NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 - Akhirnya Terbaca

...“Yang membuatnya terasa istimewa bukan karena akhirnya diketahui, tapi karena akhirnya tidak perlu disembunyikan.”...

Happy Reading!

...----------------...

Rahasia punya batas umur.

Ia bisa disimpan rapi selama orang-orang di sekitarnya tidak benar-benar melihat. Tapi begitu perhatian mulai tajam, begitu kebiasaan kecil mulai terbaca, rahasia tidak hancur—ia hanya kelelahan berpura-pura.

Dan hari itu, Shaira tahu mereka sudah sampai di ujungnya.

Jam kosong setelah pelajaran olahraga membuat kelas berisik tanpa arah. Suara sepatu diseret, botol minum jatuh, tawa meledak dari sudut ke sudut. Circle mereka otomatis berkumpul di pojok kelas seperti selalu—lingkaran lama yang sudah terbentuk tanpa perlu disepakati.

Shaira duduk di tepi meja, Nara di sampingnya. Nara terlihat terlalu santai untuk ukuran orang yang menyimpan rahasia orang lain. Sesekali ia melirik Shaira dengan senyum kecil yang membuat Shaira ingin menendangnya pelan.

Raven berdiri di depan mereka, ikut nimbrung debat tidak penting antara Keno dan Arkan. Fadly memprovokasi dari samping, Nafiz makan seperti biasa seolah dunia tidak pernah berubah.

Semua tampak normal. Dan justru itu masalahnya.

Karena di antara keramaian biasa itu, ada ketenangan aneh antara Shaira dan Raven—ketenangan yang tidak perlu ditunjukkan untuk terasa.

Shaira sedang menertawakan sesuatu ketika rambutnya jatuh menutup mata. Ia belum sempat merapikan ketika tangan Raven sudah lebih dulu bergerak.

Raven menyibakkan sedikit rambut Shaira tanpa suara. Jari mereka hampir bersentuhan saat Shaira menahan tawa. Mata mereka bertemu sesaat, lalu mundur pelan, seperti tarian yang sudah mereka hafal.

Gerakan itu cepat.

Ringan.

Alami.

Seolah ujung jarinya yang menyingkirkan rambut dari wajah Shaira seperti itu adalah hal paling wajar di dunia.

Dan mungkin bagi mereka memang wajar. Tapi bukan bagi orang lain.

Lingkaran itu diam.

Tidak langsung ribut. Tidak langsung bereaksi. Hanya diam—sunyi pendek yang terlalu sadar.

Shaira membeku.

Raven baru sadar satu detik terlambat. Tangannya turun pelan, wajahnya tetap tenang, tapi mata mereka sudah saling bertemu.

Udah.

Kalimat itu tidak diucapkan. Tapi mereka berdua mendengarnya.

Keno berkedip pelan, matanya menyipit seolah menimbang sesuatu. “Oke.”

Tidak ada yang menjawab.

“Oke,” ulangnya lebih tegas sambil menepuk meja dengan ujung jari. “Gue mau denger penjelasan ilmiah.”

Arkan menunjuk Raven dengan gerakan setengah mengangkat tangan, setengah menunjuk, seperti sedang menekankan fakta penting. “Lo dulu.”

Raven mengangkat alis, bahunya santai. “Penjelasan apa?”

“Yang barusan,” kata Fadly sambil menyenderkan punggungnya ke kursi, menatap tajam tapi sambil tersenyum. “Itu bukan refleks temenan.”

“Refleks manusia,” jawab Raven ringan, matanya melirik Shaira sebentar sebelum kembali ke lingkaran, seperti ingin memastikan semuanya santai.

“Refleks pacaran,” potong Keno sambil menyilangkan tangan, dagunya menekuk sedikit ke arah Raven, ekspresi setengah bercanda setengah serius.

Nafiz akhirnya ikut angkat kepala, tangan terselip di saku. “Akhirnya kita ngomongin ini juga.”

Nara tidak ikut kaget. Ia hanya menyilangkan tangan, menatap Shaira dengan ekspresi puas—senyum tipis tapi mata berbinar seperti orang yang menonton film dengan ending yang sudah ia tahu.

Shaira menutup wajah dengan tangan sebentar, menekan pipinya, lalu menurunkan tangan lagi sambil menarik napas. “Kalian lebay banget.”

“LEBAY?” ulang Arkan sambil mengangkat bahu dan menatap mereka bergantian. “Kita buta bukan?”

“Udah lama curiga,” tambah Fadly sambil menepuk meja ringan, jari-jari sedikit menekan kayu.

“Dari kemarin,” kata Keno, matanya berkedip cepat, senyum tipis tertekan.

“Dari minggu lalu,” sahut Nafiz santai, tangannya bermain dengan sedotan, tidak terlalu memperlihatkan antusiasme tapi jelas perhatiannya penuh.

Semua mata kembali ke Raven. Ia menghela napas kecil, menurunkan bahu yang sedikit menegang.

Bukan napas panik. Lebih seperti napas orang yang akhirnya berhenti menahan sesuatu.

“Iya,” katanya sederhana sambil menegakkan tubuh, menatap Shaira sebentar, lalu menoleh ke lingkaran. “Kami jadian.”

Tidak dramatis. Tidak dibuat-buat.

Hanya satu kalimat jujur.

Dan kelas langsung meledak.

“ANJIR AKHIRNYA!” “GUE MENANG TEBAKAN!” “DARI KAPAN WOI?!” “NGUMPETIN KITA?!”

Shaira tertawa malu sambil menutup telinga. Nara langsung memeluknya dari samping seperti penggemar fanatik. Keno berdiri di atas kursi seolah pengumuman nasional baru saja terjadi.

Raven hanya tertawa kecil, bahunya akhirnya turun rileks.

Tidak ada yang marah. Tidak ada yang merasa dikhianati. Hanya ada rasa puas kolektif karena kecurigaan mereka terbukti benar.

Setelah ribut beberapa menit, Nara menepuk tangan. “Oke, cukup. Sekarang pertanyaan penting.”

Semua diam.

“Kalian bahagia?”

Shaira menoleh ke Raven.

Raven menoleh ke Shaira.

Jawabannya terlalu jelas untuk dipikirkan lama.

“Iya,” kata mereka bersamaan.

Circle langsung bersorak lagi.

Dan di tengah keributan itu, Shaira sadar sesuatu yang tidak ia duga: dunia tidak runtuh. Tidak ada perubahan besar. Mereka tetap orang-orang yang sama.

Hanya saja sekarang, tidak ada lagi tembok tipis di antara mereka.

...----------------...

Sisa hari itu benar-benar terasa lebih ringan dari biasanya, bukan karena ada hal besar yang berubah, tapi karena tidak ada lagi yang harus disembunyikan dengan sengaja.

Shaira tidak lagi menahan refleks kecil—tidak perlu mengatur tawa, tidak perlu menghitung jarak duduk, tidak perlu berpura-pura canggung setiap kali mata mereka bertemu terlalu lama. Semuanya mengalir apa adanya. Mereka tetap menjaga batas di sekolah, tetap wajar, tetap tidak berlebihan, tapi kini tidak ada rasa waspada yang muncul tiap kali mereka tertawa di waktu yang sama atau berdiri terlalu dekat tanpa sengaja.

Jam terakhir berlalu tanpa beban.

Saat bel pulang berbunyi, circle mereka otomatis bergerak bersama, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah perlu disepakati. Langkah kaki bercampur, suara tas diseret, candaan berpindah topik tanpa arah yang jelas, dan tawa pecah di tengah lorong seolah hari ini sama saja seperti hari-hari sebelumnya.

Hanya Shaira yang tahu—rasanya tidak sama.

Keno berjalan sambil sesekali menoleh, matanya bolak-balik antara Shaira dan Raven dengan ekspresi tidak percaya yang belum juga hilang sejak tadi. “Gue tetep nggak percaya kalian bisa sembunyi selama itu,” katanya sambil menggeleng pelan, seolah baru saja kalah taruhan besar.

“Karena lo sibuk sendiri,” jawab Raven santai, nadanya ringan tapi jelas menikmati fakta bahwa rahasia itu akhirnya terbuka.

“Karena kalian licik,” sambung Fadly, menunjuk mereka bergantian sambil tertawa.

Nafiz hanya mendengus kecil, seperti orang yang sudah lama tahu tapi malas ribut.

Nara berjalan di sisi Shaira, tidak ikut berkomentar banyak. Ia hanya tertawa kecil, lalu menepuk bahu Shaira pelan—bukan tepukan heboh. Tatapannya singkat tapi penuh makna.

Tuh kan. Gue udah bilang.

Di depan gerbang, keramaian mulai pecah dengan sendirinya. Satu per satu berpamitan, belok ke arah yang berbeda, suara mereka makin menjauh sampai akhirnya tersisa dua langkah yang sengaja diperlambat.

Shaira dan Raven.

Mereka berjalan sedikit di belakang yang lain, membiarkan jarak tercipta tanpa disengaja. Tidak ada kebutuhan untuk langsung bicara. Tidak ada kecanggungan yang perlu diisi.

Hanya langkah kaki yang sinkron. Pelan. Tenang.

Aspal di depan gerbang masih menyimpan sisa panas siang, bercampur angin sore yang menyentuh ringan. Jalanan tampak biasa saja—tidak ada yang istimewa—tapi rasanya berbeda karena Shaira tidak lagi merasa sedang menyembunyikan apa pun dari dunia.

“Resmi ya,” kata Raven akhirnya, suaranya rendah, seolah kalimat itu bukan sekadar pernyataan, tapi konfirmasi yang ingin ia dengar langsung.

Shaira menoleh, senyumnya kecil tapi penuh. “Resmi.”

Raven mengangguk pelan, seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu benar-benar nyata. “Rasanya aneh?”

Shaira tidak langsung menjawab. Ia membiarkan beberapa langkah berlalu, merasakan suasana itu menempel di dadanya.

“Lebih ringan,” katanya jujur, tanpa perlu berpikir lama.

Raven tersenyum tipis. “Iya. Aku juga.”

Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi yang melelahkan. Tidak ada lagi ketegangan kecil di setiap tatapan atau gerakan yang terlalu sadar diri. Rahasia itu tidak menghilang dengan cara dramatis—tidak runtuh, tidak meledak—ia hanya dilepaskan begitu saja.

Dan dunia, ternyata, tidak berubah.

Sekolah tetap ramai. Jalanan tetap sama. Orang-orang tetap berjalan dengan urusan masing-masing.

Hanya saja sekarang, Shaira dan Raven berjalan berdampingan tanpa jarak yang dipaksakan, tanpa rasa takut dilihat, tanpa perasaan harus menahan diri untuk terlihat biasa.

Langkah kaki mereka sinkron tanpa mereka sadari. Sesekali bahu mereka nyaris bersentuhan, tapi mereka tidak menoleh. Angin sore menyapu rambut Shaira, Raven secara otomatis menyingkirkannya, jarak antara mereka tetap dekat tapi santai.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, Shaira tidak merasa mereka sedang bersembunyi dari siapa pun.

Mereka hanya berjalan. Bersama.

Dan untuk saat ini, itu lebih dari cukup.

...----------------...

...Shaira – cerita kecil di tengah keramaian...

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!