Novel kesebelas💚
Nabila Althafunisa tiba-tiba saja harus menikah dengan seorang pria bernama Dzaki Elrumi Adyatama, seorang pria yang usianya 10 tahun lebih muda darinya yang masih berstatus mahasiswa di usianya yang sudah menginjak 25 tahun. Dzaki tiba-tiba saja ada di kamar hotel yang Nabila tempati saat Nabila menghadiri pernikahan sahabatnya yang diadakan di hotel tersebut.
Anehnya, saat mereka akan dinikahkan, Dzaki sama sekali tidak keberatan, ia malah terlihat senang harus menikahi Nabila. Padahal wanita yang akan dinikahinya itu adalah seorang janda yang memiliki satu putra yang baru saja menjadi mahasiswa sama seperti dirinya.
Siapakah Dzaki sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Manager?
Tak ada sahutan dari Hazel. Masih sangat sulit untuknya menerima keadaan sang ibu yang sudah memiliki suami baru.
"Nak?"
"Terserah Bunda aja," cicit Hazel. Terdengar sekali ia sangat keberatan. Namun ia tak mau juga jika melarang.
"Ya udah, ketemu di rumah besok pagi ya," pungkas Nabila. "Assalamualaikum."
Telepon terputus setelah Hazel membalas salam.
Mood Hazel seketika memburuk. Bisa-bisanya sang ibu semudah itu mengatakan bahwa ia sedang bersama dengan suami barunya. Hingga saat acara nobar akan dimulai pun, Hazel masih saja menekuk wajahnya.
"Lu kenapa, Zel?" tanya Refan.
"Gak apa-apa," sahut Hazel dengan dusta. Ia sama sekali kepikiran. Ia tidak suka saat membayangkan sang ibu berada dengan pria lain selain ayahnya.
"Gak apa-apa tapi itu muka kusut banget?" komentar Refan.
"Si Bang Dzaki gak jadi dateng katanya, ada keperluan sama istrinya," ujar Norman, ia adalah senior di klub motor sekaligus UKM pecinta alam yang rumahnya kerap kali dijadikan tempat nongkrong teman-temannya. Atau para anggota komunitas itu sering menyebutnya sebagai basecamp.
"Wah? Bang Dzaki emang udah nikah?! Kok gua baru tahu?" seloroh Refan, juga yang lainnya yang baru mengetahui kabar itu.
"Gua juga baru tahu. Yang udah dia kasih tahu dari awal cuma Bang Farhan doang. Soalnya baru nikah agama katanya, nanti resepsinya kalau dia udah wisuda," terang Norman.
Semua orang di basecamp yang sudah bersiap di depan layar infocus pun heboh mendengar kabar terbaru dari Dzaki. Mereka penasaran siapa istri dari seorang Dzaki yang selalu menjadi perbincangan kaum hawa saat di mana pun ia berada itu.
"Kalau menurut gua, istrinya pada tipe-tipe cewek fashionable. Selebgram atau artis kali ya? Makanya belum diumbar-umbar ke kita?" tebak Refan.
"Kalau kata gua sih justru istrinya sekarang cewek alim berhijab gitu. Lo gak merhatiin sekarang dia berhenti ngerokok, minum, clubbing, dan dia beresin kuliahnya. Padahal dia pernah bilang, gelar tuh gak penting," tebak yang lainnya.
Para pemuda-pemuda hobi nongkrong itu terus berceloteh mengenai kabar pernikahan Dzaki yang begitu mengejutkan. Semua kecuali satu orang yang malah terlihat tak peduli dan malah asyik dengan pikirannya sendiri.
Hazel pun memutuskan untuk mencari tahu dengan siapa sang ibu berada. Ia ingin tahu, siapa pria yang bisa menggantikan sosok sang ayah. Ia membuka ruang obrolannya dengan sang ibu dan meminta untuk dikirimkan share loc. Kemudian ia pun beranjak.
"Ke mana lu, Zel?" tanya Refan.
"Gua pergi dulu bentar. Ada perlu."
Di sisi lain, Dzaki dan Nabila sudah berada di tempat tidur. Mereka baru saja selesai mandi dan memutuskan untuk tidur karena waktu yang memang sudah menunjukkan hampir tengah malam.
"Mas, Hazel minta share loc. Gimana dong?" tanya Nabila panik.
"Kirim aja, Yang. Kita gak bisa sembunyiin ini lama-lama," saran Dzaki.
"Tapi, Mas. Aku belum siap. Hazel pasti kaget banget," Nabila tak bisa membayangkan.
"Yang, cepat atau lambat, Hazel pasti tahu tentang aku. Gak akan kenapa-kenapa, percaya sama aku. Dia kaget wajar, tapi gak mungkin juga kalau kita terus-terusan sembunyiin, 'kan?"
Nabila tak bisa tak setuju. Akhirnya ia pun mengirimkan share loc pada sang putra. Mungkin inilah saatnya Hazel tahu mengenai ayah sambungnya. Nabila pasrah, apapun reaksi Hazel nanti, Nabila akan terima.
"Udah aku kirim, Mas. Tapi Mas nanti jangan keluar dari kamar dulu ya kalau belum aku panggil?"
"Iya, Sayang. Aku bakal diem di kamar tanpa bersuara sedikitpun sebelum kamu nyuruh aku keluar kamar."
Nabila mengangguk lega.
Kemudian ia pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah baru itu. Nabila sangat gugup dan khawatir. Bagaimana pertemuan Hazel dan Dzaki pertama kali sebagai ayah dan anak sambung yang akan terjadi sebentar lagi? Nabila benar-benar tidak bisa membayangkannya.
Setelah beberapa saat, motor besar Hazel pun berhenti di depan pagar rumah itu. Nabila membuka pintu dan meminta satpam untuk membukakan pintu untuk sang putra. Hazel pun membawa masuk motornya ke halaman rumah itu.
Ia membuka helm fullfacenya dan tergambar jelas wajah Hazel yang tercengang.
"Gak susah 'kan nyari rumahnya?" tanya Nabila membuka obrolan.
"Ini beneran rumah suaminya Bunda?" tanya Hazel tak menyangka.
"Iya, Nak. Yuk masuk," ajak Nabila.
Kemudian mereka sudah berada di ruang tamu. Nabila membawakan segelas susu untuk sang putra. Hazel masih mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan rumah itu. Rumah itu menjelaskan siapa sang ayah sambung dan menggambarkan bagaimana kemampuan ekonominya.
Dalam pikirannya, Hazel masih menyangka bahwa suami sang ibu adalah Marcel, atasan dari ibunya sendiri. Namun apakah seorang manager sepertinya mampu memiliki rumah sebesar dan semegah ini? Tidak hanya megah namun rumah ini juga sudah menggunakan teknologi smart home. Hazel bisa melihat beberapa hal di rumah itu sudah menggunakan teknologi canggih terbaru.
"Nih, diminum dulu susunya," ujar Nabila.
"Bun, emang gaji manager itu gede banget ya? Kok bisa punya rumah sebagus ini?"
Nabila sedikit mengerutkan dahi. "Manager?"
"Iya. Manager. Gajinya emang gede?"
Nabila semakin bingung. "Maksud kamu gimana, Nak?"