Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 29_Proyek Pertama
"Hati-hati, Mas. Jangan memaksakan beban berat kalau bahumu perih," pesan Arumi.
Adrian mengangguk, lalu melangkah keluar mengenakan kaos oblong yang sudah dicuci bersih namun tetap meninggalkan noda semen permanen.
Di dalam hatinya ia merasa sebuah ironi yang luar biasa, ia adalah pemilik gedung-gedung tertinggi di Jakarta, namun saat ini, kebahagiaannya hanya bergantung pada apakah seorang pemilik toko material kecil bersedia memberikan proyek renovasi pada istrinya.
Toko Material "Sumber Jaya" terletak di jalan raya yang berjarak dua kilometer dari kontrakan mereka.
Pak Haji, seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan sarung yang selalu tersampir di pundak, sedang sibuk memeriksa catatan stok kayu saat Adrian tiba.
"Ian! Baru datang kau? Cepat bantu turunkan triplek itu!" seru Pak Haji.
Adrian segera bekerja, selama dua jam pertama, ia fokus menyelesaikan tugas fisiknya.
Setelah semua triplek tertata rapi, ia memberanikan diri mendekati meja kayu tempat Pak Haji duduk.
"Pak Haji, saya dengar Pak Haji ingin merenovasi kantor kecil di belakang itu supaya lebih enak buat terima tamu?" tanya Adrian sambil mengelap keringat dengan handuk kecil.
Pak Haji mendongak.
"Iya. Tapi aku malas panggil kontraktor besar, mahal dan ujung-ujungnya cuma disuruh beli keramik mahal padahal aku cuma mau tempat yang rapi buat hitung uang." serunya.
"Istri saya Arumi, dia desainer Pak, dia baru saja menang penghargaan internasional di Singapura," Adrian mencoba mempromosikan Arumi.
Pak Haji tertawa renyah. "Ah, kau jangan bercanda, Ian. Istri pemenang internasional mana mau tinggal di gang kumuh begitu dan punya suami kuli bangunan sepertimu?"
Adrian tidak tersinggung, ia justru sudah menyiapkan senjatanya, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar sketsa yang dibuat Arumi pagi tadi.
"Ini sketsa awalnya, Pak. Gratis untuk Bapak lihat dulu. Dia bilang, Bapak tidak perlu beli barang baru. Cukup gunakan sisa-sisa kayu jati belanda dan sisa cat dari gudang Bapak sendiri. Dia yang akan atur tata letaknya agar terlihat seperti kantor mewah."
Pak Haji mengambil kertas itu dengan tangan yang kasar, matanya menyipit, ia mungkin bukan ahli seni tapi ia tahu barang bagus.
Desain Arumi menunjukkan bagaimana memanfaatkan sudut sempit kantor Pak Haji menjadi ruang yang efisien namun tampak sangat modern dengan gaya industrial.
"Wah... ini bagus. Simpel tapi keren," gumam Pak Haji.
"Berapa dia minta bayaran?" tanya pak haji.
"Dia tidak minta mahal, Pak. Seikhlas Bapak untuk tahap awal. Tapi kalau Bapak suka hasilnya, Bapak bisa bantu promosikan ke teman-teman kontraktor Bapak yang lain."
Pak Haji mengangguk mantap. "Panggil dia ke sini jam satu siang nanti. Kita bicara."
Pukul satu siang, Arumi datang ke toko material dengan pakaian yang sangat rapi, kemeja biru langit dan celana kain hitam.
Ia membawa tas yang berisi alat tulis dan beberapa contoh kain murah, Adrian menyambutnya di depan gerbang toko, wajahnya yang kusam karena debu langsung cerah melihat Arumi.
"Pak Haji sudah menunggumu di belakang, Sayang," bisik Adrian memberi semangat.
Namun, saat mereka berjalan menuju kantor kecil di bagian belakang toko, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak masuk ke halaman toko material.
Seorang pria keluar dari mobil itu, ia mengenakan kemeja bermerek dan kacamata hitam.
Arumi membeku. Pria itu adalah Dion.
Dion adalah teman kuliah Arumi, sekaligus pria yang dulu pernah menolak Arumi saat Arumi menyatakan perasaannya di tahun kedua kuliah.
Alasan Dion saat itu sangat menyakitkan yaitu "Kau terlalu miskin untuk berada di lingkaran sosialku, Arumi. Bakatmu bagus, tapi kau tidak punya koneksi."
Kini, Dion tampaknya sedang sukses, ia menjalankan perusahaan pengembang perumahan skala menengah.
"Arumi?" Dion melepas kacamata hitamnya, menatap Arumi dengan tatapan meremehkan yang sama seperti beberapa tahun lalu.
"Apa yang kau lakukan di tempat kotor seperti ini? Jangan bilang kau jadi kasir di sini?" tanyanya seperti sedang mengejek.
Arumi menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya.
"Aku ada urusan profesional di sini, Dion." jawab Arumi.
Dion kemudian melirik Adrian yang berdiri di samping Arumi, ia tertawa kecil melihat pakaian Adrian yang kotor oleh debu semen.
"Dan ini siapa? Pembantumu? Atau... oh, jangan bilang ini suamimu yang kuli itu?" tanyanya lagi.
Adrian melangkah maju, tangannya yang pecah-pecah mengepal, namun Arumi menahan lengannya Arumi menatap Dion dengan berani.
"Iya, ini suamiku. Namanya Ian dan dia adalah pria yang jauh lebih terhormat daripada kau." ucap Arumi dengan suara tenang namun tajam.
"Hahaha, selera kamu benar-benar jatuh ke dasar jurang, Arumi," ejek Dion.
"Pak Haji! Pak Haji!"
Pak Haji keluar dari kantornya. "Ada apa, Tuan Dion? Kayu pesanan Anda sudah siap dikirim."
"Pak Haji hati-hati kalau mau pakai jasa wanita ini." Dion menunjuk Arumi.
"Dia desainer gurem, dia tidak punya kelas kalau Anda mau kantor Anda bagus, saya punya tim profesional. Jangan pakai orang yang bahkan suaminya saja cuma sanggup angkut semen."
Pak Haji menatap Arumi, lalu menatap Dion, suasana menjadi tegang.
Adrian merasa ingin sekali menghubungi Hendra dan menyuruhnya membeli seluruh perusahaan Dion saat itu juga untuk menghancurkannya, namun ia menahan diri. Ini adalah panggung Arumi.
Arumi tidak membalas hinaan Dion, ia justru berjalan menuju meja Pak Haji dan membentangkan sketsanya di depan Dion dan Pak Haji.
"Tuan Dion, Anda bicara soal kelas," ucap Arumi sambil menunjuk detail sketsanya.
"Dalam desain saya untuk Pak Haji, saya menggunakan sisa material yang ada di gudang ini untuk menciptakan efisiensi biaya sebesar 70%. Sementara tim profesional Anda pasti akan menyarankan Pak Haji membongkar segalanya dan membeli material baru yang mahal hanya agar Anda bisa mendapatkan komisi dari vendor."
Arumi beralih menatap Pak Haji. "Pak Haji, kantor ini bukan soal gengsi untuk pamer ke orang kaya seperti Tuan Dion. Kantor ini adalah jantung usaha Bapak. Desain saya memastikan Bapak bisa mengawasi truk masuk dan keluar sambil tetap bisa menghitung uang dengan tenang tanpa terganggu debu jalanan. Saya menggunakan prinsip aerodinamika sederhana untuk ventilasi alami agar Bapak tidak perlu pasang AC yang boros listrik."
Pak Haji terdiam, ia melihat sketsa itu lalu melihat ke arah Dion yang tampak kesal.
"Dion, pesanan kayumu sudah selesai. Silakan pergi," ucap Pak Haji tegas.
"Aku lebih suka ide Arumi, dia mengerti apa yang aku butuhkan sebagai pedagang, bukan sebagai orang pamer."
Dion mendengus kesal. "Terserah Anda, Pak Haji. Jangan menyesal kalau kantor Anda jadi seperti bedeng proyek." Ia masuk ke mobilnya dan melesat pergi, meninggalkan kepulan debu.
Pak Haji menepuk bahu Adrian. "Istrimu punya nyali, Ian. Baiklah, Arumi. Ini uang muka satu juta rupiah. Selesaikan desain detailnya dan mulai minggu depan kita renovasi. Ian, kau yang akan jadi mandornya, kau paham kan maksud desain istrimu ini?"
Adrian tersenyum lebar. "Siap, Pak Haji!"
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡