Namanya adalah Haidee Tsabina, wanita cantik dengan hijabnya yang merupakan istri seorang Ibrahim Rubino Hebi. Kehidupan keluarga mereka sangat harmonis. Ditambah dengan seorang anak kecil buah cinta mereka yaitu Albarra Gavino Hebi
Tapi semua berubah karena sebuah kesalahpahaman dan egois yang tinggi. Rumah tangga yang tadinya harmonis berubah menjadi luka dan air mata.
Sanggupkah Haidee dan Ibra mempertahankan keluarga kecil mereka ditengah banyaknya rintangan dan ujian yang harus mereka hadapi? Atau mereka akan menyerah pada takdir dan saling melepaskan? Yuk baca kisahnya.
Follow Ig author @nonamarwa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Marwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa
Jangan lupa like dan komentar nya juga yaa
🌹HAPPY READING🌹
Kini mulai saatnya acara yang ditunggu-tunggu. Setiap siswa akan mempersembahkan puisi yang telah mereka ciptakan untuk ibunya.
Al celingak-celinguk mencari keberadaan Dee diruang aula, tapi tidak menemukan sosok yang ia cari. Ibra yang sedari tadi memperhatikan Al pun bertanya, "Al, kamu nyariin siapa ? dari tadi Abi perhatikan kamu seperti mencari seseorang," tanya Ibra.
Al menoleh, "tidak Abi, Al hanya mencari teman saja," jawab Al bohong. Al mencari kebradaan Umi Al, Abi. Ucapnya dalam hati dengan wajah yang sudah tak bersemangat. Dia sangat berharap bahwa kali ini apa yang ia bayangkan akan terjadi. Melihat kehadiran Uminya.
Apa Umi terlalu kecewa sama Al, sampai-sampai Umi tidak datang. Umi, datang lah. Al menunggu kedatang Umi. Ucap Al dalam hati berharap kedatangan Dee.
Kini tiba giliran Al untuk maju, "Al semangat ya. Jangan takut, Abi akan selalu disini untuk Al," ucap Ibra sebelum Al naik panggung.
"Iya, Al semangat ya. Ada aunty disini," ucap Naina ikut memberi semangat. Sebelum naik panggung, Ibra dan Naina memberikan kecupan di dahi anak itu, manis sekali. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
Sorak penonton terdengar memenuhi aula. Al memang terkenal karena ketampanannya, selain itu dia juga anak yang cerdas dan sopan terhadap guru.
Dee yang berada di ujung ruangan hanya bisa memberi semangat Al dari jauh, mata terus memandang kearah mereka duduk. Seakan tidak sanggup melihat kebahagian anak dan suaminya bersama wanita lain, Dee membalikkan badan akan meninggalkan ruangan. Tapi langkahnya terhenti mendengar suara Al.
UNTUK UMI
Umi, panggilan yang aku belikan
kepada seolang wanita hebat
Aku dilahilkannya dengan belsimbah dalah
Mempeltaluhkan hidup dan mati
Dengan penuh iklhas membesalkan ku
Umi, wanita telsayang ku
Tidulmu adalah kedamaian untukku
Kalna dapat menghilangkan ail mata
kecewa mu kalena pelakuan ku
Senyummu adalah semangat hidup ku
Tawamu adalah tujuan hidup ku
Umi, ini adalah hali ibu bagi meleka
Tapi bagiku ini adalah hali Umi
Umi, aku malah pada meleka
Mengatakan mu seolang nalapidana
Aku malah pada sikapku
Yang tak bisa membela mu
Menghanculkan kekuatan hati mu
Satu hal yang tidak pelnah aku sesali
Aku telahil sebagai anak mu.
I Love You Umi.
Dengan penuh air mata, Al bersusah payah menyelesaikan bacaan puisinya. Tidak ada yang tidak mengeluarkan air mata di sana. Saat akan membaca puisinya, Al melihat seorang wanita dengan kerudung syar'i nya dengan wajah ditutupi masker akan pergi meninggalkan aula, Al yakin itu adalah Dee. Dengan segera Al mengeluarkan suara lantangnya membaca judul puisinya. Ia berhasil, Uminya datang dan mendengar setiap bait puisinya.
Matanya selalu memandangi mata Dee saat membaca puisi yang sudah ia hafal itu. Selesai membacakan puisinya, Al langsung turun dari panggung dan berlari menuju kearah Dee.
HAP
Al memeluk erat pinggang Uminya. Tangisnya tumpah saat Dee mensejajarkan tubuhnya dan membalas pelukannya.
"Umi juga sangat menyayangi Al," ucap Dee menjawab ungkapan kasih sayang Al melalui puisi yang disampaikannya.
Kebahagiaan kini hinggap di hati anak dan ibu itu.
"Al sayang Umi, maafkan sikap Al, jika membuat dada umi sakit. Dada Al juga sakit melihat Umi menangis. Jangan menangis lagi, Umi hiks," ucap disela tangisnya. Pelukan ini adalah pelukan yang sangat ia rindukan. Pelukan tulus seorang ibu yang mampu menenangkan hati dan jiwa nya. Memberinya kenyamanan dikala rasa gundahnya.
Dee hanya mampu mengangguk, tidak tahu harus berkata apa. Kebahagiaan kini hinggap dihatinya. Tidak peduli banyak pasang mata yang memperhatikan, Dee dan Al terus berpelukan erat. Dunia seakan berada didalam genggamannya saat ini.
Ibra yang melihat itu ikut menitikkan air mata, ternyata selama ini anaknya sangat merindukan Dee. Benar dugaan ku, ada yang tidak biasa dengan sikap Al selama ini. Ucap Ibra dalam hati memandang Al dan Dee yang masih berpelukan di ujung ruangan.
"Apa kau tidak ingin menghampiri mereka ?" tanya Naina yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Ibra.
Ibra menggeleng, "Tidak. Aku ingin Al dan Dee menghabiskan waktu mereka berdua terlebih dahulu. Terlalu banyak waktu mereka terbuang karena berpisah," ucap Ibra. Ia tidak berani menghampiri anak dan istrinya karena tidak mau mengganggu waktu haru Al dan Dee.
Prok, prok, prok,
Riuh tepuk tangan mengakhiri perlakukan Dee dan Al. Dee melihat sekitar dan menyaksikan banyak pasang mata yang berair melihat apa yang terjadi.
"Umi, jangan pelgi lagi ya" ucap Al di sela isak nya memberikan jari kelingkingnya kepada Dee.
Dee mengangguk, menautkan jari kelingkingnya dengan Al. "Umi selalu ada di hati Al. Selalu ada nama Al di setiap bait doa Umi. Nafas Umi ditujukan hanya untuk Al. Umi janji," ucap Dee tersenyum.
"Apa waktu di sana Umi juga seling liat bintang ?" tanya Al.
"Umi melihat bintang untuk menyampaikan rindu Umi kepada anak Umi. Berharap suatu hari kita berpelukan seperti ini. Dan itu terjadi hari ini. Terimakasi, Nak." ucap Dee kembali memeluk Al.
"Semua Al lakukan untuk Umi. I Love You, Umi" jawab Al.
"I Love You To."
"I Love You To."
Jawab dua orang bersamaan dari tempat dekat dan jauh. Ibra yang mendengar ungkapan sayang anaknya ikut membalas dan merasakan kasih sayang tulus Al kepada Dee.
Penonton yang ada di sana terharu melihat ikatan antara ibu dan anak ini. Tidak menyangka seorang anak kecil seperti Al bisa memberikan persembahan luar biasa ini hanya untuk Uminya.
Dibalik senyum semua orang, ada senyum licik dengan perasaan benci dan marah. Rasa bencinya semakin membesar melihat pemandangan yang menjijikan menurutnya.
Anak ini berani melawan perintah ku. Heh, bersiaplah. Penyiksaan ada didepan mata mu. Ucap orang tersebut memandang benci kearah Dee dan Al.
Setelah kejadian haru antara ibu dan anak itu, acara tetap dilanjutkan hingga selesai.
Kini Al dan Dee menghabiskan waktu dengan duduk bersama di bangku taman sekolah Al.
"Umi," panggil Al kepada Dee.
"Iya sayang," jawab Dee mengusap lembut kepala Al.
"Ada sesuatu yang ingin Al ceritakan."
"Sampaikan lah, nak. Jadikan Umi tempat mu bertukar cerita layaknya sahabat."
"Tapi janji jangan mencelitakan nya kepada siapapun ya Umi, telmasuk Abi."
Dee heran, tapi tak ayal dia mengangguk menjawab permintaan Al.
......................
Hai Teman-Teman, Terimakasi sudah mampir dan menyaksikan bagaimana kisah Ibra, Dee dan juga Al ,,,
Jangan lupa like sama komentarnya yaa teman-teman agar author lebih bersemangat lagi dan lagi,,,
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa untuk melihat ucapan ucapan mutiara author yaa.....
Author sangat berterimakasih kepada readers yang selalu setia untuk membaca novel author, jangan pernah bosan yaa 🌹🌹 author sayang kalian
tapi seruuu puas bgt bacanya
terimakasih thooor
semoga karya mu selalu d gemari
berbahagialah dee
paling buat berobat Jaka 15rb tuuh beli betadine