… hati-hati kalian…”

Aki dan Chika melangkah ke arah ruang dokter, langkah mereka pelan tapi mantap. Di sepanjang lorong, mereka berdiskusi, suara mereka hampir terdengar hanya oleh satu sama lain.

“Chika… kau harus siap,” kata Aki sambil menatap matanya. “Kita harus membuat semua dokter pingsan sementara… hanya sementara… aku yang akan mengoperasi Cila. Kita tidak bisa membiarkan orang luar melihat ini.”

Chika mengangguk, memegang gagang tasnya erat-erat. “Siap… aku ikut arahanmu… tapi aku nggak mau kaget ya kalau tiba-tiba dokter-dokternya pingsan!”

Aki tersenyum tipis, mata menajam. “Tenang… semuanya sudah aku hitung. Ini tentang hidupnya… Cila.”

Mereka tiba di depan pintu ruang dokter. Aki menurunkan bahu, menarik napas panjang, dan meletakkan tangan di gagang pintu. Dengan satu gerakan cepat, dia mengaktifkan hologram penghalang berwarna biru transparan yang berputar lembut mengelilingi ruangan. Cahaya hologram itu memantulkan bayangan mereka di lantai, whirrr… hum…, menciptakan efek seperti gelembung pelindung yang membingungkan mata orang luar.

Chika menatap sekeliling, sedikit gemetar. “Wah… keren juga… kayak film detektif gitu…” bisiknya sambil mencondongkan kepala, rambut pirangnya bergoyang ringan.

Aki masuk lebih dulu, tangannya menekan tombol kecil pada pergelangan tangannya. “Saatnya.”

Di dalam, empat dokter sedang menyiapkan peralatan. Aki menggerakkan jari dengan cepat, hologram biru kecil muncul di tangan masing-masing dokter, menembus saraf sensorik mereka, dan plop… plop… plop…, dokter satu per satu terjatuh pingsan tanpa menimbulkan suara, seperti boneka yang direbahkan perlahan. Chika menahan napas, matanya melebar.

“Wha—Aki! Cepat… mereka pingsan!” bisik Chika sambil menutup mulutnya dengan tangan, tubuh menegang.

Aki menunduk, memeriksa semua dokter. “Berhasil… sekarang kita masuk.”

Dengan gerakan cepat, hologram berubah menjadi seragam dokter operasi lengkap—jas putih bersih, masker, dan pelindung wajah. Aki memasang modul pengubah suara di tenggorokannya. Suaranya berubah menjadi suara dokter berumur sedang, tenang, dan tegas. Chika melakukan hal sama, masker menutupi separuh wajahnya, modul suara aktif, membuat mereka berdua tidak lagi dikenali.

Chika menatap Aki dengan mata berbinar-binar tapi sedikit cemas. “Wow… aku beneran nggak keliatan kayak Chika lagi ya?”

Aki tersenyum tipis di balik masker, matanya berbinar penuh fokus. “Betul… sekarang fokus… jangan sampai ada yang curiga.”

Dari luar, suara monitor jantung terdengar berdegup kencang beep… beep… beep…, menambah ketegangan ruangan. Bau antiseptik dan alkohol menguar di hidung mereka, sementara bayangan peralatan medis berkilau di bawah lampu operasi yang terang, whirrr… click… hum….

Chika menepuk bahunya sendiri, menenangkan diri. “Oke… aku siap, Hero ke-6 Aki!”

Aki mencondongkan kepala ke depan, menatap layar data medis Cila. “Ini… semua tergantung kita sekarang.”

Suasana hening, hanya terdengar degup jantung mesin dan napas mereka sendiri. Setiap gerakan mereka diukur, setiap langkah diambil dengan presisi. Dunia di luar seolah menghilang—hanya mereka, hologram biru, dan operasi yang akan menentukan hidup Cila.

Chika menelan ludah, menatap Aki. “Aku rasa… ini pertama kalinya aku ngerasa deg-degan tapi juga seru gini…”

Aki tersenyum tipis, menepuk bahunya. “Tenang… kita bisa melakukannya. Bersama.”

...----------------...

Lorong rumah sakit dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk hidung, bercampur dengan aroma obat-obatan dan logam dingin dari peralatan medis. Lampu fluorescent menggantung di langit-langit, berkelap-kelip pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di lantai berkilap. Tap… tap… tap… suara langkah kaki mereka menggema saat Aki dan Chika mendorong kasur Cila ke arah ruang rawat.

Chika menahan napas di balik masker, matanya menatap setiap sudut ruangan, mencoba memastikan tidak ada yang curiga. “Aki… hati-hati ya… kita nggak boleh sampai ketahuan mereka,” bisiknya, suara pelan tapi tegang. Rambut pirangnya sedikit menempel di wajah karena keringat gugup, tangannya menekan tepian kasur.

Aki mencondongkan badan sedikit ke depan, satu tangan memegang penghalang hologram mini di pergelangan tangan, tangan lain menuntun kasur. Mata birunya tajam, menilai setiap langkah mereka. “Tenang… semuanya sudah aku hitung. Mereka tidak boleh tahu. Kalau mereka tahu… mereka akan panik… dan itu bisa mengacaukan operasi.”

Di belakang mereka, Hanna, Kenzi, Adhit, Indi, mama Cila, dan bunda Aki mengikuti dari jarak beberapa meter. Mata mereka lebar, langkah kaki berhati-hati, wajah tegang. Hanna menggenggam erat tangan Kenzi, bibirnya bergetar. “Aku… aku nggak tahu… apa yang harus kulakukan kalau Cila… kalau… kalau terjadi sesuatu…”

Chika menoleh sekilas ke arah mereka dan mengangkat tangan, memberi sinyal agar berhenti mendekat. “Hei… semua… tunggu di sini! Aku bilang… jangan lihat! Operasi sedang berlangsung… ini penting!”

Suara Chika yang tiba-tiba terdengar tegas membuat mereka semua terhenti. Mata Hanna melebar, sementara Kenzi menelan ludah, Adhit dan Indi saling pandang, ragu-ragu. Mama Cila menunduk, tangan memegang tas erat-erat, napas berat. Bunda Aki menepuk pundak Hanna, mencoba menenangkan, tapi matanya sendiri menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

Aki menunduk, menatap Chika sekilas, dan mengangguk. “Bagus… sekarang kita bisa lanjut. Tetap fokus.” Suaranya datar, tapi setiap kata mengandung ketegangan yang menahan adrenalinnya.

Mereka mendorong kasur sedikit demi sedikit ke ruang rawat. Creak… squeak…, roda kasur menimbulkan suara halus di lantai, setiap bunyi terdengar menggelegar di lorong sunyi. Lampu di ruang rawat menyala terang, memantulkan kilau logam instrumen operasi yang rapi di meja stainless steel.

Chika menarik napas panjang, menatap tubuh Cila yang terbaring di kasur, wajahnya pucat tapi tenang, tangan terlipat di samping tubuh, monitor jantung berdetak cepat beep… beep… beep…. Rambut hitamnya sedikit menempel di pipi karena cairan antiseptik. “Aki… ini dia… Vase pertama… katup jantungnya…”

Aki mencondongkan kepala, matanya menatap layar monitor yang menunjukkan tekanan dan aliran darah. Bibirnya mengecil, tangan cekatan memeriksa perangkat hologram mini untuk menyesuaikan data medis. “Semua stabil… Vase pertama berjalan normal… belum ada keanehan… tapi tetap… fokus. Jangan lengah.”

Chika mengangguk, tangannya menepuk sisi kasur untuk menenangkan diri, napasnya masih berat. “Tenang… aku nggak akan sampai ketahuan mereka. Kita berhasil menyamar. Aku nggak bilang siapa aku… dan kau juga… identitas kita aman.”

Aki tersenyum tipis di balik masker, matanya berkilau tajam. “Benar… mereka tidak boleh tahu. Tidak ada yang boleh panik. Operasi ini harus berjalan sempurna.”

Keduanya melangkah pelan, hati-hati, sambil menyesuaikan posisi kasur di tengah ruang. Cahaya lampu operasi jatuh sempurna, menerangi wajah Cila yang tenang. Hum… beep… tick…, suara monitor jantung, ventilator, dan pompa infus terdengar seperti musik tegang yang membangun atmosfer.

Chika menatap Aki, sedikit gemetar, tapi suara pelan dan tegasnya menguatkan diri. “Kita bisa… kita bisa buat ini berhasil… Vase pertama… semuanya… harus berjalan sempurna…”

Aki menunduk lagi, matanya menatap tangan Chika yang menepuk tepian kasur, tersenyum tipis. “Bersama… seperti selalu… kita akan pastikan dia selamat.”

Lorong di belakang mereka tetap hening. Hanna, Kenzi, Adhit, Indi, dan kedua bunda menunggu dengan tegang, mata tak lepas ke arah pintu. Mereka tidak tahu bahwa Aki dan Chika yang mereka lihat adalah versi penyamaran, identitas asli tersembunyi sempurna. Mereka semua tidak mencurigai bahwa kedua orang yang mendorong kasur itu—tenang, profesional, dan terkendali—adalah orang yang akan mengubah nasib Cila selamanya.

Beep… beep… beep… Jantung Cila berdetak stabil. Lorong tetap sunyi. Ketegangan memenuhi udara, tapi tidak ada yang tahu betapa rapuhnya keseimbangan ini.

...----------------...

Lampu operasi berpendar terang di atas kasur Cila, menyorot wajahnya yang masih pucat tapi tenang, napasnya stabil beep… beep… beep…. Alat bedah berkilau, refleksi cahaya jatuh ke tangan Aki yang bergerak presisi, setiap gerakan seperti tarian yang diulang ribuan kali. Tangannya cekatan menahan napas, memotong, mengangkat, menyesuaikan katup jantung Cila.

“Aku harap… dia selamat… dia tetap hidup…” Aki berbisik, bibirnya mengecil, mata birunya menatap setiap detil organ tubuh yang ia kenal sejak lama.

Chika, berdiri di sampingnya, tangan menggenggam Hero Sword yang bersinar lembut, menatap monitor jantung dengan wajah tegang. “Semoga saja… semoga Tuhan atau takdir bersikap adil…” Suaranya pelan, tapi napasnya masih cepat karena ketegangan.

Tiba-tiba, seluruh ruangan terasa aneh. Lampu operasi berkedip, warna merah dan biru berganti-ganti, bayangan berkelap-kelip di sudut ruangan. Rrrr… crack… beep… Suara monitor tersendat, alat infus bergetar, hologram instrumen medis tampak glitch, angka detak jantung Cila naik turun tak menentu.

Aki menengadah, mata melebar. “Chika! Ada apa ini?!”

Chika menelan ludah, menatap sekeliling. “Aki… ini… ini sama… seperti saat aku ketakutan kemarin… di dunia… glitch itu…” Rambut pirang-nya menempel di wajah karena keringat, tangan menekuk pegangan kasur untuk menahan gemetar.

Dari bayangan gelap di belakang pintu, sosok hitam muncul perlahan. Wujudnya samar, seperti asap pekat, tapi mata merah menyala. Suara bergema di lorong dengan nada dingin dan terputus-putus, “Dia… tetap harus mati… dia… tetap mati…”

Aki melompat mundur, hati berdebar kencang. “A…apa?! Mana ada… Hal seperti ini di dunia nyata?!”

Bayangan-bayangan itu mulai mendekat, bergerak cepat tapi senyap, seperti kabut hidup. Sementara itu, monitor jantung Cila berbunyi beep-beep-beep panik. Chika menatap mereka dengan mata melebar, langkahnya mundur tapi tetap memegang pedang.

“Hero Sword!! Aktif!!” teriak Chika. Pedang biru menyala, kilatan cahaya menerobos gelap ruangan, sinarnya membelah udara. Shiiing… crack… Setiap ayunan pedang menimbulkan percikan cahaya hologram, dan bayangan hitam terdorong mundur.

Chika melompat, menangkis satu bayangan yang menyerangnya dari sisi kanan. “Serangan bayangan!!” serunya, mengayunkan pedang horizontal, mengiris kabut hitam menjadi dua. Suara teriakan roh seperti desisan ular memecah kesunyian.

Bayangan lain menyerang dari atas, menekuk dan mengalir seperti asap. Chika menangkisnya dengan gerakan memutar, Whiiish…, pedang biru menyapu, memunculkan gelombang cahaya yang mengusir sebagian roh. “Blade Spiral!!” Chika berteriak sambil memutar pedangnya membentuk lingkaran cahaya di sekeliling tubuhnya, memaksa roh mundur.

Di saat yang sama, Aki menunduk, tangannya tetap stabil, menukarkan katup jantung Cila dengan hati-hati. Keringat menetes di dahi, mulutnya mengecil menahan napas. “Tetap fokus… Chika, aku… harus menyelesaikan ini… sekarang…”

Roh yang tersisa mengepung mereka, bergerak cepat, menimbulkan glitch di seluruh ruangan—dinding seperti retak, lantai bergetar, bayangan bergerak menembus tubuh Chika. Chika meloncat ke belakang, pedangnya berputar, melindungi Aki. “Shadow Cutter!!” Cahaya biru memancar, mengiris satu roh menjadi serpihan asap yang langsung menghilang.

Aki menengadah sesaat, menatap Chika. “Hati-hati! Mereka… tidak bisa menyerang tubuh Cila, tapi energi negatifnya… bisa membuat operasi gagal!”

Chika mengangguk, napas memburu, dan melompat ke depan lagi, mengayunkan pedang dari kiri ke kanan. “Phantom Slash!!” Gelombang cahaya melingkar, menembus bayangan-bayangan, sebagian besar tersingkir, namun beberapa masih tetap muncul dari dinding glitch.

Di tengah kekacauan itu, monitor jantung Cila mulai stabil perlahan, beep… beep… beep… menjadi ritme normal. Aki menarik napas lega, tetap fokus, tangannya cekatan menempatkan katup jantung dengan sempurna.

Chika, tubuhnya berotot menegang, napasnya cepat, matanya bersinar biru dari cahaya pedang. “Ini… hampir selesai… jangan sampai mereka menghancurkan misi ini!”

Roh terakhir muncul di depan Cila, besar, hitam pekat, mata merah menyala, seperti kabut hidup. Chika menatap tajam. “Final Strike!!” Pedangnya berputar cepat, mengirim gelombang cahaya biru besar yang menghantam roh itu, memuntahkan percikan glitch dan suara eror CRRRAAAAACKKK… sebelum akhirnya roh itu hancur menjadi serpihan asap hitam yang menghilang dari dunia.

Lorong dan ruangan kembali normal, lampu stabil, monitor jantung Cila berdetak normal beep… beep… beep…, aroma antiseptik kembali murni. Chika terengah-engah, pedangnya masih menyala lembut, keringat menetes di wajah pirangnya.

Aki menatap wajah Cila, tersenyum tipis meski bibirnya masih menegang. “Selesai… Vase pertama berhasil… dia… masih hidup.”

Chika menatap Aki dengan mata hijau gemetar, napas tersengal. “Huh… aku… aku nggak pernah lihat sesuatu seaneh dan serem ini… tapi berhasil… kita berhasil…”

Aki menunduk, menepuk punggung Chika dengan lembut. “Kau hebat… Knight-ku. Tanpa kau, roh-roh itu bisa membuat operasi gagal. Sekarang, kita selamatkan dia sepenuhnya.”

Ruang operasi sunyi, hanya suara monitor yang berdetak stabil. Lampu operasi bersinar lembut, tapi bayangan glitch perlahan masih menari-nari di sudut pandang Chika—seolah dunia ini masih tidak sepenuhnya kembali normal, memberi kesan horor halus yang menempel di kulit mereka.

...----------------...

Malam itu, lampu ruang operasi bersinar lembut, cahaya putih menyorot permukaan steril meja operasi. Aroma antiseptik masih tercium samar di udara hangat. Chika, dengan napas tersengal karena tegang sekaligus senang, menekan tombol kecil di Hero Sword-nya hingga pedang biru itu padam. Ia melompat ringan ke arah Aki, kedua tangan menekan pundak Aki dengan semangat.

“Bagaimana? Bagaimana, Aki?!” Chika berseru, matanya berbinar seperti lampu sorot kecil, rambut pirang pucatnya sedikit beterbangan karena gerakan cepatnya.

Aki menunduk sebentar, menatap wajah Chika, lalu tanpa menahan diri, ia menarik Chika ke pelukannya. Bahunya gemetar karena menahan tangis, suara bergetar keluar dari dada. “Chika… Kita berhasil… Kita berhasil! Cila… dia berhasil melewati operasi!!”

Chika terkejut, matanya melebar, lalu spontan melompat kecil di pelukan Aki sambil memeluk balik. “A… Aki!! Selamat!! Akhirnya!! Perjalanan kita selama ini membuahkan hasil!!” Suaranya nyaris pecah, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.

Aki menarik napas panjang, menepuk punggung Chika perlahan, menenangkan diri, lalu melepaskan pelukan. Matanya segera menatap kasur operasi yang tertutup selimut biru lembut. “Ayok, Chika… Kita antar dia ke ruang rawat.”

Mereka mendorong kasur Cila keluar dari ruang operasi. Roda kasur berderit pelan, crr… crr…, suara lembut yang biasanya tidak terdengar mengingatkan mereka akan kesunyian ketegangan sebelumnya.

Di luar, semua teman dan keluarga menunggu, wajah mereka terpaku antara lega dan penasaran. Mata mereka melebar saat melihat Aki dan Chika masih mengenakan pakaian dokter—jas putih, masker tergantung di dagu, topi bedah sedikit miring.

Aki menyadari ekspresi terkejut mereka dan buru-buru tersadar, tapi tetap berusaha terdengar santai. “Sudah… operasi selesai,” ujarnya dengan nada dingin tapi ringan, tangan menepuk pinggangnya.

Indi, wajahnya terbuka antara penasaran dan tak percaya, menatap Aki. “Eh… kenapa kau ada di dalam? Dan… dokter yang mengoperasi Cila… kemana?”

Chika, dengan tatapan penuh percaya diri, melangkah ke depan, menepuk pundak Hanna untuk menenangkan temannya, lalu berkata cepat, “Tenang… mereka sudah keluar lewat pintu belakang. Aku… aku yang bantu operasi ini… lancar… karena… eh… aku lulusan kedokteran di Jepang!”

Semua terdiam. Mata Hanna melebar, mulut sedikit menganga, sementara Adhit dan Kenzi saling bertukar pandang tak percaya. Mama Cila menatap Chika, alisnya mengernyit.

“Lah… jadi selama ini…” suaranya tercampur antara heran dan kagum.

Aki, menepuk jidatnya sendiri pelan, hampir tertawa karena alasan Chika yang ngawur. “Iya… aku yang… menyembunyikan ini. Chika sebenarnya lulusan kedokteran di Tokyo,” ujarnya sambil menyerahkan surat lulusan yang ia buat sendiri menggunakan teknologi dari dunia lama. Surat itu tampak resmi, cap hologram berkilau lembut.

Adhit melompat, melambaikan tangan. “CIHUY!! CHIKA PENYELAMAT CILA!! HIDUP CHIKA!!” Sorakannya memenuhi lorong rumah sakit, mengundang tawa ringan semua orang.

Hanna segera memeluk Chika sambil menangis keras. “CHIKA!! TERIMAKASIH, TERIMAKASIH BANYAK!!” Suara tangisnya teredam sedikit oleh masker yang digantungkan, tapi mata dan ekspresinya penuh rasa syukur.

Mama Cila, menunduk sambil memeluk Chika, suaranya bergetar tapi lembut. “Tanpa bantuanmu, anakku… tidak akan selamat.”

Chika menatap semua orang dengan mata bersinar, pipinya memerah karena malu dan senang. “Ah… aku hanya ikut membantu… kalian semua hebat juga…”

Aki tersenyum tipis, matanya menatap Cila yang tertidur di kasur, napasnya stabil dan wajahnya damai. “Akhirnya… momen yang aku tunggu-tunggu… selesai,” gumamnya pelan, menepuk pundak Adhit dengan lembut.

Adhit, masih antusias, menepuk punggung Aki. “Wah… aku cukup senang… Aki… Tante… selamat ya.”

Aki mengangguk, matanya menyapu seluruh ruangan, memastikan Cila aman, lalu berkata pelan, “Yoi… Mari kita antar Cila ke ruang rawatnya… hati-hati dengan kasurnya.”

Chika tersenyum, menatap Aki sebentar, lalu menunduk ringan sambil berkata, “Sampai di sana… aku akan tetap menjaga dia. Jangan khawatir, Hero-ku ini siap melindungi semua orang.”

Kasur itu digeser perlahan, roda berdecit halus, cahaya lampu lorong memantul di lantai steril, dan untuk beberapa saat, mereka semua berjalan dalam keheningan yang damai, rasa lega dan bahagia menyelimuti hati mereka, sementara sisa malam terasa hangat meski dunia sebelumnya penuh horor.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!