Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Paman Doktel dan Rahasia Es Krim
Dharmawangsa di sore hari terasa begitu tenang. Jajaran pohon angsana yang rimbun memayungi aspal jalanan, menciptakan siluet panjang yang menari-nari ditiup angin sepoi-sepoi. Dimas Alvaro menghentikan mobilnya di pinggir jalan, matanya menyisir deretan pagar rumah mewah yang berdiri kokoh di sana.
Meskipun tadi ia sempat menguping pembicaraan Paul tentang "nomor 12", Dimas tetap merasa ragu. Kompleks ini memiliki beberapa blok, dan ia tidak ingin terlihat seperti penguntit yang tersesat. Ia baru saja hendak memutar balik mobilnya ketika pandangannya tertuju pada sebuah taman kecil di ujung blok.
Di sana, di atas sebuah bangku taman yang dikelilingi bunga asoka, duduk seorang anak laki-laki kecil. Ia mengenakan kaus kuning cerah dan celana pendek denim. Kakinya yang mungil berayun-ayun dengan santai, sementara tangannya sibuk memegang sebuah es krim cokelat yang sudah mulai meleleh hingga ke telapak tangannya.
Dimas menyipitkan mata. Wajah itu... pipi tembam itu... ia sangat mengenalnya.
"Sean?" gumam Dimas pelan.
Dimas turun dari mobil, melangkah perlahan menuju taman. Sean, yang sedang asyik menjilat sisa es krim di pinggiran stik, mendongak saat merasakan bayangan seseorang menutupi cahaya matahari di depannya. Seketika, anak itu mengerutkan kening. Ia tampak takut, tangannya sedikit gemetar memegang es krimnya, dan ia bersiap untuk melompat turun dari bangku.
"Hey, Sean. Jangan takut. Ini Paman yang kemarin di rumah sakit, ingat?" Dimas berjongkok di depan Sean, menjaga jarak agar anak itu tidak merasa terintimidasi oleh tinggi badannya yang mencapai 187 cm.
Sean menatap Dimas dengan mata bulatnya yang jernih. Ia diam sejenak, seolah sedang memutar memori di otaknya yang masih kecil. "Paman... Paman yang buat Sean telbang?" tanyanya dengan suara cadel yang lucu.
Dimas tersenyum sangat lebar, sebuah tawa ringan keluar dari mulutnya. "Iya, Paman yang membawa Sean terbang seperti Superman. Sean sudah sehat, ya? Kenapa sendirian di sini?"
Mendengar konfirmasi itu, Sean langsung rileks. Ia kembali duduk dengan nyaman. "Sean mau mkan es klim. Tapi tidak boleh sama Onty Kath. Jadi Sean lali ke sini sebental."
Dimas melihat es krim yang hampir habis itu. "Wah, diam-diam ya? Kalau ketahuan onty Kathryn bagaimana?"
Sean langsung melebarkan matanya, tampak panik. Ia buru-buru menelan sisa es krim yang masih ada di mulutnya. Dengan gerakan yang sangat menggemaskan, ia memberikan stik es krim yang sudah kosong itu kepada Dimas. "Paman Doktel, jangan kasih tahu onty Kath! Tolong buang ini jauh-jauh!"
Dimas tertawa, hatinya terasa begitu hangat. Kepolosan Sean adalah obat paling mujarab bagi luka hati yang ditorehkan Reina semalam. Dimas mengambil stik es krim itu, membungkusnya dengan tisu dari sakunya, lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat.
"Oke, janji. Rahasia laki-laki, ya?" Dimas mengacungkan jari kelingkingnya.
Sean dengan semangat menautkan jari kelingkingnya yang masih lengket pada kelingking Dimas. "Janji! Paman Doktel baik. Ayo ke lumah Sean, ada Onty Kath di sana!"
Sementara itu, di sebuah rumah bergaya klasik modern dengan pagar putih yang tinggi, suasana sedang kacau balau. Kathryn Danola berlari keluar masuk rumah dengan wajah yang sangat pucat. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan napasnya tersengal-sengal.
"Sean! Sean, kamu di mana, Sayang?" teriak Kathryn dengan suara yang mulai serak karena panik.
Ia baru saja meninggalkan Sean di depan televisi selama lima menit untuk mengambil jemuran, namun saat ia kembali, pintu depan sudah terbuka sedikit dan Sean menghilang. Pikiran buruk mulai meracuni otaknya. Bagaimana jika Sean diculik? Bagaimana jika Sean jatuh? Bagaimana jika Sean tertabrak mobil?
"Ya Tuhan, tolong jangan ambil Sean... Kak Paul bisa marah besar padaku," isaknya pelan sambil terus berlari ke arah gerbang.
Kathryn membuka pagar dengan tangan gemetar. Ia hendak berlari menuju jalan raya saat matanya menangkap dua sosok yang sedang berjalan santai dari arah taman.
Seorang pria tinggi tegap dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga siku, sedang menggandeng tangan seorang anak kecil yang berjalan meloncat-loncat kecil. Pria itu tampak menunduk, mendengarkan celotehan sang anak dengan senyum yang sangat tulus.
Kathryn mematung. Jantungnya yang tadi berdegup karena panik, kini berdegup karena alasan yang berbeda.
"Dok.. Dokter Dimas?" bisiknya tak percaya.
"Onty Kath! Lihat! Ada Paman Doktel!" teru Sean sambil melambai-lambaikan tangannya yang masih ada noda cokelat kering di sudut bibirnya.
Kathryn langsung berlari menghampiri mereka. Begitu sampai di depan Sean, ia langsung berlutut dan memeluk anak itu dengan sangat erat, mengabaikan kehadiran Dimas sejenak. "Sean! Kamu dari mana saja? Onty takut sekali, Sayang... jangan pernah pergi keluar tanpa izin lagi!"
"Sean cuma main bental, Onty," sahut Sean dengan polos, sambil melirik Dimas seolah memberi kode soal rahasia es krim mereka.
Kathryn berdiri, matanya masih sedikit basah saat menatap Dimas. Ia tampak sangat malu, rambutnya yang biasanya disanggul rapi kini sedikit berantakan karena kepanikannya tadi. "Hmm Dokter Dimas... kenapa... kenapa bisa ada di sini?"
Dimas memberikan senyum menenangkan. "Tadi aku sedang ada urusan di daerah sini, lalu tidak sengaja melihat Sean sedang duduk sendirian di taman. Karena aku mengenalnya, aku memutuskan untuk mengantarnya pulang."
"Ya ampun, terima kasih banyak, Dokter. Saya benar-benar lalai menjaganya tadi," Kathryn menunduk dalam, merasa sangat tidak enak hati. "Dan maaf, Karna saya dokter harus repot-repot mengurus anak nakal ini."
"Paman Doktel tidak lepot, Onty! Paman Doktel tadi bantu Sean..." Sean hampir saja membocorkan rahasia es krimnya, namun ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. "...bantu Sean telbang lagi!"
Dimas terkekeh, ia mengusap rambut Sean dengan sayang. "Iya, kami tadi latihan terbang sebentar."
Suasana mendadak menjadi hening namun terasa sangat nyaman. Dimas menatap Kathryn yang tampak sangat cantik meskipun dalam keadaan berantakan. Ia mengenakan gaun rumah sederhana tanpa lengan, memperlihatkan bahunya yang mulus. Semburat merah di pipinya membuat Dimas betah menatapnya berlama-lama.
"Boleh saya mampir sebentar? Ada hal yang ingin saya sampaikan soal kejadian di lobi kemarin," ujar Dimas dengan nada yang sangat sopan.
Kathryn sempat ragu sejenak, namun ia melihat ketulusan di mata Dimas. "Tentu, Dokter. Silahkan masuk. Maaf jika rumahnya sedikit berantakan karena mainan Sean."
Di dalam rumah, aroma kayu manis dan kue yang sedang dipanggang menyeruak ke hidung Dimas. Rumah ini terasa jauh lebih "hidup" daripada rumahnya yang dingin dan penuh barang bermerek namun tanpa jiwa.
"Silakan duduk, Dokter. Saya buatkan minum sebentar," ujar Kathryn.
"Tidak usah repot-repot, Kathryn. Aku hanya sebentar," cegah Dimas.
Namun Kathryn sudah melesat ke dapur. Dimas duduk di sofa empuk, sementara Sean sibuk mengambil mainan robotnya dan memamerkannya pada Dimas. Tak lama kemudian, Kathryn kembali dengan segelas jus jeruk dingin dan sepiring kecil kue kering.
"Ini buatan Papa saya, silakan dicoba," tawar Kathryn sambil duduk di sofa seberang Dimas.
Dimas menyesap jusnya, lalu menatap Kathryn dengan serius. "Kathryn, soal kemarin di rumah sakit... aku benar-benar minta maaf. Wanita itu... istriku... dia memang memiliki emosi yang sulit dikendalikan. Aku sangat menyesal dia mengatakan hal-hal buruk padamu."
Kathryn menggeleng kecil, jemarinya bertaut di pangkuannya. "Sudah saya lupakan, Dokter Dimas. Saya tidak marah pada beliau. Saya justru... saya justru merasa sedih."
"Sedih?" Dimas mengerutkan kening.
"Sedih melihat Dokter," bisik Kathryn pelan, matanya menatap Dimas dengan penuh empati. "Seorang pria sebaik ini, kenapa harus diperlakukan seperti itu? Dokter Dimas menyelamatkan banyak nyawa setiap hari, tapi di rumah sendiri... sepertinya tidak mendapatkan penghargaan yang seharusnya."
Dimas terdiam. Kata-kata Kathryn menghujam tepat di bagian hatinya yang paling sunyi. Baru kali ini, ada orang yang mengkhawatirkan perasaannya ketimbang mengkhawatirkan berapa banyak uang yang ia hasilkan.
"Aku sudah terbiasa, Kathryn. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk belajar menjadi tuli terhadap makian," ujar Dimas dengan tawa hambar.
"Tapi itu tidak benar, Dok. Setiap orang berhak dihargai, apalagi oleh pasangannya sendiri," sahut Kathryn dengan nada yang sedikit lebih berani.
Dimas menatap Kathryn lama. Kelembutan wajah gadis itu seolah menyerap seluruh kepahitan yang ia bawa dari rumah. Di dalam ruang tamu yang sederhana itu, Dimas merasa ia menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Ia merasa tidak perlu berpura-pura menjadi dokter hebat atau suami yang tertindas. Di depan Kathryn, ia hanya menjadi Dimas.
"Terima kasih, Kathryn. Kamu orang pertama yang bicara begitu padaku," ujar Dimas dengan suara rendah.
Tepat saat itu, pintu depan terbuka dengan suara kunci yang berputar. Paul Danola melangkah masuk dengan koper di tangannya. Langkahnya terhenti saat melihat seorang pria asing sedang duduk di ruang tamunya, menatap adiknya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Kathryn? Ada tamu?" tanya Paul dengan nada yang penuh selidik.
Dimas segera berdiri, ia merapikan kemejanya. "Maaf Tuan. Perkenalkan saya dimas dokter yang ikut merawat sean"
Paul menyipitkan mata, ia tidak mengenali pria itu. "Dokter Dimas? Ada apa Dokter datang ke rumah saya sore-sore begini?"
Suasana yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi tegang. Paul berjalan mendekat, menatap Dimas dari atas ke bawah, sementara Kathryn tampak gelagapan berusaha menjelaskan situasi yang terjadi. Di tengah ketegangan itu, Sean justru berlari menghampiri Paul sambil berteriak, "Papa! Ada Paman Doktel! Paman Doktel simpan lahasia es klim Sean!"
Dimas mematung. Rahasia kecilnya dengan Sean baru saja terbongkar, dan ia kini harus berhadapan dengan Onty Kathryn yang tampak siap menginterogasinya.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰