Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jentikan Maut di Balik Jas
Mereka memutuskan untuk pulang. Michael mengendarai mobilnya melewati jalur hutan pinus yang sepi, jalan pintas menuju pusat kota The Golden Coast. Suasana di dalam mobil hening, Michael sesekali melirik Shaneen yang pura-pura tertidur di kursi penumpang dengan jas Michael masih menyelimutinya.
Tiba-tiba, lampu depan mobil menangkap bayangan tiga mobil SUV hitam yang memalang jalan.
Citttttt!
Michael menginjak rem dalam-dalam. Belum sempat ia menarik napas, hujan peluru menyalak dari arah depan dan samping.
RATATATATATA!
Kaca mobil antipeluru Michael rasanya akan retak seribu.
"Shaneen, merunduk!" Teriak Michael.
Mobil itu berguncang hebat akibat hantaman peluru. Michael merunduk rendah, satu tangannya memegang kemudi, tangan lainnya memegang senjata dan membalas tembakan ke arah depan.
"Tetaplah tenang, Shaneen! Jangan bergerak!" perintah Michael, suaranya parau karena adrenalin.
Shaneen hanya mengangguk pelan dan meringkuk di kursi penumpang, sepenuhnya tertutup oleh jas hitam Michael yang besar. Bagi Michael, Shaneen hanyalah gundukan kain yang sedang gemetar ketakutan. Namun, di balik kegelapan jas itu, mata Shaneen terbuka lebar, berkilat tajam seperti belati.
Dari celah kecil di bawah jas, tangan kanan Shaneen yang halus mulai bergerak. Ia tidak memegang pistol. Di sela-sela jarinya yang lentik, terselip lima pisau perak tipis seukuran jarum besar—senjata rahasia yang ia sebut sebagai 'Duri Mawar'.
Michael sibuk menembak ke arah depan dan kiri, berteriak karena musuh di sisi kanan mulai mendekat dengan senjata api siap meledak. "Sial! Di kanan ada lima orang! Shaneen, peluk kepalamu!"
Tepat saat Michael fokus ke depan, Shaneen membuka pelan pintu mobil itu sepelan mungkin. Tangan kanan Shaneen keluar sedikit dari balik jas. Dengan gerakan pergelangan tangan yang meliuk aneh—sebuah teknik kuno yang hanya dikuasai oleh pembunuh bayaran tingkat tinggi—ia mulai menjentikkan pisau-pisau itu satu per satu.
Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!
Jentikan itu sangat halus, nyaris tanpa suara, namun memiliki kekuatan dorong yang luar biasa. Pisau-pisau perak itu melesat membelah udara malam, melengkung melewati celah kaca mobil yang retak, dan mendarat tepat di titik mematikan—tenggorokan, mata, dan nadi leher lima penyerang di sisi kanan.
Dalam hitungan menit, lima orang yang tadi mengancam dari sisi kanan ambruk seketika. Senjata mereka jatuh ke aspal tanpa sempat menyalak. Shaneen buru-buru menutup pintu mobil sepelan mungkin.
Michael, yang baru saja hendak memutar tubuhnya untuk menembak ke arah kanan, mendadak terpaku. Ia melihat melalui kaca samping: lima orang itu sudah tergeletak diam. Tidak ada suara tembakan dari arah mereka. Tidak ada ledakan. Hanya keheningan yang mengerikan.
"Apa yang...?" Michael bergumam bingung. Ia melirik Shaneen.
Gadis itu masih di sana. Masih meringkuk di bawah jasnya, tidak bergerak sedikit pun. Posisinya masih seperti orang tidur yang sedang ketakutan.
"Shaneen?" Michael memanggil pelan sambil menginjak gas untuk menjauh dari lokasi.
Shaneen baru bergerak saat mobil sudah melaju stabil di jalan raya yang terang. Ia menyembul dari balik jas, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya tampak berkaca-kaca.
"Michael... apakah perangnya sudah selesai? Aku... aku tadi takut banget, terus kepalaku pusing," rengek Shaneen, suaranya serak seperti orang ketakutan.
Michael menatap Shaneen dengan tatapan yang sangat rumit. Takut? Benarkah? "Kau benar-benar takut ya?" Tanya Michael, nadanya antara tidak percaya dan ingin tertawa konyol.
"Tentu saja aku takut, kamu ingin aku seperti apa? Berteriak histeris gitu?" Shaneen membenarkan posisi jas Michael di bahunya, menyembunyikan tangan kanannya yang sedikit pegal karena jentikan beruntung tadi.
Michael kembali fokus ke jalan, tapi otaknya berputar keras. Ia yakin melihat lima orang di kanan tadi siap menembak. Bagaimana mungkin mereka mati serempak tanpa suara tembakan?
"Michael?"
"Ya!"
"Tolong jangan ceritakan kejadian ini pada ibuku. Kamu Taukan gimana reaksi dia nantinya."
"Shaneen, kenapa? Apakah ibumu begitu mengkhawatirkan mu. Bukankah ayahmu dulu orang terkuat dan paling ditakuti?"
"Bahkan yang menurut orang lain terkuat pun sudah lama beristirahat tenang, Mich. Kejadian itu membuat ibuku tidak bisa tenang, dia selalu saja ketakutan dengan hal-hal konyol."
"Tapi bagaimanapun, itu tandanya ibumu sangat peduli pada dirimu."
"Justru itu aku mengatakan ini padamu. Tolong rahasiakan ya."
Michael hanya mengangguk pelan lalu fokus pada kemudinya. Shaneen hanya tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di bahu Michael.
***
Malam semakin larut, namun lampu di ruang kerja Michael masih menyala terang. Di atas meja mahoni yang mewah, terdapat sebuah kantong plastik kedap udara berisi pisau perak kecil yang ditemukan di lokasi penembakan tadi. Pisau itu sangat tipis, setajam silet, dengan ukiran emas berbentuk Mawar Berduri yang melilit di gagangnya.
Rans terdiam sejenak, lalu ia meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja. Map itu tidak memiliki identitas, hanya ada stempel merah bergambar mawar dan juga pisau lempar perak yang berukuran kecil.
"Tuan," Rans memulai dengan suara yang sangat serius. "Bukankah pisau lempar perak ini sama dengan anda temukan saat kejadian di dermaga. Pisau yang tertancap di leher penembak jitu saat transaksi chip kemarin, dan pisau ini kembali menumbangkan lima orang di sisi kanan mobil yang menyerang Anda tadi."
Michael menatap lima pisau lempar perak yang sangat kecil itu dengan pandangan yang dalam. "Jadi, sosok bertopeng yang menyelamatkanku di gudang vendor chip itu... Apakah dia datang menyelamatkan ku dengan Shaneen? Atau ada hal menarik lainnya yang mungkin terlewatkan Rans?"
"Saya sudah memeriksa dengan lengkap lokasi kejadian tadi Tuan. Dan saya rasa, tidak ada yang ikut membantu selain—kalau memang nona Shaneen adalah orang yang sama."
"Dan sekarang, saya menemukan hal menarik tuan setelah sekian lama. Akhirnya informasi yang ada cari saya dapatkan tadi dengan salah satu tender yang ingin mengajukan kontrak kerjasama dengan perusahaan anda tuan." Sambungnya kembali.
"Oh ya? Apa itu?"
Rans kembali menyampaikan, "Dunia bawah mengenalnya sebagai 'The Mad Woman'. Dia sebenarnya adalah hantu yang lama. Namun muncul kembali setelah kematian Orlando. Sosok perempuan gila yang bertopeng cantik, namun tindakannya sangat brutal."
Michael mengernyit. "Perempuan Gila? Kau menemukan datanya?"
"Bukan dari catatan sipil atau Oxford, Tuan. Tapi dari 'Deep Web' dan informan di The Iron District. Saya menemukan jejak seorang algojo bertopeng mawar yang aktif sudah lama, hanya saja tertahan kembali lalu satu tahun kemudian aktif kembali—tepat setelah Orlando tewas."
Michael membuka map itu. Matanya melebar saat membaca barisan informasi yang terkumpul di sana.
Profil Kode: The Mad Woman
Senjata Tajam: Ahli dalam jentikan pisau perak jarak jauh. Mampu melumpuhkan target dari sudut yang mustahil (teknik melengkungkan lintasan pisau).
Ballistic Expert: Mampu menggunakan segala jenis senjata api, namun lebih suka membunuh tanpa suara.
Tactical Engineering: Peretas (Hacker) tingkat tinggi yang mampu meretas satelit militer hanya dengan satu ponsel, serta ahli dalam merakit bom cair yang tidak terdeteksi sensor.
Anatomi Maut: Menguasai teknik akupuntur kuno. Dia tahu titik lemah manusia; satu sentuhan di saraf leher bisa menyebabkan kematian instan seolah-olah karena serangan jantung.
Michael menelan ludah secara refleks. Ia teringat bagaimana Shaneen menyentuh kerah baju Clara sore tadi. Ia teringat bagaimana Shaneen selalu bermanja-manja dan menyentuh lengannya.
"Dia pernah melumpuhkan tiga puluh anggota kartel di Mexico sendirian tanpa senjata api," lanjut Rans, suaranya sedikit bergetar. "Hanya menggunakan tangan kosong dan teknik saraf. Mereka ditemukan tewas dengan ekspresi tenang, seolah-olah mereka baru saja tertidur."
Michael berdecak kagum, sebuah tawa getir namun penuh gairah keluar dari mulutnya. Ia menyandarkan punggungnya, menatap pisau kecil itu kembali.
"Jadi, yang duduk di sampingku tadi... yang merengek karena takut suara tembakan... adalah orang yang sama dengan yang bisa meretas satelit dan membunuh tiga puluh orang dengan tangan kosong?" gumam Michael.
"Benar, Tuan. Dia bukan kucing rumahan. Dia adalah predator puncak yang menggunakan kulit kucing untuk mengelabui dunia," sahut Rans. "Bahkan teknik jentikan tadi malam... itu adalah teknik Double Motion. Dia tidak perlu bergerak banyak, cukup satu jentikan pergelangan tangan, dan peluru musuh akan kalah cepat."
Michael bangkit berdiri, ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar jendela. Rasa kagumnya kini bercampur dengan tantangan. Ia tidak lagi melihat Shaneen sebagai tunjangan politik, melainkan sebagai partner yang setara—bahkan mungkin lebih berbahaya darinya.
"Pantas saja dia tetap tenang saat aku menjentik dahinya," Michael tersenyum liar. "Mungkin baginya, jentikanku itu hanya seperti belaian bayi. Dan aku... aku dengan bodohnya mencoba melindunginya di dermaga tadi."
Michael menutup map itu dengan keras. "Rans, simpan data ini. Jangan biarkan siapapun tahu. Jika dia ingin tetap bermain peran sebagai 'Gadis Manja', aku akan mengikuti permainannya. Tapi aku ingin tahu satu hal lagi..."
"Apa itu, Tuan?"
"Cari tahu siapa 'Benalu' itu. Jika Shaneen sehebat ini, kenapa dia membiarkan 'Benalu' itu hidup begitu lama? Pasti ada sesuatu yang menahannya," ucap Michael dengan mata berkilat. "Aku ingin membantu Naga kecilku menyelesaikan masalahnya... sebelum dia memutuskan untuk 'menjentik' tenggorokanku juga."
"Baik tuan, siap dilaksanakan."