NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Sakit. Rasanya seperti ribuan jarum perak menusuk langsung ke sumsum tulangku. Tubuhku yang biasanya lemah dan ringkih kini berdenyut kencang, seolah-olah ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam kulit.

[Proses asimilasi dimulai.]

Suara itu datar, tidak memiliki emosi, namun bergema di dalam kepalamu seakan-akan ia adalah penguasa tunggal atas jiwaku.

"Apa yang kau lakukan padaku?" tanyaku dengan suara yang pecah.

[Menyesuaikan struktur biologis subjek dengan modul: 'Night Crawler'.]

"Hentikan! Aku manusia! Aku bukan binatang!" seruku sembari mencengkeram tanah hingga kuku-kukuku patah.

Kenapa aku harus mengalami ini di saat aku baru saja menemukan harapan untuk membalas dendam? Bukankah seharusnya sistem ini memberiku teknik pedang legendaris atau pembersihan meridian? Kenapa ia justru merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan sesuatu yang mengerikan? Jawabannya sederhana, karena kekuatan murni tidak mengenal moralitas.

"Han Wol! Apa yang kau lakukan di sana? Keluar sekarang!"

Suara itu datang dari arah pintu gua yang remang-remang. Itu adalah suara Song Chi, murid senior dari Sekte Awan Azure yang selama ini memperlakukanku seperti sampah.

"Jangan masuk, Kakak Senior," sahutku parau.

Song Chi melangkah masuk dengan langkah yang berat dan angkuh. "Kau berani memerintahku? Kau hanya sampah yang beruntung bisa mencicipi sisa sumber daya sekte!"

Aku berusaha menahan diri, namun tulang punggungku berderak keras. Sebuah tonjolan tajam mulai merobek pakaian di punggungku. Kulitku berubah menjadi sekeras baja dan berwarna gelap seperti malam tanpa bintang.

"Kau... apa itu?" tanya Song Chi dengan nada yang tiba-tiba bergetar.

"Aku sudah memperingatkanmu," bisikku sembari menoleh.

Wajahnya berubah pucat pasi saat melihat mataku yang kini memiliki tiga pupil berwarna merah darah. Ia mundur selangkah, tangannya gemetar di gagang pedangnya.

"Kau iblis! Kau monster yang menyusup ke sekte kami!" serunya dengan wajah penuh ketakutan.

Aku tertawa, namun suara yang keluar dari tenggorokanku lebih mirip geraman binatang buas. "Iblis? Bukankah kalian yang membuatku menjadi seperti ini?"

"Diam! Aku akan membunuhmu sebelum kau mencelakai orang lain!" teriak Song Chi sembari menghunuskan pedangnya.

Logam pedang itu berkilau tertimpa sedikit cahaya dari luar gua. Ia menerjang maju dengan teknik Pedang Awan Mengalir, sebuah jurus yang dulu sangat aku kagumi namun sekarang terlihat begitu lambat di mataku.

[Analisis musuh selesai: Target berada pada tahap ketiga ranah Kultivasi Dasar. Rekomendasi: Gunakan cakar untuk membelah pertahanannya.]

"Mati kau!" raung Song Chi.

Aku tidak menghindar. Aku justru menyambut ujung pedangnya dengan tangan kosong. Denting logam terdengar nyaring saat pedang itu membentur kulit telapak tanganku yang kini bersisik.

"Bagaimana mungkin?" gumam Song Chi dengan mata terbelalak.

"Sekarang giliranku," ucapku sembari mencengkeram bilah pedangnya hingga retak.

Aku bisa merasakan energi murni miliknya mengalir masuk ke dalam tubuhku melalui kontak fisik itu. Sistem ini tidak hanya mengubah bentukku, ia mengizinkanku memakan kultivasi orang lain.

"Lepaskan! Lepaskan pedangku!" teriaknya sembari mencoba menarik senjatanya kembali.

"Kenapa kau begitu takut sekarang? Bukankah tadi kau sangat percaya diri ingin menghakimiku?" tanyaku dengan nada mengejek.

"Kau bukan Han Wol! Han Wol tidak mungkin sekuat ini!" sahutnya sembari melepaskan pegangan pedangnya dan mencoba memukul dadaku dengan telapak tangan yang dialiri tenaga dalam.

Pukulan itu mendarat telak, namun aku bahkan tidak bergeser satu inci pun. Rasa hangat yang menjalar dari pukulannya justru terasa menyegarkan bagi sel-sel monster di dalam tubuhku.

"Terima kasih atas makanannya, Kakak Senior," bisikku tepat di telinganya.

"Jangan... kumohon, ampuni aku," rintih Song Chi saat aku mulai mengangkat tubuhnya dengan satu tangan.

Cakar-cakarku mulai memanjang dari ujung jari. Aku bisa mencium ketakutan yang memancar dari setiap pori-pori kulitnya. Ini adalah sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuasaan mutlak atas hidup seseorang.

"Ampunan?" tanyaku sembari sedikit memiringkan kepala. "Apakah kau pernah memberikan ampunan saat kau mematahkan kakiku musim dingin lalu?"

"Itu... itu hanya latihan! Aku bersumpah!" serunya dengan air mata yang mulai mengalir.

Kenapa manusia selalu memohon saat mereka berada di ujung tanduk? Karena pada akhirnya, harga diri hanyalah topeng yang akan luruh saat dihadapkan pada kematian yang nyata.

Tiba-tiba, sistem kembali memberikan notifikasi di sudut penglihatanku.

[Target siap untuk dikonsumsi. Memulai ekstraksi esensi kehidupan.]

"Tunggu, sistem, apa yang akan terjadi jika aku memakannya secara utuh?" tanyaku dalam hati.

[Subjek akan mendapatkan 15% kemajuan menuju evolusi tahap berikutnya: 'Asura Crawler'.]

Aku menatap Song Chi yang terus meronta. Di luar gua, aku bisa mendengar suara langkah kaki beberapa orang lainnya. Sepertinya rombongan murid sekte yang lain sedang menuju ke sini.

"Sepertinya pesta kita akan segera bertambah meriah," ucapku sembari tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi taring yang runcing.

Song Chi hanya bisa melotot kaget saat mulutku mulai terbuka lebih lebar dari yang seharusnya bisa dilakukan oleh manusia normal.

"Hentikan! Jangan!" teriak Song Chi untuk terakhir kalinya sebelum suaranya teredam sepenuhnya.

Gigi-gigiku yang tajam mengoyak bahunya dengan mudah. Aku merasakan aliran tenaga dalam yang hangat mengalir deras ke kerongkonganku, mengisi setiap sel tubuhku yang haus akan energi. Song Chi mengejang sesaat, lalu tubuhnya perlahan mulai menyusut seolah-olah seluruh cairannya sedang disedot habis.

[Ekstraksi dimulai. Kemajuan evolusi: 2%... 5%... 8%...]

"Song Chi? Kau di dalam?"

Suara itu datang dari mulut gua. Tiga orang murid sekte melangkah masuk dengan obor di tangan mereka. Di depan adalah Jang Mi, seorang murid perempuan yang terkenal angkuh, diikuti oleh dua pengawal setianya.

"Siapa itu? Song Chi, apa yang kau lakukan di sana?" tanya Jang Mi sembari mengangkat obornya lebih tinggi.

Cahaya obor itu menyambar sosokku yang sedang berjongkok di atas tubuh Song Chi yang sudah tak bernyawa. Aku perlahan berdiri, membiarkan sisa-sisa kain baju Song Chi jatuh dari cakar-cakarku.

"Kakak Senior Song?" gumam salah satu murid di belakang Jang Mi dengan nada ngeri.

"Bukan," sahutku sembari membalikkan badan dengan perlahan. "Namaku Han Wol. Bukankah kalian mengenalku?"

Jang Mi memekik kaget hingga hampir menjatuhkan obornya. Ia menatap mayat Song Chi yang kini hanya berupa kulit dan tulang yang membungkus rangka. Matanya kemudian beralih ke arahku, ke arah monster setinggi dua meter dengan kulit bersisik hitam yang berdiri di hadapannya.

"Han Wol? Sampah itu?" tanya Jang Mi dengan suara bergetar hebat. "Apa yang kau lakukan pada Kakak Senior Song?"

"Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya bukan miliknya," jawabku dengan suara yang menggema rendah.

"Bunuh dia! Cepat bunuh monster itu!" perintah Jang Mi sembari mundur ke belakang dua temannya.

Kedua murid itu menghunus pedang mereka, namun tangan mereka gemetar begitu hebat sehingga ujung pedang itu berdenting satu sama lain. Kenapa mereka harus gemetar jika mereka menganggapku hanya sebagai sampah? Apakah mereka akhirnya sadar bahwa posisi pemburu dan buruan telah bertukar tempat? Jawabannya tentu saja ada pada insting dasar mereka yang mencium bahaya mematikan.

"Maju! Kenapa kalian diam saja?" teriak Jang Mi lagi.

"Ta-tapi Kakak Senior, dia... dia bukan manusia!" balas salah satu murid itu.

Aku melesat maju sebelum mereka sempat mengambil keputusan. Kecepatanku sekarang berada di luar nalar manusia. Dalam sekejap, aku sudah berada tepat di depan murid yang bicara tadi. Sebelum ia bisa mengangkat pedangnya, cakarku sudah menembus dadanya dan keluar dari punggungnya.

[Target kedua terdeteksi. Memulai ekstraksi sekunder.]

"Satu lagi," celetukku sembari menatap murid lainnya.

"Tolong! Tolong aku!" teriak murid terakhir itu sembari membuang pedangnya dan berlari kencang menuju pintu gua.

Aku tidak membiarkannya pergi. Dengan satu lompatan besar, aku mendarat di atas punggungnya, menekannya ke lantai gua yang keras hingga terdengar bunyi tulang yang patah.

"Kau mau pergi ke mana? Hiburannya baru saja dimulai," tandasku sembari menancapkan taringku ke lehernya.

Rasa nikmat dari energi yang terserap membuatku hampir kehilangan kendali. Setiap tetes kultivasi yang masuk membuat otot-ototku semakin padat dan tajam. Aku bisa merasakan perubahan struktural di dalam tubuhku sedang berlangsung dengan kecepatan yang mengerikan.

[Peringatan: Energi berlebih terdeteksi. Melakukan sinkronisasi darurat.]

"Apa maksudmu dengan energi berlebih?" tanyaku pada sistem di dalam pikiran.

[Kultivasi para target mengandung residu Teknik Awan Azure yang tidak murni. Diperlukan stabilisasi melalui pertarungan intensitas tinggi.]

Aku menoleh ke arah Jang Mi yang kini terduduk lemas di dekat dinding gua. Ia adalah satu-satunya yang tersisa. Wajahnya yang biasanya cantik kini terlihat sangat berantakan karena air mata dan debu.

"Han Wol, kumohon... aku punya banyak emas. Aku akan memberimu segalanya!" rintih Jang Mi dengan suara yang nyaris hilang.

"Emas?" tanyaku sembari berjalan mendekat dengan langkah yang berat. "Apakah menurutmu monster sepertiku membutuhkan logam kuning yang tidak berguna itu?"

"Lalu apa yang kau inginkan? Aku akan melakukan apa saja! Aku akan menjadi budakmu!" teriaknya sembari bersujud di kakiku.

Aku berhenti tepat di depan kepalanya yang tertunduk. Aku bisa melihat tengkuknya yang putih bersih, sebuah titik lemah yang sangat menggoda untuk dirobek. Namun, sistem tiba-tiba memberikan notifikasi baru yang berwarna emas.

[Misi Darurat: Pembantaian di Gerbang Sekte.] [Tujuan: Bunuh 10 murid batin dalam waktu 30 menit.] [Hadiah: Transformasi instan ke tahap 'Asura Crawler' tanpa efek samping.]

Aku menatap ke arah pintu gua. Aku bisa merasakan kehadiran banyak orang yang sedang mendekat dengan energi yang jauh lebih kuat dari Song Chi atau Jang Mi. Sepertinya para tetua sekte sudah menyadari ada sesuatu yang salah.

"Kau beruntung, Jang Mi," ucapku sembari mencengkeram kepalanya dan mengangkatnya hingga mata kami sejajar.

"Kau... kau melepaskanku?" tanya Jang Mi dengan secercah harapan di matanya.

"Tidak," sahutku sembari tersenyum dingin. "Aku hanya akan menjadikanmu sebagai pesan pembuka untuk ayahmu, sang Tetua Agung."

Aku melempar tubuhnya ke arah pintu gua tepat saat sekumpulan murid batin dengan jubah biru tua muncul di sana. Mereka tertegun melihat rekan mereka dilempar seperti karung beras oleh sosok monster yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Siapa kau? Beraninya mengacau di wilayah Sekte Awan Azure!" teriak salah satu murid batin yang memimpin rombongan.

Aku meregangkan lenganku, merasakan tulang-tulangku bergeser untuk menyesuaikan dengan kekuatan yang terus meluap. Cakarku kini mengeluarkan cahaya merah tipis yang terlihat sangat haus akan nyawa.

"Namaku adalah awal dari akhir kalian," geramku sembari bersiap untuk menerjang.

[Waktu tersisa: 29 menit 45 detik.]

Mata murid-murid itu membelalak saat mereka menyadari bahwa aku tidak hanya menyerang mereka dengan kekuatan kasar, melainkan dengan teknik yang sangat mirip dengan jurus terlarang sekte mereka sendiri. Kenapa sistem ini bisa meniru teknik mereka? Alasannya mungkin karena ia baru saja mencerna ingatan dan energi dari murid-murid yang kumakan sebelumnya.

"Formasi Pedang Awan! Kepung dia!" perintah pemimpin mereka.

Tujuh orang murid batin segera membentuk lingkaran di sekelilingku, ujung pedang mereka semua mengarah ke jantungku. Cahaya perak dari pedang mereka mulai menyatu, menciptakan tekanan energi yang cukup kuat untuk menghancurkan batu besar.

"Kalian pikir formasi mainan ini bisa menghentikanku?" tanyaku sembari tertawa parau.

"Mati kau, Iblis!" seru mereka serempak sembari menusukkan pedang mereka secara bersamaan.

Aku hanya diam di tempat, membiarkan semua pedang itu mengenai tubuhku. Dentingan keras bergema di dalam gua, namun tidak ada satupun pedang yang berhasil menembus kulit sisikku yang kini semakin mengeras.

"Gilira-ku," bisikku sembari memutar tubuh dengan kecepatan yang menghasilkan pusaran angin tajam.

Dua kepala langsung terlepas dari pundaknya sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi. Sistem terus menghitung mundur, dan aku bisa merasakan jantungku berdetak semakin cepat seiring dengan bertambahnya jumlah korban.

Tiba-tiba, dari kegelapan di luar gua, sebuah tekanan energi yang luar biasa besar muncul, jauh melampaui siapapun yang ada di sini. Seseorang yang sangat kuat sedang menuju ke sini dengan amarah yang meluap-luap.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!