Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut Hangat di Tengah Dingin
Matahari mulai tenggelam di balik jajaran pinus, menyisakan semburat jingga yang indah sekaligus udara dingin yang menusuk tulang. Di area perkemahan yang privat itu, suasana menjadi sangat hangat berkat kesibukan geng somplak.
Lucia tampak sangat cekatan di depan kompor portabel. Ia sedang menumis daging dengan aroma yang menggoda selera, sementara Patrick dan Clark sibuk memotong sayuran di atas meja lipat.
"Potongnya yang bener, Clark! Itu wortel bukan grafik saham, jangan dipotong tipis-tipis kayak margin keuntungan!" omel Lucia yang membuat Clark hanya bisa menghela napas pasrah.
Di sudut lain, Henry terlihat mondar-mandir dengan wajah kusut, menatap layar ponselnya yang timbul tenggelam sinyalnya. "Sialan! Pacar baru gue ngamuk! Dia bilang gue sengaja nggak ajak dia karena mau selingkuh sama pendaki lain. Padahal di sini isinya cuma Lucia yang galak sama Jane yang udah di-tag si bos!" Henry mengomel sendirian, mengundang tawa ejekan dari Patrick.
Sementara yang lain sibuk, Julius dan Jane duduk berdampingan di atas batang pohon tumbang yang menghadap langsung ke arah lembah. Julius duduk dengan tegak, wajahnya tetap menunjukkan ekspresi dingin yang khas, namun matanya tidak lepas dari Jane.
Mereka duduk cukup dekat, hingga bahu mereka bersentuhan. Julius menatap Jane dengan tatapan mesra yang sangat kontras dengan wajah datarnya, sebuah tatapan yang hanya diberikan pada Jane saat tidak ada mata publik yang melihat.
Cekrek!
"Dapet lagi!" seru Lucia dari kejauhan sambil mengangkat kameranya. "Gila, pencahayaan api unggun ini bikin kalian berdua kelihatan kayak model majalah Vogue edisi Outdoor Romance."
Lucia berlari mendekat, memaksa mereka untuk foto bersama. "Ayo, Jane, senyum! Julius, jangan kaku banget mukanya, kasihan Jane nanti dikira foto sama patung es."
Julius tidak membantah. Ia justru sedikit memiringkan kepalanya ke arah Jane saat kamera menangkap momen mereka. Setelah berfoto, Lucia memicingkan matanya, memperhatikan detail yang sejak tadi ia sadari.
"Eh, tunggu sebentar..." Lucia menunjuk jaket yang dipakai Jane dan Julius. "Sumpah ya, kalian berdua bener-bener niat banget. Liat tuh, warna dan model jaket kalian bener-bener couple! Cuma beda ukuran doang. Jane, lo sadar nggak sih?"
Jane menunduk, melihat jaket biru langitnya yang memang sangat mirip dengan jaket biru navy milik Julius. Hatinya mencelos. Seperti mimpi, pikirnya. Bagaimana bisa seorang figuran sepertinya memakai barang yang sama dengan sang pemeran utama?
Malam semakin larut. Setelah makan malam yang lezat buatan Lucia, mereka berkumpul melingkari api unggun. Pembicaraan mulai mengalir, mulai dari membahas kelakuan teman-teman di kelas yang menyebalkan hingga dosen yang pelit nilai.
"Lo inget nggak si Brandon yang sok tau itu? Dia pasti bakal pingsan kalau tau kita lagi di sini tanpa bawa pengawal," tawa Henry yang sudah mulai tenang dari drama pacarnya.
Jane hanya sesekali menanggapi, namun ia menyadari satu hal, sepanjang pembicaraan, Julius tetap diam, namun matanya terus terkunci pada Jane. Mereka saling tatap-tatapan dalam diam. Meskipun keduanya tetap terlihat dingin dan tidak banyak bicara, ada komunikasi bawah tanah yang terjadi lewat tatapan itu sebuah pengakuan yang tidak berani diucapkan lewat kata-kata.
Lucia menyenggol lengan Jane, berbisik pelan, "Liat tuh, tatapan Julius ke lo udah kayak mau nelan lo hidup-hidup. Nggak ada dingin-dinginnya sama sekali kalau udah berdua gini."
Jane tersipu, menarik kerah jaket couple-nya lebih tinggi untuk menyembunyikan senyumnya. Baginya, malam ini terlalu sempurna. Di tengah hutan yang sunyi, di bawah jutaan bintang, ia merasa seolah-olah naskah hidupnya sedang ditulis ulang oleh tangan Julius sendiri.
Malam semakin larut di tengah hutan yang sunyi. Suhu udara turun drastis, membuat embun mulai membeku di permukaan tenda. Jane sudah meringkuk di dalam sleeping bag-nya, mencoba memejamkan mata, namun jantungnya masih berdegup kencang mengingat tatapan Julius di depan api unggun tadi.
Tiba-tiba, ponselnya yang diletakkan di samping bantal bergetar. Satu notifikasi muncul. Jane mengira itu dari Mr. A, namun saat ia melihat layarnya, napasnya seolah terhenti.
[1 New Message: Julius Randle]
Julius: Tidurlah dengan nyenyak, Jane. Udara malam ini sangat dingin, pastikan pemanas di kantung tidurmu menyala. Aku di sini.
Jane terduduk kaku. Ini adalah pesan teks pertama yang dikirim Julius langsung dari nomor pribadinya, bukan lewat perantara tugas atau grup riset. Kalimatnya singkat, namun terasa begitu intim. "Aku di sini" seolah Julius sedang berjaga tepat di balik dinding kain tendanya. Jane merasa dunianya baru saja bergeser; sang Matahari yang tak tersentuh itu baru saja mengetuk pintunya secara personal.
Belum sempat Jane menenangkan diri dari pesan Julius, ponselnya kembali bergetar bertubi-tubi. Kali ini berasal dari grup WhatsApp yang meledak karena unggahan terbaru Lucia di Instagram.
"Jane! Lo liat postingan Lucia nggak?!" Henry mengirim pesan suara dengan nada heboh di grup.
Jane segera membuka aplikasi Instagram. Di sana, Lucia baru saja mengunggah rangkaian foto pendakian mereka dengan caption:
"Escaping the noise with the best team. Nature doesn't care about your bank account."
Foto pertama adalah foto grup di mana mereka semua tertawa. Foto kedua adalah foto candid Jane dan Julius yang sedang duduk di batang pohon. Publik langsung menyerbu kolom komentar.
"Gila, Jane bener-bener udah sah jadi bagian dari Geng Elit!"
"Gadis tekstil itu hebat banget ya, bisa masuk ke circle Julius Randle."
"Vibes-nya asik banget, iri liat mereka bisa naik gunung bareng."
Netizen dan teman-teman kampus mereka hanya fokus pada betapa beruntungnya Jane bisa diterima oleh lingkaran konglomerat tersebut. Mereka sibuk membahas kasta dan pertemanan mahal itu.
Tidak ada yang menyadari detail kecil dalam foto itu, bagaimana ujung jaket mereka yang identik bersentuhan, atau bagaimana tangan Julius yang tersembunyi di balik bayangan sebenarnya sedang berada sangat dekat dengan pinggang Jane.
Jane menatap foto itu lama sekali. Di saat publik hanya melihat "Jane si gadis beruntung", Jane melihat hal lain. Ia melihat tatapan Julius di foto itu, tatapan yang kini ia tahu selaras dengan pesan singkat yang baru saja ia terima.
Ia memberanikan diri melirik keluar celah kecil tendanya. Di sana, di dekat sisa-sisa api unggun yang masih kemerahan, ia melihat bayangan seorang pria yang duduk diam dengan bahu tegap. Itu Julius.
Jane kembali berbaring, memeluk ponselnya di dada. Otak pintarnya mencoba memproses, Julius mengirim pesan hangat, sementara Mr. A... masih diam.
Untuk pertama kalinya, Jane merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia tidak lagi membutuhkan peramalan Mr. A jika sang Matahari sudah mulai bicara langsung padanya.
Namun, satu pertanyaan masih tersisa, Kenapa Julius harus sejauh ini menyembunyikan perhatiannya di depan teman-temannya yang lain?
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍