Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sky Yang posesif
Pemandangan di ruang kuliah hari itu benar-benar menjadi buah bibir. Sky Remington, kini seolah enggan melepaskan satu inci pun jarak dari Ozora. Sepanjang kelas berlangsung, tangannya melingkar posesif di pinggang Ozora, sesekali jemarinya mengusap lembut sisi perut gadis itu di balik meja, membuat Ozora hanya bisa menunduk dengan wajah merona merah.
Phoenix, yang duduk beberapa baris di belakang mereka, hanya bisa memutar bola matanya melihat pemandangan haus kasih sayang itu. Ia merogoh ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Sky.
Phoenix: "Hey Remington! Kau benar-benar membuat Ozora tidak bisa bernapas. Berikan dia ruang sedikit, sobat. Kau terlihat seperti balita yang takut kehilangan bonekanya."
Sky merasakan getaran di sakunya. Ia membaca pesan itu tanpa melepaskan rangkulannya. Alih-alih merasa terganggu, Sky justru semakin mengeratkan pelukannya dan membalas chat Phoenix dengan satu tangan.
Sky: "Diam lah, Phoenix. Aku hanya sedang menebus waktu yang terbuang. Urus saja urusanmu sendiri."
Teman-teman Sky yang lain, yang biasanya melihat Sky sebagai sosok pemimpin yang dingin dan rasional, hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka belum pernah melihat Sky se-posesif ini. Atmosfer di sekitar Sky seolah memancarkan aura peringatan, "Siapa pun yang berani meliriknya, kalian berurusan denganku."
Ozora, di sisi lain, tampak sangat tenang. Meskipun ia berpura-pura malu dan gugup, di dalam hatinya ia merasa sangat puas.
Suasana di area loker kampus mendadak mencekam saat Beatrice, teman dekat Anastasia dan Stevani, datang menghadang langkah Ozora. Stevani berdiri di sampingnya dengan tangan bersedekap, menatap Ozora dengan tatapan yang penuh dengan kecurigaan dan rasa dikhianati.
"Hey, Ozora," ucap Beatrice dengan nada suara yang rendah namun tajam. "Bisa kita bicara sebentar?"
Ozora berhenti, ia memeluk buku-bukunya erat ke dada, memasang wajah polos dan sedikit bingung yang menjadi ciri khasnya. "Ada apa, Bea? Stevani?"
Stevani melangkah maju, matanya menyipit tajam. "Apa kamu sedang mencoba mengkhianati sirkel kita, Ozora?" tanya Stevani tanpa basa-basi. "Sejak kapan kamu sebenarnya berpacaran dengan Sky? Kamu selalu duduk diam di antara sky dan Anastasia, bersikap seperti gadis baik-baik yang tidak tahu apa-apa."
Beatrice menyambung dengan nada yang lebih sinis, "Anastasia memang salah karena berselingkuh, kami akui itu. Tapi kamu dan Sky? Rasanya terlalu cepat jika kalian baru mulai sekarang. Apa kalian selama ini sudah berhubungan di belakang Anastasia?"
Ozora terdiam sejenak, ia menunduk seolah-olah merasa terintimidasi oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, di balik poni rambutnya, matanya berkilat dingin.
"Aku tidak pernah mengkhianati siapa pun," gumam Ozora dengan suara yang bergetar pelan, memberikan kesan bahwa ia sedang tersakiti oleh tuduhan itu. "Sky yang datang padaku setelah semuanya berakhir dengan Anastasia. Aku hanya... aku hanya tidak bisa menolaknya karena aku juga memiliki perasaan padanya sejak lama."
"Oh, jadi kamu menunggu di bayang-bayang sampai Anastasia jatuh?" cecar Stevani dengan tawa mengejek. "Sangat licik untuk seseorang yang terlihat 'murni' sepertimu."
Tepat saat itu, sebuah tangan kokoh melingkar di bahu Ozora dari belakang. Sky muncul dengan wajah yang sangat gelap, menatap Beatrice dan Stevani dengan tatapan yang bisa membunuh.
"Apa ada masalah di sini?" tanya Sky dengan suara berat yang menggelegar.
Beatrice dan Stevani seketika bungkam. Mereka tidak menyangka Sky akan muncul secepat itu.
"Kami hanya sedang mengobrol, Sky," ucap Beatrice dengan gugup, mencoba memperbaiki raut wajahnya.
Sky tidak peduli. Ia menarik Ozora lebih dekat ke sisinya, melindunginya sepenuhnya. "Jika aku mendengar kalian menginterogasinya lagi atau menyebutnya pengkhianat, kalian tidak akan hanya berurusan denganku, tapi juga dengan pihak keamanan kampus karena tindakan perundungan. Pergi sekarang," perintah Sky dengan nada mutlak.
Setelah mereka pergi dengan wajah pucat, Sky menangkup wajah Ozora. "Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanyanya lembut.
Ozora mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Aku hanya sedih Sky," ucapnya lirih.
Sky mencium keningnya dengan penuh rasa bersalah. Di dalam kepalanya, Sky merasa harus semakin melindungi Ozora dari dunia luar yang kejam. Dan Ozora? Di dalam hatinya, ia tersenyum puas.
Baginya, teman-teman Anastasia hanyalah pion kecil yang justru memperkuat posisi dirinya sebagai korban yang dicintai Sky dengan sepenuh hati.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰🥰