"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-enam belas
Dua jam sebelum pesta dimulai, suasana di lantai eksekutif Hotel Grand Suhadi sangat sibuk. Monica dan Raisa berada di salon hotel, sibuk dengan riasan mereka yang berlebihan. Sementara itu, di kamar suite Najwa, pintu terkunci rapat dari dalam.
Azizah yang datang dengan gaun sederhana namun elegan dan Rukayyah dengan abaya hitamnya , serta niqab yamannya yang menutupi wajah cantiknya sudah berada di sana. Wajah mereka serius saat melihat gaun midnight blue yang terbentang di atas tempat tidur.
"Astaghfirullah, Najwa... ini keterlaluan," bisik Azizah sambil memeriksa jahitan punggung gaun itu dengan mata telitinya sebagai istri seorang dokter. "Ini bukan sekadar jahitan yang lepas. Ini sengaja dirancang untuk hancur. Benangnya adalah jenis benang rapuh yang biasanya dipakai untuk jahitan sementara saat fitting, bukan untuk baju pesta!" ucap Azizah yang sedikit syok .
Rukayyah mengangguk setuju sambil menyentuh gaun indah itu. "Tante Monica benar-benar tidak punya hati. Dia ingin kamu menanggung malu seumur hidup di depan para menteri dan pengusaha itu." timpal Rukayyah menggelengkan kepalanya, tidak menyangka , sikapnya begitu licik, benar kata kak Zora, wajah-wajah sosialita yang gemar bersedekah di berbagai badan amal , ternyata menyimpan kebusukan yang tidak pernah orang tahu.
Najwa menatap gaun itu dengan tenang, namun ada kilat ketegasan di matanya. "Najwa tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, Kak. Tapi Najwa tidak boleh membiarkan mereka menghina martabat kita."
"Tenang, Sayang," Azizah membuka tas besarnya, mengeluarkan sebuah kotak alat jahit profesional dan jubah luar /outer berbahan brokat perak yang sangat mewah namun bersahaja milik Rukayyah yang belum pernah di pake . "Rukayyah sudah siapkan ini. Kita tidak punya waktu untuk menjahit ulang seluruh gaun ini dengan kuat, tapi mbak punya ide."
"Ayo, Rukayyah, bantu aku!" seru Azizah.
Selama satu jam berikutnya, suasana kamar itu berubah menjadi bengkel jahit darurat.
Azizah dengan jemari tangannya yang sangat stabil, biasa melihat suaminya menjahit luka pasien, membuat ia bisa seperti seorang terlatih, ia memperkuat bagian-bagian vital gaun itu dengan benang sutra yang ia bawa. Ia tidak hanya menjahit, tapi melakukan teknik double-lock agar gaun itu mustahil sobek.
Rukayyah membantu memadupadankan jubah perak tersebut di atas gaun biru Najwa. Jubah itu berfungsi ganda: sebagai pelindung jika jahitan asli tetap bermasalah, sekaligus menambah kesan agung dan elegan yang tidak dimiliki gaun aslinya.
"Selesai!" Azizah menyeka keringat di dahinya. "Sekarang, Najwa, pakai ini. Pakai jubahnya di luar. Jika Tante Monica bertanya, katakan saja ini pemberian dari sepupu-sepupumu dari pesantren agar kamu merasa lebih nyaman."
Najwa keluar dari ruang ganti. Penampilannya berubah total. Gaun biru itu kini hanya terlihat sedikit di bagian bawah, sementara jubah perak di luarnya memberikan kesan seperti seorang putri dari Timur Tengah yang sangat berwibawa.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan keras.
Tok
Tok
Tok
"Najwa! Sudah siap belum? Kakek sudah menunggu di bawah!" itu suara Raisa yang terdengar tidak sabar. "Buka pintunya, aku mau lihat kamu pakai gaunnya!"
Rukayyah memberikan kode pada Najwa. "Jangan dibuka dulu, Najwa. Biar Mbak yang bicara."
Rukayyah memakai niqabnya yang tadi ia lepas lalu membuka pintu sedikit. Raisa langsung mencoba melongok ke dalam dengan mata penuh rasa ingin tahu dan seringai licik.
"Oh, Kak ?" Raisa terkejut. "Najwa mana? Kenapa pintunya dikunci?"
"Najwa sedang dirias oleh Azizah, Raisa," jawab Rukayyah dengan nada elegan seorang istri pengusaha sukses. "Maaf ya, Najwa sedang butuh ketenangan. Kami ingin dia tampil sempurna. Kenapa kamu tampak tegang sekali? Takut Najwa lebih cantik darimu?"
Raisa mendengus, wajahnya memerah. "Halah, mana mungkin. Aku cuma mau memastikan gaun kakek pas di badannya. Jangan sampai dia malu-maluin keluarga." selanya, menatap tidak suka pada saudara Najwa yang menurut Raisa juga kampungan, terlihat dari pakaian nya yang seperti ninja .
"Jangan khawatir," Azizah menimpali dari dalam dengan suara tegas. "Najwa tidak akan memalukan siapa pun malam ini. Justru mungkin ada orang lain yang akan merasa malu karena rencananya gagal total." sindirnya.
Raisa tersentak mendengar kalimat Azizah. Ia menatap kedua kakak sepupu Najwa itu dengan benci, lalu pergi dengan langkah menghentak.
Rukayyah menutup pintu kembali dan menatap Najwa. "Dia sudah mulai panik. Sekarang, saatnya kamu turun dan tunjukkan pada mereka siapa Najwa Suhadi yang sebenarnya."
Najwa mengangguk, ia memegang tangan kedua kakak sepupunya. "Terima kasih, Mbak. Doakan Najwa tetap tenang."
***
Lampu kristal raksasa di ballroom Grand Suhadi berpijar terang, menerangi ratusan tamu dari kalangan elit. Monica berdiri di samping Afkar dengan senyum kemenangan yang tertahan, matanya terus melirik ke arah pintu besar, menanti drama "gaun robek" yang ia impikan.
"Kenapa dia lama sekali, Afkar? Apa dia terlalu malu untuk keluar?" bisik Monica dengan nada pura-pura khawatir.
"Sabar, Monica. Najwa sedang bersama sepupu-sepupunya," jawab Afkar tenang...
Raisa juga sudah tidak sabaran,ia bergabung dengan teman-temannya, siap dengan kameranya masing-masing untuk mengabadikan pertunjukan yang menyenangkan.
Tiba-tiba, pintu besar terbuka. Musik orkestra yang tadinya riuh mendadak merendah, digantikan oleh gumaman kagum dari para tamu.
Najwa melangkah masuk. Ia tampak luar biasa anggun dalam balutan jubah perak yang berkilauan, menyembunyikan gaun sabotase di bawahnya dengan sempurna. Di sisi kiri dan kanannya, berdiri dua wanita yang memancarkan aura wibawa yang sangat kuat.
"Tunggu... bukankah itu Istri Dokter dokter Anwar...Ahli bedah saraf dan forensik terbaik yang sering masuk berita nasional itu?" bisik seorang menteri yang berdiri di dekat Monica.
"Dan lihat wanita di sebelahnya! Itu nyonya Rukayyah, istri dari pengusaha teknologi Buana group, Tuan Hilman! Mereka jarang sekali muncul di pesta umum," timpal tamu lainnya.
Wajah Monica memucat. Gelas juice di tangannya bergetar. Ia menoleh ke arah Raisa yang sama kagetnya. Raisa langsung mendekat ke arah mamanya.
"Ma... kenapa mereka bisa ada di sini? Dan kenapa mereka menggandeng Najwa seperti adik kandung sendiri?" bisik Raisa dengan suara gemetar.
Kakek Suhadi tertawa lebar, ia melangkah maju menyambut cucu dan kerabatnya. "nyonya Azizah! Nyonya Rukayyah! Senang sekali kalian bisa hadir menjaga Najwa!"
Najwa menyalami kakeknya, lalu menatap Monica. Senyum Najwa begitu tulus, namun di mata Monica, senyum itu terasa seperti pedang yang menghunus.
"Mama Monica, perkenalkan, ini mbak Azizah dan mbak Rukayyah. Mereka sepupu-sepupuku dari jalur Ibu," ucap Najwa lembut. "Mereka sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan keluarga besar Papa."
Azizah melangkah setapak ke depan, menatap Monica dengan pandangan tajam seperti seorang istri dokter yang sedang membedah masalah. "Selamat malam, Nyonya Monica. Najwa banyak bercerita tentang betapa 'perhatiannya' Anda padanya. Terutama soal... gaun yang Anda pilihkan. Beruntung saya sempat 'memeriksanya' tadi, karena sepertinya ada kesalahan teknis pada jahitannya."
Kalimat Azizah seperti petir di siang bolong bagi Monica. Ia tahu rencana pertamanya sudah hancur total.
"Ah... i-itu... syukurlah kalau kalian bisa membantunya," gagap Monica, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya di depan para tamu penting yang mulai memperhatikan mereka.
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong