Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Dingin Mei Lanyue
Gunung Awan Biru diselimuti cahaya keemasan yang lembut. Di tepi tebing belakang sekte, tempat angin berhembus lebih kencang dan suara murid-murid tak lagi terdengar, Qiu Liong duduk bersila sendirian.
Tempat ini adalah satu-satunya ruang di mana ia tidak perlu menunduk.
Di depannya, lautan awan membentang seperti samudra putih tanpa ujung. Saat pertama kali datang ke sekte bertahun-tahun lalu, ia pernah berdiri di sini bersama murid-murid baru lainnya.
Dan di antara mereka, ada seorang gadis yang tak pernah bisa ia lupakan.
Langkah kaki lembut terdengar di belakangnya.
Qiu Liong tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
Aroma bunga plum yang samar terbawa angin.
“Tempat ini masih menjadi pelarianmu rupanya,” suara itu terdengar jernih dan dingin.
Ia menoleh perlahan.
Mei Lanyue berdiri beberapa langkah darinya, jubah biru mudanya berkibar halus. Rambut hitamnya tergerai rapi, wajahnya cantik dengan garis yang tegas. Namun yang paling mencolok selalu matanya bening, tajam, dan… jauh.
Qiu Liong berdiri, memberi hormat singkat. “Kakak Mei.”
Gadis itu mengangguk tipis.
Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam, memandang lautan awan.
“Aku melihat duelmu kemarin,” ucap Mei Lanyue akhirnya.
Jantung Qiu Liong bergetar pelan.
Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan bahwa ia kalah, atau bahwa ia kalah di hadapannya.
“Aku tahu,” jawabnya singkat.
“Aku tak mengerti,” lanjut Mei Lanyue, suaranya tetap tenang. “Mengapa kau terus memaksakan diri?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Qiu Liong, ia seperti pisau yang memutar perlahan di dalam dada.
“Memaksakan diri?” ulangnya pelan.
“Kau tahu kondisi akar spiritualmu,” katanya. “Para tetua sudah menjelaskan berkali-kali. Jalan kultivasi bukan hanya tentang kerja keras. Ada batas yang tak bisa dilampaui.”
Angin berembus lebih kencang. Ujung lengan jubah Qiu Liong bergetar.
“Menurutmu aku harus menyerah?” tanyanya.
Mei Lanyue tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke lautan awan.
“Aku hanya tak ingin melihat seseorang menghancurkan dirinya untuk sesuatu yang tak mungkin,” katanya akhirnya. “Kau terus melukai meridianmu. Jika ini berlanjut, bukan hanya kultivasimu yang hancur. Tubuhmu juga.”
Ada nada tipis dalam suaranya bukan ejekan. Bukan kebencian.
Kepedulian.
Namun kepedulian yang dingin.
Qiu Liong tertawa kecil, pahit. “Kau khawatir padaku?”
Mei Lanyue menoleh. Mata mereka bertemu.
Tatapan itu… tidak lembut.
“Aku tidak ingin sekte kehilangan murid karena keras kepala,” jawabnya.
Jawaban itu sederhana. Rasional.
Namun bagi Qiu Liong, rasanya seperti jarak yang tak terjembatani.
Ia menatap gadis di depannya gadis yang selalu menjadi simbol sesuatu yang tak bisa ia raih. Bakat alami. Ketenangan. Masa depan yang cerah.
Sementara ia?
Hampir nol.
“Apa kau pernah merasa…” Qiu Liong berhenti sejenak, mencari kata. “Bahwa hidupmu sudah ditentukan sejak awal?”
Mei Lanyue mengernyit tipis.
“Jika sejak lahir seseorang sudah dilabeli tak berbakat,” lanjutnya, “apakah ia harus menerima itu selamanya?”
Angin membawa suara napas mereka yang tak sinkron.
“Takdir bukan sesuatu yang bisa diubah dengan emosi,” jawab Mei Lanyue. “Ia dihadapi dengan kebijaksanaan.”
“Kebijaksanaan atau kepasrahan?” balas Qiu Liong.
Untuk pertama kalinya, mata dingin itu bergetar tipis.
Namun hanya sesaat.
“Qiu Liong,” ucapnya pelan, “kau bukan lemah karena orang lain menertawakanmu. Kau lemah karena kau menolak menerima batasmu.”
Kalimat itu jatuh lebih berat daripada pukulan Zhao Wuchen.
Qiu Liong terdiam.
Ia menatap tangannya sendiri. Tangan yang penuh kapalan, bekas latihan bertahun-tahun.
Jika ia menerima batasnya…
maka semua rasa sakit ini tak ada artinya.
Ia mengangkat wajahnya.
“Kalau suatu hari aku melampaui batas itu,” katanya pelan namun jelas, “apa kau masih akan menatapku dengan mata sedingin itu?”
Mei Lanyue tidak menjawab.
Tatapannya kembali ke lautan awan, seolah pertanyaan itu tak layak dijawab.
Beberapa detik kemudian, ia berbalik.
“Keras kepala bukanlah kekuatan,” katanya sebelum melangkah pergi. “Berhentilah sebelum kau benar-benar hancur.”
Langkahnya menjauh, meninggalkan Qiu Liong sendiri di tepi tebing.
Angin sore terasa lebih dingin.
Ia berdiri lama setelah sosok biru itu menghilang di tikungan jalan batu.
“Menerima batas…” gumamnya pelan.
Matanya perlahan berubah.
Jika mata Mei Lanyue sedingin es…
maka ia akan menjadi api yang tak bisa dibekukan.
Hari ini, mungkin ia masih pecundang di matanya.
Namun suatu hari nanti…
ia akan membuat mata dingin itu tak lagi mampu memandangnya sebagai seseorang yang bisa diremehkan.
jangan bikin kecewa ya🙏💪