NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Ambisi Sang Ibu Mertua

Rumah yang seharusnya menjadi tempat pemulihan bagi Nida setelah hantaman kemoterapi pertama, kini berubah menjadi medan pertempuran ego. Aroma obat-obatan yang masih melekat di tubuh Nida beradu dengan wangi parfum mahal milik Mama Rosa yang menyesakkan dada. Sejak Fandy mengusir Anita secara halus, Mama Rosa tidak tinggal diam. Baginya, martabat keluarga dan kelangsungan bisnis Fandy jauh lebih penting daripada perasaan seorang istri yang, menurut diagnosisnya sendiri, sudah "tinggal menunggu waktu."

Siang itu, matahari seolah membakar atap rumah. Nida sedang berbaring di sofa ruang tengah, mencoba meredakan rasa mual yang terus-menerus mengaduk perutnya. Di sampingnya, Hana sedang membacakan surah Ar-Rahman dengan suara lirih yang menyejukkan. Kehadiran Hana di rumah itu kini sudah mulai diterima oleh anak-anak, bahkan Syabila seringkali ikut duduk menyimak bacaan Hana. Namun, ketenangan itu hancur saat pintu depan dibuka dengan kasar.

Mama Rosa masuk dengan langkah yang berderap, diikuti oleh asisten pribadinya yang membawa beberapa tas belanjaan mewah. Wajahnya merah padam, menunjukkan kemarahan yang sudah di puncak ubun-ubun.

"Masih di sini kamu, perempuan kampung?" teriak Mama Rosa langsung tertuju pada Hana. "Siapa yang memberimu izin untuk masuk ke rumah anakku setiap hari? Kamu pikir dengan membacakan ayat-ayat itu, kamu bisa mencuci otak cucu-cucuku?"

Hana segera menghentikan bacaannya. Ia berdiri dengan kepala menunduk, mencoba menjaga adab di depan orang yang lebih tua. "Maaf, Nyonya Rosa. Saya hanya menjalankan amanah dari Mbak Nida untuk menemani anak-anak mengaji."

"Amanah? Amanah apa!" Mama Rosa mendekati Nida yang mencoba duduk dengan payah. "Nida, kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat ya? Kamu membawa orang asing masuk ke sini, sementara Anita, saudara kita sendiri, kamu usir seperti anjing? Kamu pikir siapa yang akan membantu Fandy kalau kamu sudah tidak ada? Perempuan ini? Dia punya apa? Dia hanya punya kerudung panjang dan mulut yang pandai mengaji. Dia tidak bisa membantumu di jamuan bisnis atau mengatur relasi sosial Fandy!"

Nida menarik napas pendek, dadanya terasa sesak bukan hanya karena kanker, tapi karena sakit hati yang luar biasa. "Ma... ini bukan soal bisnis. Ini soal masa depan iman Syabila dan Syauqi. Hana adalah orang yang tepat karena dia mencintai Allah, dan dia tulus pada anak-anak."

"Tulus? Di dunia ini tidak ada yang gratis, Nida!" Mama Rosa tertawa sinis, sebuah tawa yang menyayat hati. "Dia pasti mengincar posisi di rumah ini. Dia tahu Fandy itu kaya, dia tahu Fandy itu CEO. Jangan jadi naif hanya karena kamu sedang sakit sakaratul maut!"

Mendengar kata "sakaratul maut" diucapkan dengan begitu enteng oleh ibu mertuanya sendiri, air mata Nida tumpah. Hana yang melihat itu segera merangkul bahu Nida, namun Mama Rosa justru menepis tangan Hana dengan kasar.

"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu! Sekarang, keluar kamu dari sini sebelum aku panggil satpam!" bentak Mama Rosa.

Hana menatap Nida dengan pandangan penuh permohonan maaf. "Mbak Nida, saya pamit dulu. Saya tidak ingin menambah beban Mbak. Assalamu’alaikum." Hana pergi dengan langkah cepat, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang.

Sepeninggal Hana, Mama Rosa duduk di depan Nida dengan gaya otoriter. "Dengar, Nida. Mama sudah bicara dengan Fandy semalam lewat telepon, tapi dia tetap keras kepala. Sekarang Mama bicara padamu sebagai sesama wanita. Kalau kamu memang sayang pada Fandy, berikan dia kebebasan. Jangan bebani dia dengan rencana-rencana konyolmu tentang guru mengaji itu. Anita adalah pilihan yang paling logis. Dia paham dunia Fandy. Dia bisa menjaga aset keluarga kita tetap utuh."

"Aset... hanya itu yang Mama pikirkan?" bisik Nida dengan suara serak. "Bagaimana dengan Syauqi yang butuh bimbingan salat? Bagaimana dengan Syabila yang butuh teladan kesantunan? Anita tidak punya itu semua, Ma."

"Anak-anak bisa masuk *boarding school* terbaik! Mereka bisa dididik oleh profesional! Kamu jangan sok jadi pahlawan spiritual," Mama Rosa berdiri, menatap Nida dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Lihat dirimu. Rambutmu sudah tidak ada, tubuhmu tinggal tulang. Apa kamu tidak kasihan pada Fandy yang harus melihat pemandangan menyedihkan ini setiap hari? Dia itu laki-laki normal, Nida. Dia butuh pendamping yang segar, yang bisa dibanggakan, bukan yang hanya bisa meratap di atas sajadah."

Hinaan itu terasa seperti belati yang diputar-putar di dalam luka Nida. Nida merasa dirinya sudah tidak memiliki harga diri lagi di mata ibu mertuanya. Ia merasa seperti barang rusak yang harus segera dibuang ke tempat sampah agar tidak merusak pemandangan.

Namun, Mama Rosa tidak tahu bahwa Fandy sedang berada di balik pilar ruang makan. Ia pulang lebih awal karena merasa tidak enak hati meninggalkan Nida sendirian dengan firasat bahwa ibunya akan datang. Fandy telah mendengar semuanya. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah padam oleh amarah yang tertahan.

Fandy melangkah keluar dari persembunyiannya. "Cukup, Ma," suaranya rendah namun bergetar hebat.

Mama Rosa tersentak. "Fandy? Sejak kapan kamu di situ?"

"Sejak Mama mulai menghina istriku sebagai barang yang tidak berguna," Fandy berjalan menghampiri Nida, berlutut di samping istrinya dan memegang tangannya yang dingin. "Ma, aku mencintai Nida bukan karena rambutnya, bukan karena kecantikannya yang fisik, tapi karena dia adalah alasan aku tetap menjadi manusia yang punya hati."

"Fandy, Mama hanya ingin yang terbaik untukmu..."

"Yang terbaik menurut Mama adalah yang terbaik untuk bisnis keluarga, bukan untuk hidupku!" potong Fandy dengan suara yang mulai meninggi. "Mama bilang Nida membebani aku? Tidak, Ma. Mama-lah yang membebani aku dengan ambisi-ambisi kosong Mama. Mulai detik ini, aku melarang Mama membawa nama Anita lagi di rumah ini. Dan aku melarang Mama menghina kondisi fisik istriku."

Mama Rosa ternganga. "Kamu berani bicara begitu pada Mamamu sendiri demi wanita yang sebentar lagi akan meninggalkanmu?"

"Dia tidak akan pernah meninggalkanku, Ma. Cintanya akan tetap ada di dalam diri anak-anakku. Dan soal Hana... dialah yang akan membantu menjaga warisan cinta Nida, bukan Anita yang hanya ingin menguras hartaku." Fandy menunjuk ke arah pintu. "Silakan keluar, Ma. Jangan kembali lagi sampai Mama bisa menghargai Nida sebagai menantu dan sebagai ibu dari cucu-cucu Mama."

Mama Rosa menyambar tasnya dengan emosi. "Kamu akan menyesal, Fandy! Kamu akan menyesal saat kamu sendirian dan tidak punya siapa-siapa untuk membantumu mengurus perusahaan ini!" Ia pergi dengan membanting pintu, meninggalkan keheningan yang menyakitkan.

Nida menangis di pelukan Fandy. "Mas... maafkan aku. Gara-gara aku, hubunganmu dengan Mama jadi hancur."

"Bukan gara-gara kamu, Nida. Ini soal prinsip," Fandy mencium kening istrinya yang tertutup turban. "Aku baru sadar, selama ini aku terlalu lemah di depan Mama. Dan melihat keberanianmu menyiapkan masa depan untuk kita, aku jadi malu kalau aku tidak bisa menjagamu dari lisan ibuku sendiri."

Namun, di tengah haru itu, konflik batin Nida justru semakin meruncing. Ia merasa sangat bersalah karena telah menyebabkan Hana dihina. Ia juga merasa takut bahwa apa yang dikatakan Mama Rosa ada benarnya—bahwa ia memang membebani Fandy.

Sore harinya, Nida meminta Fandy untuk mengantarnya ke kamar Syabila. Ia menemukan putrinya sedang menangis di pojok kamar. Syabila ternyata mendengar semua teriakan Mama Rosa tadi.

"Ibu... apa benar Ibu akan segera pergi?" tanya Syabila dengan suara parau. "Kenapa Nenek jahat sekali pada Ibu? Kenapa Nenek mau ganti Ibu dengan Tante Anita?"

Nida memeluk putrinya erat-redat. "Nenek hanya khawatir, Sayang. Tapi kamu tidak perlu takut. Ayah dan Ibu akan selalu menjagamu. Dan ada Kak Hana yang juga sayang padamu."

"Aku mau Kak Hana saja, Bu. Jangan Tante Anita. Kak Hana sering ceritakan tentang surga, tapi Nenek dan Tante Anita cuma bicara soal baju dan tas mahal," isak Syabila.

Pernyataan Syabila menjadi penguat bagi Nida. Ambisi sang ibu mertua justru membuat garis pemisah yang jelas antara jalan dunia dan jalan surga. Nida menyadari bahwa perang ini bukan lagi soal siapa yang akan menjadi istri Fandy, tapi soal siapa yang akan menyelamatkan jiwa keluarganya.

Malam itu, rasa sakit di perut Nida kembali menyerang, kali ini lebih hebat hingga ia sempat kehilangan kesadaran selama beberapa menit. Fandy panik dan hampir membawanya kembali ke rumah sakit, namun Nida menolak. Ia ingin tetap di rumah, di dalam benteng yang sedang ia perjuangkan.

Di tengah kesakitannya, Nida menulis pesan singkat untuk Hana: *"Hana, maafkan perlakuan Mama Rosa tadi. Tolong jangan menyerah pada kami. Anak-anak membutuhkanmu lebih dari yang kamu bayangkan. Kamu adalah satu-satunya harapanku."*

Hana membalas dengan sebuah doa yang singkat namun sangat berarti: *"Mbak Nida, saya tidak akan pergi. Allah bersama kita."*

Nampak Fandy yang tertidur sambil memegang tangan Nida di samping ranjang. Ambisi Mama Rosa telah gagal meruntuhkan hati Fandy, namun ia telah meninggalkan luka yang dalam di batin Nida. Nida menyadari bahwa musuh yang ia hadapi kini bukan hanya kanker, tapi juga waktu dan kebencian dari orang-orang terdekat. Di kegelapan malam, Nida berbisik pada Tuhan, memohon agar ia diberikan satu kesempatan lagi untuk melihat Hana dan Fandy bisa benar-benar sejalan sebelum ia menutup mata untuk selamanya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!