NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Tiga Hari Sebelum Status Itu Berubah

Tiga hari.

Waktu terasa berjalan terlalu cepat sekaligus terlalu lambat.

Alya berdiri di depan lemari kayunya yang sederhana, menatap pakaian-pakaian yang tergantung rapi. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada gaun mahal. Tidak ada sepatu berkilau.

Dan tiga hari lagi, ia akan menikah.

Bukan dengan pria biasa.

Melainkan Bima Wijaya.

Ia menutup lemari perlahan.

Di meja kecil samping tempat tidur, ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

“Alya Pramesti?” suara perempuan terdengar profesional.

“Iya.”

“Saya Rania, dari tim personal assistant Tuan Bima. Mulai hari ini Anda akan didampingi untuk persiapan pernikahan dan penyesuaian tempat tinggal. Mobil sudah dikirim ke alamat Anda.”

Alya melirik ke luar jendela.

Sebuah mobil hitam mewah sudah terparkir di depan rumahnya, kontras dengan deretan motor tetangga.

Beberapa ibu-ibu mulai berbisik di teras masing-masing.

“Baik. Saya akan keluar,” jawab Alya singkat.

Ia meraih tasnya.

Sebelum pergi, ia masuk ke kamar ibunya.

“Ibu, Alya ke luar sebentar.”

Ibunya tersenyum lemah. “Kerja?”

Alya menatap wajah wanita itu beberapa detik lebih lama.

“Iya. Urusan penting.”

Ia tidak berbohong.

Hanya belum menceritakan semuanya.

Mobil membawanya menuju sebuah butik eksklusif di pusat kota.

Interiornya luas dan berkilau. Deretan gaun putih menggantung anggun seperti lukisan mahal.

Rania menyambutnya dengan sopan.

“Kita tidak punya banyak waktu, jadi hari ini fokus pada gaun dan pengukuran.”

Alya mengangguk.

Seorang desainer datang membawa beberapa pilihan.

Gaun pertama terlalu mencolok.

Gaun kedua terlalu berat.

Gaun ketiga—

sederhana, elegan, tanpa detail berlebihan.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin saat gaun itu melekat di tubuhnya.

Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

Cantik.

Tenang.

Dewasa.

“Ini cocok,” ujar Rania mantap.

Alya menyentuh kain halus itu pelan.

Tiga hari lagi ia akan mengenakan ini.

Dan berdiri di samping pria yang bahkan tidak mencintainya.

“Apa Tuan Bima sudah melihat pilihannya?” tanya Alya tanpa sadar.

“Belum. Tapi beliau bilang, Anda bebas memilih.”

Bebas.

Kata itu terasa ironis.

Sore harinya, mobil berhenti di depan mansion Wijaya.

Gerbang besi terbuka perlahan.

Rumah itu besar. Terlalu besar untuk dua orang.

Alya turun dengan langkah tenang, meski jantungnya sedikit berdebar.

Bima sudah berdiri di depan pintu masuk, jasnya masih rapi seolah ia tidak pernah terlihat lelah.

“Kau datang,” katanya singkat.

“Untuk melihat tempat saya akan tinggal satu tahun ke depan,” jawab Alya.

Tatapan mereka bertemu.

Tak ada senyum.

Namun tak ada juga ketegangan seperti pertemuan pertama.

Bima memberi isyarat agar ia masuk.

Interior mansion itu modern dan dingin. Dominasi warna hitam, abu, dan putih membuat suasananya terasa formal.

“Kamar Anda di lantai dua,” ujar Bima.

“Anda?”

“Kamar utama di sisi barat.”

Berarti terpisah.

Sesuai kontrak.

Alya mengangguk pelan.

Seorang staf rumah membantu membawa tas kecilnya.

Bima berjalan di sampingnya menaiki tangga.

“Setelah menikah, kita akan tinggal di sini penuh waktu. Jika ada yang membuat Anda tidak nyaman, sampaikan langsung.”

Nada suaranya tetap profesional.

Alya berhenti di depan kamar yang akan menjadi miliknya.

Ruangan itu luas, dengan jendela besar menghadap taman belakang.

“Lebih besar dari rumah saya,” gumamnya pelan.

Bima mendengarnya.

Namun ia tidak menanggapi.

Beberapa detik hening berlalu.

“Kenapa terburu-buru?” tanya Alya tiba-tiba.

Bima menatapnya.

“Dewan direksi mengadakan rapat luar biasa minggu depan. Saya harus hadir sebagai pria yang stabil secara citra.”

“Menikah membuat Anda stabil?”

“Di mata investor, ya.”

Alya tersenyum tipis.

“Dunia Anda aneh.”

“Dan Anda baru saja masuk ke dalamnya.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman.

Lebih seperti pengingat.

Alya berjalan masuk ke kamar dan menyentuh meja kerja di sudut ruangan.

“Setelah satu tahun, kita benar-benar tidak akan punya hubungan apa pun lagi?”

Bima berdiri di ambang pintu.

“Kontraknya jelas.”

“Dan kalau salah satu dari kita berubah pikiran?”

Tatapan pria itu sedikit mengeras.

“Saya tidak mencampur perasaan dengan keputusan.”

Jawaban tegas. Tanpa celah.

Alya mengangguk kecil.

“Baik.”

Ia berbalik menghadap jendela.

Taman di bawah terlihat rapi dan terawat. Hidup yang terstruktur. Terkendali.

Sangat berbeda dari kehidupannya yang selama ini penuh ketidakpastian.

Langkah kaki Bima terdengar mendekat beberapa langkah.

“Jika ada yang ingin Anda tanyakan, tanyakan sekarang.”

Alya menoleh.

“Kenapa saya?”

Bima terdiam sejenak.

“Karena Anda terlihat seperti orang yang tidak akan menghancurkan diri sendiri hanya karena tekanan.”

Jawaban itu tidak romantis.

Tapi jujur.

Dan entah kenapa, Alya merasa itu lebih berharga daripada pujian kosong.

Ponsel Bima bergetar.

Ia melihat layar sekilas, lalu mengangkatnya.

“Saya akan ke ruang kerja. Istirahatlah.”

Tanpa menunggu jawaban, ia pergi.

Alya berdiri sendirian di kamar barunya.

Sunyi.

Bersih.

Terlalu luas.

Ia duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang.

Tiga hari lagi ia akan resmi menjadi bagian dari keluarga Wijaya.

Bukan karena cinta.

Bukan karena takdir.

Melainkan karena kesepakatan.

Namun satu hal mulai ia sadari—

Bima Wijaya bukan pria sembarangan.

Ia dingin.

Tegas.

Dan terkontrol.

Pria seperti itu tidak akan mudah runtuh.

Dan jika suatu hari kontrak ini selesai—

ia harus memastikan dirinya juga tidak runtuh.

Alya berdiri dan membuka jendela sedikit.

Angin sore masuk membawa aroma rumput basah.

Di bawah sana, ia melihat Bima berjalan cepat menuju mobilnya, wajahnya serius, langkahnya pasti.

Pria itu hidup di dunia tekanan.

Dan kini, ia akan berdiri di sisinya.

Bukan sebagai kekasih.

Bukan sebagai wanita yang dicintai.

Melainkan sebagai istri dalam sebuah perjanjian.

Dan tiga hari dari sekarang, sandiwara itu akan dimulai secara resmi.

Alya tidak langsung menutup jendela.

Ia berdiri di sana cukup lama, memandangi halaman luas dengan lampu taman yang mulai menyala satu per satu seiring senja turun perlahan. Mansion ini terlalu besar untuk disebut rumah. Terlalu rapi untuk disebut tempat tinggal yang hangat.

Semua terlihat sempurna.

Namun tidak ada jejak kehidupan.

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada aroma masakan dari dapur.

Tidak ada tawa.

Hanya keteraturan.

Dan kontrol.

Pintu kamarnya diketuk pelan.

“Masuk,” jawabnya.

Rania masuk dengan membawa tablet dan beberapa map tipis.

“Kita perlu membahas jadwal tiga hari ke depan.”

Alya duduk di sofa kecil dekat meja.

Rania mulai menjelaskan dengan nada profesional.

“Besok Anda akan menjalani sesi fitting akhir dan pemotretan pre-wedding untuk dokumentasi internal keluarga. Lusa akan ada makan malam dengan Kakek Wijaya dan dua anggota dewan direksi inti.”

“Dewan juga hadir?” Alya mengangkat alis.

“Ya. Pernikahan ini bukan hanya urusan keluarga.”

Tentu saja bukan.

Ini strategi.

Alya mengangguk pelan.

“Apakah mereka tahu ini pernikahan kontrak?”

Rania terdiam sepersekian detik sebelum menjawab, “Tidak. Dan tidak akan pernah tahu.”

Sunyi sejenak.

“Baik,” kata Alya.

Rania menatapnya lebih lama dari sebelumnya.

“Jika Anda merasa tertekan, saya bisa—”

“Saya baik-baik saja.”

Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Rania mengangguk dan pamit keluar.

Kamar kembali sunyi.

Alya bersandar di sofa dan memijat pelipisnya.

Tiga hari bukan waktu yang cukup untuk menyiapkan hati.

Namun mungkin memang tidak perlu menyiapkan hati.

Karena tidak ada cinta di dalamnya.

Malam semakin larut.

Alya tidak bisa tidur.

Ia keluar kamar dan berjalan menyusuri koridor lantai dua. Lampu-lampu redup menyala otomatis saat mendeteksi langkahnya.

Di ujung lorong, sebuah pintu sedikit terbuka.

Cahaya dari dalam menyemburat keluar.

Tanpa sadar, ia melangkah mendekat.

Ruang kerja.

Bima duduk di balik meja besar, jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung. Beberapa dokumen terbuka di depannya, laptop menyala, layar penuh grafik saham.

Ia terlihat berbeda.

Lebih manusiawi.

Lebih lelah.

Bima mengangkat wajahnya.

“Kau belum tidur.”

“Aku tidak terbiasa dengan tempat baru.”

Ia tidak mengusirnya.

Alya berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum akhirnya masuk.

“Masih bekerja?”

“Pasar Asia turun. Investor mulai panik.”

“Karena kabar pernikahan?”

“Salah satunya.”

Alya mengangguk pelan.

Ia memperhatikan meja itu.

Tersusun rapi.

Namun ada satu foto kecil di sudutnya.

Seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut.

“Ibumu?” tanya Alya tanpa sadar.

Bima menatap foto itu sekilas.

“Ya.”

Nada suaranya berubah tipis. Lebih rendah.

Alya tidak bertanya lebih jauh.

Namun ia melihat sesuatu yang berbeda di mata pria itu.

Luka.

Yang belum selesai.

“Kau bisa kembali ke kamar,” kata Bima akhirnya.

“Aku tahu.”

Namun ia tidak langsung bergerak.

“Apa kau pernah berpikir untuk menikah sungguhan?”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Bima menutup laptopnya perlahan.

“Pernikahan bukan prioritas.”

“Cinta?”

“Tidak efisien.”

Jawaban itu membuat Alya tersenyum tipis.

“Semua hal tidak bisa diukur dengan efisiensi.”

Bima menatapnya lurus.

“Dalam dunia saya, bisa.”

Sunyi lagi.

Alya menyadari sesuatu.

Pria ini tidak anti cinta.

Ia hanya tidak percaya pada stabilitasnya.

Dan mungkin, pernah kehilangan terlalu banyak.

“Aku tidak akan membuat masalah,” ujar Alya pelan.

“Bagus.”

“Tapi aku juga tidak akan menjadi boneka.”

Tatapan Bima mengeras sedikit, bukan marah — lebih seperti terkejut.

“Aku tidak meminta boneka.”

“Baik.”

Ia berbalik untuk pergi.

“Alya.”

Ia berhenti.

“Terima kasih.”

Kalimat itu pelan.

Hampir tak terdengar.

Namun jelas.

Alya menoleh.

“Ini hanya kerja sama.”

“Ya.”

Namun untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Bima.

Bukan dingin.

Bukan juga hangat.

Melainkan pengakuan bahwa ia benar-benar membutuhkan wanita yang berdiri di hadapannya.

Alya keluar dari ruang kerja itu dengan langkah pelan.

Dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Bukan karena situasinya berubah.

Tetapi karena ia mulai melihat sisi manusia di balik CEO dingin itu.

Hari berikutnya berjalan cepat.

Fitting akhir berjalan lancar.

Gaun itu sempurna.

Namun yang membuatnya lebih terkejut adalah saat Bima datang untuk melihat hasilnya.

Ia berdiri beberapa langkah darinya ketika Alya keluar dari ruang ganti.

Tatapan pria itu membeku sesaat.

Tidak lama.

Namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa berbeda.

“Bagaimana?” tanya Alya.

Bima mengangguk sekali.

“Cocok.”

Hanya satu kata.

Namun cara ia mengatakannya terasa lebih berat dari biasanya.

Alya menatap pantulan mereka di cermin besar.

Mereka terlihat seperti pasangan ideal.

Seimbang.

Serasi.

Sempurna.

Padahal tidak ada perasaan di baliknya.

Setidaknya untuk saat ini.

Malam kedua di mansion.

Alya duduk di tepi ranjangnya, memandangi ponsel yang menampilkan foto ibunya tersenyum di rumah sakit tadi siang.

Semua biaya sudah diurus.

Kamar perawatan ditingkatkan.

Dokter terbaik ditugaskan.

Bima tidak setengah-setengah dalam menjalankan kesepakatan.

Ia menutup layar ponsel.

Besok adalah makan malam keluarga.

Dan setelah itu—

hari pernikahan.

Ia berdiri dan menatap cermin.

Wanita di hadapannya terlihat lebih dewasa dari tiga hari lalu.

Lebih kuat.

Lebih siap.

Ia mungkin masuk ke dunia ini sebagai tameng.

Namun ia tidak akan menjadi korban.

Jika Bima menjalani ini sebagai strategi,

maka ia akan menjalaninya sebagai tanggung jawab.

Dan ketika satu tahun itu selesai—

ia akan pergi dengan kepala tegak.

Bukan sebagai wanita yang ditinggalkan.

Melainkan sebagai wanita yang menyelesaikan perannya tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Alya mematikan lampu kamar.

Di sisi lain koridor, lampu ruang kerja Bima masih menyala.

Dua orang asing.

Satu atap.

Satu kontrak.

Dan tinggal dua hari lagi sebelum nama mereka resmi berada dalam satu kartu keluarga.

Pernikahan itu bukan tentang cinta.

Belum.

Namun mulai malam ini, keduanya tahu—

ini bukan lagi sekadar tanda tangan di atas kertas.

Ini adalah awal dari perubahan yang tak bisa lagi dibatalkan.

Dan dua hari lagi, mereka akan berdiri berdampingan di hadapan hukum.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!