Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOPENG YANG TERKELUPAS
Rekaman suara dari ponsel Lusiana itu berputar layaknya kaset rusak di telinga mereka. Suasana ruang tamu yang tadinya hangat, seketika berubah menjadi dingin membeku. Wajah Ferdiansyah mengeras, sementara Heny tampak menutup mulutnya karena tidak percaya. Namun, kekecewaan paling besar terpahat jelas di wajah Erwin. Ayah kandung Arumi itu bangkit dengan napas yang memburu.
"Mau ke mana kamu, Erwin?" tanya Ferdiansyah saat melihat sahabatnya itu berdiri dengan tangan mengepal.
"Aku mau memanggil anak kurang ajar itu, Ferdi! Dia harus keluar dan minta maaf secara langsung padamu dan keluargamu!" jawab Erwin dengan nada bicara yang bergetar karena amarah.
Ferdiansyah menghela napas, berusaha tetap tenang sebagai tamu. "Tidak usah, Er. Mungkin Arumi memang sedang kelelahan. Arya bilang belakangan ini kegiatan di fakultas kedokteran sedang sangat padat. Makanya Arya juga tidak bisa ikut hari ini karena alasan yang sama. Aku memahaminya."
"Tetap saja dia tidak boleh bicara sekasar itu!" Erwin membantah keras. "Selama ini dia tidak pernah berani bicara kasar sedikit pun. Tadi aku sempat ragu saat Lusi mengadu, tapi mendengar rekamannya sendiri, aku sadar dia sudah berubah. Aku harus menegurnya sekarang sebelum ini menjadi kebiasaan buruk!"
"Tapi Er, tenangkan dulu emosimu. Jangan mengambil tindakan saat kepala sedang panas," cegah Ferdiansyah. Namun, Erwin seolah sudah tuli. Ia melangkah pergi meninggalkan ruang tamu tanpa memedulikan etika terhadap tamunya lagi.
Ferdiansyah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap punggung sahabatnya yang menghilang di balik lorong. "Dia benar-benar tidak pernah berubah. Selalu mendahului emosi. Padahal emosi hanya akan membawa penyesalan di kemudian hari."
Rina, ibu tiri Arumi yang sejak tadi menyimak dengan senyum tersembunyi, kini menghela napas dramatis. "Benar yang Mas Ferdi katakan. Mas Erwin memang mudah terpancing. Kemarin juga begitu, mereka bertengkar hebat karena Rumi pulang larut malam diantar laki-laki yang tidak kami kenal."
Mendengar hal itu, Ferdiansyah dan Heny spontan saling berpandangan. Ada keraguan yang mulai merayap di hati mereka.
"Benar loh, Om," timpal Lusiana, menyambar kesempatan untuk memperkeruh suasana. "Kak Rumi itu hampir setiap hari pulang malam. Yang mengantar laki-lakinya selalu berbeda-beda. Makanya Ayah sering sekali emosi."
Heny mengerutkan kening, mencoba mencari pembenaran untuk gadis yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu. "Masa sih? Setahu Tante, Arumi tidak seperti itu. Dia selalu bersama Arya setiap ada kesempatan. Mungkin laki-laki yang kamu maksud itu Arya?"
Lusi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan racun. "Ya sudah kalau Tante tidak percaya. Tapi Lusi punya bukti videonya kok. Tunggu sebentar ya, Tante."
Lusi kembali mengutak-atik ponselnya dengan cekatan. Tak lama kemudian, ia menyerahkan benda pipih itu kepada Heny. Layar ponsel menunjukkan sebuah video berdurasi pendek dengan kualitas gambar yang agak buram.
"Siapa laki-laki ini, Pah? Kok Mama tidak kenal?" tanya Heny sambil menyerahkan ponsel itu kepada suaminya.
Ferdiansyah memicingkan mata, menatap layar dengan seksama. "Ini sepertinya Bisma, Mah. Tapi tidak tahu juga, suasananya gelap sekali. Wajahnya tidak terlihat jelas."
"Begini saja, Om. Coba lihat video yang di sebelahnya," saran Lusi dengan nada bicara yang dibuat seolah-olah prihatin. "Masih ada video Kak Rumi dengan laki-laki yang berbeda lagi."
Rasa penasaran mengalahkan akal sehat. Ferdiansyah menggeser layar dan benar saja, video berikutnya menunjukkan Arumi sedang turun dari sebuah sepeda motor. Ia tampak memegang pundak sang pengendara pria yang mengenakan helm tertutup. Wajah pria itu benar-benar asing bagi keluarga Ferdiansyah.
"Astaghfirullah. Kenapa Arumi jadi seperti ini, Jeung Rina?" Heny bertanya dengan nada kecewa yang mulai nyata. Rasa hormatnya pada Arumi perlahan terkikis. "Rasanya saya sulit percaya. Selama saya mengenalnya, dia anak yang ceria dan santun. Kenapa bisa berubah drastis begini?"
Rina memasang wajah sedih yang sangat meyakinkan. "Itulah yang membuat Mas Erwin selalu marah-marah, Jeung. Saya mau membela Arumi pun tidak bisa kalau buktinya sudah senyata itu. Sebagai ibu tiri, saya hanya bisa mengelus dada."
Heny menyentuh tangan Rina, mencoba memberikan kekuatan. "Sabar ya, Jeung. Mudah-mudahan Arumi bisa segera kembali ke jalan yang benar."
"Iya, Jeung. Terima kasih atas pengertiannya," balas Rina. Di balik wajah sedihnya, ia menyunggingkan senyuman kemenangan yang sangat tipis.
Ferdiansyah bangkit dari duduknya, merasa tidak nyaman berlama-lama di sana setelah mengetahui "rahasia" Arumi. "Ya sudah, karena sudah sangat larut, kami pamit pulang dulu. Tolong sampaikan salamku pada Erwin jika emosinya sudah reda."
"Tentu, Mas. Nanti akan saya sampaikan," jawab Rina dengan nada manis.
Setelah berpamitan dan melakukan ritual cipika-cipiki yang canggung, keluarga Ferdiansyah pun berlalu. Mereka tidak menyadari bahwa di balik pintu yang tertutup, Rina dan Lusiana saling mengedipkan mata, merayakan keberhasilan sandiwara mereka yang sempurna.
Kembali ke Masa Sekarang
Kenangan lima tahun lalu itu memudar dari benak Ferdiansyah seiring dengan helaan napas beratnya. Ia kini terduduk di sofa ruang keluarga, menatap pintu kamar tempat Ariya dan Arumi berada.
"Kenapa Papa tiba-tiba berkata merasa bersalah pada Arumi?" tanya Heny yang baru saja membawakan segelas air putih untuk suaminya.
Ferdiansyah menatap istrinya dengan sorot mata penuh penyesalan. "Papa merasa bersalah karena telah menjadi orang bodoh, Mah. Kita telah mempercayai orang yang baru kita kenal beberapa tahun dan dengan mudahnya membenci orang yang sudah kita kenal sejak kecil."
Heny mengerutkan dahi, duduk di samping suaminya. "Maksud Papa apa? Mama tidak paham."
"Mah, kamu ingat setahun yang lalu saat Papa melakukan perjalanan bisnis ke Balikpapan?" tanya Ferdiansyah. "Di sana Papa bertemu Bisma secara tidak sengaja. Awalnya Papa bersikap dingin karena mengira dia masih berhubungan gelap dengan Arumi seperti di video Lusi dulu. Tapi di sanalah fakta sebenarnya terungkap."
Ferdiansyah menjeda kalimatnya, meminum air putihnya sedikit untuk membasahi kerongkongan. "Bisma menceritakan semuanya. Ternyata, pria-pria yang mengantarkan Arumi setiap malam itu adalah tukang ojek pangkalan dekat kampus mereka."
Mata Heny membelalak. "Hah? Apa? Jadi yang di video itu tukang ojek?"
"Iya, Mah. Dan kamu tahu kenapa dia harus naik ojek?" Ferdiansyah melanjutkan dengan nada bicara yang bergetar. "Karena mobil pemberian Erwin sering dipinjam paksa oleh Lusi. Arumi mengalah karena dia tidak ingin Rina merongrong ayahnya untuk membeli mobil baru. Arumi memilih naik ojek agar keluarganya tetap tenang, tapi Lusi malah memanfaatkan itu untuk memfitnahnya di depan kita."
Heny menutup mulutnya, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Ya Tuhan. Anak itu... malangnya nasibmu, Nak. Mama merasa berdosa sekali karena selama ini ikut bersikap dingin padanya. Mama harus minta maaf sekarang juga."
Heny bangkit dengan tergesa-gesa, berniat menuju kamar menantunya itu. Namun, Ferdiansyah menahan tangannya.
"Jangan sekarang, Mah. Biarkan mereka beristirahat dulu. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi mereka berdua. Emosi Ariya juga masih labil," cegah Ferdiansyah lembut. "Besok pagi kita punya banyak waktu untuk memperbaiki semuanya."
Heny terdiam sejenak, lalu mengangguk pasrah. "Baiklah, kalau itu mau Papa. Tapi Mama benar-benar tidak sabar ingin memeluk Arumi."
Ferdiansyah menuntun istrinya menuju kamar mereka. Namun, di balik pintu kamar Ariya yang tertutup rapat, sebuah ketegangan lain sedang terjadi. Arumi sedang berusaha memindahkan tubuh Ariya ke tempat tidur sendirian, sementara Ariya terus melontarkan kata-kata pedas yang menyakitkan.
Ariya belum tahu fakta yang baru saja dibicarakan orang tuanya. Baginya, Arumi masihlah wanita munafik yang mengkhianati persahabatan mereka demi pria-pria asing.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra