Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Cinta Sejati
Hari itu adalah hari yang tidak akan pernah Raya lupakan seumur hidupnya. Hari di mana dunianya runtuh.
Raya kecil dan Arsa kecil duduk di ayunan taman seperti biasa. Tapi kali ini, wajah Raya kecil terlihat sangat sedih.
"Arsa... Aku... Aku harus bilang sesuatu..." ucap Raya kecil dengan suara yang bergetar.
Arsa kecil menatap Raya dengan bingung. "Ada apa, Lea? Lo kelihatan sedih."
Raya kecil menunduk. Air matanya mulai jatuh. "Aku... Aku harus pindah, Arsa..."
"Pindah? Pindah rumah maksud lo?" tanya Arsa kecil dengan nada yang mulai khawatir.
Raya kecil menggeleng sembari menangis. "Bukan... Aku... Aku harus pindah ke Bandung. Papa aku dipindah tugas ke sana..."
Arsa kecil terdiam mendengar ucapan Raya. Wajahnya berubah pucat. "Pindah... Ke Bandung? Berarti... Berarti lo gak sekolah di sini lagi?"
Raya kecil mengangguk sembari menangis semakin keras. "Iya... Papa bilang minggu depan kita udah harus pindah..."
"KENAPA?! KENAPA LO HARUS PINDAH?!" teriak Arsa kecil dengan suara yang penuh kepanikan.
"Aku juga gak mau, Arsa! Tapi papa bilang ini buat pekerjaan! Aku gak bisa nolak!" isak Raya kecil.
Arsa kecil merasakan dadanya yang sangat sesak. "Terus... Terus kita gimana? Kita kan udah janji mau selalu bareng!"
"Aku tau... Aku juga inget janji kita..." tangis Raya kecil semakin keras. "Tapi aku... Aku gak bisa ngelawan keputusan papa..."
Arsa kecil memeluk Raya dengan erat. Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia menangis lagi.
"Jangan pergi, Lea... Please... Lo satu-satunya temen gw... Lo satu-satunya orang yang peduli sama gw..." isak Arsa kecil di pelukan Raya.
"Aku juga gak mau pergi, Arsa... Aku sayang banget sama Arsa..." tangis Raya kecil.
Mereka berpelukan sambil menangis di tengah taman yang sepi. Dua anak kecil yang harus berpisah karena keadaan.
Seminggu kemudian, hari perpisahan pun akhirnya tiba. Raya kecil dan Arsa kecil bertemu untuk terakhir kalinya di taman yang sama.
Raya kecil memberikan sebuah gelang persahabatan yang ia buat sendiri kepada Arsa. "Arsa... Ini buat lo. Biar lo selalu inget aku..."
Arsa kecil menerima gelang itu dengan tangan yang bergetar. "Lea... Gw gak akan pernah lupa sama lo. Gak akan pernah."
"Janji ya, Arsa... Janji kita bakal ketemu lagi suatu hari nanti..." ucap Raya kecil dengan air mata yang terus mengalir.
"Gw janji, Lea. Gw janji" ucap Arsa kecil sembari mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Raya.
Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya. Pelukan yang begitu erat. Pelukan yang penuh dengan kesedihan dan kerinduan.
"Aku... Aku sayang banget sama Arsa... Jangan lupa aku ya..." bisik Raya kecil dengan suara yang sangat pelan.
"Gw juga sayang sama lo, Lea. Gw gak akan pernah lupa" bisik Arsa kecil.
Setelah itu, mobil yang akan membawa Raya pergi sudah datang. Ayah Raya memanggil-manggil.
"Raya! Ayo, sayang! Kita harus berangkat sekarang!"
Raya kecil melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ia menatap Arsa untuk terakhir kalinya dengan mata yang penuh air mata.
"Sampai jumpa, Arsa... Aku... Aku akan kembali. Aku janji" ucap Raya kecil dengan suara yang bergetar.
"Sampai jumpa, Lea..." ucap Arsa kecil dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Raya kecil berbalik dan berlari menuju mobil. Ia masuk ke dalam mobil dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Dari jendela mobil, ia melambaikan tangannya kepada Arsa yang berdiri sendirian di tengah taman.
Arsa kecil juga melambaikan tangannya meskipun air matanya jatuh.
Dan mobil itu pun pergi. Membawa Raya menjauh dari Arsa. Menjauh dari orang yang paling ia sayangi.
"Arsa..." isak Raya kecil di dalam mobil. "Aku janji... Aku pasti balik... Aku pasti balik buat lo..."
🌷🌷🌷🌷
BANDUNG - BULAN PERTAMA
Raya kecil sangat kesulitan beradaptasi di Bandung. Ia tidak punya teman. Selalu sendirian di sekolah barunya.
Setiap hari ia selalu memikirkan Arsa. Bertanya-tanya bagaimana kabar Arsa. Apakah Arsa baik-baik saja.
Ia mencoba menghubungi Arsa melalui telepon rumah yang dulu Arsa kasih tau, tapi tidak ada yang mengangkat.
Ia juga menulis surat untuk Arsa dan mengirimkannya ke alamat rumah Arsa. Tapi tidak ada balasan.
"Kenapa Arsa gak bales suratku ya... Apa dia udah lupa sama aku?" gumam Raya kecil dengan sedih.
Ibunya yang melihat Raya sedih langsung menghampiri. "Raya, sayang... Kenapa kamu sedih terus?"
"Aku... Aku kangen Arsa, Ma... Aku udah kirim surat tapi dia gak bales..." isak Raya kecil.
Ibunya memeluk Raya dengan lembut. "Mungkin dia sibuk, sayang. Atau mungkin suratnya belum sampai."
"Tapi aku kangen dia, Ma... Aku pengen ketemu dia lagi..." tangis Raya kecil.
"Sabar ya, sayang... Suatu hari nanti pasti kalian ketemu lagi" ucap ibunya sembari mengelus kepala Raya.
Tapi Raya kecil tidak sabar. Ia sangat merindukan Arsa. Sangat ingin bertemu dengan Arsa lagi.
🌷🌷🌷🌷
ENAM BULAN KEMUDIAN
Raya kecil masih terus mengirim surat kepada Arsa meskipun tidak pernah mendapat balasan.
Ia juga terus mencoba menelepon, tapi tidak pernah ada yang mengangkat.
"Kenapa... Kenapa Arsa gak pernah bales aku... Apa dia beneran udah lupa sama aku..." gumam Raya kecil dengan air mata yang jatuh.
Tapi ia tidak menyerah. Ia terus menulis surat. Terus menelepon. Terus berharap suatu hari Arsa akan membalas.
Di sekolah barunya, Raya kecil mulai punya beberapa teman. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi Arsa di hatinya.
"Raya, ayo main bareng!" ajak salah satu teman sekelasnya.
"Maaf... Aku lagi gak mau main..." tolak Raya kecil dengan halus.
Ia lebih memilih duduk sendirian sembari menulis surat untuk Arsa.
Arsa, aku kangen banget sama kamu. Apa kamu udah lupa sama aku? Aku harap kamu gak lupa. Aku akan selalu inget kamu. Selalu.
Aku janji suatu hari nanti aku akan kembali. Aku akan ketemu kamu lagi. Tunggu aku ya, Arsa.
Dari, Raya yang selalu kangen sama kamu.
🌷🌷🌷🌷
SATU TAHUN KEMUDIAN - RAYA KELAS 6 SD
Raya sudah tidak lagi mengirim surat karena tidak pernah mendapat balasan. Ia juga sudah tidak menelepon lagi.
Tapi ia tidak melupakan Arsa. Tidak sekalipun.
Setiap malam sebelum tidur, ia selalu berdoa. "Ya Tuhan... Tolong jaga Arsa. Tolong bikin dia bahagia. Dan tolong... Tolong pertemukan aku sama dia lagi suatu hari nanti..."
Di sekolah, banyak anak laki-laki yang mulai mendekatinya. Tapi ia selalu menolak.
"Raya, mau gak jadi temen aku?" tanya salah satu anak laki-laki di kelasnya.
"Maaf... Aku udah punya seseorang di hati aku..." jawab Raya dengan halus.
"Siapa? Pacar kamu?" tanya anak laki-laki itu dengan bingung.
Raya menggeleng. "Bukan pacar. Tapi... Tapi dia orang yang paling penting buat aku."
Anak laki-laki itu akhirnya pergi dengan wajah kecewa.
Teman-teman Raya yang melihat itu langsung menghampiri. "Raya, kenapa sih lo nolak terus? Dia kan ganteng."
"Aku gak suka sama dia" jawab Raya singkat.
"Terus lo suka sama siapa? Lo kan gak pernah cerita punya gebetan" tanya temannya dengan penasaran.
Raya tersenyum tipis. "Ada. Tapi dia di tempat lain. Jauh dari sini."
"Terus lo masih inget dia? Udah berapa lama lo gak ketemu?"
"Setahun. Tapi aku gak akan pernah lupa sama dia" jawab Raya dengan yakin.
Teman-temannya hanya menggelengkan kepala dengan heran.
🌷 🌷 🌷
RAYA SMP - KELAS 7
Raya sudah masuk SMP. Tiga tahun sudah sejak ia berpisah dengan Arsa. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Banyak anak laki-laki yang menyukainya.
Tapi ia tidak pernah menerima satupun dari mereka.
"Raya, aku suka sama kamu. Mau gak jadi pacar aku?" tanya salah satu anak laki-laki yang cukup populer di sekolahnya.
"Maaf... Aku gak bisa" tolak Raya dengan halus.
"Kenapa? Aku gak cukup baik buat kamu?" tanya anak laki-laki itu dengan kecewa.
"Bukan gitu. Cuma... Cuma hati aku udah ada yang punya" jawab Raya dengan senyuman tipis.
"Siapa? Boleh aku tau?"
Raya menggeleng. "Maaf, aku gak bisa bilang. Pokoknya aku gak bisa nerima perasaan kamu."
Anak laki-laki itu akhirnya pergi dengan wajah sedih.
Teman dekat Raya yang melihat itu langsung menghampiri. "Ray, lo serius sih? Itu anak populer banget loh! Banyak cewek yang suka sama dia!"
"Aku gak peduli. Aku gak suka sama dia" jawab Raya dengan tegas.
"Terus lo suka sama siapa sih? Kok lo nolak semua cowok yang nembak lo?"
Raya tersenyum sembari menatap keluar jendela. "Ada seseorang. Tapi dia jauh dari sini."
"Siapa? Mantan lo?"
"Bukan mantan. Dia... Dia temen masa kecil aku. Tapi buat aku... Dia lebih dari sekedar temen" jawab Raya dengan wajah yang sedikit memerah.
"Lo masih inget dia? Udah berapa lama lo gak ketemu?"
"Tiga tahun. Tapi aku gak akan pernah lupa sama dia. Gak akan pernah" ucap Raya dengan yakin.
Temannya menggelengkan kepala. "Lo aneh deh, Ray. Masa lo masih setia sama orang yang udah tiga tahun gak ketemu."
Tapi Raya hanya tersenyum. Karena ia tau... Ia tau bahwa perasaannya terhadap Arsa tidak akan pernah hilang.
🌷🌷🌷 🌷
RAYA SMP - KELAS 8
Empat tahun sudah sejak Raya berpisah dengan Arsa. Tapi ia masih terus memikirkan Arsa setiap hari.
Suatu hari, ia memberanikan diri untuk mencoba mencari informasi tentang Arsa melalui internet.
Ia mencoba mencari nama "Kian Arsa" di media sosial. Tapi tidak menemukan apapun.
"Kenapa... Kenapa Arsa gak ada di media sosial... Apa dia gak punya akun?" gumam Raya dengan kecewa.
Ia juga mencoba menghubungi teman-teman lama di SD-nya dulu untuk menanyakan kabar Arsa.
Tapi kebanyakan dari mereka sudah lupa atau tidak punya kontak dengan Arsa.
"Maaf ya, Ray... Gw juga udah gak kontak sama Arsa lagi. Dia kayaknya jarang ngobrol sama orang di sekolah" ucap salah satu teman lamanya.
Raya merasa sangat kecewa. Tapi ia tidak menyerah.
"Suatu hari nanti... Aku pasti ketemu Arsa lagi. Pasti" gumam Raya dengan tekad yang kuat.
🌷🌷🌷🌷
RAYA SMP - KELAS 9
Lima tahun sudah sejak Raya berpisah dengan Arsa. Ia sekarang sudah kelas 9 SMP.
Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, pintar, dan atletis. Ia masuk ekskul basket dan menjadi salah satu pemain terbaik.
"Raya! Keren banget tadi shootnya!" puji teman satu timnya.
"Makasih!" ucap Raya dengan senyuman lebar.
Setiap kali ia bermain basket, ia selalu teringat pada Arsa. Teringat saat mereka bermain basket bersama di taman.
'Arsa... Apa kamu masih inget kita suka main basket bareng? Apa kamu masih inget aku?' batin Raya dengan senyuman sedih.
Suatu hari, guru BK memanggilnya untuk membicarakan tentang pilihan SMA.
"Raya, kamu mau lanjut SMA di mana? Di Bandung atau mau balik ke kota asal kamu?" tanya guru BK.
Raya terdiam mendengar pertanyaan itu. Di dalam hatinya, ada jawaban yang sangat jelas.
"Bu... Aku... Aku pengen balik ke kota asal aku. Ke Nusadipa" jawab Raya dengan tegas.
"Nusadipa? Itu kan jauh dari sini. Kamu yakin?" tanya guru BK dengan heran.
"Iya, Bu. Aku yakin. Ada... Ada seseorang yang penting di sana. Dan aku... Aku pengen ketemu dia lagi" jawab Raya dengan mata yang berkaca-kaca.
Guru BK tersenyum. "Baiklah. Kalau itu keinginan kamu, Ibu akan bantu."
Raya tersenyum lebar. Akhirnya... Akhirnya ia punya kesempatan untuk kembali. Untuk bertemu Arsa lagi.
🌷🌷🌷🌷
PERSIAPAN KEMBALI KE NUSADIPA
Raya mulai mempersiapkan semuanya untuk bisa kembali ke Nusadipa.
Ia berbicara dengan ayah dan ibunya tentang keinginannya.
"Pa, Ma... Raya pengen sekolah SMA di Nusadipa. Raya pengen balik ke kota asal kita" ucap Raya dengan serius.
Ayahnya terdiam mendengar permintaan Raya. "Nusadipa? Tapi itu jauh, sayang. Papa sama Mama masih kerja di sini."
"Raya tau, Pa. Makanya... Makanya Raya mau tinggal sendiri di sana. Raya bisa ngekos atau apa gitu" ucap Raya dengan tekad yang kuat.
"Tinggal sendiri? Kamu masih kecil, sayang. Papa gak tega" ucap ibunya dengan khawatir.
"Raya udah gede, Ma. Raya udah kelas 9. Bentar lagi SMA. Raya pasti bisa jaga diri" yakin Raya.
"Tapi kenapa sih kamu pengen banget balik ke Nusadipa? Emang ada apa di sana?" tanya ayahnya dengan penasaran.
Raya terdiam sejenak. "Ada... Ada seseorang yang penting buat Raya, Pa. Seseorang yang... Yang Raya sayang."
Ayah dan ibunya saling melirik. Mereka sepertinya mengerti.
"Arsa ya?" tanya ibunya dengan lembut.
Raya mengangguk dengan pipi yang memerah. "Iya, Ma... Raya... Raya masih inget dia. Raya masih sayang sama dia."
"Sudah lima tahun kamu gak ketemu dia, sayang. Kamu yakin dia masih inget kamu?" tanya ibunya dengan hati-hati.
"Raya gak tau, Ma. Tapi Raya... Raya harus coba. Raya harus ketemu dia lagi. Kalau enggak... Kalau enggak Raya bakal nyesel selamanya" ucap Raya dengan air mata yang mulai jatuh.
Ayah dan ibunya terharu melihat tekad Raya yang begitu kuat.
"Baiklah. Papa sama Mama akan bantu kamu. Tapi kamu harus janji untuk jaga diri dengan baik" ucap ayahnya akhirnya.
Raya langsung memeluk ayah dan ibunya dengan erat. "Makasih, Pa! Makasih, Ma! Raya janji akan jaga diri!"
Untuk bisa membiayai hidup di Nusadipa, Raya mulai kerja paruh waktu. Ia bekerja di cafe, di toko buku, bahkan menjadi tutor les untuk anak-anak SD.
Setiap hari ia sekolah dari pagi sampai sore, lalu kerja dari sore sampai malam.
"Raya, lo gak capek? Lo kerja terus" tanya temannya dengan khawatir.
"Capek sih. Tapi gapapa. Ini buat masa depan aku" jawab Raya dengan senyuman meskipun wajahnya terlihat lelah.
"Buat masa depan? Emang lo mau nabung buat apa?"
"Buat balik ke Nusadipa. Buat ketemu seseorang yang penting buat aku" jawab Raya dengan mata yang berbinar.
Temannya menggelengkan kepala dengan heran. "Lo beneran serius ya sama orang itu. Padahal udah lima tahun gak ketemu."
"Justru karena udah lima tahun, makanya aku harus ketemu dia secepatnya. Sebelum terlambat" ucap Raya dengan tekad yang kuat.
Selama itu pula, Raya menolak lebih dari sepuluh orang anak laki-laki yang menyatakan perasaan padanya.
"Raya, aku suka sama kamu dari kelas 7. Mau gak jadi pacar aku?" tanya salah satu anak laki-laki yang sudah menyukainya sejak lama.
"Maaf... Aku gak bisa. Hati aku udah ada yang punya" tolak Raya dengan lembut.
"Siapa? Aku kenal dia?" tanya anak laki-laki itu dengan kecewa.
Raya menggeleng. "Kamu gak kenal. Dia di tempat lain."
"Terus kenapa kamu masih setia sama dia? Kalian kan gak pacaran?"
"Emang gak pacaran. Tapi... Tapi perasaan aku buat dia itu nyata. Dan aku gak bisa seenaknya nerima orang lain kalau hati aku masih penuh sama dia" jelas Raya dengan tegas.
Anak laki-laki itu akhirnya pergi dengan wajah sedih.
Teman-teman Raya yang melihat itu menggelengkan kepala. "Ray, lo beneran setia banget deh. Gak ada cewek yang kayak lo."
Raya tersenyum. "Cinta sejati itu gak kenal jarak dan waktu. Meskipun aku udah lima tahun gak ketemu dia, perasaan aku gak akan pernah hilang."
Selain kerja paruh waktu, Raya juga belajar sangat keras. Ia ingin diterima saat pindah ke SMA Negeri 2 Nusadipa, sekolah yang sama dengan Arsa.
Ia belajar sampai larut malam setiap hari. Mengerjakan soal-soal latihan. Mengikuti bimbel.
"Raya, lo harus istirahat. Lo udah kerja seharian, masa masih belajar lagi" ucap ibunya dengan khawatir.
"Gapapa, Ma. Raya harus masuk SMA Negeri 2 Nusadipa. Itu sekolah terbaik di sana. Dan... Dan Arsa sekolah di sana" ucap Raya dengan tekad yang kuat.
"Kamu udah cek? Arsa beneran sekolah di sana?" tanya ibunya.
Raya mengangguk. "Raya udah tanya ke temen-temen lama. Mereka bilang Arsa sekolah di SMA Negeri 2 Nusadipa."
"Syukurlah kalau gitu. Tapi kamu harus jaga kesehatan juga, sayang" ucap ibunya dengan lembut.
"Iya, Ma. Raya janji" ucap Raya dengan senyuman.
🌷🌷🌷🌷
Pada akhirnya dua tahun pun telah berlalu sejak Raya mulai bekerja paruh waktu, terus belajar. Tak terasa Ia sudah naik kelas tiga SMA. Meskipun nanggung untuk pindah sekarang, tapi ia tidak peduli.
Ia sudah tujuh tahun menunggu... berusaha...
Pada malam sebelum kembali ke Nusadipa, Raya berbaring di kasurnya sembari memeluk foto Arsa kecil dan dirinya yang ia simpan sejak dulu.
"Arsa... Akhirnya... Akhirnya kita bakal ketemu lagi..." bisik Raya dengan senyuman.
"Aku udah nunggu tujuh tahun buat moment ini. Lima tahun aku berjuang. Tujuh tahun aku setia nunggu kamu."
"Aku nolak banyak cowok. Aku kerja keras. Aku belajar keras. Semua buat bisa ketemu kamu lagi."
Air matanya jatuh. "Aku harap... Aku harap kamu masih inget aku. Aku harap kamu gak lupa sama janji kita."
"Tapi kalau pun kamu lupa... Gapapa. Aku akan ngingetin kamu. Aku akan bikin kamu inget lagi."
"Karena aku... Aku sayang banget sama kamu, Arsa. Dari dulu. Sampai sekarang. Dan akan terus sayang sama kamu."
Raya memeluk foto itu dengan erat. "Tunggu aku ya, Arsa... Aku udah di jalan. Aku akan segera ketemu kamu..."
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
PERJUANGAN YANG LUAR BIASA! 😭💪
Bab ini benar-benar menunjukkan betapa BESARNYA cinta Raya kepada Arsa!
TUJUH TAHUN dia menunggu! TUJUH TAHUN dia setia! Dia nolak LEBIH DARI SEPULUH cowok yang suka sama dia! Semua karena hatinya cuma untuk Arsa! 💔
Raya bekerja paruh waktu (di cafe, toko buku, jadi tutor) sambil belajar keras supaya bisa masuk SMA Negeri 2 Nusadipa! Dia capek, dia lelah, tapi dia gak pernah menyerah!
Dia mencoba menghubungi Arsa berkali-kali (surat, telepon) tapi gak pernah dibalas. Bahkan sampai HILANG KONTAK! Tapi dia tetep pertahanin perasaannya!
Raya bilang "Cinta sejati itu gak kenal jarak dan waktu. Meskipun aku udah lima tahun gak ketemu dia, perasaan aku gak akan pernah hilang." 😭
Sekarang kita ngerti kenapa Raya gak mau nyerah begitu aja. Dia udah berjuang TUJUH TAHUN! Dia udah mengorbankan SEGALANYA!
Tapi... Apa yang akan terjadi saat dia tau Arsa udah punya Asha? 💔
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku