Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Foto di Dinding dan Surat di Lantai
Amplop itu ada di depan pintu kosanku.
Bukan diselipkan di bawah pintu — diletakkan begitu saja di atas keset cokelat lusuh yang sudah lama kehilangan fungsi dekoratifnya, dengan logo perusahaan pembiayaan yang sudah sangat aku hafal tercetak di pojok kiri atas. Warnanya putih bersih, kondisinya terlalu rapi untuk berita yang aku tahu ada di dalamnya.
Aku berdiri di depannya selama beberapa detik.
Kunci kosan masih di tangan. Map abu-abu dari Aldrich Tower ada di dalam tas yang mulai terasa berat di bahu kiriku — atau mungkin itu bukan tasnya yang berat. Mungkin itu sesuatu yang lain.
Aku membungkuk, mengambil amplop itu, dan masuk.
Kamar kosku tidak besar. Satu kamar dengan jendela yang menghadap tembok gedung sebelah, dapur kecil yang lebih layak disebut sudut memasak, dan kamar mandi yang pintunya harus ditarik sedikit ke kiri sebelum bisa terkunci dengan benar karena kusennya sudah tidak rata sejak aku pertama pindah ke sini dua tahun lalu.
Tapi aku suka tempat ini. Atau lebih tepatnya — aku sudah terbiasa dengan tempat ini, dan keduanya kadang terasa seperti hal yang sama.
Di dinding di atas meja belajarku ada beberapa hal yang ditempel: kalender proyek yang penuh coretan, satu print-out mood board desain yang belum selesai, nota-nota kecil berisi deadline, dan di sudut paling kanan — foto.
Bapak dan aku di depan rumah Depok, waktu aku masih kelas dua SMA. Bapak memakai kemeja batik biru yang selalu dia pakai ke acara apapun yang menurutnya penting. Aku memakai seragam karena foto itu diambil setelah pengumuman juara lomba desain poster tingkat kota — piala kecilnya ada di tangan Bapak, bukan tanganku, karena Bapak yang lebih semangat memegangnya.
Wajah Bapak di foto itu sedang tertawa. Tertawa betul — bukan senyum sopan untuk kamera, tapi tertawa sampai matanya menyipit dan ada kerutan di sudut-sudutnya.
Aku menempelkan foto itu di sini tepat dua tahun lalu, seminggu setelah pemakamannya.
Belum pernah aku lepas.
Aku duduk di kursi meja belajar, meletakkan tas dan map abu-abu di lantai, dan membuka amplop itu.
Satu lembar. Kop surat resmi. Bahasa yang formal dan sangat terlatih untuk terdengar profesional sambil menyampaikan hal yang tidak profesional sama sekali rasanya.
Intinya — dalam empat belas hari, jika sisa utang tidak dilunasi sekaligus atau tidak ada perjanjian restrukturisasi baru yang disepakati, proses hukum untuk penyitaan aset jaminan akan dimulai.
Aset jaminan: rumah di Depok. Rumah tempat Mama tinggal.
Aku melipatnya kembali dan meletakkannya di atas meja.
Lalu menatap angkanya untuk kedua kalinya hari ini — karena angka yang sama juga ada di Lampiran B map abu-abu yang tadi aku bawa pulang dari lantai dua puluh delapan Aldrich Tower.
Revano Aldrich sudah tahu ini. Sudah tahu jumlahnya, sudah tahu tenggat waktunya, sudah tahu bahwa empat belas hari dari sekarang Mama bisa kehilangan satu-satunya atap yang tersisa dari semua yang dulu Bapak bangun.
Dan dia datang ke warung kopi itu kemarin malam dengan map setebal empat puluh dua halaman yang sudah siap.
Aku tidak tahu harus marah atau tidak. Di satu sisi, dia menggunakan situasiku yang paling rentan sebagai leverage — dan itu tidak nyaman untuk diakui. Di sisi lain, dia tidak berbohong. Tidak pura-pura menawarkan sesuatu yang bukan bisnis. Pasal 4.1 bahkan ditulis dengan sangat eksplisit: tujuh hari kerja setelah tanda tangan, semua angka di Lampiran B diselesaikan.
Bukan janji. Pasal kontrak.
Ada perbedaan antara keduanya, dan aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa perbedaan itu penting.
Aku membuat mie instan.
Bukan karena lapar betul — lebih karena tangan perlu sesuatu untuk dikerjakan ketika kepala sedang bekerja terlalu keras. Aku merebus air, membuka bungkusnya, menuangkan bumbu, dan makan di meja kecil dekat jendela sambil menatap tembok gedung sebelah yang sudah sangat aku hapal retakannya.
Bagas menelepon pukul dua belas lebih sedikit. Aku menatap namanya di layar selama empat kali nada dering, lalu menekan tombol merah.
Tiara mengirim pesan pukul dua belas lebih delapan. "Ri, aku minta maaf, aku perlu jelasin semuanya—"
Aku membaca sampai titik itu, mengunci layar, dan meletakkan ponselnya terbalik di atas meja.
Bukan karena aku tidak ingin penjelasan. Tapi karena saat ini, di tengah semua yang sedang aku proses, penjelasan mereka terasa seperti variabel tambahan yang tidak ada ruangnya di kepalaku.
Mungkin nanti. Mungkin minggu depan. Mungkin tidak sama sekali — itu juga opsi yang valid dan aku tidak akan menghakimi diri sendiri jika sampai di sana.
Sore itu aku menelepon Nara.
Nara adalah sahabatku yang lain — yang berbeda dari Tiara dalam semua aspek yang penting, terutama aspek tidak-mengkhianati-orang-yang-menyayanginya. Kami kenal sejak semester pertama kuliah, dan dalam empat tahun pertemanan itu, Nara sudah menjadi jenis orang yang kamu telepon ketika kamu tidak tahu mau bicara ke siapa tapi tidak mau sendirian dengan pikiranmu.
Dia mengangkat di nada kedua.
"Ri? Kamu kenapa kemarin tiba-tiba ngilang dari grup?"
"Nara." Suaraku keluar lebih datar dari yang aku rencanakan. "Aku mau cerita sesuatu tapi kamu harus janji tidak panik dulu."
Hening sejenak. "Kamu sakit?"
"Tidak."
"Kamu masuk penjara?"
"Nara—"
"Oke oke. Tidak panik. Cerita."
Aku cerita. Tidak semuanya — tentang Bagas dan Tiara iya, tentang surat penagihan iya, tentang Revano Aldrich dan map abu-abu empat puluh dua halaman itu... tidak. Itu bagian yang aku simpan dulu. Bukan karena tidak percaya Nara, tapi karena aku sendiri belum selesai memrosesnya dan menceritakannya sekarang terasa seperti akan membuat segalanya menjadi lebih nyata sebelum aku siap.
Nara diam selama tiga detik penuh setelah aku selesai bercerita soal Bagas dan Tiara. Ini rekor — biasanya dia mulai berkomentar di detik pertama.
"Aku akan ke sana," katanya.
"Kamu tidak perlu—"
"Bukan pertanyaan, Ri. Aku ke sana."
Aku tidak menolak lagi.
Nara tiba pukul setengah empat dengan kantong plastik berisi martabak manis cokelat keju — makanan yang secara ilmiah tidak menyelesaikan masalah apapun tapi secara empiris selalu membuat segalanya sedikit lebih bisa dihadapi.
Kami makan di lantai kamarku karena mejanya terlalu kecil untuk berdua, dengan martabak di tengah dan ponsel Nara memutar playlist yang dia beri nama "untuk hari-hari brengsek" yang rupanya sudah dia siapkan sejak lama untuk situasi seperti ini.
Nara tidak banyak berkomentar soal Bagas. Dia tahu aku tidak butuh itu sekarang.
Yang dia lakukan adalah duduk di sana, makan martabak, sesekali menggerutu atas nama-ku tentang hal-hal yang tidak perlu diulangi, dan memastikan aku tidak sendirian dengan pikiran-pikiranku yang sudah terlalu penuh sejak kemarin malam.
Itu cukup. Itu lebih dari cukup.
Pukul enam, dia pamit — ada jadwal meeting freelance yang tidak bisa ditunda. Di pintu, dia berhenti dan menatapku dengan ekspresi yang Nara banget: campuran antara sayang dan khawatir yang selalu dia bungkus dengan nada bercanda supaya tidak terasa berat.
"Kamu baik-baik saja?"
"Sedang menuju ke sana," jawabku.
"Itu cukup," katanya. Dan pergi.
Malam turun pelan.
Aku tidak menyalakan lampu besar — hanya lampu meja belajar yang kecil, yang cahayanya cukup untuk membaca tapi tidak cukup untuk membuat kamar terasa terlalu terang dan ramai. Aku duduk di kursi, map abu-abu di depanku, surat penagihan di sebelahnya, dan ponsel yang masih terbalik di sudut meja.
Aku membuka map itu lagi dari halaman pertama.
Kali ini lebih pelan. Kali ini membaca setiap pasal dengan kepala yang lebih dingin dari pagi tadi — karena pagi tadi aku masih di mode reaktif, masih memproses kejutan bahwa ini nyata, dan reaksi pertama terhadap sesuatu yang mengejutkan jarang yang paling akurat.
Pasal demi pasal.
Ada hal-hal yang tidak nyaman — tentu saja ada. Pasal 3.4 tentang larangan hubungan romantis dengan pihak lain selama dua belas bulan: tidak ideal, tapi juga tidak relevan mengingat status tunanganku baru saja berakhir dengan cara yang paling efektif membunuh keinginan untuk berhubungan dengan siapapun dalam waktu dekat. Pasal 3.2 tentang kewajiban menampilkan hubungan yang meyakinkan: ini berarti berbohong kepada publik, kepada keluarga Aldrich, dan mungkin kepada orang-orang yang mengenalku — itu tidak ringan, dan aku tidak akan pura-pura ringan.
Tapi ada juga pasal 4.5 — tidak ada kewajiban fisik atau intim. Ditulis eksplisit, tidak ambigu, tidak menyisakan ruang untuk interpretasi lain. Pasal itu ada di sana, hitam di atas putih, dan itu penting.
Dan ada Lampiran B.
Aku menatap angka di baris terakhirnya lagi.
Dua tahun aku mencicil ini sendirian. Dua tahun bangun pagi dan langsung menghitung apakah bulan ini bisa bayar cicilan sambil tetap makan layak. Dua tahun berbohong kepada Mama bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa Bapak tidak meninggalkan masalah, bahwa rumah Depok yang Mama tinggali aman.
Mama tidak tahu. Dan aku tidak pernah berencana memberitahunya.
Bapak punya banyak kekurangan yang baru aku pelajari setelah dia pergi — kebiasaan meminjam dengan optimisme yang tidak proporsional terhadap kemampuan membayar adalah salah satunya. Tapi dia juga pria yang berdiri di foto itu dengan piala lomba desainku di tangannya sambil tertawa sampai matanya menyipit, dan itu juga nyata.
Orang bisa jadi dua hal sekaligus. Aku sudah belajar itu.
Aku menutup map.
Menatap foto di dinding.
Bapak dalam kemeja batik birunya, tertawa ke arah kamera.
"Pak," kataku pelan — bukan berharap dijawab, hanya karena kadang mengatakan sesuatu ke luar lebih jujur rasanya daripada menyimpannya di dalam kepala, "aku tidak tahu ini keputusan yang benar. Aku bahkan tidak yakin ada yang namanya keputusan yang benar dalam situasi seperti ini."
Foto itu diam.
Tentu saja.
"Tapi kalau aku tidak melakukan sesuatu, rumah Mama hilang dalam empat belas hari. Dan aku tidak punya cara lain yang bahkan mendekati cukup cepat."
Aku menarik napas panjang.
"Maaf kalau ini bukan yang Bapak bayangkan untuk anakmu."
Aku mengambil ponsel. Membuka kontaknya — nomor yang sudah aku simpan tadi pagi dengan nama "Revano A." karena menyimpannya dengan nama lengkap terasa terlalu resmi dan menyimpannya dengan nama depan saja terasa terlalu akrab, dan "Revano A." adalah kompromi yang tidak memuaskan siapapun tapi setidaknya netral.
Aku mengetik pesan. Menghapusnya. Mengetik lagi.
Pada akhirnya aku menulis sesuatu yang singkat:
"Aku mau bicara tentang beberapa hal sebelum memutuskan. Besok pagi, jam yang sama?"
Terkirim pukul 21.14.
Balasannya datang dalam empat puluh detik.
"Lantai dua puluh delapan. Jam sembilan."
Tidak ada tambahan. Tidak ada pertanyaan balik. Hanya konfirmasi, bersih dan langsung, seperti semua komunikasinya sejauh ini.
Aku meletakkan ponsel dan menatap langit-langit.
Besok aku akan ke sana lagi. Besok aku akan duduk di hadapannya lagi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang perlu aku ajukan sebelum membuat keputusan yang akan mengubah dua belas bulan ke depan hidupku secara fundamental.
Dan aku sudah hampir tahu apa jawabannya akan menjadi.
Bukan karena aku tidak punya pilihan lain — itu cara yang terlalu mudah untuk menyederhanakan ini. Selalu ada pilihan lain. Selalu ada jalan yang lebih panjang, lebih menyiksa, lebih penuh ketidakpastian yang bisa aku ambil.
Tapi ada Lampiran B. Ada surat di atas mejaku. Ada Mama di Depok yang besok pagi akan bangun dan menyiram tanamannya di halaman depan tanpa tahu bahwa tanah tempat dia berdiri sedang menghitung hari.
Dan ada foto Bapak di dinding yang diam tapi tidak pernah benar-benar diam — tidak untuk aku yang menatapnya setiap hari dan membawa beratnya ke mana-mana.
Aku menutup lampu meja.
Berbaring di kasur dalam gelap.
Dan untuk pertama kalinya sejak dua hari ini, aku tidak memikirkan Bagas atau Tiara sama sekali.
Yang aku pikirkan adalah satu kalimat dari pasal kontrak yang entah mengapa terus kembali — bukan yang tentang uang, bukan yang tentang kewajiban publik, tapi yang kecil di pasal 4.4:
Pihak Pertama tidak akan mengintervensi aktivitas profesional Pihak Kedua selama tidak bertentangan dengan kewajiban dalam Pasal 3.
Dia memberikan ruang untuk itu. Tanpa diminta — atau mungkin sudah diantisipasi.
Aku tidak tahu mana yang lebih mengkhawatirkan.
Pukul sebelas malam, ponselku bergetar lagi. Bukan dari Revano. Dari Mama.
"Ari sayang, sudah makan malam? Mama masak sayur asem tadi, enak. Kapan ke sini?"
Aku tersenyum di gelap. Kecil, tapi nyata.
"Sudah makan Ma. Minggu depan ke sana ya."
Tiga detik kemudian: "Oke sayang. Jangan lupa vitamin. Selamat istirahat. Love you."
Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit yang gelap.
Love you juga, Ma.
Dan itulah — pada akhirnya, setelah semua pasal dan lampiran dan angka-angka dan pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai — itulah yang membuat setengah keputusan yang tersisa menyusul dan bergabung dengan yang sudah ada sejak tadi pagi.
Besok aku akan ke Aldrich Tower untuk ketiga kalinya.
Dan kali ini, aku tidak akan pulang dengan tangan kosong.
— Selesai Bab 3 —