NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan yang Tidak Kuinginkan Namun Terjadi

Malam itu aku tidak langsung tidur.

Setelah mematikan layar ponsel, aku hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang terasa asing meski telah bertahun-tahun menjadi tempatku pulang. Ada sesuatu yang berubah, dan aku bisa merasakannya dengan jelas—seperti pergeseran kecil di dalam dada yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Aku tidak lagi sekadar penasaran.

Aku mulai berhati-hati.

Hati ini, yang biasanya ringan dan mudah percaya, kini terasa lebih lambat dalam merespons. Seolah ada bagian diriku yang menahan langkahku sendiri, memintaku untuk tidak terburu-buru melangkah ke arah yang belum sepenuhnya kupahami.

Nama Schevenko kembali terlintas, namun kali ini tidak disertai degup antusias yang berlebihan. Yang muncul justru perasaan lain—campuran hormat, empati, dan kesadaran bahwa pria itu membawa beban yang jauh lebih berat daripada yang tampak di permukaan.

Aku membalikkan badan, memeluk bantal.

Bayangan tatapannya di pantai kembali hadir. Tatapan yang tenang, tapi kosong. Seolah ia berdiri di hadapanku, namun sebagian dirinya tertinggal jauh di masa lalu.

“Aku tidak boleh sembarangan,” bisikku pada diri sendiri.

Aku sadar, rasa kagum bisa berubah menjadi ketergantungan jika tidak dijaga. Dan aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya hadir di hidupnya karena rasa ingin tahu semata.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dari biasanya.

Aku turun ke dapur, membantu ibuku menyiapkan sarapan tanpa diminta. Ibuku sempat menatapku heran, lalu tersenyum kecil.

“Kamu kelihatan berbeda pagi ini,” katanya pelan.

Aku hanya tersenyum tipis.

“Aku cuma… lagi banyak mikir, Bu.”

Dan itu bukan kebohongan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, namun rasanya tidak lagi sama. Aku menjalani rutinitas dengan lebih tenang, lebih diam. Aku tidak lagi terburu-buru membuka ponsel setiap kali ada notifikasi, tidak lagi berharap melihat namanya muncul di layar.

Namun anehnya, justru dalam jarak itu, kehadirannya semakin terasa.

Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang diriku sendiri—cara aku memilih kata saat berbicara, cara aku menimbang perasaan sebelum bereaksi, cara aku belajar memahami bahwa tidak semua orang ingin lukanya disentuh.

Perubahan itu tidak datang karena ia memintaku berubah.

Perubahan itu datang karena aku ingin menjadi seseorang yang pantas berdiri di dekatnya tanpa menjadi beban.

Suatu sore, aku duduk di ruang tamu bersama ayah. Ia membaca koran, sementara aku hanya memandangi halaman depan rumah. Angin sore berembus pelan, membawa ketenangan yang jarang kurasakan akhir-akhir ini.

Ayah menurunkan korannya.

“Kamu sedang memikirkan dia, ya?” tanyanya tiba-tiba.

Aku terkejut, namun tidak menyangkal. Aku mengangguk pelan.

“Ayah tidak banyak bicara waktu itu,” lanjutnya. “Tapi ayah memperhatikan caramu.”

Aku menoleh padanya.

“Caraku bagaimana, Yah?”

“Caramu diam. Caramu mendengarkan. Itu bukan caramu biasanya.”

Aku terdiam. Ayah benar.

Aku memang berubah.

Malam demi malam, aku mulai menyadari bahwa perasaanku tidak lagi dangkal. Aku tidak membayangkan hal-hal berlebihan, tidak mengarang masa depan yang terlalu jauh. Yang kupikirkan hanyalah satu hal sederhana—bagaimana caranya berjalan di samping seseorang tanpa harus mengisi kekosongan yang bukan tugasku.

Schevenko bukan seseorang yang perlu diselamatkan.

Ia telah menyelamatkan dirinya sendiri sejak lama.

Dan kesadaran itu membuatku semakin menghormatinya.

Beberapa hari kemudian, aku kembali membaca tentang studinya. Kali ini bukan dengan rasa takjub semata, melainkan dengan pemahaman baru. Ia tidak berlari karena ambisi. Ia berlari karena berhenti berarti tenggelam.

Aku memejamkan mata.

“Aku tidak ingin hanya kagum,” kataku dalam hati. “Aku ingin mengerti.”

Sikapku pada orang-orang di sekitarku pun berubah. Aku lebih sabar, lebih tenang. Ibuku sempat bertanya apakah aku sedang lelah atau sakit. Aku hanya tersenyum dan menggeleng.

Aku tidak sakit.

Aku sedang tumbuh.

Dan pertumbuhan itu tidak selalu nyaman.

Suatu malam, aku duduk kembali di ruang keluarga bersama ayah. Televisi menyala tanpa benar-benar kami tonton. Keheningan di antara kami terasa akrab.

Aku menarik napas panjang.

“Ayah,” panggilku.

Ayah menoleh.

“Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang.”

Ia tidak menyela.

“Aku tidak melihatnya sebagai seseorang yang sempurna. Aku tahu hidupnya rumit. Aku tahu masa lalunya berat. Dan aku tahu, bersamanya tidak akan selalu mudah.”

Tanganku mengepal di atas paha.

“Tapi justru karena itu… aku ingin berjalan bersamanya.”

Ayah menatapku lama. Tatapannya tidak menghakimi, tidak tergesa.

“Aku ingin menikah dengannya, Yah,” ucapku akhirnya. “Aku ingin hidup dengannya. Bukan karena rasa penasaran. Bukan karena kekaguman sesaat. Tapi karena aku siap menerima diamnya, lukanya, dan jaraknya.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Aku bisa mendengar detak jam dinding yang biasanya tak pernah kuperhatikan. Jantungku berdetak seirama dengannya. Aku tidak menunduk, tidak pula mengalihkan pandang. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar berdiri di hadapan ayah sebagai seseorang yang utuh.

Ayah menghela napas pelan.

Lalu, perlahan, senyum muncul di wajahnya. Senyum yang tidak main-main, tidak bercanda, tapi penuh makna.

Ia berdiri dari duduknya, lalu melangkah ke arah dapur.

“Buuu,” panggil ayah dengan suara yang dibuat sedikit keras.

“Anakmu sudah dewasa, Buu.”

Aku terkejut.

Wajahku langsung terasa panas. “Ayah!” seruku refleks, malu sekaligus gugup.

Ibu muncul dari dapur dengan lap di tangan, wajahnya penuh tanda tanya. “Kenapa memangnya?”

Ayah menunjuk ke arahku sambil tertawa kecil. “Dia barusan bilang mau menikah.”

Ibu terdiam sesaat. Lalu menatapku dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya bukan tatapan heran—melainkan tatapan yang seolah sedang melihat sesuatu yang baru.

“Kamu serius?” tanya ibu lembut.

Aku mengangguk, lebih pelan dari sebelumnya.

“Iya, Bu.”

Ibu tersenyum. Bukan senyum menggoda, tapi senyum yang hangat. Ia berjalan mendekat, duduk di sampingku, lalu menggenggam tanganku.

“Kamu tidak bicara seperti anak kecil yang sedang jatuh hati,” katanya pelan. “Kamu bicara seperti seseorang yang sudah tahu apa artinya hidup bersama orang lain.”

Aku menunduk, dadaku terasa penuh.

Ayah ikut duduk kembali, lalu mencondongkan badan sedikit ke arahku. “Ayah cuma mau tanya satu hal,” katanya. “Kamu siap kalau hidup tidak selalu manis?”

Aku mengangguk tanpa ragu.

“Aku tahu, Yah.”

Ayah terkekeh kecil. “Wah, sekarang jawabannya cepat sekali.”

“Ihh, Ayah sama Ibu kok jadi ngeledekin sih,” protesku, makin malu.

Ibu tertawa kecil. “Dulu kamu masih minta ditemani tidur. Sekarang sudah bicara soal menikah.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya ampun…”

Namun di balik rasa maluku, ada kehangatan yang tidak bisa kusembunyikan. Untuk pertama kalinya, pembicaraan tentang masa depan tidak terasa menakutkan. Tidak terasa berat. Justru terasa… nyata.

Malam itu kami berbincang lama. Tidak ada keputusan tergesa, tidak ada janji berlebihan. Ayah dan ibu hanya mendengarkan—dan aku bercerita. Tentang Schevenko yang tenang. Tentang caranya berbicara. Tentang diamnya yang tidak kosong.

Tentang rasa hormat yang tumbuh perlahan, bukan meledak tiba-tiba.

Aku tidak mengagungkannya. Aku menceritakannya apa adanya.

Dan mungkin justru itu yang membuat ayah dan ibuku percaya.

Ketika aku akhirnya masuk ke kamar, senyum kecil masih tertinggal di wajahku. Aku duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang tergeletak di atas meja.

Aku tidak langsung membukanya.

Aku menyadari sesuatu malam itu—bahwa perasaanku tidak lagi berdiri di atas angan. Ia berdiri di atas kesadaran.

Aku siap berjalan, bukan berlari.

Siap mendampingi, bukan menyembuhkan.

Siap hidup, bukan sekadar jatuh cinta.

Dan di balik semua itu, ada restu yang tidak diucapkan dengan kata-kata panjang—namun terasa sangat jelas.

Aku tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, masa depan tidak lagi terasa jauh.

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!