NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Mengambil Alih Urusam

Di dalam Balai Ujian keluarga, keheningan membeku seperti lapisan es yang menutup permukaan danau musim dingin. Tidak ada satu pun suara yang berani memecah udara; bahkan napas para hadirin seakan tertahan di dada masing-masing. Tatapan-tatapan terperanjat terpaku pada sosok pemuda yang berdiri tegak di atas panggung batu, seolah-olah mereka sedang menyaksikan sebuah mukjizat yang melampaui nalar.

Lin Zhantian berdiri di sana, tubuhnya masih menyisakan bekas-bekas pertempuran, namun sorot matanya setenang samudra purba. Angin tipis berembus melewati panggung, menyapu debu yang beterbangan, seakan alam pun ikut memberi hormat pada kemenangan yang baru saja tercipta.

“Dia… benar-benar menang…”

Di antara kerumunan, Lin Xiao tertegun. Untuk beberapa saat ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhnya yang tegap bergetar hebat, bukan karena lemah, melainkan karena luapan emosi yang terlalu dahsyat untuk dibendung. Pada wajahnya, keterkejutan perlahan berubah menjadi kebahagiaan yang meledak seperti gunung berapi yang lama terpendam.

Hari itu, kejutan yang diberikan Lin Zhantian kepadanya bukan sekadar kemenangan biasa. Itu adalah pengumuman kepada dunia—bahwa darah keluarga mereka belum padam, bahwa kehormatan yang sempat terinjak-injak kini bangkit kembali dengan gemuruh.

Di bawah panggung, Lin Xia menepuk dadanya perlahan, berusaha meredakan getaran di dalam hatinya. Tatapannya tak pernah lepas dari Lin Zhantian. Ia pernah berhadapan langsung dengan Lin Hong dan hanya mampu mencapai hasil imbang. Namun pemuda di atas panggung itu—yang dahulu sering dipandang sebelah mata—justru mampu menumbangkan Lin Hong dengan kekuatan mutlak.

Jika demikian, bukankah itu berarti… bahkan dirinya mungkin sudah bukan tandingan Lin Zhantian?

Dalam perbandingan yang sunyi namun jujur, juara sejati dari kompetisi keluarga kali ini bukanlah nama yang sejak awal diagung-agungkan. Melainkan seekor kuda hitam yang tubuhnya seakan terselubung bayangan, namun menyimpan cahaya tajam di dalam dada.

“Memang layak disebut putra ketiga,” gumam Lin Ken pelan, suaranya sarat pengakuan.

Namun tidak semua hati mampu menerima kenyataan pahit dengan lapang dada.

Di tanah luar panggung, Lin Hong berdiri dengan wajah pucat pasi. Matanya kosong, pikirannya kacau. Ia tidak mampu memahami bagaimana dirinya—yang selama ini merasa lebih unggul—justru dikalahkan oleh seseorang yang tak pernah ia anggap ancaman.

Hasil ini… terlalu sulit untuk diterima.

“Tidak mungkin!”

Teriakan penuh amarah meledak dari dadanya. Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang terasa seperti jarum menusuk punggungnya, Lin Hong kehilangan kendali. Dengan hentakan keras pada tanah, ia kembali melompat ke atas panggung, wajahnya dipenuhi kegilaan dan keengganan menerima kekalahan.

Lin Zhantian mengerutkan keningnya. Pertarungan telah usai—namun lawannya memilih menodai aturan dengan kegilaan yang tak terhormat.

Satu langkah menyamping, dua telapak tangannya bergerak cepat seperti penjepit baja, mengunci pergerakan Lin Hong sebelum serangan liar itu sempat mendarat. Ketika ia hendak mendorongnya turun kembali, suara ledakan amarah mengguncang udara.

“Menjauh!”

Dari atas langit, sesosok bayangan jatuh bagaikan elang yang menyambar mangsanya. Tangan besar itu membentuk cengkeraman seperti cakar, mengarah langsung ke arah Lin Zhantian.

Keterkejutan melintas di wajah sang pemuda. Ia terpaksa melepaskan Lin Hong dan melangkah mundur. Namun sosok itu tidak berhenti—serangan tetap meluncur menuju bahunya.

“Lin Mang!”

Teriakan murka menggema dari bawah panggung. Lin Ken memandang dengan amarah membara ketika menyadari siapa yang berani mencampuri pertarungan generasi muda.

“Jangan sentuh putraku!”

Suara lain menyambar bagai petir.

Seberkas bayangan melintas dan mendarat di depan Lin Zhantian. Sosok itu berdiri tegak, memisahkan serangan dengan tubuhnya sendiri. Itu adalah Lin Xiao.

“Lin Xiao, apakah kau masih mengira dirimu sanggup melawanku?” ejek Lin Mang, senyum dingin terukir di bibirnya. Yuanli berputar deras di telapak tangannya, membentuk pusaran energi yang mengoyak udara.

Tanpa ragu, ia menghantamkan serangan itu.

Namun Lin Xiao tidak mundur.

“Pergi!”

Satu pukulan dilancarkan, langsung beradu dengan telapak Lin Mang.

Ledakan!

Gelombang energi menyebar melingkar, menyapu bersih debu dari permukaan panggung batu. Angin liar berdesir, mengguncang pakaian para hadirin.

Ketika debu mereda, pemandangan yang tersaji membuat seluruh Balai Ujian terdiam kembali—lebih hening dari sebelumnya.

Lin Mang… terhuyung mundur beberapa langkah!

Seorang ahli tingkat Tianyuan—dipaksa mundur!

Lin Ken yang semula hendak turun tangan membeku di tempat. Di kursi utama, Lin Zhentian yang hampir meledak amarahnya kini terpaku dengan mata membelalak.

“Tenagamu…?!” seru Lin Mang dengan wajah tak percaya.

Lin Xiao berdiri tegap, auranya mantap seperti gunung yang tak tergoyahkan. “Lukaku telah sembuh. Maka kekuatanku pun kembali. Pertarungan anak-anak muda, mengapa kau mencampuri? Atau kau mengira ayah dan anak ini mudah diinjak?”

Di bawah panggung, wajah Lin Ken bersinar oleh kegembiraan yang tak tertahan. “Adik Ketiga… kau telah pulih?”

Seorang ahli Tianyuan bukan sekadar simbol kekuatan pribadi—melainkan pilar keluarga. Selama ini, Keluarga Lin hanya memiliki tiga orang di tingkat tersebut. Dengan kembalinya Lin Xiao, keseimbangan kekuatan keluarga meningkat drastis.

Para tamu undangan yang menyaksikan kejadian itu saling bertukar pandang. Mereka tahu, mulai hari ini, posisi Keluarga Lin di Kota Qingyang akan semakin kokoh.

Di atas panggung, Lin Zhentian akhirnya melompat naik. Tangannya mencengkeram lengan Lin Xiao, merasakan aliran Yuanli yang menggelegak deras seperti sungai musim semi yang mencairkan salju.

Tawa besar meledak dari dadanya.

“Bagus! Kau tidak mengecewakanku!”

Tangannya menepuk bahu Lin Xiao dengan keras. Di mata sang tetua, tersirat kilau merah yang tak mampu disembunyikan—emosi yang selama ini ia tahan demi menjaga martabat keluarga.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Lin Zhentian berbalik tajam. Tatapannya berubah dingin seperti baja yang ditempa.

“Lin Mang! Di depan umum, kau berani mencampuri pertarungan resmi? Apakah kau hendak menyeret nama keluarga ini ke dalam lumpur?”

Wajah Lin Mang berubah pucat. Di dalam Keluarga Lin, otoritas Lin Zhentian tak terbantahkan. Meski kini ia telah mencapai tingkat Tianyuan, bayang-bayang kewibawaan sang kepala keluarga tetap menekan dadanya.

Ia hanya mampu menundukkan kepala.

“Ini… hanyalah kekhilafan sesaat.”

“Cukup!” suara Lin Zhentian membelah udara.

Suasana menjadi tegang kembali. Namun Lin Ken melangkah maju dan berbisik pelan, “Ayah, ada banyak tamu hari ini. Sebaiknya urusan ini diselesaikan nanti.”

Lin Zhentian menarik napas dalam. Amarah di wajahnya perlahan surut, digantikan wibawa seorang pemimpin yang tahu kapan harus menahan badai.

Ia mengangguk singkat.

“Hari ini adalah hari kompetisi keluarga. Kita tidak akan mempermalukan diri sendiri di depan para tamu.”

Tatapannya kemudian beralih pada Lin Zhantian.

Pemuda itu berdiri dengan tenang, menyaksikan seluruh kekacauan tanpa kehilangan kendali. Dalam dirinya, darah panas seorang kultivator muda bergejolak—namun pikirannya tetap jernih.

Hari ini, bukan hanya kemenangan pribadi yang ia raih.

Hari ini adalah titik balik.

Kembalinya kekuatan Lin Xiao. Kebangkitan nama keluarga mereka. Dan kemunculan dirinya sebagai generasi penerus yang tak lagi bisa diabaikan.

Di kedalaman tatapannya, tersembunyi tekad yang tak terucapkan.

Ia tahu, ini baru permulaan.

Langit dunia kultivasi masih luas tak bertepi. Jalan menuju puncak masih panjang dan dipenuhi badai. Namun di dalam dadanya, api keyakinan telah menyala terang.

Dan mulai hari ini—

Keluarga Lin akan mengambil alih kembali urusan-urusan yang sempat terlepas dari genggaman mereka.

Sementara itu, angin di atas panggung batu berdesir pelan, seolah menyambut kelahiran takdir baru yang tengah menorehkan namanya dalam sejarah.

Lin Zhentian menarik napas panjang. Dada tuanya yang kokoh mengembang perlahan, menahan gejolak amarah yang masih menyala di relung hati. Sorot matanya yang tajam seperti mata elang menyapu seluruh ruangan, sebelum akhirnya ia mengibaskan lengan bajunya dengan gerakan tegas.

“Kau bereskan dulu kekacauan di luar. Setelah itu, kalian semua menghadap ke halaman belakang!”

Nada suaranya berat dan berwibawa, tak memberi ruang bagi bantahan. Begitu kata-kata itu terucap, ia pun berbalik dan melangkah pergi, jejak langkahnya menyisakan sisa amarah yang masih terasa di udara.

Melihat punggung sang kepala keluarga menjauh, Lin Ken hanya bisa tersenyum pahit. Pandangannya beralih kepada Lin Xiao dan Lin Mang. Bertahun-tahun telah berlalu, namun ketegangan di antara dua bersaudara itu tak pernah benar-benar mereda. Persaingan mereka bukan lagi sekadar tentang diri sendiri—bahkan generasi berikutnya pun ikut terseret dalam pusaran ambisi dan harga diri.

---

Halaman belakang Keluarga Lin adalah wilayah yang jarang dimasuki orang luar. Di situlah urusan-urusan penting keluarga dibahas dan diputuskan. Pepohonan tua menaungi halaman luas itu, menciptakan suasana sunyi yang sarat kewibawaan.

Di sebuah aula besar yang terletak di tengah halaman, beberapa sosok duduk berjajar. Di kursi utama, tentu saja, duduk Lin Zhentian. Meski kemarahan di wajahnya telah sedikit mereda, sisa-sisa ketegangan masih tergambar jelas pada rautnya.

Di bawahnya duduk Lin Ken, Lin Xiao, Lin Mang, serta para anggota inti keluarga lainnya.

Lin Zhantian dan Qing Tan duduk di sisi Lin Xiao. Keduanya menyadari suasana yang tidak bersahabat. Mereka memilih diam, menundukkan kepala dengan tenang, menyadari bahwa ini bukan panggung bagi generasi muda untuk berbicara.

Setelah beberapa saat keheningan menggantung, Lin Zhentian akhirnya membuka suara. Tangannya menghantam meja kayu keras di hadapannya dengan dentuman berat.

“Lin Mang! Hari ini kau benar-benar membuat namamu dikenal! Seorang yang lebih tua berani menyerang junior di depan umum. Apakah kau ingin membuat Keluarga Lin tak lagi mampu mengangkat kepala di Kota Qingyang?!”

Suara itu menggema di dalam aula seperti petir musim panas.

Lin Mang mengatupkan rahangnya. Ia menarik napas dalam, lalu menundukkan kepala.

“Ayah… aku memang bertindak gegabah.”

Kata-kata itu keluar dengan berat. Namun jauh di dalam hatinya, gejolak masih berputar. Sejak muda ia selalu bersaing dengan Lin Xiao—membandingkan pencapaian, kekuatan, bahkan kejayaan. Persaingan itu kini menjalar pada putra-putra mereka. Melihat Lin Hong dikalahkan oleh Lin Zhantian adalah pukulan yang menghantam harga dirinya.

Lin Ken menghela napas pelan. Sebagai kakak tertua, ia tak bisa membiarkan suasana terus memanas.

“Ayah, Adik Kedua memang bertindak terburu-buru. Namun tak perlu terlalu murka. Lagi pula…” ia menoleh pada Lin Xiao, “…luka Adik Ketiga telah sembuh, dan kekuatannya kembali ke tingkat Tianyuan. Ini adalah kabar besar bagi keluarga. Tidak selayaknya hari ini dipenuhi kemarahan.”

Mendengar itu, raut wajah Lin Zhentian perlahan melunak. Sorot matanya beralih kepada Lin Xiao. Namun alih-alih pujian, yang keluar justru dengusan tak puas.

“Seharusnya lukamu sudah sembuh sejak lama. Tapi kau keras kepala seperti batu gunung.”

Lin Xiao tersenyum pahit dan mengangguk ringan. Ia tahu teguran itu mengandung kepedulian.

“Namun apa pun alasannya, kau telah bangkit. Itu yang terpenting.” Lin Zhentian melanjutkan dengan nada lebih stabil. “Sekarang, Keluarga Lin memiliki banyak usaha dan wilayah. Kita kekurangan tangan yang kuat. Mulai sekarang, kau ikut mengelola urusan keluarga. Jangan lagi menjadi orang yang hanya berdiam diri.”

Kata-kata itu bukan sekadar perintah—melainkan pengakuan. Pengakuan bahwa Lin Xiao telah kembali sebagai salah satu pilar keluarga.

Lin Xiao terdiam sejenak. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam bayang-bayang cedera, menjauh dari inti kekuasaan keluarga. Kini, dengan kekuatan yang telah pulih, sudah waktunya ia memikul kembali tanggung jawab.

“Baik,” jawabnya mantap.

Melihat ia tak menolak, Lin Zhentian mengangguk puas. Ia terdiam sesaat, tampak mempertimbangkan sesuatu, lalu berkata perlahan, namun penuh makna:

“Perkebunan Huoyan sedang banyak urusan akhir-akhir ini. Mulai sekarang, kau yang mengelolanya. Lin Ken akan membantumu.”

Begitu kalimat itu terucap, wajah Lin Mang langsung menegang. Otot di pipinya berkedut tipis.

Perkebunan Huoyan adalah urat nadi ekonomi Keluarga Lin. Lebih dari separuh keuntungan tahunan keluarga berasal dari sana. Selama ini, dialah yang mengelolanya. Itu adalah simbol kepercayaan dan otoritas.

Kini… tanggung jawab itu dipindahkan.

Meski api ketidakpuasan membakar dadanya, Lin Mang tak berani menyanggah. Ia baru saja membuat kesalahan besar di hadapan semua orang. Menentang keputusan sekarang sama saja menggali kuburnya sendiri.

Lin Xiao pun tertegun sejenak. Ia sangat memahami pentingnya Perkebunan Huoyan bagi keluarga. Setelah berpikir singkat, ia mengangguk tegas.

“Aku akan menjaganya dengan sebaik-baiknya.”

Urusan besar itu pun diputuskan.

Setelah menyelesaikan pembagian tanggung jawab, ekspresi Lin Zhentian berubah lebih hangat. Tatapannya beralih kepada generasi muda yang duduk di sisi.

Lin Zhantian. Lin Xia. Dan Lin Hong—yang wajahnya masih menyisakan bayangan pahit kekalahan.

“Hari ini,” ujar Lin Zhentian dengan nada yang lebih lembut, “Lin Zhantian menunjukkan performa luar biasa. Jika berbicara jujur, dialah juara sejati kompetisi keluarga kali ini.”

Kata-kata itu membuat dada Lin Zhantian sedikit bergetar. Namun wajahnya tetap tenang.

“Hadiah kompetisi akan segera dikirimkan kepada kalian. Selain itu, kalian bertiga bebas memasuki Paviliun Seni Bela Diri keluarga. Pilih teknik apa pun yang kalian butuhkan.”

Mata Lin Zhantian yang semula tenang seketika bersinar terang.

Paviliun Seni Bela Diri.

Itulah gudang warisan teknik keluarga—tempat berbagai metode kultivasi dan jurus bela diri tersimpan. Selama ini, akses ke sana terbatas. Kini, pintunya terbuka baginya.

“Jika ada kebutuhan lain, katakan pada Kakek,” lanjut Lin Zhentian. “Beberapa bulan lagi, Perburuan Kota Qingyang akan tiba. Sebelum itu, aku ingin kalian semua membuat terobosan. Kita harus mengangkat nama Keluarga Lin setinggi mungkin.”

Perburuan Kota Qingyang bukan sekadar kegiatan berburu biasa. Itu adalah ajang pembuktian antar keluarga dan kekuatan muda. Siapa pun yang bersinar di sana akan menarik perhatian banyak pihak.

Di dalam hati Lin Zhantian, gelombang semangat bangkit perlahan.

Hari ini, ayahnya mengambil alih Perkebunan Huoyan—titik vital keluarga.

Hari ini pula, ia memperoleh pengakuan terbuka sebagai juara sejati.

Takdir seakan sedang mengatur ulang posisi papan catur keluarga.

Di sudut aula, cahaya matahari sore menembus jendela kayu, menyinari wajah-wajah yang sarat tekad dan ambisi. Dalam keheningan itu, Lin Zhantian menyadari satu hal dengan sangat jelas—

Jalan kultivasi bukan hanya tentang kekuatan pribadi.

Ia adalah pertarungan martabat.

Dan mulai hari ini, keluarga mereka tidak lagi berdiri di sisi yang lemah.

Api kebangkitan telah menyala.

Dan ia, Lin Zhantian, akan memastikan api itu membakar hingga mencapai langit tertinggi.

1
alex kawun
jangan gitu lah thor demi u memenuhi target tulisan & chapter harus nulis ber ulang2 poin yg sama
mbosenin thor
Eko
ayoooo tambah kuat
Eko
alur cerita yang bagus
Joe Maggot Curvanord
lin dong
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
Dian Pravita Sari
liat ajakl gak tamat lagi faj gak guns ada komentar gak ada tindak lanjut dah sangat kecewa duanya cerita gak da yg tamatrenjijikkam pengarangnya hy mikir duit tp nol tanggung jawab alur cerita dan penyelesaian cerita gak bermutu blas
gak
REY ASMODEUS
up 10 eps
Jullsr red: okee bossskuuu
total 1 replies
REY ASMODEUS
lnjut
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!