Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Di ruang CEO yang luas dan bernuansa gelap, seorang pria bertubuh atletis berdiri membelakangi meja kerjanya. Rahangnya mengeras, urat lehernya menegang saat laporan itu selesai dibacakan oleh asistennya, Miko.
Pria itu adalah Steven.
Tatapan tajamnya menembus kaca jendela, seolah ingin menghancurkan kota di bawah sana.
"Brengsek! Beraninya wanita itu kabur," geramnya, telapak tangannya mengepal erat.
Bagaimana tidak? Dia di jodohkan dengan anak sahabat ibunya. Dan sekarang, ia mendapat kabar jika calon istrinya kabur dari perjodohan. Tentu, ia merasa sangat terhina dengan semua ini.
"Apa perlu saya mencarinya, tuan?" tanya Miko.
Steven berbalik cepat. Tatapannya dingin, penuh ancaman. "Cari dia sampai dapat. Seret ke hadapanku. Aku sendiri yang akan memberinya pelajaran."
"Baik, Tuan." Miko segera keluar dari ruangan CEO dan memberi instruksi pada para pengawal. Sebuah foto wanita ditunjukkan sebagai target.
"Temukan wanita ini. Tapi, Jangan sampai terluka. Dia adalah calon istri Tuan Steven," perintah Miko.
"Baik, Tuan." Para pengawal mengangguk dan segera berpencar.
Beberapa menit kemudian, Miko kembali masuk sambil membawa sebuah map cokelat dan meletakkannya di depan Steven.
"Tuan, ini biodata orang yang melamar sebagai bodyguard baru Anda."
Steven mengambil map itu dan membukanya sekilas. Namun, sebelum ia sempat membaca lebih jauh, Miko sudah mulai menjelaskan.
"Namanya Boy, usia dua puluh lima tahun. Pernah bekerja sebagai satpam, memiliki beberapa prestasi dalam bela diri, dan... "
Steven menutup map tersebut tiba-tiba. "Kapan dia akan datang?" tanyanya singkat.
"Seharusnya pagi ini, Tuan."
Steven mengangguk kecil. "Suruh dia menemui ku setelah rapat."
"Baik, Tuan." Miko kembali membungkuk hormat dan keluar.
Sementara Steven kembali memandang keluar jendela. Ia tidak tahu bahwa calon istrinya yang kabur, tidak berada jauh dari jangkauannya. Dan, lebih ironis lagi... Takdir justru sedang menyiapkan mereka untuk bertemu, dengan cara yang sama sekali tidak pernah mereka duga.
...****************...
Freya menghentikan langkahnya saat menyadari beberapa pria berpakaian hitam berdiri tidak jauh darinya. Tatapan mereka tajam, jelas bukan orang biasa.
"Jangan-jangan mereka... " Tanpa berpikir panjang, Freya berbalik dan berlari ketika salah satu dari mereka menunjuk kearahnya.
"Itu dia! Tangkap wanita itu!"
Langkah kaki menggema di trotoar. Freya berlari sekuat tenaga, menyelinap di antara pejalan kaki, berbelok tajam ke gang sempit, lalu masuk ke sebuah butik kecil tanpa papan nama yang mencolok.
Ia menahan napas di balik rak pakaian. Namun sialnya, salah satu pria itu ikut masuk ke butik tersebut.
Freya menelan ludah. Pandangannya beralih ke rak aksesori, di mana ada wig dan jas pria terpajang rapi.
Tidak banyak waktu berpikir. Ia menyambar sebuah wig berambut pendek dan jas gelap, lalu masuk ke ruang ganti. Dalam hitungan detik, Freya mengenakan penyamaran itu, mengikat dadanya rapat, menundukkan bahu, dan mengubah cara berdirinya.
Lalu, Ia keluar dari ruang ganti dengan langkah santai. Dan, saat berpapasan dengan pria itu, Freya hanya tersenyum tipis, dan mengangguk pelan .
Pria tersebut hanya melirik sekilas lalu mengangguk, jelas tidak mengenalinya. Begitu pria itu keluar, Freya menghembuskan napas lega. Ia segera melepas wig dan jas, berniat pergi. Namun, langkahnya terhenti karena pria-pria itu berkumpul di depan butik.
"Sial! Mama dan papa benar-benar tidak ingin melepaskan ku," umpat Freya.
Tidak ada pilihan lain, Freya kembali masuk, menghampiri kasir, dan membayar wig serta jas yang tadi ia pakai. Setelah itu, ia kembali mengenakan penyamaran tersebut, kali ini dengan lebih percaya diri.
Dengan kepala sedikit tertunduk dan langkah mantap, Freya keluar dari butik. Dan beruntungnya, tidak satu pun dari mereka curiga padanya.
Begitu jarak aman, Freya langsung berlari. Napasnya tersengal, jantungnya berdegup kencang. Matanya menangkap sebuah mobil hitam terparkir di tepi jalan dengan mesin yang menyala.
Tanpa pikir panjang, Freya membuka pintu dan masuk. "Maaf, Pak, tolong... " Ucapannya terhenti saat melihat di sampingnya duduk seorang pria berwibawa dengan setelan rapi, wajahnya tenang namun, dingin.
"Hei! Siapa kau? Berani-beraninya... " Ucapan di sopir terhenti saat pria itu mengangkat tangannya.
Freya menelan ludahnya. "Ma-maaf, aku... "
"Kau terlambat tiga menit," potong pria itu datar.
"Hah?" Freya mengernyit bingung.
Pria itu melempar map ke pangkuannya. "Jika kau tidak berniat bekerja, lebih baik keluar sekarang."
Freya membuka map itu dengan tangan gemetar. Matanya membesar saat membaca nama di surat lamaran.
"Boy?"gumamnya. Ia melirik pria di sampingnya dan menyeringai tipis. "Kesempatan emas." batin Freya.
"Ma-maaf, Tuan. Tadi ada sedikit kendala, jadi... "
"Aku tidak menerima alasan apapun," sela pria itu dingin. "Tapi, jika lain kali kau terlambat, aku akan langsung memecat mu."
"Terima kasih, Tuan. Lain kali saya tidak akan terlambat lagi," sahut Freya mantap, berusaha meniru suara laki-laki.
Pria itu, yang tidak lain adalah Steven, hanya mengangguk singkat. "Jalan!"
Sopir langsung menekan pedal gas. Mobil melaju, menjauh dari tempat tersebut.
Di sisi lain jalan, seorang pria muda berdiri kebingungan, menoleh ke kiri dan kanan, seolah mencari sesuatu.
Dia adalah Boy yang asli.
Ia mengecek ponselnya, lalu memandang sekeliling, mencari Mobil yang disebutkan oleh asisten Miko.
"Ah, sial! Aku terlambat datang. Mobil itu pasti sudah pergi. Kesempatan emasku lenyap!"
...****************...
Mobil berhenti di sebuah bangunan terpencil di pinggiran kota. Tempat itu tampak seperti gudang kosong dari luar namun, di dalamnya tersimpan ruang latihan luas dengan lantai matras dan dinding baja.
Steven turun lebih dulu, diikuti Freya dan sopir yang berjalan di belakangnya. Setelah sampai di sebuah ruangan, Steven berbalik, menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku tidak membutuhkan bodyguard yang hanya pandai bicara." Ia memberi isyarat pada sopir. Lalu, tidak berapa lama empat pria bertubuh besar masuk, mengepalkan tangan.
"Jika kau ingin bekerja untukku, kau harus mengalahkan mereka," ujar Steven dingin. Ia menatap Freya dari atas sampai bawah dan tersenyum miring. "Tidak perlu memaksakan diri. Jika kau tidak sanggup, kau boleh pergi sekarang."
Freya mengangkat dagunya penuh percaya diri. "Baik, Tuan."
Tidak ada ragu di matanya. Begitu aba-aba diberikan, satu pria menyerang lebih dulu. Freya menghindar cepat, memutar tubuh, lalu menjatuhkan lawannya dengan satu kuncian presisi. Dua lainnya menyusul bersamaan, satu ia sikat dengan tendangan rendah, satu lagi ia banting dengan memanfaatkan tenaga lawan.
Pria terakhir mencoba menyerang dari belakang. Namun, Freya berhasil menghindar dan menangkap pergelangan tangan lawan, memutar, dan menghantamkannya ke matras hingga pria itu mengerang kesakitan.
Semua terjadi begitu cepat. Keempat pria itu mengerang kesakitan di lantai yang dingin.
Steven menatap pemandangan di depannya dengan sorot mata berbeda. Bibirnya melengkung tipis, membentuk sebuah senyum kecil yang jarang muncul.
"Lumayan."
Freya menunduk singkat. "Terima kasih, Tuan."
Belum sempat suasana mencair, pintu terbuka. Salah satu anak buah Steven masuk dengan tergesa.
"Maaf, Tuan, wanita itu berhasil kabur."
Tatapan Steven berubah dingin. Tangannya mengepal erat penuh emosi. "Brengsek!"geramnya. "Cari terus sampai dapat!"
"Baik, Tuan!"
Freya berdiri diam, menyimak tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Namun di dalam, jantungnya berdetak lebih kencang.
Dari cara Steven memerintah, dari ketegangan yang terlihat dari anak buahnya, jelas menunjukkan jika pria ini bukan orang sembarangan.
"Aku tidak boleh ceroboh. Sekali saja identitasku terbongkar, aku bisa tamat," batin Freya.
Ia kembali menegakkan bahu, menguatkan penyamarannya. Mulai saat ini, ia bukan Freya Emine, tapi Boy, bodyguard pribadi Steven.