NovelToon NovelToon
Luka Dan Cinta

Luka Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Selina Navy

Di tengah gelapnya kota, Adira dan Ricardo dipertemukan oleh takdir yang pahit.

Ricardo, pria dengan masa lalu penuh luka dan mata biru sedingin es, tak pernah percaya lagi pada cinta setelah ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya menyayanginya.

Sementara Adira, seorang wanita yang kehilangan harapan, berusaha mencari arti baru dalam hidupnya.

Mereka berdua berjuang melewati masa lalu yang penuh derita, namun di setiap persimpangan yang mereka temui, ada api gairah yang tak bisa diabaikan.

Bisakah cinta menyembuhkan luka-luka terdalam mereka? Atau justru membawa mereka lebih jauh ke dalam kegelapan?

Ketika jalan hidup penuh luka bertemu dengan gairah yang tak terhindarkan, hanya waktu yang bisa menjawab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selina Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruangan yang hangat

Setelah berjalan menyusuri lorong panjang yang seolah tak berujung, akhirnya Adira dan rombongan kecil itu tiba di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat tua  ukiran khas Meksiko di permukaannya.

Pintu itu perlahan terbuka, mengungkapkan ruangan luas di baliknya.

Ruangan tersebut memiliki gaya arsitektur yang sangat khas Meksiko, dengan sentuhan mewah namun hangat. Dindingnya terbuat dari batu bata berwarna terracotta, memberikan kesan rustic yang dipadukan dengan kemewahan furnitur kayu gelap yang dipoles halus.

Lantai ruangan itu dihiasi dengan karpet tebal berwarna merah dan emas, coraknya rumit dengan pola tradisional.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja besar dari kayu mahoni, penuh dengan dokumen dan barang-barang mewah seperti asbak perak .

Namun, ruangan itu juga memiliki sentuhan lembut, dengan sofa kulit yang nyaman di salah satu sudut, dihiasi dengan bantal-bantal berwarna cerah yang kontras dengan nuansa gelap ruangan.

Lampu gantung dari besi tempa menggantung di langit-langit, memberikan cahaya hangat ke seluruh ruangan, menambah suasana yang tak hanya mewah, tetapi juga intim.

Salah satu fitur yang paling mencolok dari ruangan itu adalah jendela besar yang mendominasi salah satu dinding.

Jendela tersebut terbuka ke arah pemandangan malam yang gelap, memberikan pemandangan kota Tijuana dari kejauhan, namun di sini, di tempat yang begitu jauh dari keramaian, pemandangan itu terasa sunyi dan tenang.

Tirai tebal berwarna merah marun tersampir di sisi jendela, siap untuk ditarik kapan saja, memberikan privasi bagi siapa pun yang berada di ruangan itu.

Ruangan ini jelas bukan hanya sebuah ruang kerja, ukurannya yang besar dan perabotannya yang beragam membuatnya juga tampak seperti kamar pribadi.

Di salah satu sudut ruangan, terdapat tempat tidur besar dengan sprei sutra berwarna gelap, menambahkan elemen keintiman yang kontras dengan fungsi ruangan sebagai pusat kendali bisnis mafia.

Adira merasa campuran ketakutan dan keheranan saat memandang sekeliling. Tempat ini adalah dunia lain dari apa yang baru saja ia alami di jalanan Tijuana.

Setelah ajudan membawa Adira masuk, kepala mafia itu berdiri di tengah ruangan, membelakanginya.

Tanpa sepatah kata pun, dia hanya menatap ajudannya sekilas, dan itu sudah cukup untuk memberikan perintah.

Dengan satu tatapan tajam dari pemimpinnya, ajudan itu langsung mengerti apa yang diinginkan.

Tanpa membuang waktu, dia menundukkan kepala dengan hormat, berbalik, dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah yang tenang namun sigap.

Pintu besar itu tertutup dengan pelan, meninggalkan suara yang terdengar berat di telinga Adira.

Kini, Adira hanya tinggal berdua dengan kepala mafia di ruangan besar tersebut.

Rasa takut semakin membelit hatinya, tapi dia tahu bahwa tidak ada tempat untuk melarikan diri.

Tatapan dingin pria itu perlahan beralih ke arah Adira, dan suasana menjadi semakin sunyi, seolah seluruh dunia di luar ruangan ini menghilang.

Adira berdiri kaku, tubuhnya terasa semakin kecil di hadapan sosok yang begitu besar, baik secara fisik maupun kekuasaan.

Perlahan, iamulai melangkah mendekati Adira. Setiap langkahnya terdengar jelas di lantai kayu yang mewah, membuat jantung Adira berdegup semakin kencang.

Matanya yang sendu mengikuti setiap gerakan pria itu, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak.

Ketakutan menyelimuti dirinya, tapi di saat yang sama, ada rasa penasaran yang tak bisa ia abaikan.

Sosok besar di depannya tampak tak terbaca, penuh dengan aura kekuasaan yang membuat siapa pun gentar, namun tatapannya pada Adira terasa berbeda, seolah menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar niat jahat.

Kepala mafia itu berhenti tepat di depan Adira. Tubuhnya yang besar dan tegap semakin mendominasi ruang, bayangannya menyelimuti Adira yang masih gemetar.

Dengan gerakan lambat dan hati-hati, tangan besar pria itu terulur ke arah wajahnya.

Adira menahan napas, matanya membesar, tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Namun, alih-alih menyakitinya, tangan itu dengan lembut mulai menyentuh ikatan kain yang membungkam mulutnya.

Jari-jarinya yang besar namun terampil menarik ikatan itu perlahan, seolah dia sangat berhati-hati agar tidak melukai Adira.

Kain hitam yang menutupi mulut Adira terlepas dengan mudah, membebaskan napas yang sudah terpendam begitu lama.

Adira menarik napas panjang, merasakan udara masuk ke paru-parunya dengan lebih lega, meski ketakutan masih mengguncang tubuhnya.

Kemudian meraih tangan Adira yang terikat di belakang punggungnya. Tangan besar dan kuat itu terasa hangat, bertentangan dengan penampilannya yang dingin dan menakutkan.

Jari-jarinya dengan cekatan melepaskan ikatan tali di pergelangan tangan Adira, satu demi satu simpul terurai.

Tali itu jatuh dengan bunyi lembut di lantai, membebaskan tangan Adira yang kini terasa lemah dan kesemutan setelah begitu lama terikat.

Adira menatap pria itu dengan kebingungan, tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dia telah siap menghadapi yang terburuk, namun apa yang dia alami sekarang jauh dari perkiraannya.

Meski masih dipenuhi rasa takut, ada kelegaan kecil di hatinya saat merasakan kebebasan dari ikatan yang selama ini membuatnya tak berdaya.

Namun, meskipun mulut dan tangannya sudah bebas, rasa ketakutan yang lebih besar masih menyelimuti dirinya—dia tahu, kebebasan ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih rumit.

Kepala mafia itu belum mengatakan sepatah kata pun, tapi tatapan biru gelapnya yang terus menatap Adira membuat jantungnya berdetak semakin kencang.

Fokus matanya tertuju pada tahi lalat kecil di bawah mata kiri Adira, seolah-olah detail itu memegang makna yang dalam baginya.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, dia tiba-tiba berbicara, suaranya rendah namun tegas.

"Kamu bisa tinggal di sini. Anggap saja ini rumahmu," katanya tanpa sedikit pun perubahan emosi di wajahnya.

Kata-kata itu mengejutkan Adira. Otaknya yang masih berkecamuk dalam kebingungan dan ketakutan sulit memproses apa yang baru saja didengarnya.

Apa maksudnya dengan "anggap rumah sendiri"? Dia tidak paham.

Suasana di ruangan itu semakin aneh, kontras antara rasa takut yang mengikat hatinya dan pernyataan aneh dari pria ini yang tampak lebih lembut daripada yang dia bayangkan.

Setelah berkata demikian, kepala mafia itu berbalik tanpa menunggu jawaban dari Adira.

Langkahnya yang berat dan tegas membawa tubuh besar dan berototnya menuju meja kerja yang besar di sudut ruangan.

Bahunya yang lebar tampak semakin kokoh saat dia bergerak, otot-otot di punggungnya terlihat jelas melalui kemeja hitam yang dikenakannya, menunjukkan betapa terlatihnya tubuh itu.

......................

Tanpa ragu, dia duduk di kursi kayu besar di belakang meja, membelakangi Adira seolah seluruh dunia di luar tidak lagi penting.

Di meja itu, terdapat banyak dokumen, berkas-berkas tebal yang mungkin berisi transaksi gelap, catatan bisnis, atau hal-hal lain yang terkait dengan kekuasaannya. Dia mengambil salah satu berkas, mulai membolak-balik kertasnya dengan tenang, tanpa sedikit pun memperlihatkan perhatian lebih pada Adira.

Pria itu terbenam dalam pekerjaannya, seolah Adira hanya bagian kecil dari rutinitas hariannya, meskipun baru saja dia mengklaim bahwa Adira "miliknya."

Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibolak-balik dan sesekali suara pena yang menulis di atas dokumen.

Adira berdiri di tengah ruangan, tubuhnya masih terasa gemetar meski kini bebas dari ikatan. Dia masih berusaha memahami situasi ini, tetapi kepala mafia itu tampak tak peduli lagi dengan keberadaannya.

Meski mereka berada dalam ruangan yang sama, dia sudah seperti hantu yang tak terlihat bagi pria itu. Sementara pria itu sibuk dengan pekerjaannya, Adira hanya bisa berdiri terpaku, matanya yang sendu tak lepas dari sosok yang kini memegang kendali penuh atas nasibnya.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Adira tetap berada di tempat yang sama sejak dia dibawa ke ruangan itu, kini duduk di lantai dengan memeluk lututnya.

Matanya yang sendu memandang kosong ke arah jendela besar, tetapi pikirannya kacau, masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa ia berada di tempat ini, di bawah kendali seorang pria yang tidak dikenalnya.

Ketakutan dan kebingungan bercampur menjadi satu, membuat tubuhnya terasa semakin lemah.

Sementara itu.. kepala mafia tersebut akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.

Dia menutup berkas terakhir di atas meja, merapikannya dengan gerakan yang tenang namun pasti. Setelah itu, tanpa sepatah kata pun, dia berdiri dan berjalan menuju sebuah pintu di sudut ruangan yang terhubung dengan kamar lain.

Dari tempatnya duduk, Adira hanya bisa melihat pintu itu terbuka sebentar sebelum pria itu menghilang ke dalam ruangan di baliknya.

Beberapa saat kemudian, kepala mafia kembali keluar, membawa sebuah kaos berlengan panjang berwarna gelap di tangannya.

Langkahnya mantap, tetapi kali ini ada sesuatu yang lebih tenang dan terkontrol dalam gerakannya.

Dia berjalan mendekati Adira yang masih meringkuk di lantai, terlihat begitu kecil dan rapuh di bawah tatapannya.

Sosok Adira yang memeluk lututnya, berusaha melindungi diri dari situasi yang tidak ia pahami, membuatnya tampak lebih tak berdaya.

Kepala mafia berhenti di depannya, kaos itu dipegangnya dengan satu tangan. Dia menatap Adira sejenak, mata biru gelapnya mencoba membaca perasaan gadis itu, meski ia tak menunjukkan banyak emosi di wajahnya.

Lalu, dengan suara yang rendah namun penuh perintah,

dia berbicara, "Pakai ini."

Tangan besarnya mengulurkan kaos lengan panjang itu ke arah Adira. Suaranya tidak keras, tetapi nada tegasnya membuat Adira mengerti bahwa itu bukan sekadar tawaran.

Pria itu kemudian menggerakkan kepalanya sedikit, memberi isyarat ke arah pintu di mana dia baru saja keluar.

"Kamar mandi ada di sana," ujarnya sambil menunjuk dengan dagunya ke arah ruangan yang sama dari mana ia membawa kaos tersebut.

Dia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, seolah perintah itu sudah cukup jelas.

Adira menatap kaos yang dipegang pria itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi yang ditunjukkan.

Napasnya tersengal sejenak, kebingungan dan ketakutan masih menguasainya, tapi dalam keadaan ini, dia tahu dia tidak punya pilihan selain menurut.

Tangan Adira yang gemetar perlahan meraih kaos itu dari tangan kepala mafia. Sentuhan kain lembut di kulitnya memberikan sedikit kenyamanan di tengah kegelisahan yang menghimpitnya.

Pria itu tetap berdiri di sana, tidak bergerak, matanya mengikuti setiap gerakan Adira. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya memastikan bahwa perintahnya dipatuhi.

Setelah menerima kaos itu, Adira bangkit perlahan, tubuhnya terasa kaku. Dia berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah ragu, sambil sesekali melirik kepala mafia yang kini tampak tenang namun tetap tak terbaca.

Setelah beberapa saat di dalam kamar mandi, Adira akhirnya selesai mengganti baju.

Dia melangkah keluar dengan mengenakan kaos lengan panjang yang jauh lebih besar daripada tubuhnya yang kecil.

Kaos itu menutupi sebagian besar tubuhnya, membuatnya tampak tenggelam dalam kain yang lembut namun berat.

Adira merasakan kenyamanan yang jarang ia rasakan dalam situasi menegangkan seperti ini, meskipun rasa cemas masih menggelayuti pikirannya.

Di depan, sosok kepala mafia terlihat duduk di meja makan yang besar di tengah ruangan, membelakangi Adira.

Dia telah bergeser dari posisi semula dan kini duduk santai di kursi yang tampak megah.

Saat Adira melangkah keluar, dia merasakan ketegangan di udara berkurang sedikit ketika kepala mafia itu menolehkan kepalanya, seolah menyadari kehadiran Adira.

Pria itu melihat Adira sejenak, menilai penampilannya yang kini lebih kasual dengan kaos yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.

Tanpa berbicara, dia menarik kursi di sebelahnya, memberikan isyarat bahwa dia ingin Adira bergabung bersamanya di meja makan.

Gerakan itu, meskipun tampak sederhana, terasa seperti perintah yang halus namun tegas, menandakan bahwa ini adalah bagian dari rutinitasnya—makan malam bersama.

Di meja yang luas, berjejer berbagai hidangan mewah yang tersaji dengan rapi.

Ada beberapa piring yang penuh dengan makanan khas Meksiko, Namun, Adira tidak tahu kapan makanan-makanan itu disiapkan atau siapa yang menyajikannya. Semua ini terasa begitu tidak biasa dan jauh dari realitas yang biasa ia jalani.

Adira melangkah ragu menuju meja, merasa seperti seorang tamu di dunia yang asing. Setiap langkahnya membuat matanya melirik ke arah hidangan yang tampak menggugah selera, tetapi dia tidak bisa sepenuhnya menikmati pemandangan itu karena ketegangan yang mengikatnya.

Saat dia mendekat, kepala mafia itu memandangnya dengan tatapan yang lebih lembut, tetapi tetap tak terbaca.

Ketika Adira akhirnya duduk di kursi yang disediakan, jantungnya berdegup kencang.

Dia merasa seperti berada di antara dua dunia yang di satu sisi, dia terjebak dalam situasi yang mengerikan, dan di sisi lain, dia disajikan dengan makanan mewah dan perlakuan yang tidak dia duga sebelumnya.

Di dalam pikirannya, beragam pertanyaan berputar, tetapi dia tahu bahwa saat ini yang bisa dia lakukan adalah mengikuti alur yang ditentukan oleh pria di depannya.

1
gak tau si
ada g ya yg kek ricardo d luar sana/Doge/
Zia Shavina: adaa ,pacarr kuuu /Tongue//Casual/
total 1 replies
Zia Shavina
dari alur cerita nya kita dibawa kenal ke pribadi masih2 tokoh utama dlu,so far romantisnya blm ada sii ,tapi blm tau keknya ricardo tipe yg bucin bget gak sii /Scream//Scream/
Zia Shavina
ricardooooooo
Zia Shavina
semangaatttt thhorrrr
Selina Navy: terimakasii🙏
total 1 replies
gak tau si
so sweet... 😍
gak tau si
sad bnget... /Sob//Sob/
gak tau si
kurang i thor sendiri nya
gak tau si
Penasaran jumpa dimana, tapi kok jd sad/Scowl/
gak tau si
romantis nya tipis-tipis/Smile/
gemezz/Angry/
Zia Shavina
lanjuttttt thorrrrr
Zia Shavina
tolongh thorr selamatkan adira/Sob//Sob/
Selina Navy: wahh.. terimakasih banyak Zia atas dukungannya..
tetap setia baca Luka dan Cinta ya..
Semoga suka..
total 1 replies
Zia Shavina
kasiann adiraa hidup seperti itu
Zia Shavina
lanjuttt terus thorr
Zia Shavina
hayo ricardo jangan di tinggil adira nyaaa
Zia Shavina
lanjutkan thorr..
gak tau si
semangat author..
update teruss..
gak tau si
suka sama adegan yang punya romantis tipis2 gini..
gak tau si
semangat author..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!