Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Yang Tak Pernah Berakhir
Kala terjatuh dari ketinggian ribuan meter saat sisa-sisa Citadel menguap menjadi debu bintang. Angin kencang menerjang wajahnya, dan pemandangan di bawahnya adalah hamparan Zona Luar yang perlahan-lahan berubah warna. Namun, Kala tidak merasakan ketakutan. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya melayang di antara sisa-sisa waktu yang kini telah merdeka.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tarikan lembut. Bukan tarikan gravitasi, melainkan tarikan energi yang sangat familiar.
"Aku menangkapmu, Ayah."
Kala membuka mata dan menemukan dirinya mendarat perlahan di atas padang rumput yang kini berwarna hijau zamrud. Di depannya, Naya berdiri dengan tangan terulur. Cahaya emas di bahunya telah menghilang, namun matanya tetap memiliki binar yang menunjukkan bahwa ia adalah penjaga baru dunia ini. Arumi berlari mendekat, langsung menghambur ke pelukan Kala dengan tangis bahagia yang pecah.
"Kita berhasil, Kala," bisik Arumi di antara isak tangisnya. "Dunia ini... dunianya tidak lagi berdetak dengan paksaan."
Kala berdiri, merangkul kedua orang yang paling ia cintai. Di sekeliling mereka, ribuan orang yang selamat dari kamp pemberontak dan laboratorium Dewan Realitas berdiri dalam diam. Mereka tidak lagi memiliki jam di pergelangan tangan mereka. Mereka melihat ke langit, di mana matahari asli—bukan matahari digital—mulai terbit untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.
Namun, di tengah kedamaian itu, sebuah suara halus terdengar di dalam pikiran Kala. Itu adalah suara Vera, namun suaranya kini terdengar seperti paduan suara ribuan lonceng.
“Kala... Arumi... Tugasku sudah selesai. Aku telah menyatu dengan jalinan waktu ini. Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang bisa mencuri detik kalian. Tapi ingatlah, waktu yang bebas berarti waktu yang bisa berakhir. Manfaatkanlah setiap detiknya dengan bijak.”
Kala tersenyum ke arah langit biru. "Terima kasih, Vera. Untuk segalanya."
Darma mendekati mereka, ia tampak lebih muda dan bekas luka mekaniknya kini tertutup oleh kulit baru yang tumbuh. "Citadel sudah hancur. Dewan Realitas hanyalah sejarah sekarang. Tapi, kita berada di dunia yang baru lahir. Kita tidak punya kota, tidak punya hukum, dan tidak punya teknologi."
Kala menatap hamparan luas di depannya. "Itu bagus, Darma. Kita akan membangunnya dari awal. Kali ini, kita tidak akan membangun menara jam yang tinggi. Kita akan membangun rumah-rumah yang hangat."
Sepuluh Tahun Kemudian...
Sebuah kota kecil berdiri di lembah yang dulunya adalah Zona Luar. Kota itu bernama "Detik Baru". Di sana, tidak ada orang yang terburu-buru. Jam dinding hanya berfungsi sebagai hiasan, karena orang-orang hidup berdasarkan matahari dan rasa lelah mereka sendiri.
Kala, yang kini rambutnya mulai sedikit beruban, duduk di beranda sebuah rumah kayu yang menghadap ke danau. Di tangannya, ia memegang sebuah benda yang sangat ia kenal: jam saku perak pemberian Naya sepuluh tahun lalu. Jam itu tidak berputar maju atau mundur; ia hanya berdetak mengikuti detak jantung Kala.
"Ayah! Lihat apa yang aku temukan!" Naya, yang kini sudah menjadi remaja cantik, berlari membawa sebuah buku tua yang sampulnya sudah usang.
Itu adalah buku tentang teori fisika kuno, salah satu sisa dari Perpustakaan Nasional yang dulu pernah mereka datangi. Arumi keluar dari dalam rumah, membawa nampan berisi teh hangat dan roti buatan sendiri.
"Masih memikirkan masa lalu?" tanya Arumi sambil duduk di samping Kala.
Kala meletakkan jam saku itu di atas meja. "Tidak, Rum. Aku hanya bersyukur. Dulu aku mencuri waktu karena aku takut kehilanganmu. Sekarang, aku sadar bahwa kehilangan adalah bagian dari waktu yang membuatnya berharga."
Tiba-tiba, Naya berhenti membaca dan menatap ke arah gerbang rumah. Seorang pria muda asing berdiri di sana, tampak bingung dan tersesat. Pria itu memakai jaket yang mirip dengan yang dipakai Kala sepuluh tahun lalu, dan di tangannya, ia memegang sebuah pecahan kaca yang berkilau.
"Permisi..." ucap pria muda itu. "Aku... aku merasa seperti sedang mencari sesuatu yang hilang, tapi aku tidak tahu apa itu. Seorang wanita dalam mimpiku bilang aku harus datang ke sini."
Kala dan Arumi saling berpandangan. Mereka tahu siapa "wanita dalam mimpi" itu. Itu adalah Vera, sang penjaga, yang masih bekerja di balik layar untuk membimbing jiwa-jiwa yang tersesat menuju kedamaian.
Kala berdiri, berjalan menuju pria muda itu, dan mengulurkan tangannya. "Selamat datang, anak muda. Kamu tidak sedang mencari sesuatu yang hilang. Kamu hanya sedang memulai sesuatu yang baru."
Matahari mulai terbenam di cakrawala, memberikan warna emas yang indah pada kota Detik Baru. Tidak ada alarm yang berbunyi, tidak ada Pemulih yang mengejar. Hanya ada keheningan yang penuh dengan makna.
Kala menyadari bahwa petualangannya telah benar-benar selesai. Ia bukan lagi sang pencuri waktu, bukan lagi sang penyelamat, bukan juga variabel yang salah. Ia hanyalah seorang manusia yang akhirnya memiliki waktu untuk mencintai keluarganya hingga detik terakhir hidupnya nanti.
Dan di langit malam yang mulai bertabur bintang, sebuah rasi bintang baru terbentuk—berbentuk seperti sebuah jam saku yang terbuka, sebagai pengingat abadi bahwa waktu adalah milik mereka yang berani menjalaninya.